
Shenina tersenyum dan memandang ke depan. Untuk beberapa saat mereka saling terdiam.
"Gue ke sini bukan mau menjemput elu pulang, Evgen."
"Lalu?" tanya Evgen ketus.
"Gue ke sini, karena ada sesuatu yang gue lewatkan," jawab Shenina sambil menatap wajah Evgen sendu.
"Kenapa harus susah-susah ke sini jika hanya melewatkan gue? Gue ini bukan siapa-siapanya elu lagi, sayang banget elu habisin uang untuk hal yang percuma." Evgen bangkit dari kursinya dan berjalan menjauh.
"Gue sadar elu adalah orang yang paling gue cintai setelah elu pergi, Evgen!" teriak Shenina lantang.
Evgen menghentikan langkahnya, melirik sekilas. Lalu melanjutkan kembali perjalanannya.
"Gue mengakui, setelah kehilangan elu. Orang yang paling mencintai gue adalah elu, gue sadar sekarang. Gue ... benar-benar jatuh cinta sama elu," sambung Shenina kembali.
Evgen menghela napasnya dan berbalik. Menatap gadis itu dengan sedikit sengit.
"Kenapa baru sekarang? Kenapa harus elu sakiti gue dulu, baru elu senangi. Shen, gue kecewa dan gue terluka. Elu pikir rasa sakitnya akan semudah itu berlalu hanya karena sebuah ungakapan cinta? Gue terlanjur sakit, dan gue mutusi untuk menetap di sini. Jadi ... pulanglah, gue gak akan kembali." Evgen membalikan badanya dan memasukan kedua tangannya di kantung jaket.
Berjalan meninggalkan gadis itu kembali. Shenina mengejar langkah Evgen, memeluk badan Evgen dari belakang.
"Evgen tunggu!" tahan Shenina cepat.
Shenina menempelkan kepalanya di punggung belakang Evgen. Mengeratkan pelukan tangannya di perut Evgen.
"Gue tahu gue sudah melewatkan elu begitu saja. Gue juga gak minta elu untuk bisa kembali cinta sama gue, tetapi yang namanya perasaan, gue ingin mengungkapkannya. Kelak jika kita tidak bisa kembali bersama, maka tidak ada lagi penyesalan yang tertinggal di hati gue," ucap Shenina lembut.
Evgen menundukan pandangannya, melihat lingkaran tangan Shenina yang memeluk erat perutnya.
"Gue tahu ini terlambat, gue tahu elu sudah terlanjur kecewa dan terluka. Maaf, gue terlalu egois untuk mengakuinya lebih awal. Dan maaf, gue membiarkan elu berlalu begitu saja," jelas Shenina lembut.
Shenina memejamkan kedua kelopak matanya, meluruhkan satu persatu buliran air matanya tanpa bersuara.
"Maaf Evgen, saat elu melindungi gue, gue selalu berusaha melepaskan diri. Gue tahu, gue salah. Tapi gue merindukan elu, elu yang memperhatikan gue, elu yang memperlakukan gue dengan hangat dan lembut. Gue rindu semua yang ada dalam diri elu, gue sadar saat ini. Cinta tanpa hati, maka hanya akan berakhir dengan saling menyakiti."
Evgen menghela napasnya, perasaan sesak mulai kembali bersarang di dadanya.
"Saat ini gue putus asa untuk menjelaskannya. Gue tahu elu gak akan percaya sama ucapan gue. Asalkan gue bisa berada di sisi elu sebentar saja, maka itu sudah cukup untuk buat gue bahagia."
"Tapi ini gak adil buat gue, Shen. Gue yang dulu sangat mencintai elu, tapi elu berusaha untuk menghapus perasaan gue. Sekarang saat semua ini memudar, elu ingin gue kembali ke sisi elu?"
Evgen tersenyum lembut dan menarik napasnya.
"Mau sampai kapan elu menyakiti gue dengan sikap lembut elu itu? Seharusnya elu tidak perlu datang, biarkan kelembutan menjadi kekejaman. Agar sakit yang gue rasakan juga tidak semakin dalam." Evgen melepaskan pelukan Shenina dan berbalik, menatap wajah gadis itu.
"Pulanglah, tinggalkan gue di sini!" perintah Evgen lembut.
Shenina memejamkan kembali kedua matanya, menikmati rasa sakit yang mulai nyata ia rasakan.
'Jadi begini sakitnya saat kita berjuang namun dibalas dengan penolakan. Sungguh Evgen, gue minta maaf atas rasa yang elu rasakan selama ini.'
Shenina menatap lekat punggung badan Evgen yang berjalan semakin jauh darinya.
Menjatuhlan cairan bening dari kedua belah matanya. Ia bukan menyesali karena sudah datang kesini. Namun menyesali kenapa dulu ia membiarkan Evgen pergi.
Shenina memecahkan tangisannya, kembali terduduk di kursi yang terjejer di atas trotoar jalan.
Evgen menghentikan langkahnya, melihat Shenina sekali lagi.
Sebenarnya ia tidak tega untuk membiarkan gadis itu sendiri. Apalagi di tengah kota seperti ini.
Evgen menghela napasnya dan melihat ke sekeliling. Banyak orang asing dan kejadian kriminal di kota ini.
Shenina masihlah gadis awam tanpa pengalaman. Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?
Apa yang harus ia katakan pada Seta nantinya?
Evgen mengacak rambutnya dan berjalan kembali, mendatangi Shenina yang masih menangis terisak sendiri.
Shenina menghentikan tangisannya saat melihat sepasang sepatu berhenti di depannya.
__ADS_1
"Berikan alamat penginapan elu. Gue akan antar elu sampai depan pintu. Di sini bukan Indonesia, elu akan kesulitan jika bertemu orang jahat nantinya," ucap Evgen ketus.
Shenina mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan alamat penginapannya.
"Ayo kita pulang!" ajak Evgen ketus.
Shenina menganggukan kepalanya, mengikuti langkah kaki Evgen, menyusuri trotoar jalanan.
Hampir setengah perjalan, mereka hanya terdiam. Tak ada yang bisa dibicarakan. Lebih tepatnya, Evgen tidak ingin berbicara apapun.
Shenina mengadahkan tangannya saat butiran salju semakin deras turun menghujani bumi.
Evgen melirik dan menaikan sebelah alis matanya.
"Ayo cepat kembali. Sepertinya akan ada hujan salju hari ini." Evgen menarik pergelangan tangan Shenina, menggeret gadis itu untuk mempercepat langkahnya.
Karena langkah besar Evgen yang tidak bisa ia ikuti. Sesekali Shenina berlari untuk bisa mengimbangi. Tanpa ia sadari, salah satu tali sepatunya terlepas dan terinjak.
Seketika Shenina terjatuh karena pijakannya sendiri. Evgen menghela napasnya dan mengangkat badan Shenina untuk berdiri.
Sial, sepatu Shenina rusak karena insiden ini.
Evgen melirik ke arah Shenina, wajahnya berubah suntuk seketika.
"Pakai ini," ucap Evgen melepaskan sepatunya.
"Enggak! Jalanan licin, gue masih bisa pakai sepatu ini."
"Pakai saja, gue masih bisa tahan kalau hanya sebatas salju."
Shenina menggelengkan kepalanya, menolak bantuan Evgen padanya.
Evgen hanya bisa menghela napas, ia berjongkok di depan Shenina.
"Naik, kita harus segera pulang sebelum badai salju datang," perintah Evgen lembut.
Shenina tersenyum dengan lembut, bahkan di tengah turunnya salju hari ini. Ia masih bisa merasakan hangat perlakuan Evgen padanya.
'Bahu ini, terasa sangat hangat walau di dalam hujan salju sekalipun. Evgen, bisakah gue merasakan kehangatan ini sedikit lebih lama lagi?' lirih Shenina dalam hati.
"Kenapa elu bisa sampai di sini?" tanya Evgen lembut.
"Karena gue ingin mengatakan sesuatu yang pernah gue sembunyiin selama ini."
"Apa hanya karena alasan itu?"
"Iya, hanya karena itu. Gue ... hanya ingin elu tahu isi hati gue. Walau pada akhirnya kita tetap akan berpisah, maka gue tidak akan pernah menyesalinya," jawab Shenina lembut.
"Yakin elu tidak menyesalinya? London itu bukan jarak yang dekat, elu sudah terbang sejauh ini. Apa tidak akan apa-apa jika pulang tanpa hasil?"
"Sebenarnya gue tidak terlalu memikirkan hasilnya. Yang gue mau, elu mengetahuinya saja. Berpisah atau bersama, itu setengahnya adalah takdir Tuhan," jawab Shenina lembut.
Evgen menganggukan kepalanya, ia menghentikan langkahnya di depan sebuah gedung penginapan.
"Nomor berapa kamar elu?" tanya Evgen langsung.
"39."
Evgen mengangguk, ia memasuki pintu gedung itu. Menggendong Shenina menaiki anak tangga penginapan sederhana itu.
"Evgen, yang rusak sepatu gue, bukan kaki gue. Jadi gue sudah bisa jalan sendiri."
Seperti tak mendengar ucapan Shenina, Evgen berjalan terus menuju kamar yang Shenina tempati.
Membuka pintu kamar itu dan menudukan Shenina di sofa ruang tamu.
Evgen melihat ke sekeliling ruangan itu, ia menghela napas dengan sedikit berat.
"Bodoh, di sini sedang musim dingin. Apa elu mau mati kedinginan?" tanya Evgen ketus.
"Maksudnya?" tanya Shenina bingung.
__ADS_1
Evgen berjalan ke arah perapian. Menyusun beberapa kayu dan menghidupkannya perlahan.
"Jaga perapian ini, tidak perlu besar. Yang penting kamar elu tidak membeku seperti tadi," ucap Evgen lembut.
Shenina tersenyum lembut dan menganggukan kepalanya.
"Lain kali jangan datang ke negara orang sembarangan seperti ini lagi. Kalau elu tidak tahu, tanya pada pemilik rumahnya, jangan hanya mengantarkan nyawa untuk negara orang," ucap Evgen ketus.
"Iya, maaf merepotkan elu."
"Gue balik dulu, sebelum hujannya semakin besar dan gue terjebak di jalanan."
"Hati-hati," ucap Shenina lembut.
Evgen menganggukan kepalanya, ia bangkit dan berjalan ke luar pintu. Matanya teralih pada dapur penginapan Shenina. Tidak ada apapun yang tersedia di sana.
"Shen," panggil Evgen lembut.
"Hem."
"Elu sudah makan?"
Shenina hanya menggelengkan kepalanya, ia tidak sempat memikirkan makan. Ia langsung mencari Evgen setelah meletakan kopernya di penginapan.
Evgen berlari dengan cepat, keluar dari penginapan itu dan mecari pusat pembelajaan terdekat.
Dengan tergesa, Evgen membawa beberapa kantungan dengan bahan mentah. Kembali ke rumah Shenina.
Evgen membanting kantungan itu di atas meja. Memandang gadis itu dengan tajam.
"Elu itu benar-benar mau bunuh diri ya? Ini musim dingin, perapian gak hidup, bahan belanjaan gak ada. Elu pikir ini Indonesia? Setiap pagi ada tukang lontong sayur yang keliling? Ini London Shenina, elu harus bisa hidup dengan mengandalkan diri sendiri!" ucap Evgen tanpa jeda.
"Maaf, Evgen. Gue gak tahu, karena saat pertama kali mendarat ke sini, yang gue ingin temui hanyalah elu."
"Jangan gunakan alasan itu, gue gak ingin dengar apapun tentang masa lalu lagi," ketus Evgen kasar.
"Baik," jawab Shenina mengalah.
Evgen berjalan ke arah jendela. Menutup jendela kaca yang mulai berembun karena embusan angin beserta salju mulai bertiup kencang.
"Hujan saljunya sudah mulai turun," lirih Evgen pelan.
"Jadi bagaimana?"
"Bagaimana apanya? Otomatis gue gak bisa pulang. Paman Yohan pasti khawatir," jelas Evgen ketus.
"Maaf," ucap Shebina bersalah.
Evgen menghela napasnya dan duduk di sebelah Shenina.
"Lu itu kenapa sih? Apa elu menjadi bodoh setelah menginjak kota London."
"Maksud elu?"
"Dari tadi gue ngajak elu ngomong, elu cuma jawab sepatah, dua kata. Elu hemat bicara di kota orang?" tanya Evgen kesal.
"Bukan, gue hanya takut akan melukai perasaan elu lagi."
"Oh, sekarang elu takut melukai gue? Kenapa harus takut? Mau gue terluka atau gak, gue juga gak akan kembali."
"Gue tahu, tapi akan lebih baik jika gue gak menyakiti elu lebih dari ini," ucap Shenina menundukan pandangannya.
Evgen terdiam, matanya terus menatap wajah gadis yang ada di hadapannya itu.
Mana mungkin ia tega meninggalkan wanita itu sendiri dalam keadaan begini.
Walaupun dalam ucapan ia menolak, namun hatinya merasa senang saat melihat gadis ini rela berjuang sebesar ini untuknya.
"Pulanglah besok. Kota ini tidak cocok dengan elu," ucap Evgen lembut.
"Tapi Evgen--"
__ADS_1
"Bukannya elu ke sini hanya untuk mengatakan elu merindukan gue? Gue sudah tahu, jadi gak ada alasan elu untuk tinggal lebih lama lagi."