
Evgen menyilangkan kedua tangannya didada, ia memperhatikan beberapa penampilan dari teman-temannya.
Evgen menghela nafasnya, ia merasa bosan berada ditengah keramaian seperti ini, padahal momen inilah yang ia tunggu-tunggu.
Tetapi kenapa sekarang rasanya malah biasa saja?
Evgen menghela nafasnya, ia keluar dari perkarangan sekolah dan duduk sendiri didepan pagar sekolah. Sedari tadi ia belum menemui Shenina, entah dimana Shenina sekarang.
Evgen mengeluarkan ponselnya, ia mencoba menelpon Shenina. Tetapi Shenina tidak mengangkat, bahkan setelah Evgen menghubunginya berkali-kali.
Evgen mengacak rambutnya, ia mondar-mandir didepan pagar sambil terus menelpon Shenina.
Setelah beberapa menit, akhirnya Shenina mengangkat telepon dari dirinya.
"Heh, elu dimana? kenapa lama sekali?" tanya Evgen ketus.
"Gue disini," jawab Shenina lembut.
Evgen membalikan badannya dengan cepat, melihat Shenina yang berada tepat dibelakangnya. Tampil dengan sangat anggun menggunakan dress berwarna abu-abu dan rambut yang terikat dengan rapi.
Evgen menurunkan ponselnya dan tersenyum dengan lembut. Hatinya merasa lebih teduh saat ia melihat Shenina ada didekatnya.
"Lu nungguin gue?" tanya Shenina ketus.
"Bukan, nungguin kuntilanak bersolek," jawab Evgen dingin.
Shenina melepaskan senyumnya dan berjalan mendekati Evgen.
"Kenapa nungguin gue?" tanya Shenina lembut.
"Siapa yang nungguin elu? pede banget sih elu?" sanggah Evgen ketus.
Evgen memasukan kedua tangannya kedalam kantung jaket, ia membuang pandangannya kesisi kosong.
Berusaha menyembunyikan rona wajahnya yang mulai kemerahan. Ia terpesona saat melihat tampilan Shenina yang anggun seperti gadis pada umumnya.
"Jadi kalau elu gak nungguin gue, kenapa elu nelponi gue sebanyak dua puluh satu kali?" tanya Shenina kembali.
"S-s-siapa yang nelponi elu," jawab Evgen gagu. "G-g-gue cuma mau nanya elu datang atau enggak saja," elak Evgen ketus.
Shenina kembali tersenyum dan mendekatkan wajahnya ke Evgen. Berusaha untuk melihat wajah Evgen dengan sangat lekat.
Shenina menyikut perut Evgen dan tertawa geli. Kenapa lelaki angkuh ini bisa menjadi seperti sekarang?
__ADS_1
"Hah, kalau elu gak nungguin gue yasudah, ayo masuk!" ajak Shenina lembut. Shenina berjalan perlahan meninggalkan Evgen dibelakangnya.
"Eh ... tunggu." Evgen menarik lengan tangan Shenina.
Sontak badan Shenina berbalik dan mendorong dada Evgen dengan sedikit keras. Membuat Evgen terdorong kebelakang, punggung belakang badan Evgen sampai menempel dibatang pohon besar yang berada dibelakang Evgen.
Shenina mendongakan kepalanya, melihat wajah Evgen yang berada diatasnya. Mata Shenina membulat dengan sempurna, melihat tampilan Evgen malam ini yang sedikit berbeda dari biasanya.
Rambut hitamnya tersisir dengan sangat rapi dan begitu wangi. Membuat jantung Shenina berdegub dengan kencang, saat bola mata mereka saling bertautan.
Shenina memundurkan langkahnya, membuat jarak antara dia dan Evgen.
Evgen tersenyum lembut dan membersihkan bagian belakang jaketnya. Kenapa ia dan Shenina bisa berada dalam situasi canggung seperti ini.
"Shen, kalung elu mana?" tanya Evgen lembut.
"Oh ... Kalung gue, gue gak berani pakai. Itu mahal banget, Evgen."
"Hei." Evgen kembali menarik tangan Shenina.
Evgen meraih kedua pipi Shenina dan menatap binar mata Shenina dengan serius.
"Kan gue sudah bilang sama elu, gue gak peduli. Mau itu mahal ataupun berharga sekalipun, kalau gue bilang itu cocok sama elu, ya berarti cocok."
Shenina menghempaskan tangan Evgen dengan kuat.
"Heh, elu gak tahu terima kasih ya? gue niat baik dan elu malah begini? dasar wanita barbar," ucap Evgen kesal.
"Terus kalau gue barbar kenapa? masalah sama elu? siapa suruh elu deket-deket sama gue?"
"Heh, elu itu masih terikat perjanjian sama gue, jangan lupa, Shen!" teriak Evgen ketus.
"Heh, elu yang lupa ya. Kemarin malam itu adalah perjanjian terakhir kita. Malam ini gue bebas mau ngapain saja, tanpa terikat sama elu lagi," ucap Shenina tanpa jeda.
"Masa sih? kenapa elu gak bilang?" tanya Evgen lemas.
"Sengaja gue gak mau bilang, kalau gue bilang, nanti elu bakalan cari cara buat perpanjang. Sekarang perjanjian kita sudah selesai, jadi nikmati hari elu tanpa gue ya." Shenina tersenyum lembut dan berjalan meninggalkan Evgen di belakang.
"Segitu gak sukanya elu dekat sama gue ya, Shen?" tanya Evgen lemas.
"Bukan gak suka, tapi jauh dari elu itu, lebih baik," jawab Shenina tanpa menghentikan langkahnya.
"Shen," panggil Evgen lembut.
__ADS_1
Shenina menghentikan langkahnya, ia hanya menoleh sedikit kearah Evgen.
"Gue tahu gue menyebalkan, gue tahu gue ini sombong dan angkuh. Gue tahu gue ini buruk, dan gue juga tahu elu gak suka dekat-dekat sama gue," ucap Evgen sambil berjalan mendekati Shenina kembali.
"Gue tahu semua perasaan elu ke gue, tapi gue gak bisa nyerah, Shen. Karena elu, gue ingin mengubah banyak hal dari karakter gue, karena elu gue ingin terus bisa dekat sama elu. Karena saat bersama elu, hidup gue terasa sangat nyata."
Evgen memeluk bahu Shenina dari belakang, ia menghela nafasnya dengan berat.
"Shen, ayo kita pacaran."
***
Rezi memperhatikan gerakan tangan Neha yang sedang memotong sayuran dengan cepat. Bibirnya terus tersenyum dengan sangat lebar.
Sejak statusnya dengan Neha jelas, Rezi malah lebih sering menghabiskan waktunya dirumah Neha.
Rezi bangkit dan berjalan mendekati Neha yang sedang memasak. Rezi mengambil pisau dan ikut memotong sayuran bersama dengan Neha.
Bukannya memotong sambil melihat sayur, Rezi malah asyik melihat wajah neha yang serius memasak. Bagi Rezi, wajah Neha akan berubah-ubah saat ekspresinya juga berubah.
Yang paling Rezi sukai adalah saat wajah Neha sedang memasak, bibirnya akan sedikit manyun saat Neha memasak, tetapi itupula yang membuat Rezi semakin tertarik oleh Neha.
"Ahhh." Rezi menekan jari tangannya yang tergores oleh pisau.
Neha langsung membalikan badannya, ia melihat jari Rezi yang sudah mengeluarkan banyak darah.
Neha menggelengkan kepalanya dan mengambil kotak obat. Neha membersihkan luka goresan ditangan Rezi dan membalutnya dengan plester luka.
Rezi mengenggam jemari Neha yang sedang membalut lukanya. Rezi tersenyum dan menarik tangan Neha agar lebih dekat kepadanya.
Rezi meraih pinggang Neha dan menempelkannya pada perutnya. Raut wajah Neha berubah kesal seketika, ia mencoba melepaskan pelukan Rezi pada pinggangnya.
Namun bukannya melepaskan, Rezi malah menempelkan pinggang Neha pada pantry, mengurung Neha dalam dekapannya.
"Neha," panggil Rezi lembut.
Neha menaikan sebelah alis matanya, mencoba untuk membuka dekapan Rezi yang terus menggodanya.
"Aku gak bisa bertahan lebih lama, semakin hari aku semakin jatuh cinta padamu," ucap Rezi lembut.
"Aku gak pernah bermain-main padamu, Neha. Aku serius dengan hubungan kita," jelas Rezi kembali.
Neha tersenyum lembut dan mendorong dada Rezi. Ia kembali sibuk pada sayuran yang masih selesai setengah.
__ADS_1
Rezi melingkari tangannya di perut Neha dan meletakan dagunya diatas bahu Neha.
"Neha, ayo kita menikah."