Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 62


__ADS_3

"Megi, elu benar. Kehilangan karena kematian itu sangat menyakitkan. Lu hidup Meg, tapi gue yang mati. Gue gak bisa dengar suara lu, gue gak bisa lihat tawa lu. Lu ada disini, tapi lu buat gue ingin pergi dari kenyataan ini. Pergi kemana tempat elu berada saat ini."


Sean menumpuhkan sikunya diatas bibir ranjang Megi. Ia memegang dahinya yang cenutan karena kondisi ini.


Sean beranjak ke kamar mandi, ia mulai mengaji di sebelah Megi. Walaupun ia seorang yang buruk, tapi masa kecil ia tak seburuk kelakuannya. Miranda selalu mengajari dia mengaji dulu.


Walau saat ini bibirnya kaku, tak bisa melafadzkan dengan syahdu. Namun ia masih bisa mengajikan ayat-ayat suci ini.


Di tengah kesibukan Sean yang mengurus semua sendiri tanpa Farrel, Sean masih berusaha untuk mengaji dan sholat malam untuk Megi.


Walau saat ini dia sudah terlalu lelah, dia terlalu lemah. Tak sanggup lagi berdiri dan bertahan. Megi mengikis kekuatannya secara perlahan.


Setelah berhari-hari pun Megi masih belum ada perkembangan. Sean selalu mengusap wajah Megi dengan sisa wudhu dari sholatnya. Berharap Megi merasakan buliran air wudhu itu meminta ia kembali.


"Gue rindu senyum lu, Megi. Gue rindu pelukan elu. Kemana gue harus mencarinya? gue udah lelah, gue terlalu lemah bertahan sendiri, Megi."


"Kapan elu mau bangun Sayang? kapan elu bisa mendampingi gue seperti dulu lagi?" Sean menghela nafasnya berat.


Mengelus dahi Megi dengan lembut. Kulit putihnya semakin terlihat pucat, bibir mungil Megi tak lagi berwarna merah muda. Mungkinkah Megi akan seperti ini selamanya?


Sean melipat tangannya dan menumpuhkan di bibir ranjang Megi. ia membenamkan wajahnya di kedua tangannya. Sekedar untuk melepaskan beban di pundaknya yang semakin lama semakin menghimpit badanya.


Lelah sekali, ia sudah tak punya kekuatan apapun untuk bisa bertahan. Megi benar-benar membuat kekuatan Sean hancur tak bersisa. Sebuah tangan menyentuh kepala Sean, Ia mengangkat kepalanya dan melihat siapa pemilik tangan itu.


"Kita bawa Megi ke Singapura, Putraku? semoga disana ada jalan keluar."


"Tak perlu, Pa. Megi akan bangun saat ia ingin bangun. Sean udah pesimis, Pa. Kalau teralalu lama begini, Megi juga akan tersiksa."


"Jadi kami mau bagaimana?"


"Hentikan saja perawatannya, Sean sudah ikhlas, Pa." ucap Sean sambil berlalu keluar kamar.

__ADS_1


Dia berkata ikhlas, namun hatinya masih terasa begitu perih. Dokter juga sudah menyerah, mereka menyarankan untuk menghentikan perawatan Megi. Selama tiga bulan Megi tak ada perkembangan sedikitpun. Bahkan pergerakan dari bola matanya saja pun tak ada.


Sean menghela nafas panjang. Saat ini malam sudah jauh larut dalam kegelapan. Tak ada suara dari manusia lagi, semua sudah terlelap dalam rehatnya.


Sean mengusap wajahnya kasar, ia menghirup udara dingin malam di taman rumah sakit. Sean kembali pada kebiasannya, menghisap sebatang rokok untuk menemani kesunyiannya.


Seseorang menepuk pundak Sean. Lelaki asing dengan badan tegap. Wajahnya cerah dengan senyuman yang begitu sendu.


"Boleh saya duduk disini?" tanyanya pada Sean.


Sean hanya mengangguk pasrah, sejenak suasana hanya hening. Tak ada niat Sean untuk membuka suaranya. Sean hanya menghela nafas beratnya. Sesekali nafasnya begitu terasa sengal di dadanya.


"Saat malam jauh masuk kedalam, maka suasananya akan semakin sepi, udaranya semakin dingin. Bahkan sampai membuat badan menggigil." ucap Lelaki itu dengan mata menatap kosong kedepan, bibirnya tersenyum penuh arti.


"Begitu juga dengan masalah, Saat ia semakin berat, bebannya semakin membuat ingin mati. Kadang sampai buat depresi." kembali ia berucap, kali ini mampu membuat Sean menatap wajahnya.


"Tapi harus ingat, saat malam jauh semakin larut, maka ia akan semakin dekat dengan fajar. Sekarang terserah kamunya, mau kamu buat apa malam itu? mau buat tidur? mau buat hura-hura? atau menunggu dengan sabar sambil menyambut mentari itu tiba." lelaki itu melemparkan pandangannya kearah Sean.


Lelaki itu bangun dan pergi, meninggalkan seribu tanya di pikiran Sean. Ia bukan orang yang suka berbelit, tapi sepertinya ia tahu kemana arah pembicaraan lelaki asing tadi.


Diliriknya jam di tangan kirinya, masih pukul setengah tiga dini hari. Sean dengan cepat masuk kembali ke kamar Megi. Menyeka badannya dan kembali berdiri diatas sajadah.


Dengan sejuta beban yang ingin ia tumpahkan, Sean kembali membanjiri pipinya dengan airmata. Bersimpuh di sepertiga malam, memohon jalan terbaik untuk kekasihnya.


Bukan kuasa ia, bukan juga kuasa manusia. Hanya atas kuasa Allah, semoga Megi masih memiliki hari yang bisa ia lewati bersama dengan Sean kedepannya.


Semoga ia masih memiliki waktu untuk memperbaiki segala sesuatunya bersama Megi nantinya.


Setelah lelah bercengkrama, Sean menghapus buliran air matanya. Menatap wajah si gadis kecil ini. Mengusap wajah Megi dengan sisa wudhu setelah sholat subuh.


Sean meletakan kepalanya di bibir ranjang. Meletakan segala beban kehidupan yang selalu berat berada di pundaknya. Tak lama Sean masuk kedalam dunia bawah sadarnya. Meletakan segala lelah yang menderanya tanpa ampun.

__ADS_1


Sean tersentak dari tidurnya, ia seperti samar mendengar suara seseorang. Dengan cepat ia menegakan kepalanya dan mencoba kembali terjaga dari alam bawah sadarnya.


"Uhhh." suara itu lirih terdengar di telinganya.


Sean langsung bangkit dan tercekat, saat ia melihat Megi mulai membuka matanya, Megi memegang sudut dahinya. Dahi Megi mengernyit karena rasa sakitnya.


"Megi, gue gak lagi mimpikan? elu beneran sadar kan?" tanya Sean sambil memegang jemari Megi.


Sean menghujani jemari Megi dengan ciumannya, bibirnya tersenyum getir. Matanya kembali berair, antara percaya dan tidak percaya. Entah ini nyata atau hanya mimpi, namun ia sangat gembira.


Sementara Megi hanya memandang wajah Sean bingung. Satu jemarinya masih memegang sudut dahinya. Ia bingung dengan keadaan ini. Kepalanya sangat nyeri, seperti ingin memecahkan batok kepalanya.


"Megi, lu ngerasain apa? kepala lu pusing?" tanya Sean saat melihat ekspresi Megi.


"Megi, ngomong sesuatu? apa yang elu rasain?" tanya Sean mulai cemas.


"Megi lu dengar gue?"


Megi hanya mengernyitkan dahinya, bibirnya terasa sangat kelu. Dengan sedikit memaksa, Megi mencoba membuka bibirnya.


"Siapa?" satu kata tanya dari Megi, kembali membuat Sean terduduk lemas.


"Lu gak kenal gue, Megi?" tanya Sean pasrah.


Megi hanya menggeleng pasrah, dengan cepat tangan Sean menekan bell di atas ranjang Megi. Terdengar suara riuh hentakan kaki yang tak beraturan datang mendekat.


Sean hanya mengusap wajahnya kasar, kali ini permainan apa lagi yang di buat oleh takdir? ia tak punya kekuatan lagi untuk berperang.


Cukup sudah, mau sampai kapan keadan terus mempermainkannya.


"Jangan bercanda Megi, gue sudah cukup lelah."

__ADS_1


__ADS_2