
"Hai, Nona cantik." Mika memeluk badan Megi dengan erat.
"Kak Mika." Megi membalas pelukan Mika.
"Bagaimana kabarmu, Dek?" tanya Mika meleraikan pelukannya.
"Sangat baik, setelah memeluk Kakak."
"Ha ha ha. Dasar." Mika mengelus pucuk kepala Megi dengan lembut.
"Mana kak Irena?" tanya Megi sambil memalingkan pandangannya.
"Tuh lagi di cafe sebelah." Mika menunjuk kearah cafe sebelah gedung perusahaan Megi.
"Baru sampai?"
"Iya ... Nih buat kamu." Mika memberikan sebuket bunga piony ke hadapan Megi.
"Makasih." Megi memeluk badan Mika kembali, rindu sekali.
"Lagi sibuk?" tanya Mika.
"Enggak."
"Makan yuk!"
"Kakak yang bayarin kan?"
"Hem, dia yang Bos, malah minta traktir sama kakak yang cuma karyawan."
"Gak apa-apa dong, sekali-kali." Megi keluar dengan menggandeng gadis kecil itu.
Soraya, adalah putri kecil Mika. Mika menikah setelah setahun tinggal di Beijing. Menikah dengan senior Megi di kampus, yang berasal dari Indonesia juga. Saat ini Mika tak lagi berlayar. Mika bekerja di bidang kelautan atau syahbandar dalam bahasa Indonesia.
Tapi saat ini Mika masih tinggal di Beijing. Lagi-lagi Megi menjalani hidupnya sendiri.
"Kak Irena." Megi mendekat dan memeluk wanita yang saat ini sedang membuncit perutnya.
Wanita cantik dengan kulit kuning langsat dan juga mata yang besar. Hidung yang mancung tapi kedalam, masih tetap memiliki paras ayu khas orang sunda.
"Kalau gak di datengi gak mau pulang ke Beijing kamu ya." ucap Irena menjewer telinga Megi.
"Aduh sakit kak." ucap Megi merengek.
"Itu bunga dari siapa? ada yang iseng lagi menteror kamu?"
"Enggak, dari kak Mika." jawab Megi lemah.
"Makanya cepet nikah, biar ada yang jaga." titah Irena galak.
"Kak Mika jumpa mermaid ini dimana sih? galak banget!" ucap Megi merajuk.
"Eh ... Apa kamu bilang?" Irena kembali menjewer telinga Megi.
Sementara Soraya dan Mika hanya tertawa kekeh dan tak peduli. Megi meringis kesakitan, ia memukul tangan Irena yang menjewernya.
Setelah lepas Megi masih mengelus telinganya yang sakit.
"Sudah makan gih, itu sudah aku peseni." perintah Irena kesal.
"Makasih, kak." Megi mengumbar senyumnya.
__ADS_1
Dengan cepat Megi mengambil alat makannya dan makan dengan lahap. Mika menggulum senyumnya melihat adik perempuan semata wayangnya masih makan seperti anak kecil.
"Megi." panggi Mika lembut, saat melihat Megi makan dengan lahap.
"Hem."
"Kamu kok gak cari pacar?"
"Kenapa harus cari pacar?" tanya Megi dengan mulut penuh yang tersumpal makanan.
"Kakak khawatir sama kamu, apalagi sempat ada yang isengin kamu, kemarin kan."
"Aku baik-baik saja, Kak. Lagian siapa yang berani dengan adiknya Mikail Abbas, bahkan dugong saja takut."
"He he he. Kamu dugong nya kan." sanggah Irena.
Sementara Mika hanya terdiam, matanya menatap Megi dengan sendu.
"Kamu masih inget Sean, ya?" tanya Mika lembut.
"Uhuuk!" Megi menyambar gelas airnya.
"Sudah bertahun-tahun, tapi denger namanya saja masih bisa di pastiin kamu masih nyimpen rasa." ledek Mika.
"Apaan sih kak."
"Pulang kalau kangen." ucap Mika santai.
"Kak Sean kan sudah nikah." jawab Megi pasrah.
"Terus kenapa kamu gak nikah juga?"
"Entar aja kalau udah waktunya, sekarang aku lagi fokus keperusahaan, kak."
"Kalian nginep kan? Besok aku mau ke Macau, jangan cepet-cepet balik ya." ucap Megi mengalihkan pembicaraan.
"Hem, yang di kunjungi malah pergi. Kalau gak di kunjungi, gak inget pulang." ucap Irena kesal.
"Halaaahh, kalian juga mampir ke sini karena baru pulang dari Shenzhen kan?" tanya Megi ketus.
"Tega, liburan gak ajakin aku. Padahal aku juga lagi pingin ke Guangzhou."
"Ngapain ke Guangzhou?" tanya Irena.
"Cari inspirasi dong."
"Kakak gak liburan Megi, kakak lagi lihat kerjaan di Guangdong. Irena aja yang sibuk minta ikut." jelas Mika lembut.
"Dasar tukang ngintil." ucap Meginke Irena.
"Bawaan bayi loh, Meg." jawab Irena dengan tersenyum kuda.
"Mana oleh-oleh buat aku?" tanya Megi ketus.
"Tuh kan udah di bawain bunga." jawab Irena langsung.
"Cih ... Aku ini bukan gadis bodoh, kak Mika beli ini di depan perusahaan aku ya, Kak."
"Sudah anggap aja itu oleh-oleh." jawab Irena datar.
"Halaahh, pelit banget sih jadi kakak ipar, Ya Tuhan, dosa apa yang di buat kak Mika? dapet istri udah otaknya somplak, pelit lagi." ucap Megi meledek.
__ADS_1
"Eh ... Sembarang kali mulut itu ya." Irena menjewer kembali telinga Megi.
"Ah, au. Kakak." teriak Megi ke arah Mika.
"Besok-besok kalau ngomong itu di filter. Omongan yang keluar gak pake saringannya ya?" Irena mengencangkan tarikannya.
Megi mengernyitkan dahinya dan memukul tangan Irena keras.
"Kak lihat itu, telinga aku bisa panjang di jewerin terus." adu Megi, manja.
Mika hanya menggeleng dan tertawa, tak di hiraukannya pertengkaran dua wanita di hadapannya.
"Untung Soraya mirip aku, kalau mirip sama kakak, bisa gak nikah-nikah dia. Cantik enggak, galak iya." ucap Megi kesal.
"Eh sembarangan kalau ngomong, gini-gini aku bisa buat kakak kamu jatuh cinta sama aku."
"Ya Tuhan, demi apa? jelas-jelas kak Irena yang lebih dulu nanyain kak Mika sama aku, dulu."
Dengan cepat tangan Irena mencubit pinggang Megi. Membungkam bibir Megi yang ingin membuka kisah masa lalunya.
"Ah..." Megi membulatkan matanya menahan sakit.
"Ya Tuhan, aku yakin kak Mika di kasih mantra pelet sama kak Irena. Gak mungkin banget kak Mika bisa suka sama kak Irena kalau gak ada mantra peletnya."
"Hey Megi!" teriak Irena kesal.
"Sudahlah, kalian berdua ini. Malu di lihatin orang." tengah Mika. "Ngapain kamu ke Macau, dek?" tanya Mika mengalihkan pertengkaran Irena dan Megi.
"Ada tender baru disana kak. Lumayan gede, sayang kalau di tolak."
"Wah, sekalian Meg, pulang dari Macau langsung ke Guangzhou. Aku ikut ya." putus Irena, langsung.
"Ya Tuhan, stres banget aku lihat Ibu hamil satu ini. Ngidam kok hobinya jalan-jalan. Modus banget."
"Megi." tekan Irena galak.
Megi melepaskan senyumnya dan menggelengkan kepalanya pasrah.
"Aku lagi banyak kerjaan Kak. Paling juga sore langsung balik. Lagi banyak tender di perusahaan, gak punya waktu buat jalan-jalan dulu."
"Jangan terlalu di paksain, Meg. Kalau gak sanggup lepasin aja." ucap Mika santai.
"Aku gak akan pernah ngelepasain apapun lagi dalam hidup aku kak." jawab Megi lembut. Seketika wajah ceria Megi berubah sendu.
"Karena terakhir kali aku melepaskan, aku kehilangan segalanya." sambung Megi sambil menundukan kepalanya.
Mika hanya terdiam sejenak. Megi masih sangat mencintai Sean. Namun saat ini dia pun kehilangan jejak Sean, terakhir kali Sean menghubungi adalah saat ia akan menikah.
"Kalau gitu kakak cuma bisa bilang..." Mika menggantungkan kalimatnya.
"Jiāyóu." ucap Mika dan Megi serentak. Megi melepaskan senyumnya, namun raut wajahnya masih terlihat sangat sendu.
Entah kapan Megi akan bangkit, ia sudah menjalani mipinya saat ini. Namun Mika hanya melihat Megi bagaikan seseorang yang hidup saat bekerja, namun mati dalam dunianya.
Megi tak lagi ceria, wajahnya sendu walaupun saat tertawa. Selalu ada luka yang ia sembunyikan, namun ia tetap tak ingin kembali.
Sean telah menemukan cintanya, itu yang selalu ia bilang. Saat ini Megi lah yang telah kehilangan cintanya.
Mereka berjalan meninggalkan cafe saat selesai makan, Megi masih berada di kantornya sementara Mika langsung kerumah Megi.
Saat ini Megi masih terus fokus pada impiannya, bukan karena ia bahagia, namun karena janji nya pada Sean. Sean telah menemukan kebahagiaannya, dan dia menemukan mimpinya.
__ADS_1
Dua hubungan yang sangat adil, menurut Megi. Tak ada lagi yang bisa membuat ia kembali, karena Megi pernah melewatkan Sean sekali. Dan semua itu tak akan lagi pernah bisa terulang kembali.