
"Hana, lepas. Sebelum gue kasar sama elu." ancam Sean kasar.
"Kenapa? gue akan berada di sisi elu, kenapa gue gak bisa nyentuh elu?" tanya Hana menguatkan pelukannya.
Dengan cepat Sean meleraikan pelukan Hana dan membalikan badannya.
"Lu bisa berada di sisi gue, tapi elu gak bisa nyentuh gue."
"Jadi bagaimana elu akan memperlakukan gue? gue ada di sisi elu, tapi gue gak bisa sentuh elu?" tanya Hana bingung.
"Lu hanya ada boleh di samping gue, tapi lu gak boleh sentuh sedikitpun kulit gue. Paham?" ucap Sean ketus.
Hana hanya tersenyum dan menggeleng pasrah. Sean dengan cepat membalikan badannya dan melangkah pergi. Secepat yang ia bisa, Hana meraih pergelangan tangan Sean.
"Sean tunggu!" Hana menarik pergelangan tangan Sean.
"Apalagi?" Sean menghempaskan tangan Hana, kuat.
"Bagaimana kalau gue hanya minta elu maafin segala kesalahan gue?" tanya Hana lembut.
"Kenapa? kenapa elu masih peduli sama maaf gue?"
"Karena selama ini gue selalu terbayang wajah kecewa elu, saat gue memejamkan mata dan juga membuka mata. Rasa berdosa ada, saat gue teringat bayang-bayang tentang elu." jawab Hana sendu.
Hana menghela nafasnya dan duduk kembali di kursi taman.
"Gue gak ingin kembali lagi sama elu Sean." ucap Hana lembut.
Sean memalingkan pandangannya ke Hana. Melihat Hana si gadis yang pernah merajai hatinya selama delapan tahun. Namun saat ini, memandangnya saja pun membuat muak.
"Sebenarnya gue hanya mau lihat, seperti apa Megi buat elu. Kenapa elu mau kembali sama gue, walaupun elu saat ini benci banget sama gue." Hana melepaskan senyum pahitnya, matanya menatap kosong kedepan, perlahan linangan air mata melintasi pipi mulusnya.
Entah kenapa, melihat lintasan air mata itu kembali membawa luka. Ada rasa bersalah dalam diri Sean. Namun kini semua sudah tak ada arti, Hana tak lagi mampu menggantikan Megi.
"Saat ini gue benar-benar sadar, gue yang dulu, gak akan pernah sebanding dengan Megi di hati elu." Hana mengalihkan perhatiannya ke Sean. Menatap Sean yang hanya berdiri terpaku, terpaut tiga meter di sampingnya.
"Elu bisa melakukan apapun untuk Megi, tapi elu gak bisa memaafkan gue, walau apapun yang gue buat untuk elu." Hana kembali tersenyum dan menggeleng.
"Keadaan ini gak adil buat gue, gue yang ada di samping elu selama bertahun-tahun. Tapi Megi yang memenangkan segalanya hanya dalam beberapa bulan. Bahkan Sean yang gue kenal selama ini, bisa berubah liar hanya demi seorang perempuan. Menakjubkan, dan juga menyedihkan." Hana menarik ingusnya dan menghela nafasnya. Mencoba untuk tidak larut pada kesedihannya.
"Gue ngelakuin seribu cara hanya untuk bertemu dengan elu dan memohon maaf elu, Sean. Namun hanya karena keselamatan Megi, bahkan elu mau kembali ke sisi gue. Bukankah ini gak adil buat gue?" Hana mengernyitkan dahinya dan kembali memandang kearah Sean.
"Kenapa maaf gue penting buat elu?"
"Karena gue hanya mau, jika suatu saat nanti takdir mempertemukan kita tanpa sengaja. Gue mau, elu dan gue, bagaikan dua orang yang baru saling kenal tanpa luka masa lalu yang akan terbawa di masa depan."
"Ada beberapa hal yang gak bisa gue kendaliin Hana, gue kecewa sama elu, gue gak marah, gue gak benci. Hanya saja, gue gak bisa terima elu lagi." jawab Sean datar.
"Lu bilang gak adil buat elu, tapi buat gue Megi mendapatkan apa yang ia perjuangkan selama ini. Dia yang berusaha mengeluarkan gue dari lingkar hitam yang elu kalungkan di leher gue. Megi yang berusaha melepaskan segala ikatan yang buat gue tertahan di masa lalu bersama elu. Megi yang buat gue sadar, kalau gue dan elu. Kita, hanya terikat pada masa lalu."
__ADS_1
"Gue tahu Sean, gue tahu." jawab Hana pahit.
"Karena itu gue hanya ingin pastikan, saat elu udah bener-bener bahagia. Maka gue juga akan bahagia, gue harap, gak akan ada luka yang lu bawa di masa depan. Karena gue, pernah merobek harapan indah masa depan elu." sambung Hana getir.
Hana menarik nafasnya dan membuang kasar. Ia merapikan helaian rambutnya yang sempat terbang terbawa angin.
Hana bangkit dan tersenyum sendu.
"Gue pergi, titip salam buat Megi." ucap Hana membalikan badan dan melangkah pergi.
"Hana." panggil Sean lembut.
"Hem." Hana membalikan badannya, memandang Sean yang berada di belakangnya.
"Berjanjilah untuk menjalani hidup yang lebih baik dari saat ini. Tinggalkan rumah yang bagaikan neraka itu, carilah kehidupan yang akan membuatmu bahagia. Jika elu melakukan itu, maka maaf gue akan mengiringi elu." Sean melepaskan senyumnya.
Hana tersenyum dan berjalan mendekat. Hana meraih bahu Sean, merapikan bagian kemeja di bahu Sean dan mengelusnya lembut. Hal yang sering ia lakukan dulu.
"Terima kasih, Sean." ucap Hana lembut.
"Hana."
"Hem."
"Bolehkah gue buat pengakuan? agar tak ada lagi hutang di masa depan antara kita."
"Gue yang dulu pernah sangat mencintai elu, gue yang dulu pernah sangat ingin menikahi elu dan memiliki elu seutuhnya. Gue yang dulu ... Sangat jatuh cinta sama elu." ucap Sean lembut.
Hana tersenyum sendu, membuat bibir tipisnya melengkung. Namun air dari matanya menetes tanpa henti. Bulu mata lentiknya basah karena air mata yang terus melintasi pipi putih pucatnya.
"Gue yang dulu, pernah berharap untuk menghabiskan sisa hidup dengan elu. Karena gue yang dulu ... Pernah menyanyangi elu setulus hati."
Hana melepaskan senyum pahitnya, air mata kembali melintas saat ia mengedipkan matanya. Betapa bodoh dirinya yang dulu, karena masa lalu yang buruk dan ancaman sang Ayah angkat, ia menyia-nyiakan seorang lelaki yang begitu sangat berarti dalam hidupnya ini.
Hana menundukan kepalanya, membiarkan kenangan indah yang pernah ada, kembali muncul merajai pikirannya.
"Tapi saat ini, hubungan kita hanya terikat pada masa lalu. Saat ini, hubungan kita hanya terjalin di masa lalu. Saat ini, semua yang terindah di antara kita, hanya ada di masa lalu. Lebih dari itu, kita hanyalah dua orang yang saling melepaskan masa lalu." sambung Sean datar.
Hana mengangguk, tak lama ia mendongakan kepalanya, menatap wajah Sean yang memang tak lagi sama seperti dulu.
"Baiklah, Sean. Setelah hari ini, kita saling melepaskan masa lalu yang pernah terjadi. Gue melepaskan segala beban yang ada pada elu, tak ada lagi hutang di antara kita. Kelak kita hanyalah dua orang asing yang tak saling mengenal satu sama lain."
"Gue lepaskan segala beban yang masih tertinggal pada elu."
"Terima kasih Sean, bolehkah gue peluk elu sekali ini?"
Sean hanya terdiam, ia tak menjawab dan juga tak menolak. Hana mendekat dan memeluk badan besar Sean, menangis semakin dalam.
Saat ini, sebesar apapun hal yang akan ia korbankan, Sean hanyalah seseorang yang tertinggal di masa lalunya. Sean yang saat ini tak lagi sama, seandainya mereka tetap memaksa, itu hanya akan menjadi luka.
__ADS_1
Karena sesuatu yang pernah terlewatkan itu, tak akan pernah bisa lagi di raih kembali.
Tak lama Hana melepaskan pelukannya dan berlari meninggalkan Sean yang masih berdiri terpaku di tengah taman.
Melihat punggung badan Hana yang berlari menjauh, bibir Sean melengkung, saat Hana hilang dari pandangannya.
Bagaimana juga, Hana adalah hal terindah dari masa lalunya. Terlepas dari kesalahan yang ia buat, Hana adalah wanita yang pernah menghiasi indah masa Sekolahnya. Tanpa Hana masa lalunya tak akan lengkap. Mungkin tanpa luka dari Hana, Megi tak akan pernah menembus apapun saat ini.
Sean berjalan meninggalkan taman, ia membuka pintu kamar Megi. Megi memalingkan pandangannya saat melihat Sean masuk.
"Dari mana kak?" tanya Megi langsung.
"Merokok di luar."
"Kak."
"Hem."
"Sini deh." pinta Megi manja.
"Ada apa?" Sean berjalan mendekati Megi.
"Maaf, jika aku terlalu egois dan tak ingin mengerti posisi kakak. Aku sudah fikirkan, aku, aku..." Megi menundukan pandangannya, ia menghela nafasnya sebelum melanjutkan perkatannya.
"Aku akan melindungi kakak, dengan cara menghilang dari pandangan kakak." sambungnya pahit.
Sean melepaskan senyumnya dan meraih pucuk kepala Megi.
"Kuaci kecil yang pintar." ucap Sean sambil mengelus pucuk kepala Megi.
Megi mendongakan wajahnya dan menyeringai.
"Apa kakak bahagia?" tanya Megi kembali ceria.
"Iya."
Megi kembali tersenyum dan mulai melingkari pinggang Sean.
"Eits, Megi." Sean menghentikan gerakan tangan Megi yang ingin memeluknya.
"Ada apa kak?"
"Jangan peluk gue."
"Kenapa kak?" tanya Megi bingung.
"Gue ... Gue kotor, belum mandi tiga hari, mandi dulu ya baru peluk-peluk lagi."
Dengan cepat Sean berlalu memasuki kamar mandi. Membasuh tubuhnya dengan air. Bagaimana juga, ia ingin melepaskan segala sisa kenangan Hana.
__ADS_1