Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
62


__ADS_3

Rezi membuka pintu balkon kamarnya, ia mengambil segelas air untuk menyirami bibit bunga miliknya.


Seketika gelas yang Rezi bawa terlepas dari genggaman tangannya. Rezi langsung mengambil salah satu pot bunga miliknya.


"Gawat! kenapa bibitnya bisa mati?" Rezi mengambil bibit-bibit itu dan memeriksanya kembali.


Satu pun bibitnya tidak ada yang tumbuh dengan baik.


"Mati aku, kalau sampai bibit ini mati. Otomatis kisah cinta aku sama Neha juga akan berakhir?" Ucap Rezi kembali.


"Enggak, enggak. Ini gak boleh, aku harus cari bibit yang baru." Rezi langsung memasuki kamar mandinya dan bersiap untuk pergi ke kampus.


Rezi turun dari tangga rumahnya dengan sedikit berlari. Menenteng ketiga bibit itu di tangannya.


"Rezi, ayo sarapan dulu," ucap Megi lembut, saat ia melihat Rezi turun dari kamarnya.


"Maaf Ma, aku lagi buru-buru harus ke kampus. Ada urgent di kampus," ucap Rezi tanpa menoleh ke Megi.


Rezi langsung memasukan bibit bunga itu dan menghidupkan mesin mobilnya dengan sedikit tergesa.


Mendengar suara mobil Rezi, Evgen langsung berlari keluar. Melihat mobil Rezi yang sudah pergi lebih dulu.


"Pa," panggil Evgen lemas.


"Kenapa?"


"Kak Rezi sudah pergi, terus aku kesekolah naik apa?" Tanya Evgen lemas.


"Bis kan ada," jawab Sean malas.


"Ah ... Aku gak mau. Lama nunggu bis, dari pada nunggu bis. Aku gak sekolah saja lah," ucap Evgen merajuk.


"Terus, aku pergi sama siapa Pa?" Tanya Niki yang ikut bingung.


"Nanti Papa yang antar."


"Aku juga," pinta Evgen manja.


"Kamu pergi sendiri sana!"


"Ah ... Papa gak adil. Aku gak sekolah saja lah."


"Evgen, kamu sudah kelas tiga. Kamu gak boleh bolos sekolah," bujuk Megi lembut.


"Ogah, naik bis mah. Sumpek, bau juga."


Evgen menyilangkan kedua tangannya didada. Ia kesal sekali, sebenarnya ia juga gak mau jika tidak jadi kesekolah. Itu artinya, kesempatan ia untuk bertemu dengan Shenina akan berkurang juga.


"Niki, kita berangkat. Nanti kamu kesiangan," ajak Sean lembut.


Niki bangkit dan meraih ranselnya, ia mencium tangan Megi sebelum keluar dari rumah.


"Ih ... Papa, aku beneran naik bis?" Tanya Evgen kesal.


Sean hanya tersenyum tipis, ia mencium pipi Megi dengan lembut, lalu pergi begitu saja.


"Ih ... Papa, ikut!" Evgen berlari mengejar langkah Sean.


Dengan mengerucutkan bibirnya, Evgen membuka pintu depan mobil Sean.


"Boy," panggil Sean lembut.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Papa gak mau ngantar kamu, sekolah kamu memutar dari sekolah Niki. Jadi pergi sendiri," ucap Sean lembut.


"Pa, sebenarnya aku ini anak Papa atau bukan sih? segitunya sama aku?" Tanya Evgen kesal.


Sean melemparkan sebuah kunci kearah Evgen. Dengan sedikit terkejut Evgen menangkapnya.


"Awas kalau gak kamu balikin dalam bentuk semula," ancam Sean sinis.


Evgen melihat kunci yang ada ditangannya. Ini kunci yang mana pula?


Sean langsung pergi setelah memberikan kunci ketangan Evgen. Meninggalkan Evgen yang masih bingung dengan kunci yang ada di tangannya.


"Eh ... Papa tunggu dulu, ini kunci yang mana?" Tanya Evgen berteriak.


Evgen memanyunkan bibirnya, ia kesal sekaligus bingung. Bagaimana ia bisa mencari motornya? lagian belum tentu juga ini motor ada dirumahnya.


Evgen mengacak rambutnya, ia berlari ke garasi rumahnya. Mata Evgen membulat saat melihat motor sport hitam yang masih sangat baru.


"Eh ... Papa beli motor baru?" Lirih Evgen sendiri.


"Iya, sebenarnya Papa mau kasih itu ke kamu setelah kamu selesai ujian semester nanti," jawab Megi yang baru datang dari belakang Evgen.


"Serius?" Tanya Evgen tak percaya.


Megi hanya menganggukan kepalanya.


"Kok bisa? Papa kok bisa jadi lunak begitu? tumben sekali Papa bisa mengubah keputusannya begini?" Tanya Evgen tak percaya.


"Kamu kan nanti mau kuliah di London. Jadi Papa mau kasih kamu hadiah untuk menyemangati kamu, biar nilai kamu bagus."


"Wih ... Keren! Papa memang yang terbaik," ucap Evgen dengan memasukan kunci motornya, ia mengelus body kilap motor hitamnya itu.


Menghidupkan tunggangan barunya yang terlihat sangat cocok dengan dirinya itu.


Megi tersenyum dan mengacak rambut Evgen.


"Papa, aku cinta kamu."


"Hem, jadi Mama enggak?" Tanya Megi sambil menyilangkan kedua tangannya didada.


"Mama pasti dong." Evgen merentangkan tangannya dan memeluk badan mungil Megi.


Megi mencepit hidungnya, ia meleraiakn pelukan Evgen dengan cepat.


"Evgen, bau kamu aneh. Mama gak suka bau kamu," ucap Megi menjauh.


Evgen mencium bau badannya, ia tidak merasa aneh dengan bau parfumenya. Ia masih memakai parfume yang biasa, apanya yang aneh.


"Sudah pergi sana, jangan sampai kamu telat!" Perintah Megi yang masih mencepit hidungnya.


Evgen mencium tangan Megi dan menaiki tunggangannya, ia masih menciumi seragamnya.


Kenapa Megi aneh sekali hari ini?


"Ingat, untuk buat SIM, kamu ya," ucap Megi mengingatkan.


"Iya Ma," jawab Evgen lembut.


Evgen keluar dari garasinya dan melajukan motornya. Ia masih bertanya-tanya tentang wangi parfumenya.


***


Rezi mengetuk daun pintu ruangan para Dosen. Ia membukanya dengan pelan dan meletakan bibit bunganya diatas meja Dosen wanita.

__ADS_1


"Apa ini, Rezi?" Tanya Dosen wanita itu.


"Bu, bisa kasih tahu saya ini bibit tanaman apa?" Tanya Rezi melas.


Wanita itu mengambil salah satu pot itu dan melihatnya.


"Kamu dapat dari mana?" Tanya Dosen Wanda lembut.


"Itu punya teman saya, ia menitipkan pada saya. Tapi saya malah buat tanamannya mati."


Dosen Wanda mencungkil sedikit tanahnya, ia tersenyum melihat Rezi yang sedang kebingungan. Berdiri didepannya dengan sedikit gelisah.


"Kamu siram gak?"


"Siram," jawab Rezi cepat.


"Berapa hari sekali?" Tanya Wanda lembut.


"Pagi, siang dan malam."


"Ha ha ha." Wanda terkekeh mendengar ucapan Rezi.


"Pantas saja dia mati, kamu siramnya terlalu banyak, Rezi."


"Tapi saya baca artikel harus disiram sesering mungkin, biar bibitnya hidup dengan subur, Bu," bela Rezi lembut.


"Itu yang kamu baca bibit apa Rezi? ini bibit apa?" Wanda tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia mendorong pot itu kehadapan Rezi kembali.


"Saya gak tahu, saya kira semua bibit perawatannya sama saja," jawab Rezi lemah.


"Makanya jangan sibuk sama virus saja, sekali-sekali kamu main ke fakultas MIPA dan juga lab tumbuhan, Rezi," ucap Wanda lembut.


"Ini, ada gak di lab tumbuhan Bu? saya bingung bagaimana kalau teman saya tiba-tiba pulang."


"Ada, ayo ikut saya," ajak Wanda lembut.


Rezi mengikuti langkah Wanda memasuki lab tumbuhan yang ada di belakang kampus.


Rezi memperhatikan setiap tumbuhan yang ada disana.


"Jadi begini ya lab tumbuhan kampus," ucap Rezi melihat kesekeliling.


"Kenapa? takjub ya?" Tanya Wanda dengan tersenyum lembut.


"Iya, cantik sekali."


'Bagaimana ya kalau Neha lihat ini semua?' Lirih Rezi dalam hati.


Ia saja yang tidak terlalu suka dengan tumbuhan bisa sangat takjub dengan tumbuhan yang ada dalam lingkup kaca berukuran besar ini.


Apalagi Neha? mungkin ia akan betah disini dan tidak akan pulang.


"Itu, disana. Kamu cari saja bibit yang sesuai punya teman kamu."


Seketika mata Rezi membulat, ia tak percaya dengan tanaman tinggi yang ada didepannya.


"Ibu gak salah? masa bibit teman saya begini?" Tanya Rezi bingung.


"Enggak, bibit itu memang tanaman ini," jawab Wanda lembut.


"Apa jangan-jangan kamu gak tahu lagi ini tanaman jenis apa?" Tanya Wanda lembut.


"Kalau yang besar ini saya tahu, tapi bibit milik teman saya. Mana mungkin jadi begini," ucap Rezi tak percaya.

__ADS_1


"Kalau kamu tanamnya di tanah, dia juga akan tumbuh sebesar ini."


"Gak mungkin, bibit kecil itu? kaktus?" Tanya Rezi tak percaya.


__ADS_2