
Sean dan Mirza duduk bersebelahan, asyik memandangi layar datar di depan mereka.
"Ah ... Lu bodoh banget sih?" ucap Sean sambil menjitak kepala Mirza.
"Gue gak bodoh, lawannya aja yang terlalu pintar." elak Mirza yang kesal oleh tuduhan Sean.
Sementara Mika yang berada di meja kerjanya, menatap kedua lelaki yang sedang duduk santai di sofa itu. Mika menekuk wajahnya dengan ketat.
"Kan gue udah bilang, jangan pakai dia, itu ilmunya gak kuat Mirza."
"Terus kenapa elu gak maini punya elu? protes punya gue?" tanya Mirza jutek.
"Kalian bisa gak sih main game di tempat lain? kenapa harus di ruangan gue?!" tanya Mika membara.
"Kakak lu kenapa?" tanya Sean menyikut Mirza di sebelahnya.
"Sahabat karib elu itu." jawab Mirza santai.
"Sepertinya dia stres karena gak bisa selesain proyek deh." ucap Sean meledek.
"Hey ... Kalian berdua punya ruangan sendiri, kenapa harus main di ruangan gue? gue gak bisa kerja, dasar kecebong tua."
"Hey kecebong tua, balik lu keruangan sana." ucap Mirza ke Sean.
"Heh, sebaiknya elu belajar sopan santun, gini-gini gue ini kakak elu." Sean melilitkan satu tangannya di batang leher Mirza.
"Bukannya elu yang harus belajar sopan santun, gini-gini gue kakak ipar elu." bela Mirza ketus.
"Eh, iya juga ya. " Sean melepaskan lilitan tangannya di batang leher Mirza.
"Keluar kalian berdua!" teriak Mika lantang.
"Bos nya elu apa Mika sih, Sean? kok galakan dia di bandingkan elu?"
"Entah, gue juga bingung. Apa singa Afrika itu sekarang larinya ke dia ya?"
"Lu sih, punya gara-gara."
"Kok gue?" tanya Sean bingung.
"Mika kan gak punya basic di bisnis, dia pasti stres harus kerja disini." ucap Mirza datar.
"Jadi mau gimana? dia gue tawarin jadi tukang pukul di perusahaan gak mau."
"Lu buatin kolam bebek aja di belakang, terus lu beli kapal-kapalan. Biar Mika yang rawat, jadi dia ada yang kerjain."
"Oke juga, ide lu." jawab Sean senang.
Sementara Mirza dan Sean asyik bergosip berdua. Mika sudah menggeretakan jemari tangannya, siap menghajar dua adik durhakanya ini.
"Mika, bagaimana menurut elu?" tanya Sean.
Mika langsung melilitkan kedua batang leher adik-adik durhakanya yang sedang duduk bersebelahan. Mencengkram batang Sean dan Mirza dengan dua lengan kekarnya dari belakang sofa.
"Kalian berdua luar biasa ya. Gue lagi kerja, tapi kalian malah buat onar di ruangan gue." ucap Mika menguatkan lilitan tangannya.
"Uhuuk, Mika. Ampun." ucap Mirza sambil terbatuk.
"Hey tiga bocah tua, kalian ini memindahkan taman kanak-kanak kesini ya?" tanya Rayen yang baru datang dari luar.
Seketika Mika melepaskan lilitan tanganya, Sean dan Mirza terbatuk. Mengambil nafasnya yang tersengal karena tertahan lengan kekar Mika.
"Kalian bertiga ini, bukannya kerja malah main-main saja." ketus Rayen, geram.
"Sean, Papa ini sudah tua dan ingin pensiun dirumah. Bukan malah memomong tiga bocah dewasa yang makin hari makin buat masalah saja." Rayen menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan ulah-ulah lelaki yang sudah dewasa di depannya ini.
"Aku dan Mirza cuma datang bertamu, Mikanya saja yang sensitif."
"Bertamu? kamu pikir ini lebaran?" tanya Rayen memadam.
__ADS_1
"Sudahlah Papa ngapain kesini? kalau cuma buat marahi kami, gak guna, Pa." ucap Sean yang santai memainkan laptop Mirza di depannya.
"Perusahaan cabang yang ada di Macau bermasalah lagi."
"Kan sudah aku bilang dari awal, Pa. Perusahaan kita gak cocok berdiri disana." jawab Sean santai.
"Jadi mau bagaimana? sudah berjalan."
"Tutup sajalah, jual sahamnya dan buka cabang baru di negara lain." jawab Sean datar.
Rayen datang mendekat dan menjitak kepala Sean dengan kuat.
"Auw." rintih Sean saat mendapati perlakuan Papanya.
"Di otakmu itu, selain Megi. Apa yang bisa di pikiri, hah? kamu pikir mudah dapeti perizinan buat buka cabang di negara asing?" ucap Rayen kesal.
"Jadi aku harus bagaimana?"
"Siapkan paspor dan perlangkapanmu, minggu depan kamu awasi cabang disana."
"Yah, gak bisalah, Pa. Megi sudah persiapan untuk lahiran. Aku gak bisa kemana-mana."
"Jadi, siapa yang mau kesana?" tanya Rayen ketus.
"Mika." jawab Sean langsung.
"Hah? gue?" ucap Mika terkejut.
"Bahasa Mandarin dia cukup bagus, Pa. Dia juga sudah lama tinggal disana." ucap Sean melemparkan masalah.
"Heh, Sean bahasa di Macau itu bukan Mandarin biasa, tapi bahasa kanton. Megi saja kurang paham, apalagi gue."
"Kalau gitu Mirza saja." balas Sean langsung.
"Kok gue sih? gue mana ngerti bahasa Mandarin, Megi noh yang lebih paham."
"Kalu gitu Papa saja."
"Mirza, kamu berangkat ke Macau ya." perintah Rayen tegas.
"Baik, Om." jawab Mirza mengalah.
Di tengah rundingan masalah cabang di Macau. Ponsel Mirza berdering dengan keras, di lihat nama yang tertera, Mirza kembali menaruhnya di atas meja.
Selang beberapa detik, kembali telepon Mirza berdering. Masih dengan nama yang sama. Mirza menggeser dengan cepat dan meletakannya di telinga kirinya.
"Ada apa Ra? Mas lagi ada rapat." ucap Mirza langsung.
"Mas, ada Mas Sean disana?" tanya Rara langsung.
"Sean?" Mirza melirik kearah Sean yang ada di sebelahnya.
"Kenapa? kok nanyain dia?" tanya Mirza.
"Ish, sudahlah. Berikan saja ponselnya sama dia."
Mirza menyerahkan ponselnya kearah Sean. Dengan sedikit bingung Sean mengambil ponsel Mirza, meletakan di telinganya.
"Hallo." ucap Sean lembut.
"Huh, Mas Sean, syukurlah dari tadi di hubungi susah sekali." ucap Rara di seberang sana.
"Ada apa?" tanya Sean datar.
"Cepat pulang, Megi mau melahirkan." perintah Rara cemas.
"Hah? kok bisa?" tanya Sean kaget.
Seketika orang yang sedang bersamanya langsung menatap kearahnya.
__ADS_1
"Ya bisalah, kan memang sudah sampai waktunya, cepat ya." putus Rara langsung.
"Ada apa Sean?" tanya Rayen cepat.
"Megi mau melahirkan, aku duluan ya." Sean langsung berlari keluar dari gedung utama perusahaannya.
Sementara disini, Megi sudah banjir peluh keringat. Menahan sakit di perutnya.
"Ra, Sean masih lama? aku takut Megi melahirkan dirumah." ucap Irena cemas.
"Tenang, Mbak. Megi masih kontraksi belum pembukaan. Biasanya kalau anak pertama sedikit agak lebih lama." jawab Rara menangkan.
"Meg, lu kalau gak tahan bilang ya."
"Bisa kok, Kak. Bisa nahan." jawab Megi yang terus memegangi perutnya.
"Meg, atur pernafasan ya, itu akan mengurangi rasa sakit kontraksinya." ucap Rara memberikan aba-aba.
"Megi." Sean langsung berlari saat masuk dari pintu depan rumahnya.
"Tahan ya, kita kerumah sakit."
Dengan cepat Sean mengangkat Megi, memasukannya ke dalam jok mobil. Melajukan mobilnya menembus padat jalanan pusat kota siang hari.
Lima belas menit sudah, Sean terjebak macet karena jam saat ini bertepatan dengan jam makan siang kantor.
"Sial." Sean memukul setir mobilnya karena kesal.
"Uhhhh." Megi mengubah posisi duduknya dan mengatur nafasnya.
"Megi, jangan melahirkan dulu ya. Aku cari cara, biar kamu cepat sampai kerumah sakit."
Megi tersenyum getir dan mengenggam jemari Sean. Dengan satu tanganya, Sean menekan sederet angka, menelpon seseorang di seberang sana.
Hanya butuh beberapa detik, panggilan tersambung.
"Yohan, gue terjebak macet dipusat kota, lampu merah ketiga setelah belokan utama. Lu kesini dalam waktu dua menit, ambil mobil gue. Karena mobil, gue tinggalin di tengah jalan."
tanpa menunggu jawaban Sean langsung memutuskan panggilan.
Sean keluar dari mobilnya dan membuka pintu mobil Megi. Membuka seat belt yang Megi gunakan, dan menggendong Megi keluar dari mobil.
"Sayang, tahan sebentar. Aku bisa bawa kamu kerumah sakit."
Sean membawa Megi berlari, menembus jalanan siang yang terpapar sinar terik matahari. Melewati ratusan kendaraan yang sedang terjebak macet di jalanan pusat kota.
Sean berlari sekencang yang ia bisa, melangkahkan kaki besarnya menembus jalanan kota. Tak peduli sepanas apa terik matahari membakar kulitnya saat ini.
Megi terus memandangi wajah Sean, melihat peluh keringat yang berjatuhan dari dahi Sean. Megi tersenyum dan memeluk bahu Sean dengan kuat, menyembunyikan wajahnya di dada Sean.
"Megi, sakit banget ya? kamu pasti gak nyaman karena aku bawa lari ya?" tanya Sean yang terus berlari. Sesekali Sean menaikan tubuh Megi yang melorot kebawah.
"Enggak, Kak. Cuma mataharinya terlalu terik."
"Maaf ya, kalau kita bertahan di mobil aku takut kamu kenapa-kenapa. Sedikit lagi." ucap Sean sambil mengambil nafasnya yang terus memburu kencang, tak lagi ia rasakan lelah karena terus berlari dengan menggendong Megi.
Sean langsung memasukan Megi ke ruang bersalin saat sampai dirumah sakit tempat Megi biasa menjalani pemeriksaan.
Sean mengambil nafasnya yang memburu kencang, menghapus peluh keringatnya yang banjir membasahi seluruh tubuhnya.
Deringan ponsel Sean menjerit dengan kencang. Sean langsung mengangkat tanpa melihat namanya.
"Bos, Bos dimana?" tanya Yohan langsung.
"Gue dirumah sakit. Kenapa?" tanya Sean sambil mengatur kembali nafasnya.
"Mobil, Bos."
"Kenapa mobil gue?"
__ADS_1
"Di tilang polisi, Bos."