Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 96


__ADS_3

"Kali ini aku gak akan lepasi kakak lagi, gak akan!"


Sean menghela nafas berat.


"Ikut gue!" perintahnya sambil berjalan memasuki perkarangan taman bermain.


Sean duduk di kursi panjang dan menidurkan putranya diatas pangkuannya. Sementara Megi duduk di samping kosong sisi Sean.


"Sebenaranya apa yang lu mau dari gue?" tanya Sean tanpa basa basi.


"Aku rasa kakak lebih paham apa yang aku inginkan."


"Lu lupa? gue bukan orang yang suka berbelit-belit. Jadi katakan dengan jelas." ucap Sean ketus.


"Aku mau kakak izinkan aku jadi ibu sambungnya Fachrezi, Kak."


"Lu gak waras, Megi. Gue punya anak, gue punya istri, Megi."


"Saat ini aku bukan lagi Megi lima tahun yang lalu, yang bisa kakak bohongi. Aku tahu kakak saat ini sedang sendiri."


"Jangan tebak-tebakan sama gue, Megi. Kenapa lu yakin banget gue sendiri saat ini."


"Karena Fachrezi bilang, dia anak Papanya."


"Hah?" Sean tersenyum sinis dan menggelengkan kepalanya. " Hanya itu?" tanya Sean tersenyum sinis.


"Bagaimana mungkin elu ngira gue ini sendiri hanya karena alasan sesimple itu, Megi?"


"Kakak gak tahu ya? pada dasarnya anak itu lebih dekat sama Ibunya, setiap anak akan menjawab Ibu saat di tanya anak siapa, karena anak memang lebih dekat ke Ibu." jelas Megi.


"Kalau anak itu bisa jawab Papanya, maka kemungkinan terbesarnya adalah anak itu gak punya Ibu. Karena kalau ada Ibu, anak akan lebih dekat sama Ibunya, sesibuk apapun Ibunya."


Sean kembali terdiam, walaupun teori buatan Megi itu terkesan di paksakan, namun Megi masih memiliki refleks otak yang sangat cepat.


Dia bisa memikirkan hal seperti itu hanya karena ucapan Rezi. Sean tersenyum sinis dan melihat Megi dengan tajam. Megi masih sangat pintar menggunakan otaknya. Tapi kenapa dia selalu bodoh dalam urusan perasaanya.


"Yang aku bilang, benar kan Kak?"


"Gue jujur, saat ini gue emang udah duda." jawab Sean lembut.


Megi melepaskan senyumnya, lega mendengar pernyataan Sean.


"Tapi gue mohon Meg, jangan bodoh. Lu itu cantik, lu sukses dan elu masih muda. Lu bisa carik yang lebih dari gue." tolak Sean kasar.


Seketika senyum Megi memudar, setelah bertahun-tahun pun yang ia dapatkan masih kata penolakan dari Sean.


"Kakak mungkin lupa seusatu." ucap Megi lembut.


"Lupa apa?" tanya Sean jutek.


"Kakak lupa? Kalau status duda itu, aku yang pertama kali berikan untuk kakak."


Megi menatap kosong kedepan, matanya memandang anak-anak yang sedang bermain.


"Kak, aku gak peduli mau kakak duda ataupun apa? aku pikir setelah aku sukses maka aku akan bahagia, tapi saat ini pun aku hampa."


Sean hanya menghela nafasnya dan mengelus dahi putranya. Ia memandang Megi sendu.


"Gue gak bisa balik sama elu, Meg. Tolong Meg, carik yang lebih dari gue."


"Kenapa? apa kakak masih berbisnis dengan jalan yang sama? apa aku di tolak karena alasan yang sama?"


Sean menggelengkan kepalanya. Matanya menatap kosong ke hamparan luas taman bermain.


"Saat ini gue udah meraih, gak lagi mendaki. Gue banyak kehilangan orang-orang yang gue sayang karena itu. Saat ini gue punya anak yang harus gue lindungi."


"Jadi kenapa? gak ada alasan kan buat kakak nolak aku sekarang?"


"Sampai sekarang pun elu masih suka memaksa. Kenapa enggak lu lupain gue aja? lu bisa dapeti lelaki yang jauh lebih baik dari gue."


"Gak akan ada pernah yang lebih kak, saat hati aku menginginkan seseorang, maka orang itu lah yang lebih dari siapapun. Yang terbaik hanya akan datang sekali kak." bantah Megi keras


"Dan itu kakak." sambungnya lembut.


Sean menggaruk kepalanya yang tak gatal, setelah bertahun-tahun pun ternyata Megi masih tak berubah.


"Susah ngomong sama elu Meg, gak akan bisa kalah elu."


"Aku pun begitu kak, gak akan bisa kalah dalam perjuangin hati kakak."


"Kenapa? Kenapa setelah bertahun tahun elu gak lupain gue aja? lu gak capek apa? gue udah nyakiti elu, Megi." tanya Sean ketus.


"Aku udah pernah mencobanya kak." jawab Megi sambil memandang wajah Sean.


"Bukan sekali atau seribu kali lagi. Tapi yang bertahan ya akan tetap bertahan kan? bukan kuasa aku kak."

__ADS_1


"Yaudah lu balik gih, gue juga mau balik, kasian anak gue kecapek an."


Sean berjalan menjauh dari Megi, meninggalkan Megi sendiri dengan segala luka yang kembali mendalam. Sean tetap akan selalu menolaknya, dan akan terus menolaknya.


Megi berjalan dengan langkah gontai menuju hotel tempat ia menginap. Ia mengepakan barangnya dan segera kembali kekotanya. Meninggalkan Sean untuk kedua kalinya.


Kenapa ia begitu bodoh, hanyak karena bertemu Sean sekali, segala harapan yang pernah hilang dulu, berusaha ia bangun dengan susah payah kembali runtuh.


Gak ada yang perlu di perjuangin lagi, saat ini semuanya sudah tak akan pernah kembali. Apa lagi yang harus dibuat, semua sudah terlambat.


Megi berusaha kembali pada kesibukannya, pertemuannya dengan Sean hanya dianggap sebagai mimpi indahnya.


Di tengah kesibukannya ponselnya berdering dengan keras. Ia mengangkat telepon itu setelah melihat namanya.


"Ada apa, kak?" tanya Megi langsung.


"Pulang ke Beijing dong. Kak Irena harus dirawat." ucap Mika cemas.


"Loh kenapa bisa?"


"Kontraksi hebat."


"Yaudah, nanti sore aku pulang deh."


"Sekarang dek, kakak sibuk banget ini, malah ada temen Aya lagi?"


"Iya, aku beresin kerjaan dulu, mana mungkin di tinggal gitu aja."


"Yaudah pokoknya ambil penerbangan tercepet ya, kalau gak pulang, kakak gak akui lagi jadi adik!"


"We Kak..." Mika langsung memutuskan teleponnya.


Megi hanya bisa menghela nafasnya pasrah.


Ia segera memberikan arahan pada anak buahnya, menyiapkan bahan desain yang akan ia bawa ke Beijing dan memesan tiket pesawat tercepat.


"Assalamualaikum." Megi membuka pintu rumah Mika dengan salam


"Tante..." Aya berlari memeluk Megi.


"Tante tau gak? ada temen baru Aya loh, Tante." ucap Aya gembira.


"Oh ... ya, mana?"


Soraya menarik tangan Megi menuju taman belakang rumah Mika. Matanya membulat sempurna saat melihat teman Aya yang baru.


"Kok kenal, Meg?" tanya Mika sambil memasukan makanan kedalam rantang.


"Ini anak kak Sean kan kak?" tanya Megi kaget.


"Iya, kok tahu?" tanya Mika bingung.


"Aku jumpa kak Sean di Macau." jawab Megi lembut.


"Oh iya, Sean memang lagi di Macau. Dia nitipin anaknya ke kakak, takut anaknya keliaran dan hilang lagi."


"Ehm..." jawab Megi cuek.


"Kakak balik kerumah sakit dulu, tolong jaga Aya dan Rezi ya." pinta Mika.


Megi hanya menganggukan kepalanya, pasrah.


"Oh ya bawa Aya ke taman hiburan ya, kemarin Aya merengek minta kesana, kakak gak sempat."


"Hǎo ba. (Baiklah)" jawab Megi malas.


"Jangan gak di bawa, nanti dia merajuk sama kakak."


"Iya, nanti siap mandi aku bawa deh."


"Jangan gangguin anak Sean ya, nanti dia ngadu ke Papanya." ledek Mika.


"Kakak apaan sih?" tanya Megi kesal.


"Baik-baik sama mereka ya, jangan terbawa perasaan sama Rezi. Itu Rezi, bukan Papanya." ledek Mika.


"Méiyǒu. (Tidak)" jawab Megi malas.


"Jangan cium Rezi, mengkhayal cium Papanya ya." goda Mika kembali, bibirnya tersenyum sinis.


"Méiyǒu la." sanggah Megi kesal.


Mika tertawa terbahak, Mika meraih pucuk kepala Megi dan mengusapnya, geram.


"Wèishéme? (kenapa)" tanya Mika kembali.

__ADS_1


"Wèishéme ne?" (Apanya yang kenapa) tanya Megi kembali.


"Wèishéme shēngqì? (Kenapa marah)" Mika memainkan kedua alis matanya. "Nǐ réngrán ài tā? (Kamu masih mencintainya)."


Megi mendecak kesal, ia melirik kearah Mika dengan tajam.


"Bùshì nàyàng de. (Bukan begitu.)" sanggah Megi kesal.


"Bùshì..." (Bukan). Mika menggantungkan kalimatnya dan melirik kearah Megi dengan tersenyum tipis.


"Nǐ bù ài tā..." (Kamu tidak mencintainya) Mika mendekatkan wajahnya ke Megi.


"Dàn nǐ xiǎngniàn tā." (Tapi kamu merindukannya). Bisik Mika di telinga Megi.


Seketika wajah Megi memadam, mendengar perkataan Mika.


"Méiyǒu la." (Tidak.) ucap Megi sedikit berteriak.  Kesal setengah mati melihat Mika yang tak berhenti menggodanya.


Mika melepaskan tawanya, kali ini Megi benar-benar menunjukan ekspresinya.


"Gak perlu seperti itu juga reaksimu, kalau memang tidak." ucap Mika santai.


"Kakak, gak lucu." jawab Megi kesal.


"Jadi kakak harus berkata apa lagi?" tanya Mika lembut.


"Maksudnya?" tanya Megi bingung.


"Xǔduō rén ài shàngle nǐ," (banyak orang yang jatuh cinta sama kamu) ucap Mika lembut.


"Dàn méiyǒu shé me néng ràng nǐ de xīndòng." (Tapi tidak ada yang bisa membuat hatimu tersentuh). sambung Mika lembut.


Megi menatap wajah Mika, ia tidak bisa menjawab atau menyangkalnya lagi. Jelas Mika tahu bagaimana keadaan ia selama ini, namun Mika hanya diam dan melindungi tanpa mau bertanya.


"Chúle tā, nǐ bù zài xiǎng rènhé rén." (Selain dia, kamu tidak memirkirkan siapapun lagi.) ucap Mika sendu


"Wǒ ... Wǒ ... " (Aku) Megi menggantungkan kalimatnya dan melirik kearah Mika.


"Wǒ bù gǎn chéngrèn." (Aku tidak berani mengakuinya) jawab Megi sendu.


"Shīqù tā zhīhòu, wǒ yīwúsuǒyǒu." (Setelah kehilangan dia, aku tidak memiliki apapun lagi.) sambung Megi lembut.


"Tapi sekarang sudah berani mengakuinya kan?" Mika memainkan kedua alis matanya. Kembali menggoda Megi yang mulai menampilkan ekspresi sendu.


"Huh, selama ini di tanya enggak, enggak. Sekarang baru jujur." ledek Mika kembali.


"Kakak apaan sih? udah pergi sana." Megi mendorong badan Mika untuk segera keluar dari pintu rumah.


"Hǎo ba. Hǎo ba. (Baiklah, baiklah). " jawab Mika dengan tersenyum menggoda.


"Wǒ líkāi. (Aku pergi.)" Mika menarik kepala Megi dan mencium dahinya dengan lembut.


"Xiǎoxīn. (Hati-hati)"


Setelah melihat punggung badan Mika pergi, Megi bergegas kekamarnya, menyegarkan badannya dan bersiap untuk membawa Aya ke taman hiburan.


Setelah menyiapkan dua bocah ini, Megi langsung menggandeng kedua bocah itu menuju taman hiburan. Menjaga dua bocah itu bermain.


Megi memandang wahana bianglala di hadapannya, teringat kembali masa silam itu, pikirannya kembali mengenang saat indah itu. Dengan cepat Megi memalingkan pandangannya membuang kembali pikiran masa lalunya.


Sudah di bilang Mika jangan terbawa perasaan, namun Megi masih tak kuasa melawan semua kenangan yang masih terus bermain di ingatannya.


Tak lama ia tersadar, dua bocah itu menghilang, tak ada lagi di komidi putar tempat mereka bermain tadi.


"Aduh... Kemana ini dua bocah? bisa di bunuh aku sama kak Mika." lirih Megi panik.


Megi berlari memutari taman hiburan itu, matanya melihat seksama setiap anak kecil ditaman itu.


"Aya ... Rezi ..." jeritnya.


Megi tak menemukan kedua anak kecil itu, ia memutari berulang kali, tapi anak itu memang tak ada disini. Megi mulai bingung, air matanya mengalir deras, mau tak mau ia harus menelpon Mika. Meminta bantuan kak Mika sebelum anaknya menghilang lebih lama.


Megi mengeluarkan ponselnya dan menelpon Mika. Namun sambungannya tak terangkat. Sekali lagi ia memutari taman hiburan itu, namun hasilnya nihil.


Hari mulai gelap, namun dua bocah itu menghilang, Megi berjongkok, kebingungan mau mencari kemana.


Masih sore aja dia tak menemukan dua bocah itu, apalagi saat gelap.


Bersamaan, telepon Megi berdering, dilihat nama yang tertera dilayar membuat tangannya bergetar. Dengan mengumpulkan segenap keberanian ia mengangkatnya.


"Kak." tangis Megi memecah saat sambungan pertama diangkat.


"Ada apa Meg? kok nangis?" suara cemas di seberang sana.


"Rezi dan Aya hilang." ucapnya tergugu

__ADS_1


"Apa?"


__ADS_2