Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 65


__ADS_3

"Apa?" Sean tercekat dan sedikit berteriak.


"Kakak kenapa kaget? kalau gak mau jangan teriak-teriak." ucap Megi lemah.


"Sorry ... Sorry, Megi. Gue cuma kaget aja." ucap Sean lembut.


Sean menaiki sebelah alis matanya. Ia berpikir keras, kenapa? setelah Megi mendapatkan kehidupan keduanya pun, Megi masih tetap jatuh cinta padanya.


Apa yang di lihat Megi dalam diri Sean sebenarnya.


"Kak, kok diem sih?" tanya Megi sambil menarik ujung kemeja Sean.


"Sorry, lu bilang apa tadi, Meg?"


"Kakak mau gak jadi pacar aku?" Megi tersipu malu mengucapkannya.


Sean tersenyum getir dan menaiki sebelah alis matanya. Rona wajah Megi mulai berhiaskan warna saat ini.


"Lu serius, Meg?" tanya Sean dengan menatap Megi tajam.


Megi hanya mengganggukan kepalanya dan menggenggam ujung selimutnya.


"Kenapa?" tanya Sean penasaran.


"Karena aku suka kakak, walaupun aku gak inget siapa kakak, tapi aku jatuh cinta saat ini sama kakak."


Sean tersenyum lebar, ternyata cinta punya kekuatannya sendiri. Bahkan tanpa tahu siapa Sean pun Megi bisa kembali pada cintanya. Sean sedikit banyaknya bahagia karena saat ini, walaupun pikiran Megi pergi entah kemana, namun hatinya masih miliknya.


"Gue takutnya lu nyesel, Meg. Saat ingatan elu pulih, lu malah nyesel sama permintaan elu saat ini." ucap Sean sambil duduk di sudut ranjang.


"Memang kenapa kak? dulu kakak itu musuh aku ya? atau kakak suami orang?" tanya Megi polos.


Sean kembali melepas senyumnya, kadang memang ada yang tidak bisa hilang dalam diri seseorang walaupun saat ini hidupnya telah berubah. Megi gak pernah kehilangan kepolosannya, walaupun saat ini dia kehilangan masa lalunya.


Sean menggeleng pasrah, Sean meraih air di sebelah kasur Megi saat melihat bibir Megi yang mengering. Meminumkannya ke Megi.


"Gimana kalau gue bilang, dulu gue orang yang paling elu benci?"


"Hah? masak sih kak?" tanya Megi bingung.


"Hem." jawab Sean dengan senyum menggoda.


"Kalau aku benci sama kakak, kenapa bisa kakak yang rawat aku?"


Sean kembali tersenyum simpul, Megi masih sangat cerdas dengan segala kepolosannya itu.


"Kalau gue bilang elu jadi seperti ini gara-gara gue, yakin elu bakalan gak benci sama gue?"

__ADS_1


Megi kembali memandang wajah Sean di hadapannya, Megi meraih kedua pipi Sean dengan tangannya. Ada getaran yang kembali hidup saat ia menyentuh pipi Sean.


"Yasudah kalau gitu lebih baik ingatan aku gak usah balik aja lagi." ucap Megi polos.


"Kenapa?"


"Karena aku gak mau mengingat kalau hanya untuk membenci kakak. Aku lebih memilih untuk mencintai kakak, walaupun aku kehilangan seluruh ingatanku, kak."


Sean kembali terdiam, di tatapnya wajah Megi lekat. Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa setelah kehilangan apapun dia masih lebih memilih Sean.


Sean hanya bisa diam mendengar ucapan Megi. Ia tak tahu apa yang begitu berarti dalam dirinya, sampai Megi bisa sangat mencintainya.


Sean meraih salah satu pipi Megi, memasukan tangannya kedalam rambut Megi dan menarik kepala Megi mendekat kewajahnya. Megi memejamkan matanya perlahan.


Sean mencium bibir Megi lembut, perlaha mulai terlintas ingatan di dalam memori Megi. Ingatan samar tentang ciuman di atas bianglala itu. Megi melihat wajah Sean samar bersama dengannya.


Perlahan pegangan Sean terlepas dan ia menjauhkan wajahnya dari Megi. Megi masih memejamkan matanya dan berusaha menangkap bayangan itu. Namun usahanya kembali memberikan kesakitan pada memorinya.


Megi menarik nafasnya dalam, lalu membuka matanya dan menatap wajah Sean di hadapannya.


Megi mendekat ke Sean dengan sedikit membenturkan bibirnya, Megi kembali mencium Sean.


Sean membuka matanya lebar-lebar. Megi versi terbaru bahkan lebih ganas dari Megi yang dulu.


Megi memejamkan matanya, mencoba kembali menangkap ingatan masa lalunya. Namun ingatan itu tak kembali muncul, sebisa mungkin ia mengingat, namun penggalan itu malah menjauh, hanya menyisakan rasa pada ciuman itu.


"Ada apa, Meg?" tanya Sean sambil memegang kedua lengan tangan Megi.


"Aku mengingat sepenggal masa lalu saat kakak menciumku, makanya aku mencium kakak lagi."


Sean menaiki sebelah alis matanya, tak percaya pada ucapan Megi.


"Alasan kan?" Sean menyungging bibirnya miring.


"Enggak, kak. Aku beneran lihat wajah kakak, tapi suasananya sangat gelap di penggalan itu."


"Yasudah, tidur lagi gih, ini masih jauh sebelum pagi." Sean mengecup dahi Megi lalu bangkit perlahan.


Megi menarik pergelangan tangan Sean. Sean menolehkan kepalanya.


"Kakak mau tidur di sofa lagi?"


"Ehem."


"Tidur disini saja." Megi menggeser badannya agar sedikit lebih ke pingir ranjang.


"Gak apa-apa gue tidur di sofa saja."

__ADS_1


"Gak mau, disini aja." pinta Megi manja.


"Yasudah." Sean mengalah, ia membuka kemejanya menyisakan kaos saja.


Sean naik keatas ranjang dan merenggangkan tangannya. Sean memindahkan kepala Megi ke atas lengan tangannya. Megi menaruh tangannya di dada Sean. Perlahan kepalanya ia pindahkan ke atas dada Sean.


Mendengarkan suara degup jantung Sean membuat dia begitu senang. Ada irama serupa di dadanya, Megi mendongakan kepalanya dan melihat wajah Sean.


"Gak apa-apa elu tidur begini?" tanya Sean saat Megi melihat kearahnya.


"Gak apa-apa kak." jawab Megi sambil tersipu malu.


"Yasudah tidur, gih." perintah Sean.


Sean memalingkan wajahnya kesisi samping. Ia menelan salivanya berat, walaupun Megi kehilangan ingatan. Sean masih tak bisa menahan dirinya, ia sering lepas kendali. Posisinya yang seperti ini sangat merepotkannya.


Ia bisa saja kehilangan kendali atas dirinya.


Megi memegang dada Sean, tangannya menari di dada bidang Sean.


"Meg, tidur gih!" ucap Sean tanpa membuka matanya.


"Kenapa?"


"Apanya kenapa?"


"Kakak gak kasih aku pegang dada kakak? Kan sekarang aku pacar kakak."


Sean membuka matanya, ia melihat kearah Megi.


"Kapan gue bilang kita pacaran?" tanya Sean bingung.


"Kan kakak sudah cium aku, itu tanda kita jadiankan?"


Sean memenggang sudut dahinya, ternyata Megi versi terbaru ini lebih merepotkan. Sifatnya lebih unik, juga lebih memaksakan kehendek.


"Kenapa? jangan bilang kakak gak mau jadi pacar aku, cuma mau nikmati bibir aku." Megi mencubit pinggang Sean.


Sean menggeser sedikit badannya karena sakit yang ia rasakan.


"Iya, iya. Kita jadian ya." ucap Sean mengalah.


Megi tersenyum dan meletakan kembali kepalanya di dada Sean. Sean mengambil jemari Megi yang mengelus dadanya dan menggenggam diatas dadanya.


Sean menghela nafas beratnya, jangankan untuk terpejam, sekedar untuk tenang saja dia tidak bisa. Megi selalu menaikan hasrat dalam tubuhnya.


Sepanjang malam Sean hanya terjaga, Sean bangkit dari kasur Megi saat adzan berkumandang. Perlahan Sean turun tanpa membangunkan Megi.

__ADS_1


Sean melihat kembali Megi yang tertidur pulas, di basuhnya kepala Megi dengan sisa wudhunya. Sean kembali mencium pipi Megi. Dia selalu menarik perhatian Sean


__ADS_2