Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
122


__ADS_3

Evgen membuka pintu apartemennya, sudah ada Yohan yang duduk di meja makan. Menunggu anak Tuannya itu kembali.


"Tuan Muda, sudah kembali," ucap Yohan senang.


"Paman, sudah berapa kali aku bilang. Tolong panggil aku Evgen saja, aku sesak kalau dipanggil Tuan Muda saat sedang berdua," ucap Evgen ketus.


"Tapi Tuan--"


"Paman, kalau Paman panggil aku begitu lagi. Aku akan cari apartemen sendiri. Terserah Paman mau bilang apa sama Papa nanti," ancam Evgen ketus.


"Baiklah, Tuan."


"Evgen, panggil aku Evgen. Aku Evgen Aulia, bukan Tuan Muda!" tegas Evgen sekali lagi.


Yohan hanya tersenyum, ia menyiapkan beberapa hidangan ke hadapan Evgen.


Dengan cepat Evgen memasukan makanan itu ke dalam mulutnya. Evgen melirik ke arah Yohan, menatap wajah keriput lelaki yang selalu setia mendampingi Papanya itu.


"Paman," panggil Evgen lembut.


"Kenapa T--"


"Evgen! Evgen Paman!" tekan Evgen sekali lagi. Ia mulai kesal melihat sikap kesetiaan Yohan kepada Papanya.


"Maaf Tuan, eh Evgen. Paman gak bisa manggil seperti itu, karena dari Tuan masih kecil, Paman sudah memanggil Tuan Muda seperti itu," jawab Yohan segan.


Evgen memutar kedua bola matanya. Kembali mengunyah makanannya dengan malas.


"Kalau begitu siapkan koper aku, besok aku akan cari apartemen lain di sini."


"Baik, baik Evgen. Paman panggil kamu Evgen saja."


Evgen menghela napasnya, menggelengkan kepalanya pasrah.


"Paman, boleh aku bertanya?"


"Mau bertanya apa?"


"Apa Paman tahu soal perusahaan yang memakai nama Papa untuk menipu pengusaha kecil?"


"Eh kenapa Tuan tanya soal itu?" tanya Yohan bingung.


"Aku hanya ingin tahu, apa Papa tahu soal masalah itu?"


"Jadi begini, Tuan. Sebenarnya masalah ini sedang diusahakan sama Tuan Besar, banyak tuntutan yang datang ke perusahaan kita karena banyaknya orang yang memakai nama Tuan Besar untuk menipu orang lain."


"Kenapa bisa seperti itu? Apa Papa juga terlibat kasus penipuan ini, Paman?" tanya Evgen kaget.


"Tuan Muda percaya kalau Tuan Besar mau melakukan hal itu? Perusahaan ini dibangun dari nol, banyak hal yang sudah Tuan Besar korbankan untuk membangun perusahaan ini. Jadi gak mungkin Tuan Besar mau menghancurkan namanya hanya karena uang yang tidak seberapa itu."


"Tapi kalau Papa memang tahu, kenapa Papa diam saja? Masalah ini bukan masalah yang bisa disepelekan. Papa bisa saja masuk penjara karena fitnahan seperti ini," ucap Evgen geram.


"Tuan Muda tenang saja, Papa Tuan Muda itu bukan pengusaha lemah yang bisa ditindas sesuka hati. Hal ini pasti bisa diselesaikan dengan caranya sendiri. Bagaimana juga, Papa Tuan Muda bukanlah orang yang mudah dihadapi."


Evgen menghela napasnya dan mengeluarkan ponselnya. Sudah jam malam. Mungkin di sana Sean dan Megi sedang menikmati mimpi mereka berdua.


Biarlah, masalah ini bukan lagi urusannya. Tetapi melihat nasib keluarga Krystal yang menjadi korban. Sedikit banyaknya ia menaruh iba.


***


Rezi membuka laptopnya, ada beberapa panggilan tak terjawab melalui video call.


Rezi tersenyum lembut dan kembali mencoba menghubungi adik kesayangannya itu.


"Hai Boy, apa kabarmu?" tanya Rezi saat melihat wajah adik lelakinya itu memenuhi layar datarnya.


Evgen mengacak rambutnya, ia masih setengah sadar.


"Kenapa Kakak nelpon aku di tengah malam begini?" tanya Evgen kesal.


"Oh ya ampun, maaf. Kakak lupa kalau kamu di sana sedang tidur," ucap Rezi sedikit tersenyum.


"Lupakanlah, lagian aku juga sudah terlanjur bangun." Evgen mengusap wajahnya dan mengubah posisinya menjadi duduk.


Berusaha membuka kedua kelopak matanya yang masih ingin tertutup.


Rezi kembali tersenyum, melihat tingkah adiknya itu. Melihat ulah polosnya Evgen, semakin menambah kerinduan di dalam hatinya.


Baru setengah bulan berpisah, tetapi ia merasa bahwa ia sudah lama sekali tidak bercengkerama dan bercanda dengan Jagoannya itu.

__ADS_1


"Sudahlah, Kakak tidak ingin menganggumu. Besok Kakak telepon kamu lagi ya," ucap Rezi mengakhiri.


"Tunggu dulu!" tahan Evgen cepat.


Rezi menghentikan gerakan jemarinya yang ingin menekan tombol off.


"Aku ingin bicara sama Papa," pinta Evgen lembut.


"Papa? Kok tumben?" tanya Rezi heran.


"Kakak bantu saja aku. Ada hal yang ingin aku tanyakan sama Papa," jawab Evgen kembali.


Rezi menganggukan kepalanya, berlari menuruni anak tangga. Menemui Sean yang masih duduk santai di meja makan.


Rezi meletakan laptopnya di hadapan Sean. Memperlihatkan wajah Putra kandungnya itu.


"Hai Boy," sapa Sean lembut. Ia melirik ke jam tangan yang ia kenakan.


"Bukannya saat ini seharusnya jam tidur kamu?" tanya Sean kembali.


"Ya, aku seharusnya masih tidur nyenyak dan mimpi indah. Tapi anak kesayangan Papa itu menelpon aku di tengah malam seperti ini," jawab Evgen ketus.


Sean tertawa dan melirik ke arah Rezi.


"Ada apa? Tumben kamu bicara sama Papa?" tanya Sean tanpa basa-basi.


"Ada hal yang ingin aku tanyakan sama Papa."


"Hal apa? Soal Shenina?" tanya Sean menggoda.


"Hais ... Papa bisa gak jangan bahas itu lagi. Aku beneran ingin bertanya," jawab Evgen ketus.


Sean dan Rezi hanya tertawa berdua. Bahkan sampai saat ini saja, wajah putranya itu masih memerah saat digoda.


"Apasih? Kok rame banget di sini?" tanya Megi yang ikut nimbrung.


"Evgen! Anak Mama, apa kabar kamu Sayang?" tanya Megi senang.


"Aku baik, Ma. Bagaimana kabar adik aku di sana?"


"Niki baik-baik saja," jawab Megi senang.


"Eh ... apa kamu sudah menerima kehadiran adik kamu sekarang?" tanya Megi kembali.


"Ya ... mau tidak mau. Aku harus terima. Sudah jadi, apa mau dibilang lagi?" jawab Evgen seadanya.


"Kamu!" tekan Megi ketus.


"Sudah hentikan! Kalian ini, bahkan saat jauh pun tidak bisa akur," ucap Sean menengahi.


"Pa, aku ingin bicara berdua," pinta Evgen kembali serius.


"Baiklah," jawab Sean mengalah.


Sean mematikan panggilannya dari laptop Rezi. Mengeluarkan ponselnya dan berjalan ke luar rumah.


Sean kembali menghubungi putranya itu. Dari raut wajahnya, ada hal serius yang pasti ingin ia tanyakan.


"Ada apa Evgen? Kelihatannya, kamu ingin bicara serius?" tanya Sean tanpa basa-basi.


"Pa, aku bertemu dengan temanku di sini. Papanya bangkrut karena ditipu oleh Sean Rayen Putra," ucap Evgen langsung.


"Yang benar saja? Sejak kapan perusahaan Papa menjadi ladang penipuan?" tanya Sean datar.


"Apa Papa tahu mengenai hal ini?"


"Papa tahu," jawab Sean dingin.


"Terus kenapa Papa diam saja? Aku rasa ini tidak akan baik untuk nama Papa kedepannya," ucap Evgen sedikit kesal.


"Kamu tenang saja. Selama Papa masih bernapas, Papa gak akan biarin hidup kamu dan keluarga kita terancam."


"Bukan itu maksud aku, Pa," jawab Evgen cepat.


"Jadi?"


"Kalau Papa sudah menemukan siapa penipunya. Bisakah Papa mengembalikan perusahaan mereka?"


Sean menghela napasnya da menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Evgen, dunia bisnis tak semudah yang kamu lihat. Ada beberapa hal yang tidak bisa kamu kendalikan di bawah tanganmu. Termasuk apa yang sudah direnggut tidak akan mudah untuk dikembalikan."


Evgen menundukan pandangannya dan menghela napasnya.


"Aku mengerti," jawab Evgen lembut.


***


Rezi memperhatikan Shenina yang sedang mondar-mandir mengantarkan pesanan.


Melihat gadis itu bekerja dengan giat, berusaha untuk mengalihkan perhatiannya dari ingatan tentang Evgen.


Rezi meraih lengan tangan Shenina saat ia berjalan melewati meja Rezi. Shenina melirik ke arah Rezi dan tersenyum.


"Mas, ada apa?" tanya Shenina lembut.


"Ada hal yang ingin aku bicarakan. Bisa duduk sebentar," pinta Rezi lembut.


Shenina menganggukan kepalanya dan meletakan bokong di hadapan Rezi.


"Ada apa, Mas?" tanya Shenina kembali.


Rezi mengeluarkan selembar tiket, menyodorkannya ke hadapan Shenina.


"Apa ini?" tanya Shenina bingung.


"Ini tiket pesawat, dan ini alamat apartemen Evgen di sana. Aku sudah melakukan reservasi kamar penginapan di dekat apartemen Evgen atas namamu," ucap Rezi lembut.


Shenina menatap lembaran tiket itu dan menggelengkan kepalanya.


"Maksudnya apa?" tanya Shenina sengit.


"Bukankah kamu ingin mendapatkan kesempatan sekali lagi? Ambil ini dan katakan sendiri tentang perasaanmu terhadap Evgen," jelas Rezi lembut.


"Mas yang benar saja? Aku tidak punya paspor, aku juga tidak punya uang untuk mengurus visanya," jawab Shenina ketus.


"Aku sudah memikirkannya Shenina, karena itu aku ingin meminta datamu untuk membuat paspor dan visa," balas Rezi kembali.


"Gak perlu, Mas. Aku gak ingin menyusul Evgen kesana. Apa yang sudah terlewatkan yasudah. Aku tidak ingin mengingat yang sudah berlalu." Shenina bangkit dari kursinya dan berjalan menjauh.


Rezi kembali menarik lengan tangan Shenina, menahan gadis itu agar tetap berada di tempat.


"Jangan seperti itu, Shenina. Tidak ada salahnya kamu menerima ini semua, aku melakukan ini bukan hanya untuk membantumu. Tetapi juga membantu adikku. Jangan lupa Evgen itu adik aku, apapun akan aku lakukan untuk kebahagiaannya," jelas Rezi kembali.


Shenina menghela napasnya, melirik ke arah Rezi. Ia kembali duduk di hadapan Rezi.


"Shenina, tanyakan pada hatimu. Jika perasaan itu tidak kamu katakan, apakah kamu tidak akan menyesal? Jika kamu ingin katakan, maka katakanlah langsung, untuk hasil jangan kamu pikirkan. Apapun hasilnya nanti, pastikan hatimu lega walaupun harus berakhir dengan terpisah," ucap Rezi lembut.


Shenina menundukan pandangannya, melihat ke arah tiket itu dengan lekat. Mana mungkin ia bisa menerima uluran tangan Rezi begitu saja.


Walalupun ia bisa pergi ke London, tetapi ia juga belum tentu bisa menemui Evgen. Lelaki itu, ia akan pergi saat ia ingin pergi.


"Jangan takut, ini bukan uang Papa aku. Aku membelikan ini dengan tabunganku sendiri dan gajiku menjadi asisten Dosen."


"Bagaimana mungkin aku menerimanya, Mas. Mas pasti mengeluarkan uang yang sangat banyak untuk semua ini. Aku tidak bisa menerimanya," tolak Shenina kembali.


"Kalau kamu merasa tidak enak, kamu bisa mencicilnya dan mengembalikan padaku secara perlahan. Tetapi aku tidak berharap kamu membayarnya, karena yang aku bantu adalah adikku sendiri. Jadi aku tidak ingin memperhitungkannya."


"Tapi, Mas--"


"Shenina, pikirkanlah," putus Rezi kembali.


Rezi mendorong tiket itu semakin mendekat ke Shenina.


"Evgen mungkin akan menetap di sana untuk waktu yang cukup lama. Saat dia kembali nanti, mungkin Evgen bukan lagi lelaki remaja yang kamu kenal saat ini. Saat hari itu terjadi, pikirkanlah. Bisakah kamu mengatakan perasaanmu kembali? Atau perasaan ini hanya bisa kamu simpan selamanya?"


Shenina hanya terdiam, matanya terus menatap ke arah tiket itu dengan lekat.


"Shenina, tanyakan hatimu. Sanggupkah kamu menunggu Evgen tanpa kepastian? Atau kamu pergi dan tanyakan sendiri, akankah dia mau kembali atau dia tidak akan kembali. Semua tergantung pada sikapmu saat ini," jelas Rezi kembali.


Rezi meninggalkan tiket itu di depan Shenina. Berjalan keluar dari restoran mewah hotel Papanya.


Shenina dan Evgen adalah dua orang dengan kepala batu. Mereka tidak akan mudah terbujuk dengan kata-kata.


Shenina menyentuh tiket yang diberikan oleh Rezi. Ia masih bingung harus bagaimana?


Di satu sisi ia ingin menemui Evgen, namun di sisi lain ia tidak bisa pergi ke kota itu sendiri.


Shenina menghela napasnya, ia meninggalkan meja itu dan meninggalkan tiketnya di atas meja begitu saja.

__ADS_1


Baginya saat ini, apa yang sudah terjadi biarlah terjadi. Jika takdir memang memilih jalan untuk kembali. Maka bukan hanya hari ini, besok ataupun di penghujung hidup sekalipun. Mereka akan tetap bertemu kembali.


__ADS_2