Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
04


__ADS_3

Evgen menaiki pagar belakang sekolahnya, namun sialnya saat itu Shenina sedang membuang sampah.


"Hey, Evgen! gue bilangin elu mau bolos kan?"


"Ssttt ..." Evgen meletakan tangannya di depan bibir, meminta Shenina untuk diam.


Namun bukannya diam, Shenina terus berteriak dengan keras.


"Pak, Erwin, Pak Dhani, Evgen mau bolos!"


Mendengar suara teriakan Shenina, Evgen turun dan membekap mulut Shenina.


Namun terlanjur teriakan Shenina membuat para guru datang berkumpul.


"Evgen, Shenina, apa yang kalian lakukan disini?" tanya Pak Erwin yang baru datang.


"Evgen mau bolos Pak."


"Eh, enggak Pak. Saya bantuin Shenina buang sampah, ya kan Shenina." jawab Evgen mengelak.


"Kalau begitu, masuk kalian berdua!"


Mau tak mau niat Evgen untuk bolos harus di urungkan. Evgen menatap Shenina dengan tajam, Evgen menggepalkan tangannya dan mengancam Shenina.


Bukannya takut, Shenina malah menjulurkan lidahnya. Mengejek amarah Evgen yang kian membara.


Evgen kembali ke kelasnya dengan wajah cemberut, padahal hari ini dia sudah bersiap untuk main game keluaran terbaru di perkumpulan teman-temannya. Namun Shenina malah menghancurkan rencananya begitu saja.


"Awas saja lu Shenina, gue buat hari ini elu membalas semuanya!" rutuk Evgen kesal.


Bel istirahat berbunyi, dengan cepat Evgen berlari ke kantin. Melihat kantin yang penuh dengan kerumunan siswa.


Mata Evgen mencari wanita yang telah membuat rencananya gagal itu. Bibirnya tersenyum saat melihat Shenina yang sibuk mondar-mandir dengan nampan di tangannya.


Saat istirahat, Shenina selalu bekerja di kantin untuk menghasilkan uang lebih. Shenina adalah salah satu siswi penerima beasiswa. Sementara Evgen adalah anak dari donatur terbesar di sekolah itu.


Karena posisinya itu, membuat Evgen suka bertindak sesuka hatinya. Evgen berjalan mendekati Shenina yang sedang sibuk. Saat Shenina berjalan di sampingnya, Evgen sengaja menabrakan bahunya ke Shenina.


Seketika makanan yang di bawah Shenina tumpah mengokotori badan Evgen.


"Elu lagi, elu lagi, suka banget elu cari masalah sama gue ya!" ucap Evgen membara.


"Heh, elu kalau jalan pakai mata! elu gak lihat kantin lagi ramai begini?" ucap Shenina tak ingin kalah.


"Elu berani ya, dari dulu elu selalu ngelawan gue, elu gak takut kalau beasiswa elu di cabut?" ancam Evgen lantang.


"Heh elu, anak manja yang suka buat masalah, selain ngancam dan berteriak ada keahlian lain yang bisa elu tunjukin?"


"Elu nantangin gue!" ancam Evgen keras.


"Gue gak takut sama elu." dengan cepat Shenina berbalik dan meninggalkan Evgen.


Namun lebih dulu amarah Evgen membara menghadapi wanita ini. Niat awalnya hanya ingin mempermalukan Shenina, tapi Shenina memang selalu menantangnya dari 2 tahun yang lalu


Dengan cepat tangan Evgen menarik kera belakang kemeja Shenina. Evgen membalikan badan Shenina dan ...


Bugh

__ADS_1


***


Nada dering ponsel Megi menjerit dengan keras. Dengan cepat Megi mengangkat saat melihat nomor dari sekolah Evgen yang menghubunginya.


"Selamat siang, Bu Megisia."


"Siang, Bu. Evgen buat masalah lagi ya?" tanya Megi langsung.


"Bisa Ibu ke sekolah lagi hari ini?" tanya kepala sekolah di seberang sana.


"Evgen buat masalah apa lagi ya, Bu?" tanya Megi tak sabar.


"Evgen berantem dengan anak perempuan, dan memukul anak perempuan itu."


Megi meraih dahinya dan menghela nafasnya. Pusing sekali ia menghadapi anak lelakinya itu.


"Baik, Papanya Evgen yang akan kesana nanti."


Megi terduduk lemas dan mengelus dahinya yang terasa cenutan saat menghadapi putranya itu.


Dengan cepat tangan Megi menekan sederet angka. Menelpon seseorang di seberang sana.


"Halo, Sayang. Ada apa?" tanya Sean lembut.


"Kak, tolong kakak kesekolah Evgen. Aku sudah gak sanggup lagi ngurus anak itu." ucap Megi lemas.


"Tenang Sayang, ada apa? Evgen buat masalah apa lagi?"


"Evgen berantem dengan anak perempuan, kak. Kenapa kakak gak nuruni kepintaran kakak sama dia? kenapa yang kakak turuni malah sifat bar-bar kakak?" tanya Megi lemas.


"Yasudah kamu tenang saja, biar aku yang ngurus masalah ini, Sayang."


Sean langsung menutup panggilannya, melajukan mobilnya ke sekolah putranya itu.


Mencoba menyelesaikan masalah yang terus di buat oleh putranya itu.


Sean menatap Evgen yang baru masuk kedalam mobilnya dengan tatapan tajamnya. Walaupun sudah mau memasuki usia setengah abad, namun tatapan tajam Sean masih tak berubah.


Tatapannya masih bisa mengurung orang lain dalam ketakutan yang dalam. Tak terkecuali Evgen, bahkan walaupun Sean tak mengatakan apapun, Evgen tak berani mengangkat kepalanya saat Sean menatap ia seperti itu.


"Puas?" tanya Sean datar. "Kamu mau buat Mama kamu mati kesal?" tanya Sean dingin.


"Maaf, Pa." ucap Evgen lemah.


"Papa diami kamu selama ini, bukan berarti Papa setuju dengan sikap kamu selama ini Evgen. Kamu kelewatan." tegas Sean.


"Tapi dia yang lebih dulu cari masalah sama aku, Pa." bela Evgen.


"Evgen!" tekan Sean. "Papa dulu saat SMA sudah bisa bela diri Systema, tapi Papa gak pernah tarung-tarung gak jelas begitu. Apalagi sama cewek, kamu ini lelaki, jangan bersikap seperti seorang pecundang."


Evgen hanya menundukan pandangannya, kalau sudah Sean yang berbicara, sepatah katapun ia tak berani melawan.


"Kita ini lelaki, Evgen. Kita ini di takdirkan untuk melindungi wanita, bukan malah pukuli wanita. Malu, seharusnya kamu malu, kalau kamu gak bisa nahan emosi kamu sama wanita, jangan pernah nikahi wanita."


Sean melajukan mobilnya, ia tak tahu lagi harus berucap apa. Memang sifat ia menurun dengan anaknya itu, pantas saja dulu Rayen tak sanggup jika harus mempunyai cucu yang memiliki sifat yang sama dengannya.


Bahkan Sean saja hampir mati kesal menghadapi setiap ulah Evgen.

__ADS_1


"Kamu di skors satu minggu, pikirkan baik-baik dan minta maaf sama perempuan itu setelah masuk sekolah."


"Tapi, Pa."


"Jangan jadi pecundang yang gak berani mengakui kesalahan. Jangan buat Papa kecewa lagi, Evgen."


Evgen hanya bisa menundukan pandangannya dan diam. Tak berani lagi menentang perintah Sean.


"Papa dulu pernah remaja juga. Papa biarin kamu nakal, tapi Papa malah lihat kamu begini. Evgen, Papa dulu punya kekuatan untuk melindungi wanita, bukan memukuli wanita, Papa gak bayangin jika Papa ajari kamu Systema, mungkin kamu buat mati anak orang."


"Pa, aku minta maaf."


"Yang paling kecewa sama kamu saat ini bukan Papa, tapi Mama. Evgen, Mama kamu dulu ngelahirin kamu dengan air mata, sekarang kamu sudah besar juga mau buat Mama mati dengan air mata?"


"Papa kenapa ngomong begitu terus?"


"Terus Papa harus bilang apa?" bentak Sean keras.


Kembali Evgen menundukan pandangannya. Ia tahu ia bersalah, tapi ia tak menyangka Papanya akan berbuat seperti ini.


Selama ini Papanya selalu berucap tegas, tak pernah membentak. Tapi hari ini, ia melihat bagaimana jika Papanya terbakar oleh amarah.


Sean membuka daun pintu rumahnya, dari depan pintu Megi sudah terlihat. Duduk dengan memegangi dahinya.


Megi menghapus buliran air matanya dan bangkit, mendekati Sean.


"Kakak sudah pulang?" Megi mengambil tangan Sean dan menciumnya.


"Ayo makan, aku sudah siapin makan siang." ajak Megi lembut.


"Ma." Evgen mengulurkan tangannya namun Megi melewatkan Evgen begitu saja. Seperti tak melihat ada Evgen disana.


Megi mengambil piring dan mengisi beberapa makanan kedalam piring. Meletakan dengan lembut di hadapan Sean.


Setelah selesai melayani Sean, Megi duduk di sebelah Sean.


"Ma." Evgen berlutut di samping Megi duduk dan meraih kedua jemari tangan Megi.


"Aku salah, Ma. Tapi aku mohon jangan diemi aku, Ma." ucap Evgen lembut.


"Pergi, Mama gak mau lihat kamu. Terserah mau ngadu sama Ayah atau Bunda kamu. Mau jadi anak Bunda juga gak masalah." Megi bangkit dan langsung menaiki tangga.


"Megi." panggil Sean lembut.


Namun Megi tak mendengarkan, Megi langsung naik keatas dengan menghapus buliran air matanya.


Sean menghela nafasnya dan melirik kearah Evgen yang masih berlutut di sebelah kursi Megi tadi.


"Ada apa ini, Pa?" tanya Rezi yang baru masuk dari pintu depan.


"Tanya sama Adikmu, ada apa. Papa mau naik dulu." Sean meninggalkan meja makan dan ikut naik keatas.


Rezi membuang pandangannya kearah Evgen. Perlahan Evgen bangkit dan memeluk badan Rezi.


"Kak, tolong aku." ucap Evgen menangis di bahu Rezi.


Rezi hanya bisa menghela nafasnya dan mengelus pundak Evgen. Menenangkan Evgen sementara.

__ADS_1


__ADS_2