Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
98


__ADS_3

Aya mengcengkeram kemeja Chen dengan kuat. Matanya menatap kosong ke jalanan. Duduk dengan tenang di boncengan belakang sepeda yang sedang di kendarai oleh Chen.


Masih terbayang di pelupuk matanya apa yang baru saja ia lihat tadi. Walau berusaha untuk kuat, namun ia tidak bisa membohongi hatinya.


Masih ada rasa sakit saat melihat Rezi bersama wanita lain. Walaupun sudah berusaha melepaskan Rezi dari dalam hatinya.


Namun menghapus rasa yang telah tumbuh selama bertahun-tahun bukanlah hal yang mudah. Ia masih butuh waktu yang lama untuk menyembuhkan luka.


Chen melirik kearah Soraya, melihat wajah Soraya yang sangat tenang. Namun tatapan matanya terlihat kosong.


Chen memberhentikan sepedanya, Aya turun dan jalan perlahan. Meninggalkan Chen yang masih mengembalikan sepeda ke pemiliknya.


"Aya," panggil Chen lembut.


Soraya terus berjalan, pikirannya melayang jauh entah kemana.


"Soraya!" panggil Chen lebih keras.


Soraya tak mendengar apapun, ia terus berjalan menyeberangi jalanan. Bahkan klakson dari kendaraan yang melintas, tak lagi terdenngar olehnya.


Chen menarik pergelangan tangan Soraya dengan keras. Menghindari kendaraan yang melaju kencang, hampir menabrak badan ramping gadis itu.


"Soraya sadarlah!" teriak Chen sambil menggoyangkan badan Soraya.


"Sadarlah, kenapa elu bisa jadi seperti ini?" tanya Chen meradang.


Soraya menatap lekat ke wajah Chen. Satu persatu air matanya mulai luruh. Aya berjongkok dan menyembunyikan kepalamya di atas kedua lututnya.


Melepaskan sesak dalam hatinya yang semakin berat mendera batinnya.


Kenapa harus sakit sekali? Melihat orang yang tidak pernah bisa ia capai, namun dengan mudahnya dicapai oleh orang lain.


Kenapa harus dia? Kenapa bukan dirinya?


Pertanyaan perbandingan itu terus bermain dalam benak Aya. Membuat beban yang selama ini ia tahan semakin terasa sangat berat.


Chen menghela napasnya dan ikut berjongkok di depan Soraya. Mengelus pucuk kepala Soraya dengan lembut.


"Aya, sudahlah. Gue mohon berhenti menyakiti diri sendiri," ucap Chen lembut.


"Pergi Chen, pergi tinggalin gue sendiri di sini," ucap Aya tergugu.


"Enggak! Gue gak mau pergi," sanggah Chen.

__ADS_1


"Pergi! Pergi sana, gue gak mau ada orang lain yang lihat gue begini. Gue gak mau." Aya menolak dada bidang milik Chen.


Berusaha menjauhkan lelaki itu dari dirinya.


"Jangan bodoh Chen, jangan tunggu gue lagi. Karena gue sendiri gak tahu, kapan gue bisa buka hati buat elu," ucap Aya pahit.


Chen kembali menghela napasnya, ia bangkit perlahan dan mendekati Soraya yang masih berjongkok menutupi wajahnya.


"Soraya, ayo bangun! Kalau elu mau nangis, jangan di sini."


Soraya terus menangis tergugu, tak menggubris sedikitpun ucapan yang dilontarkan oleh Chen.


Chen menarik lengan tangan Soraya, menggeret Soraya untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Kalau elu mau nangis, nangis sepuas yang elu mau. Gue gak akan ganggu, gue gak akan larang. Tumpahin apa yang elu mau keluarin."


Aya hanya melirik kearah Chen, matanya terus mengeluarkan bening cairan itu.


Walaupun sebenarnya ia lelah bertahan pada posisi ini. Namun ia tidak bisa berhenti. Walaupun tahu akan terus tersakiti, namun cintanya masih tidak terhapus dalam hati.


Untuk beberapa lama, mereka berdua hanya terdiam. Soraya masih larut dalam tangisannya. Entah sampai kapan, namun saat ini matanya sama sekali tidak bisa berhenti mengeluarkan buliran bening itu.


"Cukup!" bentak Chen kuat.


"Cukup Soraya, gue mohon jangan terus seperti ini. Jangan terus menyakiti diri elu sendiri," ucap Chen ketus.


"Elu bukan lagi anak kecil Soraya. Dia juga bukan lagi lelaki remaja. Apakah tidak bisa elu melupakannya?" tanya Chen sengit.


"Bukan gak bisa Chen, gue bukan gak bisa melupakannya. Tapi gue gak tahu caranya, gue gak tahu caranya melupakan dia bagaimana, gue mohon beritahu gue, bagaimana? Bagaimana gue harus melupakannya?" tanya Aya getir.


Chen membuang pandangannya ke sisi kosong. Menghela napas yang semakin berat menyengal pernapasannya.


"Chen, berhentilah menanti gue. Gue gak mau nyakiti elu lagi Chen. Gue gak sanggup, kalau harus membuat elu sama seperti Ari. Karena elu ... terlalu baik untuk gue sakiti," pinta Aya lembut.


Chen tersenyum sinis, ia menggelengkan kepalanya pasrah.


"Alasan klasik. Lu terlalu baik, alasan yang sangat klasik Aya," ucap Chen malas.


"Tapi elu memang terlalu baik Chen. Gue, gue gak punya kekuatan untuk selalu nyakiti hati elu."


"Kalau gitu berusahalah untuk membuat gue bahagia Aya. Berusahalah untuk menjaga hati gue, bisakan?"


Aya menundukan pandangannya, ia menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Chen menundukan kepalanya, mengusap wajahnya dengan kasar. Sedikit kesal, Chen memukul setir mobilnya.


Membiarkan suasana di antara mereka menjadi hening seketika.


Lagi, Chen harus merasakan kisah cinta yang sepahit ini. Mengharap sebuah jawaban di dalam ketidak pastian.


Entah apa yang salah dengan dirinya, namun ia harus kembali berada di posisi ini. Berjuang tanpa ujung yang pasti.


"Soraya," panggil Chen lembut. Matanya masih menatap kosong kedepan.


Soraya mengalihkan pandangannya, melihat ke arah Chen. Menghapus sisa buliran air di sudut dagunya.


"Dari asing, hingga saling mengenal. Gue ingin menjadi orang itu. Orang yang mendampingi setiap jalan elu, izinkan gue menjadi orang itu, orang yang selalu berada di samping elu. Orang yang selalu menjaga dan mencintai elu. Gue, gak mau putus dari elu, Aya," ucap Chen lembut.


"Gue gak akan membiarkan air mata elu mentes Soraya. Gue gak akan biarin elu terluka, gue akan lakukan segala sesuatunya yang bisa buat elu bahagia. Gue gak akan biarin elu sendiri, karena hati gue yang mencintai elu, selalu mengkahwatitkan keadaan elu," sambung Chen lembut.


Soraya tersenyum lembut dan meraih jemari Chen yang berdiam di atas setir.


Bagaimana lagi ia harus menjelaskannya?


"Chen--"


"Suǒyǐ, ràng wǒ zài nǐ shēnbiān." (Jadi, biarkan aku berada di sisimu), putus Chen langsung.


"Apa?" tanya Soraya terkejut. "Lu bisa bahasa Mandari?" tanya Soraya bingung.


Chen menggelengkan kepalanya dan tersenyum lembut.


"Méiyǒu." (Tidak).


"Jadi ini?"


"Karena akhir-akhir ini elu sering cerita tentang kota kelahiran elu. Elu bilang elu kangen sama suasana dan juga kenangan yang ada di sana. Gue, belajar untuk bisa menjadi apa yang selama ini elu rindukan, Soraya. Karena hanya saat elu bercerita tentang Beijing, elu bisa tersenyum dengan begitu lepas."


Chen tersenyum lembut dan meraih sebelah pipi Soraya.


"Gue suka saat wajah elu tersenyum seperti itu, Soraya. Gue senang, saat ada hal yang bisa elu rindui selain Rezi. Apapun hal itu, jika bukan Rezi, maka gue akan berusaha untuk menjadi sesuatu yang akan elu rindui."


"Chen, sadar gak? Kisah kita hanya terus mendorong elu kedalam jurang. Elu berusaha untuk menjadi apa yang gue mau, walaupun gue gak minta, elu berusaha sebaik mungkin buat gue. Terus terang gue merasa ini sangat gak adil buat elu," jawab Soraya lembut.


"Kalau elu mau berikan keadilan buat gue, elu hanya bisa lakukan satu hal Soraya," balas Chen lembut.


"Apa?" tanya Soraya cepat.

__ADS_1


"Sekarang dan selamanya, tetaplah menjadi milik gue, Aya."


"Jiùshì wǒ de měi." (Milikku yang indah)


__ADS_2