Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 80


__ADS_3

"Kakak, apakah kakak ngejalani bisnis dengan dunia hitam?" tanya Megi takut.


Sejenak Sean terdiam, ia memandang wajah Megi yang saat ini melihat ia dengan sedikit takut.


Sean menghela nafasnya, ia meraih kedua ujung bahu Megi.


"Ini urusan gue, Megi. Bukan urusan elu." ucap Sean lembut.


"Tapi kalau kakak jalani bisnis dengan dunia yang hitam, selamanya kakak akan terus berada disana kak." ucap Megi sendu.


"Elu itu tahu apa, pokoknya elu tenang aja, gue akan baik-baik saja. Ayo." Sean berjalan menjauh, berusaha menghindari pertanyaan Megi.


"Jangan lupa aku besar di Beijing kak," ucap Megi menghentikan langkah kaki Sean.


"Disana yang namanya dunia bisnis dan dunia mafia hampir tak bisa di pisahkan. Apakah kakak bagian dari mereka?" tanya Megi dengan menahan buliran airmatanya.


"Diamlah Megi, karena ini bukan sesuatu yang harus gue bahas sama elu." ucap Sean sedikit menekan.


"Kak, percaya sama aku, sesuatu yang ada di genggaman kakak itu, gak akan pernah terlepas. Banyak cara untuk menjadi yang teratas, tapi bukan dengan kita menginjak orang lain hanya untuk bisa mendaki."


"Cukup, ini bukan ranah elu, Megi. Cukup diam dan berada di samping gue. Paham!"


Megi berjalan mendekat, ia melingkari badan Sean dari belakang.


"Karena aku ingin selalu ada di samping kakak. Aku gak ingin kakak menjadi manusia tanpa hati, Kak. Banyak cara untuk meraih ini semua, dan salah satunya dengan cara yang baik. Hanya itu yang akan membuat hidup kakak lebih baik saat ini."


Sean menghela nafasnya dan meleraikan pelukan Megi. Ia meraih kedua ujung bahu Megi dan memegang dengan erat.


"Gue ini bukan bagian dari mafia, gue ini hanya pebisnis biasa. Walau terkadang cara gue salah, gue hanya menjalani segalanya sesuai ketentuan aja, Megi."


"Berhentilah memaksakan kehendak kak, jangan rebut apa yang tak menjadi takdir kita. Jika kakak masih berjalan seperti itu, kakak gak akan pernah tenang dan bahagia."


Sean tersenyum dan meraih kepala Megi. Mendaratkan ke dada bidang miliknya.


"Iya, gue gak akan lakuin itu lagi. Berarti elu udah siap hidup susah bareng gue kan?" tanya Sean sedikit bercanda.


Megi hanya melepaskan senyumnya dan membalas pelukan Sean.


"Jadi ini, mau pulang apa lanjut main?" tanya Sean meleraikan pelukannya.


"Main dong!" jawab Megi antusias.


"Yaudah kalau gitu, ayo berangkat."


Sean dan Megi kembali mengitari mall itu. Megi memainkan beberapa permainan di kawasan game di dalam mall. Sementara Sean hanya menunggunya di luar. Sesekali Megi melambaikan tangannya.


Setelah lelah bermain, akhirnya Megi menyerah. Mereka menghabiskan waktu sampai lupa mengisi perut.


Sean mengajak Megi untuk makan di luar mall, ia memilih rumah makan lesehan di bibir pantai. Dengan suasana semilir angin sore hari, membuat pikiran Megi sedikit lebih tenang.


Megi memesan dua porsi makanan, dengan bibir yang tersenyum lebar ia membawa dua buah kelapa muda di tangannya.


"Buat kakak." Megi menyodorkan kelapa muda di tangannya.


Dengan menggulum senyum, Sean meraihnya. Ia mebgelus pucuk kepala Megi, lembut.


Drrrtttt


Ponsel Sean bergetar, dengan melirik kearah Megi, Sean membuka pesan yang di kirimkan Farrel untuknya. Di sambut oleh panggilan Farrel yang masuk kedalam ponselnya.

__ADS_1


Sean melirik Megi yang sedang asyik meminum air kelapa muda, matanya menatap ke hamparan laut luas.


"Megi, lu ada pesan kepiting asap gak?"


"Eh, gak ada kak."


"Peseni buat gue, gih."


"Oke." Megi mengancungkan jempolnya dan berlari menuju ke pemesanan.


Dengan cepat jari Sean menggeser tombol hijau di layar datarnya itu.


"Bos, siap menunggu perintah." ucap Farrel di seberang sana.


"Jalankan sesuai renacana!"


"Baik Bos." tutup Farrel segera.


Sean kembali memandang Megi yang sedang berjalan kembali ke bilik mereka. Mata Sean memandang Megi dengan sangat lekat.


"Ada apa kak?" tanya Megi saat melihat tatapan Sean yang sedikit berbeda.


"Gak ada, lu cantik."


Sesaat rona wajah Megi merona merah, ia tersenyum sendu dan tersipu malu. Ia duduk di sebelah Sean dan membenamkan wajahnya di dada bidang Sean


"Manja." ucap Sean sambil memegang pucuk kepala Megi.


Sementara Megi hanya mengeratkan pelukannya.


'Maaf Megi, tapi kali ini gue gak bisa nuruti elu. Andai elu tahu, dunia bisnis lebih kejam saat elu jalani, dari pada yang pernah elu pikiri sebelumnya.' lirih Sean dalam hati.


Sean membuka laptopnya, ia mengecek satu persatu email yang dikirimkan oleh Farrel dan anak buahnya.


Bibir Sean melengkung selebarnya, saat membaca setiap dokumen yang di kirim oleh Farrel.


Apa yang di kerjakan Farrel memang selalu menghasilkan yang terbaik, kali ini rencananya berjalan sesuai perkiraan. Hanya menunggu balik nama, maka semua selesai.


Sean merentangkan badannya, ia memegang tengkuk lehernya dan menjatuhkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.


"Malam ini gue bisa tidur nyenyak." ucap Sean sambil bangkit dan kembali merentangkan seluruh otot badannya.


Sean membuka pintu kamar Megi, ia melihat Megi sedang tengkurap memainkan gawainya. Sean berjalan mendekat dan duduk di bibir ranjang.


"Besok pagi beresin baju ya, kita balik."


"Yah ... Kok balik sih? enak disini." ucap Megi masih memandang layar gawainya, memainkan game di layarnya dengan serius.


"Yaudah, kalau gitu lu aja yang tinggal disini." ucap Sean bangkit dan berjalan menuju balkon.


"Oke." jawab Megi pasrah.


"Oke." Sean membuka pintu balkon dan menikmati semilir angin di pesisir pantai.


Suasana yang tenang di berikan alam sungguh membantu dirinya. Alasan Sean lebih suka menghabiskan waktu di barat kota, adalah suasana alam yang mampu mebuat pikirannya lebih jernih.


Ciptaan sang Ilahi yang paling ia kagumi adalah air. Mendengar gemuruh air, mampu membuat ia tenang, merasakan rintik air membasahi dirinya mampu meluruhkan segala egonya.


Saat ini air itu ia temukan di dalam diri seseorang. Walau terkadang ia belum paham bagaimana mengatur suhu air itu, agar bisa di gunakan untuk hal yang tepat.

__ADS_1


Sean menatap Megi yang masih tengkurap di atas kasur. Bibirnya kembali tersenyum saat melihat wajah polos wanita itu.


"Megi." panggil Sean dari balik kaca balkon


Dengan cepat Megi bangkit dan menyusul Sean yang sedang menikmati semilir angin malam.


"Ada apa kak?"


"Gue lagi butuh energi tambahan." jawab Sean datar.


"Oh ... kakak mau aku buatin apa?" tanya Megi polos.


"Coba lihat telapak tangan elu."


Dengan sedikit mengernyitkan dahinya, Megi membuka telapak tangannya, menunjukan ke hadapan Sean yang sedang santai duduk diatas kursi.


Dengan cepat tangan Sean menarik tangan Megi dan mendudukan Megi di atas pangkuannya. Melingkari perut Megi dengan kedua tangannya, menumpuhkan dagu diatas bahu Megi.


"Gue gak butuh makan, gue lagi butuh energi murni dari elu."


"Cih ... Energi murni, kakak kayak vampir aja."


"Emeng gue vampir, mau bukti?" Sean menyingkap rambut Megi dan mencium leher Megi lembut.


"Ih, kakak kenapa sih? lagi buat salah ya?"


"Kalau lu gak mau romantis sama gue, yaudah masuklah sana!" Sean mengangkat badan Megi, dengan cepat ia bangkit dan masuk kedalam kamar.


"Cih ... Dasar gak waras, sebentar lembut, sebentar marah. Ah ... Entahlah." Megi duduk diatas kursi dan kembali sibuk pada game gawainya yang belum ia selesaikan.


Melihat Megi yang mulai tak open pada dirinya, Sean kembali meradang.


Ia merebut ponsel Megi dengan paksa.


"Game aja terus, sangking serunya main game, gue gak di open." ucap Sean merajuk.


"Halah, kakak aja kalau udah inget kerja, gak inget aku." Megi bangkit dari kursinya dan berjalan ke sisi pagar.


Sean meletakan ponsel Megi diatas meja dan berjalan mendekat. Melingkari bahu Megi dengan kedua tangannya.


"Karena gue inget elu, gue berusaha lebih keras untuk bekerja, Megi. Gue mau selama elu jadi istri gue, elu nyaman tinggal sama gue." ucap Sean mengencangkan pelukannya.


"Kalau hanya sekedar untuk nyaman aku gak butuh harta yang melimpah kak."


"Elu udah berjuang dengan sangat keras dulu, sekarang lu hanya boleh nikmati aja." ucap Sean semakin mengeratkan pelukannya di bahu Megi.


"Aku gak butuh hidup mewah kak. Karena nyaman yang sebenarnya buat aku, adalah saat aku bisa terus berada di sisi kakak tanpa harus memikirkan akan berpisah."


"Maksud elu?" tanya Sean meleraikan pelukannya.


Megi membalikan badannya, ia menatap mata milik Sean dengan lekat.


"Sumpah akhir-akhir ini aku bahagia sekali, Kak. Dan aku bersyukur karena bisa rasain itu semua karena kakak."


Sean melepaskan senyumnya, ia meraih sebelah pipi Megi dan mendekatkan wajahnya perlahan.


"Tapi bisakah berikan aku kebahagiaan tanpa rasa khawatir akan kehilangan, kakak?" sesaat pergerakan Sean terhenti, sebelum ia mencium bibir Megi.


Sean melepaskan pegangan tangannya, ia tahu arah pembicaraan Megi saat ini kemana.

__ADS_1


"Maaf, gue gak bisa Meg."


__ADS_2