Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
87


__ADS_3

Shenina terduduk perlahan, ia melipat kedua kakinya dan mendekapnya dengan erat.


Shenina menjatuhkan kepalanya di atas kedua lututnya. Matanya mulai berkaca-kaca saat menahan sesak yang menyengal pernapasannya.


"Kenapa elu harus datang lagi, Evgen. Gue berusaha untuk melupakan elu, kenapa elu harus kembali lagi dengan membawa luka yang kembali terasa," ucap Shenina parau.


Evgen mengacak rambutnya, ia kembali menatap rumah tua Shenina sebelum langkahnya kembali kerumah besarnya.


Tak tahu harus bersikap bagaimana, namun saat ini ia memang bersalah.


"Shen gue pamit ya," ucap Evgen lirih.


Namun dari balik pintu kayu itu Shenina masih mendengar apa yang diucapkan oleh lelaki angkuh itu.


Shenina bangkit dari duduknya saat mendengar langkah besar Evgwn menjauh. Menatap punggung badan lelaki tinggi itu yang semakin menjauh dari perkarangan rumahnya.


"Evgen, gue mohon jangan kembali lagi. Gue, sudah cukup sakit dengan perlakuan elu."


***


Evgen melukis beberapa sketsa kasar dalam kartonnya, melatih bakatnya untuk memenuhi kualifikasi dirinya untuk memasuki universitas luar negeri.


Sean masuk dengan beberapa karton lamanya, memberikan itu kehadapan Evgen.


"Apa ini, Pa?" tanya Evgen sambil membuka lembaran karton usang milik Sean.


Mata Evgen menelisik satu persatu detail gambar bangunan yang dibawa oleh Sean. Ia menangkap seni yang ada di dalam sketsa itu.


"Ini arsitektur klasik gaya Eropa, kan?" tanya Evgen menggulung kembali karton itu.


"Iya, benar," jawab Sean sambil melihat sketsa kasar milik putranya itu.


"Papa memang jago dalam arsitektur Eropa, tapi detail punya Mama lebih sulit di ikuti," jawab Evgen lembut.


"Maksud kamu, Papa kalah sama Mama begitu?" tanya Sean sengit.


"Bukan kalah, desain Papa memang bagus, tapi detail Mama itu rumit. Sayang, Mama lebih suka membuat gaya Asia di bandingkan Eropa. Jadi walaupun rumit, aku tetap gak suka," jelas Evgen lembut.


Sean tersenyum dan mengelus kepala putranya itu dengan lembut. Sama sepertinya dulu, Evgen pun lebih tertarik pada arsitektur klasik gaya Eropa.


"Mama lebih suka dengan desain interiornya, jelas dia bisa buat lebih detail dan rumit. Hanya menyambung kerjaan Papa," jelas Sean kembali.


"Iya, iya. Aku tahu, Papa memang gak mau kalah," ucap Evgen mengalah.


Sean kembali tersenyum simpul, ia duduk di atas kasur milik putranya itu. Membuka beberapa buku arsitektur yang sedang dibaca oleh anak kesayangannya.


"Papa hanya bingung, kenapa tiba-tiba kamu memutuskan untuk kuliah di London, padahal kamu bisa milih universitas lain yang lebih keren."


"London adalah kota impian, Pa. Jadi aku ingin kesana untuk memulai impianku," jawab Evgen yang masih terfokus pada desainnya.


"Kok selama ini Papa gak tahu ya, kalau kamu memiliki kota impian?" tanya Sean dengan sorot mata yang menajam.


Sesaat tangan Evgen terhenti dari kegiatannya. Itu memang bukan kota impiannya, namun kota impian Shenina. Entah sejak kapan, ia menjadi ambisi pada apapun keinginan wanita itu.


Berharap jika suatu saat, ia bisa menggantikan wanita itu untuk meraih impiannya yang harus terpendam karena keadaan.


"Hem, Pa. Boleh aku minta tolong sesuatu sama Papa?" tanya Evgen lembut.


"Mau minta apa?"


"Bisakah Papa menanggung biaya hidup dua orang lagi di London nanti?"


"Maksud kamu?" tanya Sean bingung.

__ADS_1


"Bisakah Papa berikan dua beasiswa untuk temanku, Pa? Bisakah Papa membiayai dua orang lagi selain aku di sana?"


Sean mengernyitkan dahinya, ia masih bingung oleh keinginan putranya itu.


"Maksud kamu, Papa harus biayai dua orang sekolah di london, bareng kamu begitu?" tanya Sean meyakinkan sekali.


"Iya, bisakah Pa?" tanya Evgen cemas.


"Papa bisa-bisa saja, tapi kenapa Papa harus setuju sama kamu?" tanya Sean kembali.


"Aku mohon, Pa. Tolong Papa biayain dulu, nanti setelah aku bekerja, berapapun uang yang habis untuk mereka, akan ku ganti, Pa. Aku berjanji," pinta Evgen lembut.


Sean menatap tajam ke wajah putranya itu. Tumben sekali anak lajangnya itu peduli pada kesusahan orang lain dan ingin bertangung jawab atas kehidupan orang lain.


Biasanya, jangankan memperhatikan orang lain. Bahkan saudaranya saja dia enggan untuk peduli. Lebih terfokus oleh ambisi dan keinginannya tanpa peduli pada sekitar.


"Pa," panggil Evgen saat melihat Sean yang terus menatapnya dengan tajam.


"Apa orang itu Shenina?" tanya Sean langsung.


Evgen menurunkan pandanganya dan menghela napas. Memang, ia tidak bia menyembunyikan apapun dari lelaki pintar ini.


Evgen mengangguk pasrah, ia berjalan mendekati Sean dan berlutut di depan Sean.


"Pa, bukan karena aku suka dia, aku minta Papa begini. Namun karena aku melihat dia dan adiknya punya kepintaran dan potensi yang luar biasa, mereka hanya tidak beruntung, Pa. Mereka hanya korban dari keadaan saja, Pa."


Sean menghela napasnya dan menarik badan Evgen. Mendudukan Evgen di sebelahnya.


"Evgen, kamu harus tahu sesuatu, Nak. Terkadang dalam hidup ini, kita memang tidak bisa bergerak saat tertimpa oleh keadaan. Bukan hanya karena kita korban keadaan, terus kita membiarkan orang lain mengasihani kita, setiap orang punya jalan suksenya sendiri Evgen, jika kamu yakin dia pintar dan punya potensi, jangan takut. Walaupun bukan dengan jalan yang kamu buat, dia akan sukses dengan jalannya sendiri," jelas Sean lembut.


"Jadi ini maksudnya, Papa gak bersedia membantu dia?"


"Papa mau, tapi Papa benar-benar harus melihat kualifikasi diri dia. Papa gak mau memberikan bantuan pada orang yang tak meinginkannya. Jadi, bersabarlah, Papa akan mengawasinya," ucap Sean lembut.


Evgen tersenyum lembut dan menganggukan kepalanya. Memang, Sean adalah lelaki yang teliti dengan apa yang ia berikan.


"Terima kasih, Pa."


"Jangan berterima kasih terlalu cepat, kita lihat saja bagaimana kedepannya nanti," ucap Sean berlalu pergi.


Sean menggelengkan kepalanya, ia tak habis pikir. Kenapa kedua putranya bisa sebodoh itu dalam mencintai perempuan. Rela melakukan apapun hanya untuk menarik perhatian.


Namun bukan cinta namanya jika ia tidak bisa membuat orang waras menjadi gila.


Memang seperti itulah cinta, mengubah seseorang dengan kelembutannya. Namun bisa mengahancurkan dengan kebuaiannya.


Sean mengetuk pintu kamar Rezi, terlihat Rezi sedang asyik dengan laptopnya sendiri.


"Pa, ada apa?" tanya Rezi saat melihat Sean berdiri di ambang pintu kamarnya.


"Lagi apa, Nak? Boleh Papa masuk?" tanya Sean lembut.


"Masuk saja, Pa. Aku hanya main game dengan beberapa orang saja," jawab Rezi pasrah.


Ia kembali memainkan laptopnya, Sean tersenyum dan mengacak rambut Rezi saat melihat layar datar Rezi.


"Game kamu unik ya, Rezi. Bermain game dengan cara meretas jaringan orang lain," ucap Sean datar.


"Papa tahu?" tanya Rezi terkejut.


"Apa kamu pikir Papa kamu ini orang bodoh? Siapa yang sedang kamu retas?" tanya Sean dingin.


"Hanya tamu tidak di undang dari ID yang ingin menerobos jaringan keamanan perusahaan Papa," jelas Rezi.

__ADS_1


"Ehm," jawab Sean datar.


Sean merapikan beberapa buku yang berserakan di meja kerjanya Rezi. Melihat satu persatu buku yang sulit sekali ia pahami itu.


"Rezi, kamu kapan berencana untuk mengadakan pesta pertunangan?" tanya Sean lembut.


"Aku kan belum bekerja, Pa. Aku kumpulin uang dulu untuk buat acaranya, gak mau kalau harus merepotkan Papa dan Mama lagi," jawab Rezi sambil memainkan jarinya, cepat.


Membunuh satu persatu lawan yang sedang ia hancurkan. Matanya menatap lekat kedalam layar itu, berperang seakan-akan ia sedang bermain game untuk membuang suntuk saja.


"Ha ha ha, Rezi dilawan. Kalau gak hancur ya kabur," ucap Rezi senang.


Sementara Sean hanya tersenyum simpul saat mendengar kemenangan putranya itu.


Rezi merenggangkan badannya dan berbalik menatap kearah Sean.


"Pa, apa Papa dan Mama setuju kalau aku menikahi Neha?" tanya Rezi serius.


"Kamu kenal Papa kan? Kalau Mama, tanya saja sendiri," jawab Sean datar.


"Terus Oma dan Opa, bagaimana?" tanya Rezi kembali.


"Itu urusan kamu," jawab Sean dengan sedikit tersenyum.


Rezi menghela napasnya dan menggaruk kepalanya. Masih ada tantangan yang harus ia lewati lagi selain kedua orang tuanya.


"Kerjaan kamu sudah siap?" tanya Sean kembali.


"Sudah, lawannya sudah kalah. Nanti tinggal beresin saja sisanya," jawab Rezi malas.


"Jangan suka meninggalkan pekerjaan, kalau membunuh harus bunuh sampai tuntas. Lanjutkan saja, Papa hanya mau melihat-lihat."


Rezi mengangguk dan kembali fokus dalam layar datarnya. Dahinya mengernyit saat melihat data yang masuk kedalam layarnya.


"Pa, apa ini?" tanya Rezi bingung.


"Menurut kamu apa?" tanya Sean mendekat.


"Papa mau kasih 20% saham perusahaan sama aku?" tanya Rezi kembali.


"Kenapa, kurang?"


Rezi kembali menatap wajah Sean, bukannya kurang, tapi ini terlalu berlebihan.


"Papa gak harus kasih ini sama aku, aku hidup begini saja sudah cukup kok, Pa," jawab Rezi lembut.


"Kamu akan menikah, setelah ini kamu punya tanggung jawab untuk menafkahi istrimu. Papa percaya, kamu bisa urus perusahaan Papa dengan baik," ucap Sean lembut.


"Enggak, Pa. Ini gak benar, aku hanyalah anak angkat Papa. Seharusnya ini bagian Evgen dan Niki yang memang darah daging Papa."


"Papa sudah siapin masing-masing unyuk kalian, sama rata Rezi. Jadi Papa gak mau dengar lagi setelah ini, kamu bilang hanya anak angkat keluarga ini, karena pada kenyataannya, kamulah bagian dari keluarga ini," jelas Sean tegas.


"Tapi, Pa--"


"Rezi, sebelum ada Evgen kamu lebih dulu sudah menjadi anak Papa, sebelum bertemu Mama, Ayah kamu lebih dulu bersama dengan Papa. Jadi buat Papa, kamu tetaplah darah daging Papa, Nak. Karena dari dulu, Ayahmu lah yang berjuang membesarkan ini bersama Papa."


Rezi bersimpuh di bawah kaki Sean, mencium kedua tangan Sean dengan takzim. Meluruhkan satu persatu air matanya.


"Pa, aku gak tahu harus bagaimana membalas ini semua. Tapi keluarga ini, telah membesarkan aku dengan namanya, Papa memberikan aku segalanya yang bahkan orang lain tidak memilikinya, Pa. Aku tidak tahu bagaimana mengucapkannya, tapi yang jelas, aku menyanyangi keluarga ini lebih dari nyawaku sendiri," ucap Rezi parau


Sean tersenyum dan membelai lembut helaian hitam milik Rezi.


"Tetaplah menjadi anak sulung Papa, Kakak dari adik-adikmu dan sepupu dari saudara-saudaramu, Nak. Papa gak butuh balasan apapun, karena kamu memanglah Putra kami."

__ADS_1


Sementara, Evgen menelan salivanya dengan berat. Ia terpaku saat mendengar bahwa Rezi bukanlah Kakak kandungnya. Niat hati mau bercengkerama dengan Kakaknya itu, namun siapa sangka bahwa sebuah kenyataan pahit terbongkar di depan matanya.


"Ma, Pa, kak Rezi. Rahasia apa yang kalian sembunyikan dariku selama ini?"


__ADS_2