
"Neha aku minta maaf sebelumnya, tapi aku mohon, jangan pecat aku. Aku masih ingin disini," ucap Rezi dengan sedikit memaksa.
(Maaf Rezi, tapi dari awal kamu sudah bohong padaku. Kamu bilang kamu hanya minta makanan, tapi pada dasarnya, kamu lebih berada dari pada aku.)
"Tapi, Neha." Rezi mengacak rambutnya, ia bingung bagaimana harus menjelaskannya.
"Aku minta maaf, Neha. Aku mohon, izinkan aku untuk tetap disini," pinta Rezi melas.
Neha menghela nafasnya dan menggelengkan kepalanya.
"Neha aku mohon,"
Neha menyodorkan kembali bukunya, dan berjalan pergi meninggalkan Rezi sendiri.
(Minum teh mu, dan pergilah Rezi. Aku tidak butuh kamu disini, jika hanya untuk mengasihani keadaanku.)
Rezi mencampakan buku Neha dan berjalan dengan cepat menyusuli Neha. Rezi menarik pergelangan tangan Neha dengan sedikit keras, membuat badan Neha menghadap kearahnya.
Rezi meraih kedua ujung bahu Neha dan menekannya sedikit keras. Menatap wajah Neha dangan sedikit kesal.
"Kamu, salah paham, Neha," ucap Rezi sedikit menekan.
"Aku, gak pernah dekati kamu karena kasihan. Aku hanya ingin dekat dan berteman denganmu, itu saja." Tekan Rezi kesal.
Rezi melepaskan pegangan tangannya dan beralih meraih kedua belah pipi cubby Neha
Sementara, Neha hanya terus menatap wajah Rezi dengan sedikit bingung.
"Bukan, aku dari awal aku tidak pernah ingin menjadi temanmu," ucap Rezi melunak.
"Karena dari awal, aku sudah jatuh cinta padamu."
Seketika botol cairan yang ada ditangan Neha terjatuh, ia terkejut dengan penuturan Rezi yang begitu tiba-tiba.
Selama ini Neha hanya menjalankan hidupnya secara sederhana. Tak pernah bermimpi untuk bisa mencintai atau dicintai. Apalagi dengan lelaki seperti Rezi.
"Neha, aku jatuh cinta padamu. Bisakah kamu menerima aku?"
***
Evgen menggoyangkan kakinya dengan santai, beberapa kali ia melihat jam di ponselnya.
"Haish ... Lama!" Rutuk Evgen geram.
Evgen menyilangkan kedua tangannya didada. Ia menggerutu dengan kesal.
Shenina datang dengan tergesa, membawa dua buah mangkuk bakso ke kelas Evgen.
"Telat lagi, telat lagi, telat mulu elu ya!" Ucap Evgen saat melihat Shenina datang.
"Sorry, gue kan sudah bilang, kalau gue harus part time," ucap Shenina lembut.
__ADS_1
"Iya, gue tahu!" Evgen duduk dengan santai dan meraih sendok dan juga garpu diatas nampan.
Sementara, Shenina hanya berdiri dihadapan Evgen.
"Kenapa elu berdiri terus, ayo duduk dan temani gue makan!" Perintah Evgen lembut.
"Apa? kenapa makan?" Tanya Shenina bingung.
"Menurut elu? gue pesan dua mangkuk buat gue sendiri?" Tanya Evgen ketus.
"Helloooo, Shenina ... Gue ini lelaki normal, semangkuk saja cukup buat gue!" Ucap Evgen dengan sedikit berteriak.
"Heh, elu kalau ngomong gak teriak gak puas ya? heran gue, kenapa ada lelaki seperti elu?" Shenina duduk didepan Evgen dan mulai memakan pesanan yang ia bawa tadi.
Shenina mulai memakan mie didalam mangkuknya. Shenina menatap Evgen yang sedang makan dengan lahap didepannya.
"Evgen," panggil Shenina lembut.
"Hem?"
"Sebenarnya tujuan elu nyuruh gue makan apasih? lu pikir gue punya waktu buat nemeni elu makan disini?" Tanya Shenina lembut.
"Tinggal makan saja, kenapa harus berisik sih?"
"Yah ... Gue heran saja, elu kalau nyuruh gue pasti kalau gak main, pasti makan. Gak ada yang bisa elu lakuin selain makan dan main apa?"
"Enggak," jawab Evgen santai.
"Hem, Shen," panggil Evgen lembut.
"Apa?" Jawab Shenina ketus.
"Heh, biasa ajalah, lu itu gue bicara lembut, tetap jawabnya ketus banget!"
"Lu bisa gak sih? jaga emosi elu? dikit-dikit teriak, dikit-dikit kasar. Elu itu gak bisa apa kalau nahan emosi dikit? sehari gak emosi, mati elu ya?"
Evgen hanya menghela nafasnya dan mengunyah makanan dalam mulutnya. Ia terus memandangi wajah Shenina dengan lekat.
Perlahan, Evgen mulai tersenyum tipis. Lucu melihat pipi Shenina yang mengembung saat makan.
Menyadari pandangan mata Evgen, Shenina meraih gelas minumnya dan meminumnya dengan cepat.
"Kenapa elu gitu banget mandangi gue? baru nyadar ya kalau gue cantik?" Tanya Shenina dengan memainkan kedua alis matanya.
"Cih ... Cantik pun elu, kalau sifat elu barbar sama saja. Elu itu terlalu kasar untuk ukuran seorang cewek."
"Terus elu pikir, elu itu gak kasar sebagai cowok?" Tanya Shenina meradang.
"Hah sudahlah, gue males berdebat sama elu," ucap Evgen ketus.
Mereka berdua kembali makan dengan tenang. Sesekali Evgen kembali mencuri pandang pada wajah kuning langsat milik Shenina.
__ADS_1
"Hem, Shen."
"Apa?"
"Lu setelah lulus nanti mau kuliah dimana?" Tanya Evgen lembut.
Seketika Shenina menatap wajah Evgen dan meletakan sendok makannya. Shenina menghela nafasnya dengan sedikit berat.
"Mungkin gue gak kuliah," jawab Shenina sendu.
"Kenapa? bukannya lu bisa kuliah dari jalur beasiswa ya?" Tanya Evgen lembut.
"Bisa sih, tapi gue kan masih harus mikirin Seta. Tahun depan dia akan masuk SMP, biaya pasti lebih mahal. Gue gak kuliah beberapa tahun juga bisa," jawab Shenina lembut.
"Tapi, apa elu gak kepingin kuliah?"
"Mana mungkin gak kepingin, Evgen. Apalagi kalau gue bisa kuliah di London," Shenina terseyum kecut dan menggelengkan kepalanya.
"Lupakanlah, itu semua gak mungkin," sambung Shenina pahit.
"Kenapa elu kepingin kuliah disana? kan universitas disini juga gak kalah bagus?" Tanya Evgen penasaran.
"Iya sih, tapi London adalah kota impian gue. Apa ya rasanya bisa lihat London eye dari jarak dekat?"
Sejenak Shenina terdiam, matanya mengawan jauh, menembus angan-angannya pada dunia khayalannya saat ini.
Shenina menghela nafasnya dan kembali pada kenyataan. Ia mulai memakan isi dalam mangkuknya kembali.
"Jika ada peluang untuk kuliah disana, apa elu akan ambil?" Tanya Evgen lembut.
"Enggak!" Jawab Shenina cepat.
"Loh kenapa? itu kan kesempatan bagus."
"Lu lupa ya, gue ini yatim piatu. Gue juga punya adik. Kalau gue kuliah di luar daerah. Siapa yang akan menjaga dan merawat Seta disini?"
Shenina meraih gelas airnya dan kembali meminum isinya. Mendorong sisa makanan yang masih menyangkut di tenggorokannya.
Evgen ikut menyelesaikan makannya dan meletakan peralatannya. Shenina langsung mengangkat nampan makan mereka dan berjalan menjauh dari kelas Evgen.
Evgen terus memandang badan mungil Shenina yang berjalan semakin jauh dari kelasnya.
"Dasar bodoh, badan sudah kurus begitu pun yang dipikiri masih adiknya." Lirih Evgen dengan tersenyum tipis.
Evgen menghela nafasnya dan mengacak rambutnya.
"Kalau aku bilang ingin kuliah di London, Papa akan kasih beasiswa untuk Shenina dan adiknya gak ya?"
Evgen tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya.
"Shen, entah sejak kapan gue jadi peduli banget sama elu. Tapi yang jelas, gue cuma ingin elu berhasil mengejar mimpi elu."
__ADS_1