
Megi membuka pintu balkon kamarnya, menikmati suasana pagi yang masih gelap. Megi memalingkan wajahnya, melihat Sean dan Rezi yang masih tertidur lelap.
Megi menghela nafasnya dan duduk di kursi balkon. Menikmati suasana pagi yang masih gelap berubah menjadi lebih terang.
Megi mengambil penjepit kuku, memotong kuku tangannya yang mulai panjang.
"Sayang, kok di luar sih?" tanya Sean yang baru bangun.
"Lagi menghirup udara pagi, katanya bagus buat janin, Kak."
"Oh." jawab Sean datar. Sean membalikan badannya dan pergi dengan cepat.
Melihat Sean pergi Megi hanya mengerdikan bahunya dan acuh. Kembali melanjutkan kegiatannya, merapikan kuku tangannya.
Tak lama Sean kembali, membawa segelas susu di tangannya. Meletakan dengan lembut di depan Megi. Sean meletakan bokongnya di ujung kursi panjang yang sama dengan Megi, dan mengangkat kedua kaki Megi keatas pangkuannya.
"Kakak ngapain?" tanya Megi bingung.
"Biar aku bantu kamu potong kuku kaki, ya. Sini jepitannya."
"Eh ... Gak usah, aku bisa potong sendiri Kak." ucap Megi menurunkan kakinya, dengan cepat Sean menaiki kembali kaki Megi keatas pangkuannya.
"Udah sini." tanpa menunggu persetujuan Megi, Sean merebut jepitan kuku di tangan Megi.
"Kamu minum dulu susunya, nanti anak kita masuk angin pagi-pagi kamu disini dengan perut kosong."
Megi tersenyum dan meraih gelas susu yang di bawa oleh Sean tadi. Meneguknya perlahan, mata Megi menatap Sean yang duduk di depannya.
'Ini terlalu kental dan manis, minum seteguk saja, buat eneg.' lirih Megi dalam hati.
"Susunya kakak yang buat?" tanya Megi meletakan kembali gelas susu keatas meja.
"Iya, kenapa? gak enak ya?"
"Enak kok. Tapi kalau lain kali kakak mau buat lagi, airnya di banyakin, ini terlalu kental."
"Oh, mau aku tambah airnya?"
"Gak usah nanti saja." jawab Megi dengan tersenyum lembut.
Megi menghela nafasnya dan memandang Sean yang saat ini duduk di depannya. Sean masih menunduk dan terfokus oleh kuku kaki Megi.
"Hem, jadi begini ya rasanya kalau kakak yang jatuh cinta?" ucap Megi meledek.
"Kenapa? gak suka?" tanya Sean ketus.
"Suka banget Kak. Aku senang banget malah."
"Saat kamu memilih untuk menjadi nyonya Sean Putra, maka kamu harus berani tanggung resikonya."
"Hem." Megi menaiki sebelah alis matanya. "Resiko apa?" tanya Megi kembali.
"Resiko buat selalu di manjain dan di bahagia in sama Sean Rayen Putra." jawab Sean angkuh.
Megi melepaskan tawanya dan menggeleng. Tak bisa lagi di jelaskan bagaimana rasa hatinya, bahkan saat ini ia lupa bagaimana air mata yang pernah tumpah selama lima tahun ini.
"Kakak apaan sih?"
"Lima tahun ini kamu banyak menderita kan Megi? kamu menderita karena aku." ucap Sean sendu.
"Mulai saat ini, aku akan mengganti setiap luka lima tahun itu Megi. Walaupun aku harus membayarnya dengan seluruh hidup aku, aku akan berusaha membayarnya. Berusaha untuk menutupi luka yang pernah kamu rasa."
__ADS_1
"Kalau hutangnya lunas, apa kakak akan meninggalkan aku lagi?"
"Hem." Sean tersenyum sinis. "Jangan mimpi, Megi. Bahkan walau hanya dalam mimpi sekalipun kamu dilarang untuk meninggalkan aku."
"Apa waktu kakak pacaran sama kak Hana dulu, kakak juga memperlakukan Kak Hana selembut ini?"
"Kalau aku bilang, bahkan saat lima tahun yang lalu, bagaimana aku memperlakukanmu tak pernah sama dengan apa yang aku lakukan untuk Hana. Bahkan kamu yang lima tahun dulu, menang telak diatas Hana, Megi." ucap Sean lembut.
"Percaya gak?" tanya Sean kembali.
"Kalau aku gak percaya Kakak. Aku gak akan ada disini sekarang Kak."
Sean menatap wajah Megi dan tersenyum lembut.
"Oke, selesai."
Sean menuruni kaki Megi dan menggeser duduknya lebih dekat ke Megi.
Menarik pipi Megi dan mencium dengan lembut.
"Jangan pernah bandingkan atau samakan dirimu dengan Hana, Megi. Jika kamu di bandingkan dengan Hana, maka perbandingannya akan jauh terlihat, jika kamu samakan dengan dia. Kamu dan dia tak akan pernah sama." ucap Sean lembut.
"Aku hanya bertanya, Kak."
"Jangan tanyakan lagi tentang masa laluku. Banyak hal yang gak kamu tahu, akan melukai aku. Saat ini aku menjalani hidup dengan kamu, hanya ingin melihat kedepan tanpa mau melirik sedikitpun kebelakang."
Megi menarik kedua pipi Sean dan mengecup lembut dahi Sean.
"Baiklah, apapun yang suamiku inginkan." jawab Megi lembut.
"Siap-siap. Kamu ikut aku ke selatan kota untuk lihat gedung kan."
***
Sean berjalan dengan cepat, memasuki gedung baru, anak perusahaannya.
"Selamat pagi Tuan Muda." sapa beberapa cewek cantik di balik konter resepsionis.
Tanpa melihat ke samping, Sean berjalan dengan cepat melewati konter resepsionis.
"Bos." panggil Yohan lembut. "Ada beberapa hal yang harus saya sampaikan sama, Bos."
"Ada apa Yohan? apa ada masalah?" tanya Sean sambil menyingkap kacamata hitamnya keatas kepala.
Sementara terdengar suara bisikan di balik konter resepsionis saat Sean menyingkap kacamatanya.
Megi hanya tersenyum dan menggeleng saat mendengar suara bisikan para resepsionis muda itu. Bahkan diumur Sean yang sudah sangat dewasa pun, Sean masih banyak di kagumi wanita muda.
Megi berjalan ke sisi samping, melihat dengan rinci bangunan lantai satu. Matanya memandang setiap sudut bangunan dengan lekat.
"Itu siapa ya? selama aku kerja disini baru lihat Tuan Muda bawa perempuan." bisik salah seorang resepsionis wanita itu.
"Iya, muda dan cantik lagi. Apa itu pacar Tuan Muda?"
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya seorang wanita cantik yang baru datang.
"Eh mbak Silvy, baru datang?" tanya gadis di balik konter itu.
"Kenapa kalian bergosip pagi-pagi?" tanya Silvy jutek.
Sementara wanita-wanita muda di balik konter itu hanya tertunduk. Megi kembali berjalan mendekati Sean yang berbicara serius dengan Yohan.
__ADS_1
"Bangunan ini arsitekturnya sangat menarik, apa kakak yang desain?" tanya Megi mengalihkan perhatian Sean.
"Menurut kamu?" tanya Sean tersenyum lembut.
Megi hanya tersenyum dan mengeluarkan tabletnya. Mencoba untuk mencari desain yang cocok dengan ruangan di lantai dasar ini.
"Empat tahun aku kerja disini, gak pernah lihat Tuan Muda tersenyun selembut itu. Apa mbak Silvy pernah?" tanya gadis itu memanasi.
"Yah wajar saja, gadis itu cantik dan juga imut. Mungkin dia bisa gantikan posisi istri Tuan Muda yang sudah meninggal." ucap satu lagi, semakin membuat hati Silvy terbakar.
"Mbak Silvy empat tahun jadi sekretaris Tuan Muda disini. Apa mbak Silvy pernah lihat Tuan Muda begitu lembut sama wanita?" tanya gadis yang lainnya.
"Diam kalian." bentak Silvy geram.
Dengan cepat Silvy mengambil dokumen-dokumen pekerjaannya dan berjalan mendekati Sean.
"Maaf Tuan Muda, ini semua dokumen yang menunggu persetujuan anda." ucap Silvy lembut.
Matanya melirik kearah Megi yang masih terfokus pada layar tabletnya.
"Bawa ke ruangan gue." perintah Sean tegas.
"Baik." jawan Silvy lembut.
"Megi."
"Hem."
"Kamu pergi sama Yohan ya, lihat dua ruangan yang lainnya di lantai atas."
"Baiklah." jawab Megi lembut.
"Mari nyonya." ajak Yohan lembut.
Megi mengikuti langkah Yohan menuju lantai atas. Meninjau lokasi lebih dekat sebelum menentukan desainnya.
Bibir Megi melengkung saat melihat arsitektur bangunan ini. Gaya klasik dan modern di jadikan satu, dengan banyak modifikasi yang membuatnya menarik.
"Apa gedung ini di desain oleh kak Sean?" tanya Megi lembut.
"Benar, Nyonya."
"Arsitekturnya indah, tak sulit untuk mendekornya, sisi arsitektur ini hanya perlu di tonjolkan saja."
"Sebenarnya gedung ini adalah gedung alternatif. Gedung cadangan dari gedung yang di barat kota."
"Hem? maksudnya?"
"Awalnya gedung ini di bangun karena gedung di barat kota mengalami kecelakaan. Jadi Bos membangun gedung ini untuk mengalihkan investor agar tak lari. Tapi alhamdulillah, kedua gedung berhasil di buka."
"Seperti itu?" tanya Megi tersenyum
Ternyata Sean masih tak berubah, selalu merencanakannya sebaik yang ia bisa. Setelah puas melihat, Megi dan Yohan turun dari lantai atas.
Saat keluar dari dalam lift, dengan sedikit keras Silvy menyenggol badan Megi saat berselisihan jalan.
Perbedaan besar badan atara Silvy dan Megi, membuat badan kecil Megi terdorong ke samping dan jatuh terduduk.
"Aw ... Ah." ucap Megi memengangi perutnya, menahan sakit.
Megi mendongakan pandanganya, melihat Silvy yang tersenyum sinis di depannya.
__ADS_1