
Neha membuka pintu kaca toko bunga milik Ruby, Rezi menarik tangan Neha sebelum ia masuk kedalam.
"Neha tunggu dulu," tahan Rezi sambil melihat Ruby dari balik kaca.
"Sepertinya keadaan ini lebih buruk dari yang terlihat, apa sebaiknya kita tidak usah mengganggu mereka?" tanya Rezi kembali.
Neha melirik ke dalam toko, ia menghela napasnya dan mengirimkan pesan ke gawai Rezi.
(Ruby dan Chen, aku tahu bagaimana kisah mereka berdua, Rezi. Tapi jika saat ini ada orang lain di tengah mereka, mungkin Rubylah yang akan terluka kali ini).
Rezi kembali menatap Ruby dari balik kaca tokonya. Ia menghela napasnya dan tersenyum lembut.
"Baiklah, biar Ruby tetap bersamamu, dan aku akan mencari Soraya," ucap Rezi mengalah.
Neha tersenyum dan menganggukan kepalanya. Rezi mencium dahi Neha, sebelum ia pergi dari toko itu.
Perlahan Neha berjalan mendekati Ruby, meraih sebelah bahu Ruby.
"Neha," ucap Ruby sambil berdiri memeluk Neha erat.
"Neha, aku kehilangan Chen. Chen, berhenti, aku kehilangan dia, Neha," ucap Ruby terisak.
Neha mengelus pundak Ruby, mencoba untuk menenangkan perasaan kacau gadis itu.
Sebenarnya, kisah cinta segitiga sering kali berakhir dengan duka.
***
Rezi menghela napasnya saat melihat Aya duduk di taman depan rumahnya. Perlahan ia berjalan memasuki pekarangan rumah Mika dan duduk di sebelah Soraya.
Soraya menghapus buliran air matanya, tersenyum kecut saat melihat Rezi datang.
"Nangis saja kalau kamu mau nangis, Soraya. Jangan takut, ada aku di sini yang akan menemanimu," ucap Rezi lembut.
Soraya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Menarik napas yang terasa berat menyengal dadanya.
"Jangan simpan semuanya sendiri, ini tidak seperti kamu, Soraya. Biasa kamu akan cerita padaku saat sedih ataupun terluka," bujuk Rezi lembut.
"Sudahlah Rezi, gue hanya butuh waktu untuk sendiri. Elu tinggalin gue sendiri saja," pinta Soraya malas.
__ADS_1
"Tapi Aya--"
"Rezi, gue mohon, pergilah. Gue baik-baik saja," pinta Soraya kembali.
Rezi menghela napasnya dan bangkit perlahan. Sebenarnya ia tidak tega melihat Soraya begini, namun terkadang gadis ini keras kepala pada keinginannya.
Rezi mengelus kepala Soraya dan menariknya. Membenamkan wajah Soraya di dada bidangnnya.
"Aya aku mohon, jangan seperti ini. Ceritalah apapun itu sama aku, jangan pendam sendiri. Aku tahu, Chen, dia ... sudah menyakitimu," ucap Rezi mendekap tubuh Aya erat.
Mendengar ucapan Rezi, Soraya melilitkan tangannya di pinggang Rezi. Memecahkan tangisannya kembali.
"Gue baru saja ingin mencintai dia, Rezi. Gue baru saja merasa nyaman sama dia," ucap Soraya terisak.
"Gue, gue hanya ingin menerimanya saja, namun kenapa sulit sekali? Sulit sekali rasanya percaya pada lelaki selain elu," ucap Soraya semakin tergugu dalam tangisannya.
Rezi menelan salivanya dengan berat. Sebenarnya ia ingin sekali mengejar Chen dan menghajar lelaki itu sekali lagi.
Jika bukan memandang Neha, mungkin Rezi lebih memilih mendatangi Chen di bandingkan Aya.
"Aya, terkadang apa yang kita lihat belum tentu sama dengan kenyataannya. Sering kali kesalah pahaman terjadi karena kita hanya menggunakan mata untuk melihat tapi tidak mau menggunakan telinga untuk mendengar," ucap Rezi menenangkan.
"Aya, terkadang apa yang kamu lihat bisa mengelabui kamu. Mungkin Chen--" Rezi menggantungkan kalimatnya.
Kenapa ia malah membela lelaki itu? Tapi jika dipikir kembali, memang Chenlah yang bersalah.
Rezi menghela napasnya dan mencium pucuk kepala Soraya. Sebenarnya ia juga tidak tahu harus membela siapa diantara drama cinta ini.
"Baiklah Aya." Rezi meleraikan pelukannya dan mengusap pipi Soraya lembut.
"Jika kamu meyakini Chen salah, mungkin memang dia bersalah. Tapi coba kamu pikirkan kembali dan tanyakan pada hatimu, benarkah Chen seperti itu? Bagaimanapun, hubungana itu dibangun dengan kepercayaan, jika dari awal kamu tidak percaya padanya, untuk apa kamu meneruskannya?"
Soraya menghapus sisa buliran air mata di dagunya. Ia mendongakan kepalanya dan melihat wajah Rezi dengan lekat.
Rezi tersenyum lembut dan merapikan helaian rambut Soraya yang berantakan.
"Rezi, bolehkah jika gue membencinya?" tanya Aya lembut.
"Jika kamu ingin membencinya, ya benci saja. Tapi jangan sampai kamu benci dia hanya karena sebuah kesalahpahaman, jika itu terjadi. Aku yakin suatu saat nanti kamu akan menyesalinya, Aya."
__ADS_1
Soraya memainkan bibirnya dan mengangguk pasrah. Ia kembali mendekap tubuh bidang Rezi dengan erat.
'Andai saja Rezi, andai yang jadi pacar gue itu elu. Maka mau kesalahpahaman sebesar apapun gue akan tetap percaya sama elu. Karena gue tahu, karena gue percaya, sikap lembut dan hangat elu itu, selalu menenangkan jiwa,' lirih Aya dalam hati.
Sementara di balik kaca mobilnya, Chen melihat kejadian itu semua. Bagaimana Aya dan Rezi yang bisa sedekat itu sebagai seorang sepupu?
Yang benar saja? Siapa yang akan percaya jika mereka berdua sepupuan?
Chen tersenyum getir dan memukul setir mobilnya dengan keras. Perasaannya benar-benar kacau saat ini.
Ia berniat untuk membawa Soraya ke keluarganya, namun melihat semua ini. Ia menjadi ragu, Soraya bisa saja meninggalkannya demi Rezi suatu saat nanti.
Chen melajukan mobilnya menembus jalanan siang hari. Ia memarkirkan mobilnya di depan rumah Neha.
Chen langsung menarik tangan Neha saat ia melewati kebun bunga milik Neha.
"Neha, apa kamu dan Rezi baik-baik saja?" tanya Chen langsung.
Neha menganggukan kepalanya dan kembali sibuk pada tanamannya.
"Neha, tapi Rezi tidak sebaik yang kamu kira. Aku, aku gak mau lihat kamu terluka," ucap Chen hati-hati.
Neha meletakan penyiram tanaman di tangannya dan berbalik menatap wajah Chen.
Neha memainkan kedua jemari tangannya, bersamaan dengan gerakan dari bibirnya.
"Maksud aku, maksud aku kamu jangan terlalu percaya sama Rezi. Bisa saja di berbohong padamu soal perasaannya terhadapmu," ucap Chen lembut.
Neha menatap Chen dengan bola mata jernihnya itu. Ia menghela napas dan menggelengkan kepalanya.
"Neha, aku serius!" ucap Chen kembali.
Neha mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan ke dalam gawai milik Chen. Urusan cintanya yang rumit, kenapa sekarang Chen malah membawa-bawa urusan cintanya dan Rezi.
(Sebenarnya kamu mau bilang apa, Chen? Rezi, aku kenal dia, dan dia bukan lelaki penipu). tulis Neha dalam pesannya.
Chen mengacak rambutnya dengan sedikit kesal. Ia menghela napasnya dengan sedikit berat.
"Dia mungkin tidak akan menipu kamu dengan perasaannya. Tapi bagaimana jika dia dan sepupunya terlibat perasaan?" tanya Chen kembali.
__ADS_1
Seketika gerakan tangan Neha yang sedang menyirami bunga terhenti. Ia berbalik, menatap wajah manis Chen dengan sinis.