
Neha melepaskan senyum lebarnya dan menundukan pandangannya. Ia tersipu malu oleh ucapan Rezi.
Selama sembilan belas tahun, hanya Rezilah satu-satunya lelaki yang ia kenal.
Neha menyodorkan bukunya ke hadapan Rezi. Mata Rezi melirik kedalam lembaran buku Neha.
(Selesai makan, aku akan mengajarimu merawat bunga. Makan saja dengan tenang.)
Neha bangkit dari kursinya dan mengambil watering can mungil miliknya, mengisi air setengah dan mulai menyiramkannya perlahan.
Sementara Rezi terus memandangi gerakan Neha. Ia sangat tertarik oleh gadis itu, sampai-sampai ia rela melakukan ini semua demi menakhlukan hati Neha.
Rezi meraih sebuah tisu dan mengusap sudut bibirnya. Ia berjalan mendekati Neha dan menarik watering can dari tangan Neha.
"Biar aku saja, kamu tinggal nyuruh aku. Mulai saat ini, kamu hanya boleh melihat dan memerintah. Tidak boleh mengerjakan apapun," ucap Rezi lembut.
Neha hanya melepaskan senyumnya dan memandang wajah Rezi. Bibirnya terus melengkung dengan lebar.
"Ada apa?" Tanya Rezi dengan menaiki sebelah alis matanya.
"Kenapa melihat aku seperti itu?" Sambungnya lembut.
Neha hanya menggelengkan kepalanya dan berjalan menjauh dari Rezi. Neha memilih beberapa tangkai bunga untuk mengisi keranjang bunganya.
Neha menghapus peluh di dahinya, saat tangkai terkahir ia masukan ke dalam keranjang bunga.
Ia melihat Rezi yang masih sibuk menyirami pot bunga satu persatu. Neha merobek sebuah kertas dan meninggalkan pesan, sebelum ia berjalan untuk mengantar pesanan bunga milik sahabat karibnya.
Neha malambaikan tangannya saat berada di depan pintu kaca toko bunga tempat ia menyuplai bunga.
Wanita di dalam toko bunga itu langsung mendekat dan membukakan pintu saat melihat Neha berada di depan pintu.
"Kenapa gak langsung masuk seperti biasa, Neha?" Tanya Ruby saat membukakan pintu untuk Neha.
Neha meletakan keranjang bunganya dan langsung mendekati display. Neha mencolek krim cake yang berada di atas display dan memakannya.
"Ini kue lemon, aku baru selesai membuatnya, kamu mau mencobanya?"
Neha menganggukan kepalanya dengan cepat, Ruby adalah satu-satunya sahabat dekat Neha. Mungkin jika bukan Ruby yang membantu ia saat ini, Neha tidak tahu harus bagaimana untuk menjalani hidup, setelah Ayahnya pergi.
"Tumben, pagi-pagi kamu sudah mengantarkan bunga kesini? sudah selesai merawat bunga-bunga yang lain?" Tanya Ruby sambil meletakan sepotong cake di hadapan Neha.
Neha mengeluarkan buku catatannya dan membalik lembarannya, mencari lembaran kosong yang masih tersedia.
Mata Ruby teralih saat melihat salah satu lukisan di dalam buku Neha. Tak lama Neha menyodorkan bukunya kehadapan Ruby.
__ADS_1
(Ada seorang pekerja yang mau membantu aku. Mahasiswa yang minta di gaji dengan makan siang saja. Aku beruntung Ruby.)
Ruby tersenyum dan mengambil buku milik Neha. Membalikan lembarannya dan melihat lukisan tangan Neha.
"Apa pekerja barunya laki-laki?" Tanya Ruby sambil menatap lekat kedalam lembaran buku Neha.
Neha hanya menganggukan kepalanya dan kembali memakan cake yang di sediakan oleh Ruby.
"Apa laki-lakinya ganteng?" Tanya Ruby kembali.
Neha hanya mengerdikan bahunya, ia tak peduli pada pertanyaan Ruby.
"Aku rasa dia sangat ganteng, sampai bisa menarik jarimu untuk membuat lukisan seperti ini."
Neha menatap Ruby dengan bingung, ia masih tidak mengerti oleh ucapan Ruby.
"Inikan laki-lakinya," Ruby membalik buku Neha.
Mata Neha membulat saat melihat lukisan gambar wajah Rezi didalam bukunya. Neha menarik buku itu dengan cepat dan menyimpannya kembali kedalam keranjang.
"Neha, ternyata ada lelaki tampan yang mendekatimu saat ini," ledek Ruby dengan tersenyum lembut.
Neha menghela nafasnya dan memutar bola matanya. Malas jika harus mendengar godaan sahabatnya itu.
Neha membereskan barang-barangnya dan kembali berjalan pulang. Dari pada ia terus di ledek oleh Ruby, lebih baik ia pergi.
Evgen memandang sengit kearah luar jendela. Suasana hatinya memburuk jika mengingat kejadian kemarin bersama dengan Shenina.
"Awas saja, kamu Shenina! kali ini aku buat kamu menyesal!" Evgen menggenggam tangannya dengan kuat, terdengar retakan dari kedua rahang Evgen.
Tak lama bel pulang sekolah berbunyi, Evgen membereskan peralatan sekolahnya dan berjalan dengan santai menuju toilet sekolah.
Memulai kembali tugas hukumannya dengan Shenina. Sudah dua puluh menit berlalu, Evgen sudah hampir menyelesaikan seluruh tugasnya. Namun Shenina masih belum muncul juga.
Evgen membanting gagang pel yang ia pegang. Kakinya menendang ember berisi air perasan pel dengan kuat. Membuat air itu tumpah dan membanjiri koridor di depan toilet.
"Sialan Shenina, sekali telat gue maafin, sekarang mau telat lagi." Rutuk Evgen kesal.
Sementara, dari ujung koridor Shenina sudah berlari sekencang yang ia bisa. Menyusuli Evgen di toilet.
Karena lantai yang licin akibat ulah Evgen, Shenina tidak bisa menghentikan langkah kakinya.
Braakk
Shenina jatuh menimpahi badan besar Evgen. Shenina mengangkat kepalanya perlahan dan melihat Evgen yang berada di bawahnya.
__ADS_1
Shenina mengernyitkan dahinya dan menggigit bibir bawahnya. Kali ini ia benar-benar pasrah. Terserah Evgen mau marah seperti apa.
"Shenina!" Teriak Evgen sekuat tenaga.
Shenina memejamkan matanya, menahan teriakan Evgen yang hampir membuat gendang telinganya pecah.
"Bagun lu dari badan gue, lu pikir gue kasur?" Tanya Evgen ketus.
Shenina bangkit dengan cepat dan merapikan helaian rambutnya yang berantakan.
Sementara Evgen, melihat sisi kemejanya yang kotor dan juga basah karena air perasan pel ia tadi.
"Lu gak senang ya, kalau gak cari masalah sama gue, hah?" Tanya Evgen sengit.
"Sorry, Evgen. Gue beneran gak sengaja, sumpah!" Bela Shenina lembut.
"Mau lu sengaja, mau lu gak sengaja. Lu pikir gue peduli?" Tanya Evgen kesal.
"Terus?"
"Gue gak peduli! selama gue elu rugikan, elu harus ganti rugi dengan harga yang sesuai," ucap Evgen keras.
"Kali ini berapa lagi? gue bayarnya nyicil gak apa kan?" Tanya Shenina melas.
"Heh! elu pikir gue ini tukang panci? gue gak sudi elu sama-samain gue dengan tukang kredit panci!" Ucap Evgen lantang.
"Elu bisa gak sih kalau ngomong itu santai? gue gak budek, gue gak perlu elu teriak-teriakin terus!" Kali ini Shenina yang berbicara dengan lantang.
Evgen menghela nafasnya dengan sedikit berat. Kenapa? jika ia dan Shenina bertemu, pasti dalam sebuah konflik yang terus berkepanjangan.
"Jadi elu maunya bagaimana, hah?" Tanya Evgen melunak.
"Elu kan gak kekurang duit Evgen, seharusnya gak masalahkan, kalau gue bayar ganti rugi kali ini dengan nyicil."
"Kenapa gue harus setuju dengan syarat elu?"
"Evgen, uang yang kemarin gue kasih ke elu itu, adalah gaji gue dari kerja part time selama sebulan ini. Kalau hari ini elu minta lagi, nanti gue sama adik gue bakalan kelaparan," ucap Shenina dengan menundukan pandangannya.
Sebenarnya ia malu jika harus mengatakan hal ini pada lelaki berhati dingin ini. Namun apa daya, memang kenyataan begitu adanya.
Di sisi lain, Evgen merasa iba saat melihat wajah Shenina saat ini. Mendadak wajah angkuh dan sombong yang di perlihatkan Shenina padanya selama ini berubah sendu.
Evgen menghela nafasnya dan mengelus tengkuk lehernya. Shenina jika bersikap seperti ini, ia sama sekali tidak ada bedanya dengan wanita pada umumnya, lemah dan juga harus dilindungi.
"Gue janji, gue pasti akan lunasi, tapi izini gue untuk nyicil ya," pinta Shenina lembut.
__ADS_1
"Kenapa gue harus percaya sama janji dan juga omongan elu?" Tanya Evgen dingin.