Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
77


__ADS_3

Evgen menghela napasnya dengan sedikit berat. Matanya terus memandang wajah kuning langsat milik kekasihnya yang sedang lahap memakan mie di dalam mangkuk baksonya.


Perasaannya begitu kacau saat ini, entah apa yang terus masuk dan menganggu dalam pikirannya. Namun bayangan wajah Rezi dan Shenina yang bersanding mesra terus bermain di kepalanya.


"Evgen," panggil Shenina lembut.


Evgen menaikan sebelah alis matanya, menatap ke wajah Shenina.


"Lu kenapa?" tanya Shenina penasaran.


Evgen menarik gelas jusnya dan mengaduk-aduk isinya. Ada perasaan takut dan juga ingin memiliki Shenina saat ini.


Berbagai macam pertanyaan sedang mendera pikirannya. Bagaimana jika Shenina dan Rezi beneran bertunangan?


Lalu, hubungan ia dan Shenina bagaimana?


Apakah selama ini, Shenina hanya menganggapnya bayangan atau pelarian?


"Evgen!" teriak Shenina di depan wajah Evgen.


"Apa sih? Elu gak bisa ya manggil kalau gak teriak?" tanya Evgen ketus.


"Elu kenapa? Gue manggil elu dari tadi, melamun terus?" tanya Shenina bingung.


"Gak apa-apa, gue balik ya." Evgen bangkit dari kursinya dan berjalan meninggalkan Shenina.


Membiarkan Shenina duduk terpaku dengan segala tanya yang tertinggal dalam benaknya.


Apa yang salah dengan lelaki angkuh itu? Kemarin sikapnya masih manis sekali. Kenapa saat ini malah terlihat begitu?


Shenina mengerdikan bahunya, ia kembali melahap mie di dalam mangkuk baksonya.


Biarlah, nanti juga sikapnya berubah sendiri. Pikir Shenina, acuh.


Di sisi lain, Rezi sedang sibuk menyiapkan beberapa project dari kampusnya. Ia harus menyelesaikan segalanya tugasnya,sebelum libur semester tiba.


Rezi merenggangkan badannya, mencoba menghilangkan sedikit penat yang ia rasakan.


Rezi menghela napas, menggosok tengkuk lehernya yang terasa sangat pegal. Berjam-jam duduk sendiri di kursi taman dengan mata yang terfokus dalam layar datar.


Rezi menutup laptopnya, ia membereskan barang-barangnya dan berjalan mencari sesuatu yang bisa menyegarkan dirinya.


Matanya teralih saat melihat seorang wanita muda yabg tengah duduk sendiri menikmati makan siangnya.


"Shenina," sapa Rezi lembut.

__ADS_1


Shenina mengalihkan perhatiaannya, ia terbatuk saat melihat Rezi berada di sampingnya.


Dengan cepat tangan Rezi menyambar gelas minum milik Shenina dan meminumkannya ke bibir tipis wanita muda itu. Mengelus punggung badannya dengan lembut.


"Hati-hati," ucap Rezi lembut.


Shenina mengelap sudut bibirnya, ia melirik kearah Rezi yang wajahnya begitu dekat.


Perlahan rasa yang telah lama hilang kembali muncul memberikan getaran. Sebuah rona menghiasi kedua pipi chubby milik gadis kecil itu.


"Masih sakit?" tanya Rezi kembali.


Shenina menggelengkan kepalanya dan tersenyum kaku. Debaran halus jantungnya perlahan terdengar semakin kuat. Saat binar matanya menatap wajah manis milik lelaki dewasa itu, tersenyum dengan jejeran gigi rapinya yang sangat menggoda.


"Kamu kok di sini? Ini apa?" tanya Rezi sambil menunjuk gerobak es milik Shenina.


"Oh, itu. Aku jualan es selama libur sekolah, Mas," jawab Shenina malu.


"Wah ... kelihatannya seger. Kalau begitu aku minta satu ya," ucap Rezi lembut.


Shenina hanya menganggukan kepalanya, ia menuangkan satu persatu kompisisi es tersebut. Sedikit gemetar, ia grogi saat melihat Rezi kembali hadir menyapanya.


"Ini, Mas," ucap Shenina sambil menyerahkan cup es itu ketangan Rezi.


Rezi tersenyum lembut dan meraih uluran tangan gadis berambut panjang itu, tanpa sengaja, jemarinya malah menggenggam jemari Shenina yang belum dilepaskan dari badan cup itu.


"Eh ... maaf ya. Aku gak niat buat genggam kamu," ucap Rezi malu.


"Gak apa-apa kok, Mas." Shenina menundukan pandangannya, ia meremat kedua jemari tangannya. Berusaha menutupi rasa grogi yang terus muncul dalam dirinya.


"Shenina."


"Iya, Mas."


"Kalau kamu jualan, Seta sama siapa?" tanya Rezi lembut.


"Seta di rumah, Mas. Dia biasa aku tinggal sendiri, kok."


Rezi tersenyum dan menganggukan kepalanya. Perlahan senyumnya melebar, menampilan sederet jejeran giginya sampai membuat kedua matanya menyipit.


"Jangan terlalu fokus pada uang, sampai kamu melupakan satu-satunya keluargamu, Shenina. Berikanlah dia sedikit waktumu, karena kita gak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Jangan buat dia terlalu lama menunggumu," ucap Rezi lembut.


'Jangan sampai kamu menjadi seperti Neha. Yang harus menanggung dan menjalani hidupnya sendiri di usia yang masih sangat muda. Aku tahu sekali, bertahan seorang diri dalam dunia kejam ini bukanlah hal yang mudah,' lirih Rezi dalam hati.


Shenina menundukan pandangannya, saat ini Seta juga sedang tidak bersekolah. Ia sendirian di rumah tua itu, pasti juga merasa sepi dan hampa.

__ADS_1


Sama sepertinya yang kadang merasa


kesepian saat mengingat kedua orang tuanya yang tak lagi ada untuk menemaninya.


Perlahan, bayangan wajah Seta mulai terlintas dalam pikirannya. Ia tidak pernah bertanya bagaimana rasanya berada di poisi Seta saat ini. Ia lupa, bahwa adiknya itu juga masih terlalu kecil untuk ia biarkan sendiri menanggung semua ini.


Perlahan satu persatu air mata turun saling bersambutan. Tangisan kecil, yang perlahan kian mendalam. Menjadi isak tangis kesedihan.


Mendengar isakan dari gadis kecil itu, Rezi mencoba melihat wajah Shenina yang sedang tertunduk dalam.


"Shenina, kamu nangis?" tanya Rezi lembut.


Shenina menggelengkan kepalanya, perlahan tangisannya mulai menimbulkan suara.


Ia merasa bersalah telah membiarkan Seta sendirian selama ini. Apalagi jika mengingat senyum polos bocah kecil itu, ia rasanya tidak tega jika harus membiarkan Seta besar dalam hidup susah yang terkadang jarang sekali makan dengan cukup.


"Shenina," panggil Rezi cemas.


Shenina tidak mampu lagi menjawab, hanya isak tangis yang kian menguat. Membuat badan kecilnya bergetar karena menahan tangis yang semakin membuatnya tergugu pilu.


"Shenina kamu kenapa?" tanya Rezi cemas.


Tak mendapati jawab dari Shenina, Rezi berlutut di depan Shenina. Mencoba melihat wajah gadis kecil yang sedang tertunduk jauh kebawah itu.


"Hey, tenanglah." Rezi mengangkat dagu Shenina.


Melihat wajah manis milik gadis berkulit kuning langsat itu. Tak henti-hentinya air mengalir dari kedua kelopak mata indahnya itu.


Seperti ada sesuatu yang membuatnya begitu menderita.


"Tenang, dan berceritalah. Kamu kenapa? Hem?" tanya Rezi lembut.


Shenina mengernyitkan dahinya, ia mencoba menghirup udara yang kian berat terasa, masuk kedalam rongga pernapasannya.


Shenina menarik kedua sisi bahu kemeja Rezi dan menangis di dada lelaki berhati lembut itu. Menumpahkan beban berat yang selama ini ia pikul sendiri.


Rezi hanya terdiam, ia tidak berniat membuat Shenina begini. Namun sepertinya, hati wanita ini lebih lembut dari yang terlihat.


Rezi hanya membiarkan kedua tangannya kosong, tak mau membalas pelukan Shenina ataupun berusaha menenangkannya. Mungkin ia memang butuh waktu untuk menumpahkan segalanya.


Sementara, ada mata yang sedari tadi mengawasi mereka berdua. Evgen menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecut.


Ia kembali karena teringat Shenina akan sendiri saat ia tinggali tadi. Tanpa ia sadari, kenyataan ini malah terasa sangat pahit saat ia melihatnya dengan matanya sendiri.


Evgen mencoba menghirup oksigen yang terasa menyengal di dadanya. Saat melihat orang yang dicintai, tapi malah nyaman bersama orang lain.

__ADS_1


Itulah kenyataan terpahit yang harus ia rasakan.


__ADS_2