
Evgen melirik kearah jam tangannya, ia bingung harus bagaimana. Hari ini adalah hari terakhir dari perjanjian ia dan Shenina.
Evgen berdecak dengan kesal dan mengacak rambutnya. Ia memutar otaknya, bagaimana agar bisa menahan Shenina untuk tetap berada dalam dekapannya lebih lama.
Shenina menghela nafasnya dengan sedikit berat. Sudah lima belas menit ia menunggu Evgen bergerak. Namun Evgen masih sibuk oleh pikirannya sendiri.
"Heh, Evgen. Elu ada rencana kemana?" Tanya Shenina kesal.
"Belum tahu," ucap Evgen lesu.
"Heh, elu yang bener sedikit ya. Gue sengaja off di kerjaan part time gue untuk menemani elu hari ini,"
Evgen melirik kearah Shenina, Evgen mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak.
"Shen,"
"Hem,"
"Bagaimana kalau gue lepasin elu hari ini, tapi hari perjanjian kita ditambah 2 hari lagi," ucap Evgen lembut.
"Oh tidak, tidak. Gue gak sudi nambah hari perjanjian sama elu, gue sudah menunggu lama untuk hari ini tiba. Gue gak mau masuk ke neraka untuk kedua kalinya," jawab Shenina ketus.
"Heh, seharusnya elu bersyukur bisa dekat sama gue. Selama elu jalan sama gue, elu gak kelaperan, elu bisa main. Sudah begitu elu bisa bilang neraka? hello ... Shenina, sadar dirilah sedikit, gue ini cuma ingin buat elu bahagia," ucap Evgen kesal.
Shenina tercekat dan melihat kearah Evgen.
"Tunggu dulu, lu bilang apa? mau buat gue bahagia?" Tanya Shenina sambil menatap kearah Evgen.
Evgen menelan salivanya dan mengelus tengkuk lehernya. Kenapa ia bisa keceplosan.
'Kalau sampai Shenina curiga, mati saja kau Evgen. Mau ditaruh mana muka elu, gali lubang dan kubur diri elu snediri disana,' rutuk Evgen kesal dalam hati.
"Hem, lu ada rencana mau kemana?" Tanya Evgen mengalihkan pembicaraan.
Shenina memutar bola matanya, mencoba memcari tempat yang asyik untuk mereka datangi berdua.
"Gimana kalau ke taman hiburan saja?"
"Hem, boleh juga. Kalau begitu lu jemput Seta gih, ajak dia sekalian."
"Eh, kenapa ajak Seta?" Tanya Shenina bingung.
"Jadi mau ngajak siapa? Pak Rt? tinggal jemput saja kenapa banyak sekali pertanyaan?" Ucap Evgen kesal.
Shenina menghela nafasnya dan memutar bola matanya sedikit malas.
Ia bangkit dan berjalan kembali kerumahnya, sementara Evgen masih menunggu mereka di kursi taman dekat rumah Shenina.
Tiga puluh menit berlalu, namun Shenina dan Seta masih belum muncul juga. Mulut Evgen tak berhenti memaki sedari tadi, ia tidak sabar menunggu lagi.
"Kak Evgen," panggil Seta, berlari mendekati Evgen.
__ADS_1
"Heh, kenapa elu lama sekali? lu jemput Seta dimana? di planet mars atau neptunus?" Tanya Evgen ketus.
"Evgen, bisa gak kalau ngomong itu santai dikit? gak perlu nge gas ataupun ditambahi nos, gue ini jalan kaki, lu pikir gue jemput Seta itu terbang? mikir dong!" Balas Shenina tak kalah garang.
"Yasudah, ayo. Jangan kelamaan disini,"
Evgen berjalan kearah parkiran taman, dahi Shenina mengernyit saat melihat Evgen membawa motor sport bewarna hitam.
"Lu nyuri motor dimana?" Tanya Shenina.
"Heh, elu pikir gue ini kekurangan uang? tingkat motor satu aja gue harus nyuri? hei Shenina, pabrik motor pun bisa gue beli,"
Shenina menyilangkan kedua tangannya didada dan memutar bola matanya malas. Sombong sekali lelaki ini.
"Cepat naik, gue berlutut sama Papa selama tiga jam untuk minjam motor ini sama Papa,"
"Memang elu bisa bawa motor?"
"Jangankan motor, helikopter saja gue bisa bawa," balas Evgen ketus.
Tanpa banyak berdebat lagi, Shenina menaiki boncengan motor Evgen.
Walaupun Evgen tidak pernah membawa motor ataupun mobil kesekolah. Namun Evgen lihai dalam mengendarai keduanya.
Evgen sudah berlatih mengendarai semenjak duduk dibangku SMP, namun karena umurnya. Evgen belum di perbolehkan mengendarai kendaraan sendiri.
Kalau sudah Sean yang membuat peraturan. Bahkan Megi pun tidak bisa menentang.
Mata Seta langsung berbinar saat melihat taman hiburan yang begitu besar.
"Kak Shen, apa hari ini kita boleh masuk?" Tanya Seta polos.
"Tentu saja boleh, siapa yang berani larang kita buat masuk? ayo," ajak Evgen lembut.
Seta takjub saat melihat kesekililing taman hiburan ini. Matanya terus menatap wahana yang tersedia didalam taman hiburan ini.
"Lu mau main apa saja, terserah. Mau beli apa saja juga boleh," ucap Evgen lembut.
"Bener boleh kak?" Tanya Seta tak percaya.
"Iya boleh," jawab Evgen kembali.
"Kalau aku mau main semuanya juga boleh?"
"Kalau elu sanggup. Main sampai elu puas, tapi setelah ini janji sama gue, elu harus rajin belajar terus dan jadi anak yang pintar. Suatu saat nanti, lu harus bisa buat Shenina bangga ya,"
Sejenak Shenina tercekat, ia mengalihkan pandangannya kearah Evgen. Tak menyangka jika lelaki angkuh dan sombong itu bisa berkata bijak juga.
"Aku janji, Kak." Seta menaikan jari kelingkingnya.
Evgen tersenyum simpul mentoel ujung hidung Seta dengan lembut.
__ADS_1
"Janji sama gue seperti ini, bukan seperti itu,"
Seta mengikuti gerakan Evgen, jari mungilnya menyentuh ujung hidung mancung Evgen dengan lembut.
"Sekarang pilih saja mau main yang mana, jangan sampai hilang ya." Ucap Evgen lembut.
Seta lengsung berlari kebeberapa wahana yang selama ini sangat ia inginkan.
Karena keadaan mereka, Seta menjadi anak-anak yang tumbuh dengan pemikiran dewasa. Seta kehilangan keceriaannya sebagai anak kecil.
Sering kali Seta memendam keinginannya dan bertahan dalam kesusahannya. Tak ingin menambah kesusahan Shenina, Seta hanya bisa memendam segala sesuatunya sendiri.
Bibir Shenina terus melengkung dengan lebar saat melihat Seta yang begitu ceria bermain wahana.
Layaknya seorang anak kecil biasa, Seta terlihat polos seperti anak lainnya. Sudah sejak lama ia tidak melihat Seta sebahagia ini.
Itu yang membuat Shenina tidak bisa berhenti tersenyum. Matanya terus melihat Seta yang berteriak lantang di beberapa wahana ekstrem.
Entah ini hukuman atau kebahagiaan yang diberikan oleh Evgen. Entahlah, tapi semua itu sangat berarti bagi Shenina saat ini.
Shenina mengalihkan pandangannya, melihat Evgen yang duduk disebelahnya.
Shenina tersenyum dengan lembut dan kembali menatap kearah Seta. Evgen terus memperhatikan wajah Shenina dengan lekat.
Melihat Shenina yang terus tersenyum seperti ini, membuat jantungnya berdetak hebat.
Tidak tahu kenapa, tapi melihat wajah manis Shenina yang tersenyum sangat indah membuat Evgen terpesona.
Senyuman dari bibir Shenina membuat jantung Evgen bertabuh kencang. Entah sejak kapan, tapi saat ini, ia sangat terpesona oleh senyuman indah dari bibir Shenina.
Shenina kembali melirik kearah Evgen, dengan cepat Evgen mengalihkan pandangannya.
"Lu kenapa?" Tanya Shenina lembut.
"Kenapa? memang gue kenapa?" Tanya Evgen kembali.
"Wajah elu merah, elu sakit?" Shenina meraih dahi Evgen dengan punggung tangannya.
Saat merasakan sentuhan lembut dari tangan Shenina, kembali menghidupkan deguban jantung Evgen yang bertaluh tak beraturan.
Mata Evgen menatap Shenina dengan lekat. Perlahan keringat mulai mengucur dari dahi Evgen. Ia salah tingkah gak karuan karena debaran jantungnya sudah tidak bisa lagi ia sembunyikan.
Evgen memukul tangan Shenina yang menyentuh dahinya, dengan keras.
"Sembarang elu nyentuh kulit putih gue, kalau sampai kulit gue jadi gelap karena tangan elu bagaimana? kulit gue mulus Shenina, jangan sampai elu merusak kesehatannya," ucap Evgen ketus.
Shenina menyungging bibirnya sebelah, jijik sekali mendengar omongan lelaki sombong ini.
Evgen menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Ia duduk membelekangi Shenina. Evgen berdecak pelan dan memejamkan kedua matanya.
'Kalau sampai Shenina dengar suara jantung elu, Evgen. Siapkan jet untuk pulang ke neptunus saja, malu sekali,' lirih Evgen dalam hati.
__ADS_1