Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 110


__ADS_3

Sean memandangi wajah istri kecilnya yang masih tertidur pulas di atas bantalnya. Bibirnya tersenyum, Sean mengelus pipi putih Megi dengan satu jarinya, lembut.


Perlahan Megi membuka kedua matanya karena pergerakan lembut di pipinya. Matanya langsung melihat Sean di depannya saat pertama kali membuka mata.


"Pagi Sayang." sapa Sean lembut.


"Pagi, Kak. Udah terang banget, jam berapa ini?" tanya Megi merenggangkan badannya.


"Jam sepuluh pagi."


"Hah?" Megi terkejut dan langsung terduduk.


"Kakak gak pergi kerja? udah siang banget kenapa gak banguni aku lebih pagi?" dengan cepat Megi membuka selimutnya dan berjalan ke kamar mandi.


Suara ketukan dari balik pintu kamar mandi terdengar.


"Sayang siap mandi ke balkon ya, aku siapin sarapan buat kamu."


"Iya kak." jawab Megi dari dalam.


Megi keluar dari kamar mandi dengan handuk di kepalanya. Mengeringkan rambutnya dengan cepat dan menyisirnya terburu-buru.


Megi melirik jam di tangannya, sudah hampir tengah siang apalagi yang sarapan. Jam sudah hampir makan siang malah.


Megi membereskan tabletnya dan beberapa karton desainnya. Karena menangis semalaman, ia jadi kesiangan.


Setelah menyiapkan keperluan kerjanya, perlahan Megi berjalan ke arah pintu balkon.


Membuka pintu balkon dengan tergesa, ribuan kelopak bunga mawar putih jatuh menimpahi kepala Megi saat ia membuka pintu balkon.


Sesaat Megi terdiam melihat pemandangan di depannya. Balkon kamar yang tak terlalu besar di sulap dengan ribuan kelopak bunga mawar merah menutupi seluruh lantai.


Meja kecil di tengah-tengah dengan beberapa hidangan sederhana. Seketika harum bunga mawar menyapa hidung Megi.


Bersamaan dengan sepasang tangan melingkari bahu Megi dengan mesra.


"Suka?" bisik Sean di telinga Megi.


"Apa ini Kak? aku terburu-buru karena mau pergi ke selatan kota. Kakak malah buat aku terpaku disini tanpa suara." ucap Megi tak percaya, matanya masih memandang lekat ribuan kelopak bunga mawar merah yang menutupi seluruh lantai putih balkon kamarnya.


Berubah menjadi warna merah dengan wangi semerbak. Entah berapa banyak kelopak bunga yang Sean habiskan untuk membuat ini.


"Semalaman kamu menangis tanpa henti, saat aku melihat kamu tertidur. Aku takut kamu gak mau bangun lagi, karena bayangan Papa kamu akan hilang saat kamu terbangun, Megi." ucap Sean lembut.


Sean membalikan badan Megi, memegang kedua ujung bahu Megi dengan lembut.


"Jadi aku berusaha untuk membuat kamu bahagia, menjadikan diriku berharga untuk kamu. Jadi, walaupun bayangan Papa kamu menghilang saat kamu membuka mata, setidaknya ada aku yang nyata, yang sekuat tenaga ingin membuat kamu selalu bahagia." sambung Sean lembut.


Megi melepaskan senyumnya, perlahan air mata melintasi pipinya. Tak tahu harus berbuat apa, Sean benar-benar membuat perasaannya bahagia.


Megi menarik kedua pipi Sean, mencium Sean dengan durasi yang cukup lama.


Sean menarik pinggang Megi, menempelkan pada perutnya.


"Aku udah siapin ini dari subuh, jangan bangunkan hasratku dan merusak suasana romantis pagi ini, Sayang."


Megi tersenyum dan melepaskan tangannya dari pipi Sean.


"Kakak melakukan banyak hal untuk aku, aku tak memiliki apapun untuk membalasnya. Selain ini, apa yang bisa aku kasih?" ucap Megi lembut.


"Jangan berkata seperti itu Megi, kamu memiliki segalanya yang tak aku punya. Selain dirimu aku tak ingin apapun lagi."


Megi tersenyum dan menempelkan kepalanya di dada Sean. Menghela nafasnya berat.


"Setelah Papa, kakak adalah lelaki yang berharga buat aku, Kak. Jangan pernah berpikir bahwa kakak itu bukan sesuatu yang gak berarti buat aku."


Sean menghela nafasnya dan mengelus pucuk kepala Megi.


"Bagaimana jika kita melakukannya diatas kelopak bunga, Megi?" tanya Sean menggoda.


"Baiklah." jawab Megi sendu.

__ADS_1


"Eh ... Tunggu dulu." Sean meleraikan pelukan Megi dan menarik bahu Megi menjauh.


"Tumben banget kamu langsung setuju gak malu-malu dulu?" tanya Sean bingung.


Megi menghapus sisa air matanya dan menatap wajah Sean. Bibirnya tersenyum sendu.


"Bagaimana jika aku yang memulainya duluan?" tanya Megi mendekat.


Sean tersenyum dan menarik ujung hidung Megi.


"Baiklah, ayo makan dulu. Ini sudah hampir tengah hari siang."


***


Bibir Megi terus melengkung saat matanya menatap bayangan hitam putih di layar monitor.


"Kemarin Megi sempat terjatuh Dokter, apa janinnya baik-baik saja?" tanya Sean.


"Lihat, anaknya masih sangat aktif bergerak." tunjuk Dokter itu pada layar monitornya.


Sean menggenggam jemari Megi, matanya masih memandang layar itu.


"Meg."


"Hem."


"Anak kita kuat seperti kamu." Sean mengelus dahi Megi lembut.


Setelah dari rumah sakit Sean melajukan mobilnya menuju kediaman Rayen. Menjeput buah hatinya yang di ambil oleh Rayen kembali, sehari setelah pulang kerumah Sean.


"Papa." langkah kecil Rezi berlari menyambut Sean datang.


"Kamua anak nakal, suka sekali ninggalin Papa sendiri." Sean langsung mengangkat tubuh kecil Rezi dan melambungkannya tinggi.


"Kamu dan Megi sedang sibuk buat desain gedung di selatan kota, dari pada Rezi dirumah gak ada temannya, yah Papa bawa pulang saja." ucap Rayen datar.


"Hem, buat terus alasan untuk gak kerja ya, Pa." balas Sean sengit.


"Haduh Sean, berhentilah bertengkar." tengah Miranda.


"Si tua bangka ini semakin pintar memainkan drama." sanggah Sean kesal saat Rayen berjalan melewatinya.


Melihat badan besar Rayen pergi, Megi mengejar langkah kaki Rayen.


"Papa Rayen." panggil Megi lembut.


"Ada apa, Megi?" tanya Rayen membalikan badannya, menatap Megi di depannya.


"Itu."


"Oh ... Gak apa-apa, Papa sama Sean gak bertengkar sungguhan, ya ... saat seorang Papa menjadi kakek, rebutan kasih sayang cucu itu, pasti."


Rayen menghela nafasnya dan mendekat ke Megi, meraih pucuk kepala Megi. Mata Megi menatap wajah tua Rayen dengan sangat lekat, seperti ada sesuatu yang ia rasakan saat tangan Rayen menyentuh kepalanya.


"Kamu gak perlu cemas." ucap Rayen lembut.


Rayen tersenyum dan membalikan badannya, berniat untuk pergi.


"Ehm, Papa." panggil Megi kembali.


"Hem."


Tangan Megi dengan cepat mengeluarkan foto USG nya dan menyerahkan ke Rayen.


"Aku mau kasih lihat ini."


Rayen mengambil gambar itu dan menatapnya, bibir keriputnya kembali tersenyum.


"Papa udah gak sabar nunggu anak ini lahir." ucap Rayen menyerahkan gambar itu kembali.


"Papa." panggil Megi kembali.

__ADS_1


"Iya."


"Apakah Papa gak ingin dengar detak jantungnya, dari dalam perut aku?" tanya Megi menahan air matanya yang ingin keluar.


"Ah, apa boleh?" tanya Rayen terkejut.


"Ehm." dengan cepat Megi mengangguk dan mengambil tangan Rayen, meletekan di atas perutnya.


Mata Megi terus menatap wajah Rayen yang tersenyum bahagia saat merasakan gerakan dari dalam perutnya. Perlahan air matanya mulai menetes.


Teringat akan mimpinya semalam, walaupun tangan yang menyentuh perutnya berbeda, tapi kehangatan seorang Papa akan tetap sama.


Dengan cepat Megi menghapus buliran air matanya, dan mengambil oksigen yang terasa sangat sulit untuk ia hirup.


"Menakjubkan Megi." ucap Rayen memalingkan pandangannya ke Megi.


"Megi kenapa? gerakannya buat kamu sakit ya?" tanya Rayen bingung.


Megi menggelengkan kepalanya, menghapus kembali buliran air matanya.


"Papa." panggil Megi lirih.


"Hem."


"Bisakah Papa peluk Megi sebentar saja, Sebentar saja Papa." ucap Megi kembali menangis tergugu.


Rayen melepaskan senyumnya dan menarik kepala Megi. Memeluk badan mungil Megi erat.


"Dasar gadis cengeng, kenapa sampai menangis jika hanya ingin di peluk. Kamu bisa katakan langsung." ucap Rayen sambil mengelus pundak Megi.


"Aku kangen sekali sama Papa, aku rindu sekali, Pa. Aku rindu hangat pelukan seorang Papa." jawab Megi semakin mengeratkan pelukannya, menyembunyikan wajahnya di dada Rayen.


Sementara Sean yang memperhatikan dari sudut sini menghapus buliran air matanya yang ikut mengalir melihat istrinya kembali menangis terseduh.


"Semalam Megi memimpikan Papanya, Mama jangan cemburu kalau Papa meluk wanita muda ya." ucap Sean setengah bercanda.


"Kamu apaan, Sean. Mana mungkin seorang Ibu cemburu saat melihat anaknya memeluk Ayahnya." jawab Miranda yang ikut menangis melihat Megi disana.


Tak lama Rayen meleraikan pelukan Megi dan menghapus buliran air mata Megi yang membanjiri matanya.


"Kamu putri kecil Affandy Abbas kan?" tanya Rayen sendu.


"Iya." jawab Megi kembali menangis.


"Papa harap, Fandy gak cemburu sama Papa."


"Cemburu kenapa?"


"Karena kamu menggantikan kehangatan pelukannya dengan hangat pelukan Papa."


Megi melepaskan senyumnya dan menghapus kembali air mata yang sempat jatuh.


"Bukankah setiap pelukan seorang Papa itu selalu memiliki kehangatan ya? walaupun kasih sayangnya gak sama, tapi pasti hangatnya sama."


Rayen tersenyum dan meraih pucuk kepala Megi.


"Mulai saat ini, Papa akan menjaga kamu, menyanyangi kamu. Karena kamu Putri Kecil Papa, iya kan."


Megi tersenyum dan menganggukan kepalanya. Kembali ingin memeluk Rayen.


"Eh..." Sean menarik pinggang Megi dari belakang.


"Cukup peluk si tua bangka ini, peluk aku aja." Sean membalikan badan Megi dan memeluknya erat.


"Tua bangka, jangan keenakan di peluk wanita muda, ini wanita aku." ucap Sean ketus.


"Kamu pikir kamu saja yang punya wanita?" Rayen menarik Miranda dan ikut memeluknya.


"Aku juga ada, anak muda." ucap Rayen gak mau kalah.


"Aku di peluk siapa?" tanya Rezi yang berada di tengah-tengah.

__ADS_1


Seketika tawa mereka pecah, saat Rezi bersuara. Miranda melepaskan pelukan Rayen dan menggendong Rezi.


"Tentu saja kamu bisa peluk kami semua, Sayang."


__ADS_2