
Gadis itu masih memandang Rezi, memberikan waktu Rezi untuk mencerna gerakan tangannya.
Setelah beberapa lama, Rezi hanya terdiam. Gadis itu kembali tersenyum dan mengambil buku di genggaman tangan Rezi.
Gadis itu kembali memainkan tangannya, Rezi hanya bisa mengernyitkan dahinya. Ia sama sekali tak mengerti apa yang mau di sampaikan oleh gadis itu.
Gadis itu menghela nafasnya dan menggelengkan kepalanya. Ia merogo ponsel di dalam tasnya. Dengan cepat tangannya mengetik sesuatu dalam gadgetnya, lalu memberikan nya ke Rezi.
(Hai, aku Neha. Terima kasih untuk bantuan kamu sebelumnya, tapi apakah kamu melihat penaku?)
Rezi melepaskan senyumnya dan mengembalikan ponsel ke tangan Neha.
"Hai, Neha. Maaf tapi aku tidak melihat penamu." jawab Rezi lembut.
Gadis itu tersenyum lembut dan kembali memberikan ponselnya ke Rezi.
(Oh, baiklah. Kalau begitu aku duluan ya, Rezi. Sampai bertemu lagi.)
Gadis itu tersenyum dan melambaikan tangannya. Berjalan menjauh perlahan dari Rezi.
Sementara Rezi masih terdiam, ia bingung harus berbuat apa. Jelas ia telah jatuh hati oleh wanita itu, namun kenyataannya bahwa wanita itu hanya seorang tunawicara membuat Rezi sedikit kecewa.
Rezi menghela nafasnya dan megacak rambutnya. Ia bingung dengan keadaan ini. Mengapa harus wanita itu yang ia cintai?
Bahkan Rezi merasa sama sekali tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh gadis itu.
Dengan langkah gontai, Rezi berjalan menyusuri taman itu. Mencari tempat duduk yang kosong dan tempat yang agak sunyi. Ia masih butuh ruang untuk menerima kenyataan ini.
Baru pertama kali ia jatuh cinta dengan seorang perempuan, namun kenapa sepertinya takdir mempermainkan ia.
Rezi menghela nafasnya dan mengacak rambutnya. Pikirannya berperang, langkah apa yang harus ia ambil kali ini.
"Hai." sapa Shenina lembut.
"Hai." jawab Rezi lesu.
"Nunggu lama ya, maaf ya. Aku tadi masih harus bersihkan lantai sebelum kesini."
"Ehm gak apa-apa. Oh ya, ini laptop kamu sudah aku benerin." Rezi menyodorkan laptop Shenina dengan sedikit lemas.
"Oh." Shenina tersenyum dan menghidupkan laptopnya, mengecek beberapa file yang ia perlukan.
"Keren banget, kamu sudah lama bisa benerin laptop?" tanya Shenina senang.
"Cuma hobi awalnya, sekarang malah jadi kuliah di sana."
"Oh, ya ampun beruntung banget deh aku kenal seseorang yang berbakat seperti kamu." ucap Shenina dengan memandang wajah Rezi.
Sementara Rezi hanya termenung, ia masih bertanya-tanya soal wanita itu. Ia masih bingung bagaimana ia bisa menerima wanita itu.
"Mas Rezi." panggil Shenina lembut.
"Eh, iya." jawab Rezi sedikit terkejut.
"Kamu kenapa, Mas?" tanya Shenina penasaran.
Biasanya Rezi selalu tersenyum dan juga bicara dengan sangat jelas. Tapi kenapa malam ini Rezi jadi pendiam dan sama sekali tak ada tersenyum sedikitpun dari tadi.
"Gak apa-apa." Rezi mengelus tengkuk lehernya dan menghela nafasnya berat
__ADS_1
"Kamu yakin gak apa-apa?" tanya Shenina cemas.
"Iya, aku hanya sedikit lelah. Akhir-akhir ini banyak tugas dan juga harus sempurnakan sesuatu buat bantu Papa di perusahaan." jelas Rezi mengelak.
"Ehm." Shenina menganggukan kepalanya dan menainkan bibirnya.
"Ngomong-ngomong aku bagaimana membayar ini?" tanya Shenina kembali.
"Bayar apa?" tanya Rezi bingung.
"Biaya benerin laptop ini?"
Rezi melepaskan senyumnya, dan menggelengkan kepalanya.
"Gak perlu bayar, anggap saja ini hadiah pertemuan aku untuk Seta."
"Eh, mana bisa begitu."
"Kenapa gak bisa? ya buat bisa sajalah." Rezi menghela nafasnya dan menggosokan telapak tangannya di atas kedua dengkulnya.
"Kalau Mas gak mau aku bayar, gimana kalau aku traktir secangkir kopi."
"Lain kali ya. Aku harus pulang, masih banyak tugas dirumah." tolak Rezi lembut.
"Ehm," Shenina menganggukan kepalanya, sedikit kecewa. "Baiklah." jawab Shenina mengalah.
"Kamu mau sekalian aku antar?"
"Gak usah Mas. Aku masih ada sesuatu yang harus di kerjakan."
"Emh, begitu. Baiklah, aku duluan ya."
Rezi bangkit dan menyentuh kepala Shenina, mengelusnya lembut sebelum pergi.
Sementara Shenina sedikit kecewa, melihat sikap Rezi malam ini membuat ia cemas. Namun ia tak bisa mengatakannya langsung.
Rezi melajukan mobilnya menembus jalanan malam. Pikirannya melayang entah kemana, beberapa kali Rezi di klakson dengan keras karena berhenti terlalu lama di lampu merah.
Rezi menjatuhkan kepalanya di atas setir dan menggeleng dengan pasrah. Ia menghela nafasnya dan mencoba kembali pada kenyataan.
"Ayolah Rezi, hanya karena seorang gadis. Kenapa kamu bisa sekacau ini?"
Rezi membuka pintu depan rumahnya dan berjalan perlahan memasuki kamarnya.
Rezi menghidupkan laptopnya dan mencoba kembali pada perkejaannya. Namun seberapa keras ia berusaha. Kejadian tadi terus terbayang di pelupuk matanya.
"Neha, pantas saja kamu tidak pernah berkata apapun saat aku membantumu beberapa kali." Rezi menghela nafasnya panjang dan meletakan kepalanya diatas senderan kursinya.
Tok, tok.
Suara ketukan di balik pintu, membuyarkan lamunan Rezi.
"Papa masuk ya, Nak." pinta Sean lembut.
"Masuk saja, Pa." ucap Rezi lembut.
"Kamu lagi apa?" tanya Sean.
"Lagi mau buat tugas."
__ADS_1
"Benar lagi mau buat tugas? Papa perhatikan sepertinya kamu lagi bingung sekali."
Rezi menyeringai dan menggaruk kepalanya. Ia tak berani mengakui perasaannya saat ini pada Sean.
"Ada apa Nak?" tanya Sean kembali.
"Gak ada apa-apa, Pa."
"Hey, kenapa anak Papa semakin dewasa semakin tertutup saja? apa aku ini bukan Papamu lagi setelah kamu dewasa?"
"Papa ngomong apa? mana mungkin seperti itu." Rezi memainkan mouse di laptopnya dan mengutak atik beberapa file miliknya.
Sean melepaskan senyumnya dan menepuk bahu Rezi dengan lembut.
"Rezi, ceritakan apa yang ingin kamu ceritakan. Jangan simpan semuanya sendiri."
"Tidak ada apa-apa, Pa." elak Rezi kembali.
"Ya, kalau kamu tak ingin cerita sih gak masalah. Papa mana bisa memaksa."
Rezi terdiam dan memandang Sean dengan lekat. Mungkin ia bisa menanyakan pendapat Sean. Bagaimana juga, lelaki dewasa yang bisa di ajak cerita saat ini hanyalah Sean.
"Pa, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Rezi lembut.
"Tanya saja."
"Kalau Mama itu, bukan Mama yang seperti sekarang, apa Papa akan tetap mencintai Mama?"
Sean tersenyum dan menggelengkan kepalanya
"Maksud kamu kalau Mama bukan seperti yang sekarang, lalu Mama seperti yang apa?" tanya Sean pura-pura bodoh. Padahal ia tahu kemana arah pertanyaan Rezi.
Tetapi ia ingin membuat Rezi agar sedikit lebih terbuka tentang perasaannya nya.
"Maksud aku, Pa. Mama itu wanita hebat, kepintarannya luar biasa dan bakat yang sangat indah. Mama cantik dan juga sempurna. Jika Mama tidak sempurna apa Papa akan masih mencintai Mama."
"Rezi, yang harus kamu tahu. Yang membuat seseorang sempurna itu bukan kemampuan ataupun hal fisiknya saja. Tapi yang membuat seseorang itu sempurna adalah ketulusan dari hatinya."
"Maksud Papa?"
"Jika Mama kalian tidak memiliki hati yang tulus, Papa mungkin tidak akan memilih Mama kalian. Satu yang harus kamu ingat, kalau yang namanya cinta itu bukan mencari kesempurnaan pasangan, tapi cintalah yang membuat kita dan pasangan kita sama-sama saling menyempurnakan."
"Ehm, jadi kalau Mama hanya seorang gadis bodoh dulunya, Papa juga masih akan tetap memilih Mama?"
"Bagi Papa, asalkan itu Mama kamu, mau dia hanya punya satu tangan ataupun satu kaki sekalipun. Dialah orang yang paling sempurna untuk Papa."
"Kenapa Papa berpikiran seperti itu?"
"Karena, Papa yakin satu hal. Jika Papa sudah jatuh cinta, tak peduli Mama kamu itu wanita yang punya fisik bagaimana, selama cinta yang dia berikan bisa buat Papa bahagia, maka dialah orang yang paling sempurna untuk Papa. Nak, hubungan itu tidak hanya menerima kelebihan, tapi juga harus bisa menerima kekurangan. Bukan hanya untuk sama-sama saling memberi yang terbaik saja, tapi juga harus bisa untuk saling melengkapi."
Sean tersenyum dan menepuk bahu Rezi kembali.
"Kalau kamu tidak mau menerima kekurangan orang lain, itu tandanya kamu dan dia tidak bisa menjalin hubungan."
"Eh kenapa, Pa?"
"Karena cinta itu bukan hanya tentang menerima, tapi juga memberi. Bukan hanya tentang menyanyangi tapi juga tentang menyemangati. Kekurangan itu ada di dalam diri kita agar kita sama-sama saling melengkapi, bukan hanya meminta dan menuntut lebih."
Rezi menundukan pandangannya, ia mencoba mencerna perkataan Sean.
__ADS_1
"Kenapa? apa kamu mulai jatuh cinta?" tanya Sean sinis.
"Eh, itu, ehm, mana mungkin."