Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 103


__ADS_3

Sean merenggangkan otot badannya, tangannya menyentuh tengkuk lehernya yang pegal karena berjam-jam terfokus oleh layar datarnya.


Megi datang mendekat, membawa secangkir teh di tangannya untuk di berikan kepada Sean.


Megi membuang bokongnya di sebelah Sean setelah meletakan gelas tehnya diatas meja. Dengan cepat tangan Sean meraih lengan mungil Megi, menjatuhkan kepalanya di atas bahu Megi dan memeluk lengan tangan Megi erat.


"Gue sakit kepala, Megi." ucap Sean memejamkan matanya dan mencari posisi nyaman untuk kepalanya.


"Jangan di paksa, Kak." Megi meraih kepala Sean dan memijatnya lembut.


"Papa seenaknya main tinggal begitu saja. Malah udah pulang masih asyik liburan sama cucunya." rutuk Sean kesal.


Megi hanya tersenyum dan meraih kepala Sean, mengelusnya dengan lembut.


"Rezi kok gak pulang-pulang ya? gue rindu. Apa dia lupa sama Papa nya?"


"Baru juga seminggu, Kak. Mama sama Papa kan udah gak ketemu Rezi sebulan, biarin sajalah."


"Lu suka kan kalau kita berduaan begini?" tanya Sean memainkan kedua alis matanya, menggoda Megi di sampingnya.


"Apaan sih? gak jelas tahu gak?" jawab Megi tersipu malu.


"Anak di dalam perut elu apa kabarnya?" Sean beralih ke perut Megi dan mengelus perut Megi yang masih rata.


"Anaknya masih baik-baik saja, walaupun Papanya sibuk sama kerjaan." jawab Megi menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Jangan marah," Sean mencolek dagu Megi dengan mesra. "Kan sibuk kerja juga buat anak sama Mamanya." sambung Sean dengan memeluk badan Megi mesra.


Sean menarik pinggang Megi, memindahkan posisi duduk Megi keatas pangkuannya.


"Meg, elu gak pingin sesuatu?" tanya Sean memeluk badan Megi mesra.


"Pingin apa, Kak?" tanya Megi kembali.


"Pingin makan apa gitu? sesuatu, biasanya orang hamil kan suka ngidam sesuatu." tanya Sean.


"Pingin apa ya kak? rasanya gak pingin apa-apa tuh."


"Lu sebebarnya beneran hamil gak sih? aneh banget gak ngidam apa-apa." tanya Sean ketus.


"Kakak itu yang aneh, tahu gak?" jawab Megi kesal.


"Jadi kalau gue aneh lu kok masih mau?" tanya Sean ketus.


Megi memutar bola matanya malas, ia memandang Sean dengan lekat. Mengalungkan kedua tangannya di bahu Sean.


"Emang waktu Mamanya Rezi hamil, banyak ngidamnya ya, Kak?" tanya Megi manja.


"Entah!" jawab Sean datar.


"Kok entah sih?"


"Gue gak tahu, gue aja jumpa dia seminggu sekali, itu cuma sarapan pagi. He he he." jawan Sean menyeringai.


"Jahat," ucap Megi dengan tersenyum puas.


"Semua Mama yang ngurus, gue cuma datang lihat sebentar aja. Jadi gue gak tahu apa-apa, waktu dia hamil sampai melahirkan semua sama Mama."


"Terus kalau aku, kakak gituin juga?" tanya Megi dengan memainkan jemarinya di bahu Sean.


"Kalau sama elu sih, gue malah gak mau pisah. Maunya nempel terus, jadi males kerja." Sean memeluk badan Megi erat.


"Dasar." ucap Megi tersenyum malu.


"Meg, gue laper. Elu buatin gue nasi hangat yang di bungkus daun pisang dong."


"Apa?" tanya Megi sedikit terkejut.


"Iya, gue mau makan nasi hangat yang di bungkus daun pisang. Buatin ya." pinta Sean manja.

__ADS_1


"Kakak aneh ih, dimana aku cari daun pisang malam-malam?"


"Gak mau tahu, pokoknya elu harus buatin gue itu, sekarang. Gue laper."


Megi meletakan punggung tangannya di dahi Sean. Menatap wajah Sean dengan sedikit bingung.


"Kakak ngidam ya?" tanya Megi bingung.


"Kan elu yang hamil, kok gue yang ngidam sih? aneh."


"Kakak yang aneh ih, malam-malam begini, yang ada bungkus pocong, bukan bungkus daun pisang." jawab Megi kesal.


"Gue laper Megi, lu gak sayang lihat gue begini? gue capek kerja, sakit kepala, masa lu biarin gue gak makan juga?"


"Aku sayang sama kakak, tapi dimana aku mau cari daun pisang kakak?"


"Ya usahalah, demi cinta juga."


"Ih, anehnya Sean Putra ini. Yaudah aku minta carik in sama kak Mika dulu."


Megi bangkit dengan cepat dan berjalan menuju pintu. Sean melepaskan senyumnya.


"Cepat ya." perintahnya saat melihat Megi keluar dari pintu.


***


Megi membakar daun pisang yang di ambil Mika di atas api sebentar. Membungkus nasi hangat dengan daun pisang yang ia lemaskan.


Entah apa maksudnya, tapi kali ini permintaan Sean benar-benar aneh. Megi gak habis pikir, kenapa sikap Sean bisa berubah aneh, biasa Sean tak peduli dengan apa yang dimakan. Akhir-akhir ini, Sean malah lebih rewel dari pada perempuan.


"Meg, udah?" tanya Sean yang baru turun dari lantai dua.


"Udah," Megi menghantarkan piring dan juga nasi di dalam bungkus daun pisang ke hadapan Sean.


"Wih, wanginya enak banget." senyum Sean merekah lebar saat menghirup uap panas dari daun pisang yang terbuka.


Megi hanya bisa menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan ulah Sean yang akhir-akhir ini aneh sekali.


Megi hanya tersenyum melihat wajah polos Sean yang sedang makan.


"Apa bedanya sih kak? beberapa hari ini selera makan kakak memburuk, malam ini lahap banget?"


"Wangi dari daun pisangnya enak benget Meg. Coba deh kalau gak percaya." Sean menyodorkan sendok makannya ke depan Megi.


Megi hanya menggeleng dan tersenyum, menolak suapan Sean dengan lembut.


"Meg, gak pingin jalan-jalan?"


"Jalan-jalan kemana? aku lagi males keluar, Kak."


"Ke barat kota yuk, nginep di villa. Lu gak kangen suasana pantai?"


"Bukannya kakak lagi banyak kerjaan ya? sekarang kan gak ada Farrel yang bisa handle semua."


"Kan ada Mika." jawab Sean langsung.


"Jahat, kakak aku mau di siksa sama suami aku."


"Gue mau makan kepiting asap. Kita kesana yuk."


"Yaudah, besok pagi aku siapin barang-barang ya." jawab Megi mengalah.


"Kok besok pagi? sekarang aja."


"Ya ampun kak, ini udah malam."


"Kan gak apa-apa malam. Lagian sampek sana juga langsung tidur."


"Jadi kalau cuma mau tidur kenapa gak besok aja?"

__ADS_1


"Malam ini aja." ucap Sean ketus.


"Ya Tuhan, kenapa kakak jadi rewel banget sih? kenapa kakak yang jadi kayak aku, sekarang?"


Sejenak Sean terdiam, ia memandang wajah Megi yang mulai memadam. Sean juga bingung kenapa rasanya hatinya bisa berubah seperti ini.


"Lu capek ya Meg menghadapi gue?" tanya Sean melas. "Maaf ya." sambungnya lemah.


Megi menghela nafasnya dan menarik kursi di sebelah Sean.


"Kayak nya yang mabuk hamil muda itu kakak. Bukan aku."


"Kok bisa? kan gue laki."


"Bisa, habisnya kakak rewel banget, gak kayak biasa. Makan banyak maunya, jadi kayak aku lima tahun yang lalu."


"Lu marah ya sama gue, Meg?"


Megi tersenyum dan meraih kedua pipi Sean. Menyentuh ujung hidung mancung Sean dengan ujung hidungnya.


"Mana mungkin aku bisa marah sama suami aku. Lagian ini juga bawaan dari aku kan."


"Elu sudah dewasa, Sayang." Sean meraih pipi Megi dan mengecup lembut dahinya.


Tok tok tok.


Ketukan memburu dari balik daun pintu belakang rumah Sean. Dengan cepat Megi bangkit dan berjalan membuka daun pintu rumahnya.


"Kak Mika."


"Sean ada?" tanya Mika panik.


"Itu," Megi membuka daun pintunya dengan lebar, sampai Mika bisa melihat Sean yang duduk santai di meja makannya.


"Sob, antarin gue bisa?" ucap Mika sambil berlalu masuk ke dalam rumah.


"Kemana?" tanya Sean datar.


"Irena kontraksi lagi, mungkin udah masuk waktunya. Mobil gue masih di bengkel."


"Oke." dengan cepat Sean menaiki anak tangga, tak lama ia kembali turun dengan mengenakan jaketnya.


"Meg, kakak titip Aya bisa kan?"


"Bisa." jawab Megi lembut.


"Ayo." Mika berlari kembali ke area rumahnya.


"Elu berdua sama Soraya gak apa-apa?" tanya Sean di ambang pintu.


"Gak apa-apa kak."


"Nanti gue telepon Mama suruh jemput elu ya."


"Gak usah, aku berani kok."


"Kalau ada apa-apa telepon gue langsung."


"Iya." jawab Megi lembut.


"Hati-hati dirumah, kunci pintunya." Sean menarik kepala Megi dan mencium pucuk kepala Megi dengan lembut.


"Gue langsung pulang setelah Irena melahirkan."


"Gak usah, kakak temeni kak Mika aja. Besok pagi aku nyusul kesana sama Aya."


"Yaudah, gue pergi."


"Hati-hati." Megi mengambil jemari Sean yang berjalan menjauh, seperti enggan untuk melepaskannya pergi.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Sean kembali.


"He he." Megi hanya tersenyum kuda.


__ADS_2