Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 124


__ADS_3

Sean memandangi wajah Megi yang saat ini sedang tertidur pulas. Dari semalam matanya tak sedikitpun terpejam.


Pikirannya terus berperang, berusaha mencari jalan keluar untuk bisa menyelamatkan pernikahnnya.


Sean mengelus perut Megi, menyingkap bajunya. Menyentuh langsung pada kulitnya.


"Sayang, Papa janji akan melindungi kamu dan Mama kamu. Kamu harus kuat ya di dalam, percaya sama Papa, Papa bisa atasi ini dengan baik."


Sean mendekatkan kepalanya ke perut Megi, mencium perut Megi dengan lembut dan menempelkan telinganya di atas perut Megi.


"Kamu percaya kan sama Papa, Nak. Kamu harus beri kekuatan untuk Papa ya, Sayang. Bertahanlah di dalam perut Mama kamu, sampai saatnya kamu lahir. Kamu harus baik-baik saja."


Sean menghapus sudut matanya yang sedikit berair karena mengatakan itu. Sakit sekali hati dan perasaanya saat ini. Namun jika Megi mengetahui apa yang Mika katakan. Pasti ia akan bertindak dengan gegabah.


"Tolong bantu Papa ya, Sayang. Kamu harus beri Papa waktu untuk menyelesaikan semua ini. Papa janji, Papa janji kita akan baik-baik saja."


Sean bangkit perlahan dan memasuki kamar mandi. Membasuh tubuhnya yang terasa begitu lelah karena beban yang terus menyiksanya ini.


Megi bangkit dan mengubah posisi nya menjadi duduk diatas kasur.


"Apa maksud kak Sean ngomong seperti itu?" lirih Megi bingung.


"Apa kak Mika meminta kami bercerai setelah anak ini lahir?" Megi memutar bola matanya.


"Enggak, enggak. Aku harus bicara sama kak Mika." Megi menyingkap kain selimutnya.


Tanpa sengaja tangannya menyenggol segelas air di atas nakas.


"Haish." ucap Megi memejamkan matanya dan menghela nafasnya kesal, saat melihat pecehan kaca itu berserak diatas lantai kamarnya.


Suara pecahan kaca gelas itu membuat perhatian Sean teralih. Dengan cepat Sean mengambil handuknya dan memilitkannya di pinggang, keluar dengan sedikit tergesa.


"Ada apa, Sayang?" tanya Sean yang berjalan keluar.


"Oh, aku baru bangun. Gak sengaja pecahin gelas." ucap Megi memunguti pecahan gelas di lantai.


"Tinggalkan saja, biar aku yang bersihkan." perintah Sean lembut.


"Gak apa, Kak. Aku bisa."


"Megi." panggil Sean lembut.


Megi menghela nafasnya dan bangkit perlahan. Duduk kembali di bibir ranjangnya. Ia kesal setengah mati karena tak jadi menemui Mika.


"Megi, ikut aku ke hotel ya."


"Eh, kenapa? kok tumben?"


"Aku butuh bantuan kamu, sedikit." ucap Sean lembut, tangannya masih sibuk membereskan pecahan kaca di bawah lantai.


"Emh." jawab Megi mengangguk.


***


Sudah lima hari, Megi selalu mengikuti langkah Sean kemanapun Sean pergi. Bahkan saat Sean rapat dan meeting dengan client sekalipun, Sean tak mengizinkan Megi untuk menghilang dari pandangannya.


Sean berusaha untuk menjauhkan Mika dan Megi sementara. Sebelum masalahnya dengan Mika menemui ujung yang baik. Megi tak boleh memenumui Mika sedikitpun, kalau tidak Megi akan melakukan hal yang terlintas dalam pikirannya tanpa pikir panjang.


Kejadian di barat kota yang membuat Megi berani menggoreskan pisau di wajahnya, sudah cukup membuat Sean memahami. Megi mampu melakukan apapun tanpa memikirkannya dahulu, jika itu menyangkut pernikahan mereka.

__ADS_1


Megi menaiki anak tangga lobi hotel pesisir putih. Megi menghela nafasnya dan memegangi perut bawahnya.


Tak lama ia meraih bahu Yohan yang berdiri tepat di belakangnya, menumpuhkan satu tangannya untuk menahan rasa sakit.


"Uhhh." Megi mengernyitkan dahinya dan memegang bahu Yohan semakin erat.


"Nyonya." ucap Yohan cemas, namun ia tak berani menyentuh kulit Megi.


"Bos!" panggil Yohan sedikit berteriak.


Sean mengalihkan perhatiannya dari tamu istimewa yang akan menginap di hotel itu. Saat melihat Megi, Sean langsung belari mendekati Megi yang masih berdiri di tangga lobi.


"Megi, apa yang terjadi?" tanya Sean mengambil bahu Megi, merapatkan ke badannya.


"Perut aku kram, kak. Kencang banget rasanya." ucap Megi menahan sakit.


"Kita kerumah sakit, ya."


"Gak, gak usah. Kakak bantuin aku cari tempat duduk ya."


Sean mengangkat badan mungil Megi. Mendudukannya di kursi penunggu lobi.


"Yohan, tolong handle urusan gue dulu ya." perintah Sean lembut.


"Baik, Bos." jawab Yohan menjauh.


Sean membuka flat shoes yang di gunakan Megi. Mengurut pergelangan kaki Megi dengan lembut.


"Kecapekan ya, Sayang? maafin aku ya." ucap Sean bersalah.


"Sebenarnya kakak mau aku tolongin apa sih? udah lima hari loh, aku cuma ikuti kakak doang." tanya Megi lembut.


Sean tersenyum dan memijit betis kaki Megi, mencoba untuk meringankan rasa sakitnya.


"Emh." Megi menganggukan kepalanya.


"Aku cuma mau minta tolong satu." ucap Sean lembut.


"Apa?"


"Tolong jangan pernah hilang dari pandanganku walaupun sedetik. Dan tetap di sisiku setiap detik." ucap Sean lembut.


Megi tersenyum, namun pikirannya mulai mencerna. Ini semua pasti ada hubungannya dengan Mika. Ia yakin sekali kalau Mika pasti meminta mereka untuk bercerai.


"Kak, aku istirahat di rumah ya." pinta Megi lembut.


"Aku belum bisa anterin. Yohan juga lagi ada tamu, istirahat di kamar kita saja ya."


"Baiklah." ucap Megi mengalah.


Sean membuka pintu kamar hotelnya, setelah ia bertemu dan menikah dengan Megi kembali. Kamar ini sama sekali tak pernah ia tempati.


Megi melemparkan tas nya keatas kasur, melihat kesekeliling kamar dengan seksama.


"Interiornya gak berubah sama sekali ya?" ucap Megi memandang kesekiling.


"Kamar hotel, dan juga apartemen. Gak pernah aku ubah walau letak debunya sekalipun."


Megi melepaskan senyumnya dan melihat Sean yang masih berdiri di depan pintu.

__ADS_1


"Apartemen kita masih kosong, Kak?" tanya Megi basa basi.


"Iya." jawab Sean menutup daun pintu kamarnya.


"Hem." Megi mengelus permukaan sprai kasur berwarna putih itu.


Mengingat kejadian lama di dalam ruangan ini.


"Megi."


"Hem."


"Di sini pertama kali aku membawamu dan memaksamu untuk melakukan itu sama aku." ucap Sean mendekat.


"Disini juga pertama kali kamu menahan aku dan memaksa aku untuk melakukan itu padamu."


Megi tertawa saat Sean mengatakan hal itu, lucu jika mengingat hari itu.


"Jadi sekarang." Sean meraih kedua tangan Megi dan berlutut di depan Megi.


"Untuk pertama kalinya di dalam kamar ini, mau gak kamu melakukan itu sama aku tanpa paksaan?"


Megi membalikan telapak tangannya dan membalas genggaman tangan Sean.


"Ngomong apa sih kak? tentu saja aku mau." jawab Megi tersipu malu.


Sean tersenyum dan meraih sebelah pipi Megi. Mengelus lembut sebelah pipi Megi.


Andai waktu itu Sean tak terlalu takut untuk mengatakan semua kejujuran ini pada Mika. Mungkin hari ini, keadaan ini, gak akan pernah datang.


Ia terlalu takut untuk mengatakan sebuah kejujuran, berapa banyak hal yang sampai saat ini ia simpan. Entah kapan dan sampai kapan, semua ini masih bisa ia simpan.


Sean menghela nafasnya yang terasa sangat sesak. Memeluk badan Megi dengan erat, perlahan Sean memejamkan kedua kelopak matanya. Menikmati hangat pelukan Megi saat ini.


Satu tetesan air melintasi pipi Sean saat ia membuka kelopak matanya. Sean menghela nafasnya dan membenamkan hidung mancungnya di bahu Megi.


Mencium aroma badan Megi yang semakin membuat ia takut kehilangan Megi.


Sean mengeratkan pelukannya, mencoba untuk menahan Megi dalam dekapannya.


"Aku berani bersumpah di depan makam Papa kamu, Megi. Bahwa aku selalu takut kehilangan dirimu." ucap Sean lirih, yang sedang memeluk bahu Megi dari belakang.


Mendengar ucapan Sean, Megi membalikan badannya. Menatap Sean yang masih berbaring di sampingnya, memeluk ia dengan sangat erat.


"Ada apa sebenarnya kak? katakan padaku." ucap Megi sendu.


"Tak ada apa-apa, hanya rindu." jawab Sean berkelit.


Megi meleraikan pelukan Sean yang sedari tadi terus mengerat selama berjam-jam. Ia mengubah posisinya menjadi duduk diatas ranjang.


"Ada apa? jujur sama aku." pinta Megi keras.


Sean tersenyum dan meraih pipi Megi, mengelus pipi Megi dengan lembut.


"Sini, ayo tidur lagi." Sean mengangkat selimutnya dan menepuk kasur kosong di sebelahnya.


"Stop, cukup kak. Sudah berhari-hari kakak bersikap aneh sama aku. Jangan kakak pikir aku gak tahu. Apa yang kak Mika katakan malam itu sama kakak?" tanya Megi tegas.


"Mika hanya mengusir aku, Sayang."

__ADS_1


"Benarkah hanya mengusir? bukankah kak Mika minta kakak untuk menceraikan aku setelah anak kita lahir?" tanya Megi tepat sasaran.


Sean hanya terdiam, menatap wajah Megi yang mulai memadam.


__ADS_2