
Sepersekian detik, Shenina masih masuk ke dalam perasaan hangat yang Evgen ciptakan.
Evgen meleraikan ciumannya dan melihat wajah gadis itu dengan lekat.
Plaaak
Sebuah tamparan mendarat di pipi mulus lelaki tampan itu. Shenina mengambil napas dengan memburu kencang. Ia benar-benar terkejut dengan perlakuan Evgen yang spontan seperti ini.
"Seharusnya dari awal gue tahu, ya Evgen. Elu itu memang cuma mempermainkan gue!" teriak Shenina di depan wajah Evgen.
Evgen menaikan tangannya, memanggil Waiters yang sedang berada di balik kaca jendela.
"Bawa Nona ini ke kamar dan berikan dia baju ganti. Layani dia dengan sebaik mungkin!" perintah Evgen langsung.
"Baik Tuan Muda," jawab Waiters itu, sigap.
Evgen keluar dari kolam dan berjalan meninggalkan Shenina sendiri, dengan seribu tanya yang masih tertinggal dalam benaknya.
"Hey Evgen, Evgen. Elu pikir elu siapa? Elu seenaknya saja mempermainkan gue seperti ini, Evgen!" teriak Shenina lantang.
Namun Evgen masih tidak berhenti, ia terus berjalan keluar dari rooftop hotel milik Papanya.
"Mari Nona, saya bantu ganti baju," ajak Waiters itu lembut.
"Gak perlu, gue gak sudi tinggal di sini walaupun hanya sedetik."
Shenina keluar dari kolam itu dengan cepat. Ia berlari menuruni lift dan keluar dari hotel bintang lima itu dengan baju basah.
Shenina membalikan badannya, melihat tampilan megah hotel bintang lima itu dengan kesal.
Bukan kesal dengan hotelnya, namun kesal dengan anak dari pemiliknya. Bahkan ia tidak keluar sama sekali untuk meminta maaf ataupun mengantar pulang.
Ia salah, seharusnya ia tidak perlu senang saat diajak dinner oleh lelaki angkuh itu.
Bagaimana juga, Evgen adalah Tuan Muda dan ia hanyalah debu yang berterberangan dari pinggir jalan.
Shenina berjalan dengan kesal, keluar dari perkarang luas hotel megah itu. Satu persatu cahaya kilat mulai terlihat, menghiasi langit mendung malam ini.
"Dasar Evgen angkuh, sombong, aneh, gue benci banget sama elu!" rutuk Shenina kesal setengah mati.
__ADS_1
"Gue benci dengan elu, benci ... benci ... benci. Awas saja elu, gue akan kutuk elu tersambar petir."
Duarrrr
Petir menyambar, satu persatu tetesan air hujan turun menyapa bumi.
Shenina menahan buruan napasnya. Dadanya naik-turun dengan cepat karena amarah yang semakin meledak dalam dirinya.
"Sudah kecebur kolam, kedinginan, perut lapar, tertimpa hujan. Apalagi yang bisa ditambah untuk membuat aku menderita secara sempurna?" rutuk Shenina geram.
Shenina berjalan dengan kesal, memainkan tas kecil yang ia pegang. Mulutnya menggerutu dengan kesal, memaki si lelaki angkuh, pacarnya itu.
Sampai kakinya tak sengaja terpijak lubang kecil di tengah jalan dan tersungkur ke aspal. Shenina melemparkan tasnya dengan segala kekesalan yang tidak mampu lagi ia tahan.
Malam ini, sepertinya Sang Pencipta memang sedang ingin menguji kesabarannya.
"Sumpah Evgen! Gue benci banget sama elu!" teriak Shenina lantang di tengah derasnya hujan yang membasahi tubuhnya.
Sebuah langkah berlari mendekati Shenina, dengan payung hitam dalam genggamannya. Berhenti di sebelah Shenina.
"Shen, kenapa elu gak ganti baju dan malah pulang?" tanya Evgen, berlutut di sebelah Shenina.
"Lu pikir gue sudi berlama-lama sama elu? Lu pikir gue mau tinggal di sana bareng orang yang bahkan gak punya hati sama sekali?" teriak Shenina di depan wajah Evgen.
"Sorry karena gue sudah buat baju elu basah, kenapa elu gak ganti baju dulu? Setelah itu kita makan malam lagi," ucap Evgen lembut.
Shenina tersenyum sinis dan menggelengkan kepalanya.
"Memang ya, semua anak orang kaya itu sama saja. Setelah elu cium gue, elu pikir bisa berikan gue fasilitas untuk menggantinya? Elu pikir gue apa? Gue wanita murahan yang bisa elu temui di luaran sana? Iya?" bentak Shenina keras.
"Kenapa selain pikiran buruk, elu sama sekali gak bisa berpikiran baik tentang gue?" tanya Evgen datar.
"Apakah hanya karena sebuah ciuman yang gue ambil dari elu, elu bisa menjudge gue mempermainkan elu?" sambung Evgen dingin.
"Terus apa namanya? Elu itu bersikap aneh selama beberapa hari, seminggu elu gak jumpa gue dan gue malah dapeti perlakuan ini saat gue rindu sama elu? Tepat, Evgen. Elu memang paling bisa mempermainkan perasaan orang!"
Evgen menatap kewajah kuning langsat yang di hiasi buliran air hujan itu. Ia sedikit terkejut saat mendapati pernyataan wanita itu, mengatakan ia rindu pada dirinya?
Evgen tersenyum simpul dan menggelengkan kepapanya. Naif sekali ia, bisa sangat senang dengan pernyataan sesederhana itu. Padahal itu hanyalah suatu kebohongan.
__ADS_1
"Lu gak perlu bohong sama gue, Shen. Gue tahu elu gak ada rasa sama gue," jawab Evgen lembut.
"Maksud elu apa sih? Arah pernyataan elu ini kemana? Kalau elu sudah gak mau sama gue, baik. Kenapa gak kita akhiri saja?" tanya Shenina geram.
Evgen tersenyum lembut dan melangkah mendekati Shenina, menatap nanar ke wajah gadis kecil itu.
"Lu tahu, gue rela ngelakuin apapun hanya untuk bisa dapeti elu. Gue berusaha melakukan segala cara, hanya bisa buat dekat sama elu. Sedikit saja, Shen. Sedikit saja, bisakah elu merasakan, bahwa cinta gue itu, ada, buat elu?" tanya Evgen lembut.
"Hah, cinta? Cinta karena elu belum bisa memiliki hati gue? Setelah elu bisa dapeti gue, terus elu mau ngapain? Mau tidur sama gue? Itu tujuan elu?"
"Sumpah, Shen. Gue bukan lelaki yang seperti itu. Bahkan gue gak berniat buat nyakiti elu. Elu tahu? Selama ini yang gue pikirkan adalah cara untuk buat elu bahagia!" tekan Evgen kesal.
"Bahagia? Apa menurut elu gue bahagia saat elu maksa mencium bibir gue, lalu ninggalin gue gitu saja di tengah kolam? Lu pikir gue apa? Gue ini sesuatu yang bisa elu tinggalin setelah elu nikmati?" tanya Shenina meradang.
"Itu semua gue lakuin karena gue takut kehilangan elu, Shenina! Gue takut, gue cemburu, gue marah, gue kesal, semuanya. Gue takut semua hal yang berhubungan sama elu akan menghilang dari gue, saat gue lihat elu pelukan sama Kak Rezi di taman!" teriak Evgen kencang.
Seketika suasana menjadi hening, Shenina menatap wajah tampan lelaki di hadapannya itu dengan lekat.
Ternyata, Evgen melihat semuanya dan berubah seperti ini. Kenapa ia tidak pernah terpikir, bahwa ini semua mungkin saja terjadi.
"Diantara milyaran manusia, Shen. Kenapa? Kenapa yang elu sukai itu harus kak Rezi? Kenapa, Shen? Kenapa dia? Dia Kakak gue," ucap Evgen pahit.
"Kakak elu?" lirih Shenina terkejut.
Evgen mengangguk dan tersenyum lembut. Ia menarik napas berat dan tersenyum getir.
"Sudahlah, Shen. Mungkin setelah ini, hubungan kita hanya sebatas Kakak dan Adik. Selamat buat elu, semoga kalian bahagia." Evgen mengambil jemari tangan Shenina.
Ia menyerahkan gagang payung itu ketangan Shenina. Evgen berbalik, berjalan keluar menembus derasnya air hujan.
Sesekali ia menyapu wajahnya, menyisir rambutnya kebelakang. Andai, air hujan ini mampu meluruhkan beban hatinya, ia pasti tak akan sesakit seperti saat ini.
Sedang, Shenina hanya terdiam di bawah payung yang dintinggalkan Evgen. Ia masih tak percaya, jika Rezi si lelaki lembut itu adalah saudara lelaki sombong dan angkuh itu.
Tak ada lagi yang bisa di jelaskan, Evgen terlanjur jatuh dan meninggalkan semua beban itu padanya.
"Evgen, seandainya elu gak lihat gue dan mas Rezi saat itu. Apa malam ini elu akan percaya, kalau gue katakan gue rindu sama elu?" lirih Shenina pahit.
"Sumpah Evgen, bahkan saat bersama mas Rezi gue masih kepikiran tentang elu, tentang kisah kita. Karena gue sadar, gue mulai jatuh cinta sama elu. Tapi, semuanya sudah terlanjur berakhir, saat rasa gue baru saja akan dimulai."
__ADS_1