
Evgen menendang kursi didepannya hingga menyeret jauh kedepan. Ia kesal karena Shenina sudah telat beberapa lama dari janji mereka berdua.
Shenina membawa nampan berisi makanan dengan sedikit berlari. Ia telat sekali, mungkin Evgen akan mengamuk lagi.
Shenina meletakan nampan berisi makanan kehadapan Evgen. Evgen menghempaskan makanan itu sampai jatuh kebawah.
"Telat!" Bentak Evgen ketus, "Ini sudah hampir masuk jam pelajaran, gue gak sudi makan terburu-buru," sambung Evgen ketus.
Shenina hanya melihat makanan yang berserakan dilantai. Air matanya menetes saat melihat makanan yang dibawa olehnya dibuang percuma oleh Evgen.
"Nangis, deh. Baru dibilang begitu saja sudah nangis," ucap Evgen dengan menyilangkan kedua tangannya didada.
Shenina menarik ingusnya dan mengutip satu persatu beling yang berserakan di lantai. Ia bukan sedih karena di bentak oleh Evgen.
Tapi ia sedih karena makanan yang ia bawa di buang percuma oleh Evgen.
"Heh, Shenina. Elu itu pembantu ya? biarkan saja, kenapa elu yang ngutipin belingnya?" Tanya Evgen angkuh.
Tak mendengar ucapan Evgen, Shenina masih mengumpuli makanan itu untuk dibawanya kembali.
"Heh, Shenina, itu jorok. Jangan elu pegang lagi!" perintah Evgen ketus.
Shenina hanya diam, ia tidak peduli dan terus mengutipi sisa makanan dilantai. Geram karena tidak mendapatkan jawaban dari Shenina, Evgen bangkit dari mejanya dan menarik lengan tangan Shenina.
Membedirikannya dengan cepat, Shenina memandang lekat kearah Evgen. Matanya berlapiskan cairan bening yang ia tahan untuk tidak tumpah dan menetesi pipinya.
"Gue bilang tinggalin saja, ya tinggal saja!" Teriak Evgen keras.
"Heh Evgen, gue tahu elu itu gak kekurangan duit. Gue juga tahu elu gak kekurangan makanan, tetapi sekesal apapun elu sama gue, makanan ini gak bersalah. Elu kenapa tega buang-buang mereka begitu saja?" Tanya Shenina pahit.
"Mereka? seperti manusia saja? lu bilang mereka," jawab Evgen enteng.
"Dasar elu ya, sama sekali elu itu jadi manusia gak berguna! elu pikir berapa banyak manusia diluar sana yang kekurangan makanan. Apa elu gak mikir? mereka harus bekerja keras dulu buat makan sehari, terkadang itupun gak cukup buat beli nasi satu bungkus. Dan elu? apa yang elu lakuin sekarang?" Tanya Shenina kesal.
"Elu buang-buang seenak elu saja, sementang elu bisa makan. Sementang elu punya banyak duit, elu sama sekali gak bisa menghargai apapun itu. Evgen sumpah ya, gue heran sekali, kenapa Tuhan mau nyiptain manusia sampah seperti elu." Shenina membereskan nampannya dan membawa makanan yang dibuang Evgen itu pergi.
Ia tidak habis pikir, sikap Evgen yang seperti itu benar-benar bisa menguras emosinya
Evgen menendang kembali meja yang ada dihadapannya. Perkataan Shenina membuat ia kembali meradang.
***
Chen membawa semangkuk bakso dan segelas jus di tangannya. Mendekati Soraya yang sedang duduk sendirian di kursi kang bakso.
"Hai, sendirian? gue duduk disini boleh?" Tanya Chen lembut.
Soraya memalingkan pandangannya, ia melihat Chen sekilas dan kembali memakan baksonya dengan tenang.
"Kenapa minta izin sama gue? itu kan kursi punya kang bakso. Tanya gih sama dia," jawab Soraya datar.
Chen tersenyum dan duduk disebelah Soraya. Melihat Soraya yang dengan santainya makan tanpa peduli sekitar.
"Soraya Mikaila, lu jurusan apa?" Tanya Chen lembut.
__ADS_1
"Ekonomi," jawab Soraya datar.
"Semester berapa?"
"Semester akhir."
"Wah ... Berarti senior dong ya," ucap Chen sedikit terkejut.
"Tapi wajahnya masih imut loh," sambung Chen dengan menyeringai.
Soraya melirik kearah Chen, tangannya berhenti sebelum sempat menyuapi makanan kedalam mulutnya.
"Lu godain gue?" Tanya Soraya dingin. "Sorry gue sudah punya pacar," tolak Soraya langsung.
"Hanya sebatas pacar kan? belum juga janur kuning melengkung. Yang nikah saja bisa cerai,"
Soraya menaikan sebelah alis matanya, ia meletakan sendok makannya dan beralih kearah Chen.
Melihat wajah Chen yang bisa dibilang lumayan, berada diatas rata-rata. Jika di bandingkan Ari, Chen lebih menarik. Tapi sayang, wajahnya masih terlihat ingusan.
"Maksudnya? lu mau doain gue jadi janda, sebelum gue sempat nikah?" Tanya Soraya kembali.
Chen melepaskan senyumnya dan memakan isi mangkuknya. Ia tidak menjawab ataupun bertanya apapun lagi.
Melihat ekspresi Chen, Soraya kembali tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Baru kali ini ada lelaki yang tertarik untuk menggodanya.
Soraya mengetuk pucuk kepala Chen dengan sendok, sebelum Chen sempat menyelesaikan kalimatnya.
"Gue ini lebih tua dari elu, panggil gue Kakak,"
"Duilleeeh, tingkat tua setahun, dua tahun saja. Lagian kalau elu jadi pacar gue juga elu yang bakalan panggil gue Kakak atau Mas nantinya,"
"Maksudnya?" Tanya Aya datar.
Chen menyeringai dan menggaruk tengkuk lehernya.
"Ayolah, gue hanya bercanda." Chen menendang bahu Soraya dengan lembut.
"Lu sok akrab banget ya sama gue," ucap Soraya dengan menggelengkan kepalanya.
"Hem, Soraya. Menurut elu, Rezi itu orangnya bagaimana sih?" Tany Chen serius.
"Kenapa? selain elu suka godain senior yang lebih tua. Elu juga suka sama pria?" Tanya Soraya datar.
Chen memutar bola matanya malas, ia kembali memakan isi didalam mangkuknya.
"Sorry ya, gue ini masih normal. Hanya sekedar jaga-jaga saja,"
"Maksudnya jaga-jaga?" Tanya Soraya bingung.
"Bukannya jika ingin mendekati sepupunya, harus bisa merebut hati Rezi dulu ya?"
__ADS_1
Soraya melepaskan senyumnya dan menggelengkan kepala.
"Sorry gue gak suka sama bocah." Soraya meraih tas dan mengeluarkan uang dari dalam tasnya.
Ia bangkit dari kursinya dan berjalan meninggalkan Chen sendiri.
Chen ikut bangung dan berlari mengejar langkah Soraya.
"Hey ... Gue akui, umur gue memang masih bocah. Tapi pemikran gue sudah gak bocah lagi," ucap Chen sambil mengikuti langkah Soraya.
"Gue kan sudah bilang, gue sudah punya pacar," jawab Soraya datar.
"Hanya pacar, kalau gue bisa buat elu nyaman. Elu juga bakalan milih gue kan? pacar akan kalah sama yang nyaman, apalagi kalau elu bersedia gue lamar."
Soraya menghentikan langkahnya, ia memandang kearah Chen dan menyilangkan kedua tangannya didada.
Chen menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia takut melihat wajah Soraya yang berubah garang seketika.
"Berhenti menggoda gue, sebelum gue benar-benar marah," ucap Soraya datar.
Chen mengangkat dua jari tangannya membentuk huruf v. Ia menyeringai dengan pasrah.
"Peace, gue gak akan godain elu lagi. Tapi kalau gue dekati bolehkan?"
Soraya menajamkan tatapan matanya, ia benar-benar malas menghadapi anak kecil ini.
Sejak kapan pula, lelaki kecil ini jadi begitu dekat dengannya. Bahkan mereka hanya dua kali berjumpa dalam tabrakan yang tidak disengaja.
"Baiklah, gue akan diam kalau elu gak suka," ucap Chen lembut.
Soraya mentoyor dahi Chen dengan lembut.
"Lebih baik elu tepati omongan elu." Soraya melanjutkan langkahnya.
Kembali Chen mengikuti langkah Soraya memasuki gedung ekonomi. Melihat Chen yang terus mengintilinya, Soraya membalikan badannya. Chen menabrak badan Soraya dan memeluknya secara spontan.
Niat hati ia hanya ingin mencari informasi tentang Rezi dari Soraya. Tapi siapa sangka, memandang Soraya dari jarak dekat seperti ini, membuat jantung Chen berdebar tak menentu.
"Lepaskan Soraya!" Tekan Rezi ketus.
Mendengar ucapan Rezi, Chen langsung melepaskan dekapannya dan mengangkat tangannya.
"Chen, ada yang harus kita selesaikan," ucap Rezi berjalan meninggalkan Soraya dan Chen.
Chen menghela nafasnya dan mengikuti langkah Rezi. Berjalan dengan cepat keluar dari gedung ekonomi. Begitu sampai di parkiran, Rezi langsung memukul perut Chen.
Membuat badan Chen yang lebih besar dari Rezi, berlutut.
Chen terbatuk karena nafasnya yang tersengal. Menerima bogeman tangan Rezi yang begitu keras menumbuk perutnya.
Rezi meraih kera kemeja Chen dan mencengkramnya dengan kuat.
"Aku lepasin kamu karena Neha memang memilih kamu. Tapi Soraya, dia sepupu aku! Aku gak akan biarin kamu mempermainkan mereka berdua!" Teriak Rezi tepat di depan wajah Chen
__ADS_1