Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
130


__ADS_3

Shenina mengadahkan tangannya, menangkap satu persatu butiran salju yang turun dari langit London hari ini.


Shenina melirik ke arah Evgen. Tersenyum sinis melihat lelaki itu.


"Bukannya elu bilang hari ini gak ada hujan salju ya? Kenapa sekarang turun hujan?" tanya Shenina sinis.


"Karena elu nangis, makanya hujannya turun," jawab Evgen sambil menyentuh ujung hidung Shenina.


"Apa hubungannya gue nangis sama turun salju? Gak nyambung banget?"


"Salju itu sensitif, Shen. Salju akan turun saat ada perasaan seseorang yang tersakiti."


Shenina mengernyitkan dahinya, melihat wajah tampan Evgen yang berada di sebelahnya.


"Lu bilang salju akan turun saat ada perasaan yang tersakiti. Elu tahu kalau elu nyakiti gue, tapi kenapa elu masih melakukannya?" tanya Shenina langsung.


Evgen menghentikan langkahnya, ia melirik ke arah Shenina.


"Gue sebenarnya ingin melindungi elu dari air mata, Shen. Tapi saat ini gue gak bisa. Karena jarak yang akan tercipta di antara kita, pasti akan membuat elu banyak mengeluarkan air mata."


Shenina melingkari kedua tangannya di pinggang Evgen. Memeluk badan tegap lelaki yang ada di depannya itu.


"Selama elu masih bersedia berada di sisi gue. Gue gak akan khawatir tentang apapun. Karena jika gue menangis sekalipun, gue percaya bahwa elu akan melindungi gue dari air mata yang menyakitkan."


Evgen melepaskan senyumnya dan membalas dekapan gadis itu.


"Bagaimana mungkin? Elu sudah menangis tetapi gue bisa melindungi elu dari air mata? Nangis tanpa air mata? Berarti bohong dong?"


Shenina menggelengkan kepalanya, ia meleraikan pelukan Evgen.


"Walaupun gue menangis, gue hanya akan menangis karena gue rindu sama elu. Gue gak akan nangis karena tersakiti, tapi gue hanya akan menangis karena menanti."


Evgen mengelus pucuk kepala Shenina dengan lembut.


"Kenapa sekarang elu jadi lembut sekali? Sama sekali tidak ada tantangannya, gue gak suka."


"Maksudnya?" tanya Shenina sinis.


"Gue suka si gadis barbar, kenapa elu sekarang menjadi lembut? Kemana ke barbaran elu itu sekarang, hem?" Evgen menyilangkan kedua tangannya di dada dan memanyunkan bibirnya.


"Hem, jika elu saja bisa mengubah kekejaman menjadi kelembutan. Kenapa gue gak bisa menjadi lembut? Karena kehangatan yang elu berikan sudah meluluhkan segalanya, jadi mulai saat ini gue akan melakukan elu dengan cinta kedepannya," jawab Shenina malu-malu.


"Baiklah, ini sudah hujan, ayo kita pulang!" tarik Evgen di pergelangan tangan Shenina.


Shenina hanya terdiam, ia tidak bergerak sedikitpun.


"Eh ... kenapa? Kok berhenti?"


"Gue gak mau pulang," jawab Shenina manja.


"Ini sudah hujan, besok kita keluar lagi," bujuk Evgen lembut.


Shenina menggelengkan kepalanya, ia masih berdiri terpaku di emperan jalan.


"Jadi maunya bagaimana?"


"Ayo kunjungi beberapa tempat lagi, lagian hujannya juga gak lebat. Mungkin akan berhenti sebelum malam."


"As you wish, Honey. Come on."


Shenina kembali tersenyum dan menggandeng lengan tangan Evgen. Memasuki daerah Greenwich market.


Langkah Shenina terhenti di depan penjual aksesoris. Evgen mengambil sebuah topi bundar dan memakaikannya ke atas kepala Shenina.


Evgen mengeluarkan ponselnya dan memotret diri mereka. Berpose beberapa gaya di depan kamera.


Evgen kembali mengambil sebuah topi, kali ini ia mengambil topi musim dingin berwarna krim. Memakaikannya ke kepala gadis itu.


"Ini kelihatan cocok. Kita ambil ya," ucap Evgen lembut.


"Eh ... gak usah. Gue kan ada bawa topi sendiri."


"Memang kenapa kalau gue mau belikan lagi?"


"Gak apa-apa sih, cuma kan mubazir saja. Gue juga gak menetap di sini," tolak Shenina lembut.


"Terus kalau elu gak menetap di sini, memang kenapa kalau punya banyak topi musim dingin? Kelak jika kita berjodoh, elu akan gue bawa keliling Eropa. Mau?"


Shenina tersenyum lembut, perkataan Evgen membuat ia tersipu malu. Menampilkan warna merah jambu di kedua pipinya.

__ADS_1


"Memang gue boleh menanti masa itu? Memang gue boleh mencoba menata depan bersama dengan elu?"


"Kenapa enggak boleh?" tanya Evgen sendu.


"Karena elu gak mau gue menunggu, gue pikir elu gak berharap masa depan elu ada gue di dalamnya."


Evgen mengambil selembar uang dan memberikannya kepada si penjual. Merangkul bahu Shenina untuk melanjutkan perjalanan.


"Gue bukan gak mau elu menunggu gue, Shen. Kalau gue boleh jujur, gue bahagia sekali kalau elu mau nunggu gue. Tapi gue gak tega, elu berhak bahagia, walaupun lelaki itu bukan gue," ucap Evgen sambil berjalan santai keluar dari daerah market tersebut.


"Gue juga bisa bahagia kok, menunggu elu adalah kebahagian tersendiri buat gue," jawab Shenina lembut.


"Shen, janji ya sama gue. Kalau nanti ada yang datang dan bisa buat elu bahagia. Elu harus bahagia, elu jangan menutup diri ya. Gue gak akan marah kalau elu memang mau menikah lebih dulu."


Shenina tersenyum dan mendekap erat lengan tangan Evgen.


"Iya, gue janji. Tapi gue yakin kok, kalau gue sanggup menunggu elu sampai kembali." Shenina semakin mengeratkan lilitan tangannya di lengan tangan Evgen.


Gadis itu menadahkan tangannya, menikmati semilir angin yang semakin berembus dengan kencang, menerbangkan butiran salju. Membuat kota itu semakin terlihat sangat indah.


"Hujannya semakin lebat," ucap Shenina riang.


"Iya, gue juga gak ada bawa payung. Ramalannya gak akurat."


"Jadi bagaimana?" tanya Shenina memalingkannya wajahnya ke arah Evgen.


"Bagaimana ya?" Evgen memutar bola matanya.


Evgen tersenyum dan mengenggam jemari tangan Shenina. Menarik gadis itu untuk berlari menembus buliran salju yang semakin lebat.


Berlari melewati jalanan London yang mulai memutih tertutup salju. Sesekali Evgen melirik ke belakang. Melihat Shenina yang terus berlari dengan tersenyum lebar.


Gadis itu terlihat sangat bahagia, walaupun mereka hanya berlari bersama di tengah lebatnya butiran salju yang menyapa bumi.


Evgen menghentikan langkahnya di depan pertokoan. Mengambil napasnya yang memburu kencang karena berlari.


"Lu lelah gak, Shen?" tanya Evgen saat melihat gadis itu menunduk dengan napas yang ngos-ngosan.


"Lelah, tapi gue bahagia. Dingin, tapi juga hangat," jawab Shenina sambil tersenyum.


Evgen berjalan mendekati Shenina, mengambil kedua tangan Shenina dan menggosoknya dengan kedua tangannya. Mencoba menghangatkan jemari tangan gadis itu.


"Ehm," jawab Shenina menganggukan kepalanya.


Evgen tersenyum lebar, meniup jemari Shenina beberapa kali. Tanpa sengaja, mata Evgen teralih ke dalam kaca toko. Melihat manequuen yang berdiri di depan display.


Evgen memperhatikan dress yang berada di badan manequuen tersebut. Sederhana namun indah.


"Ayo ikut gue!" tarik Evgen memasuki toko baju tersebut.


Shenina keluar dari kamar ganti, dengan gaun selutut berwarna putih yang membalut tubuh mungilnya.


Tanpa banyak hiasan, namun terlihat elegan. Gaun itu sangat indah dan sepadan dengan karakter Shenina.


"Bagus, ayo kita ke kasir!" ajak Evgen kembali.


"Eh tunggu, gue ganti baju dulu," tahan Shenina cepat.


"Gak perlu, pakai saja itu. Sini gue bantu mencopot price tag-nya." Evgen berjalan ke arah belakang Shenina dan menarik label harga gaun itu.


Memberikan price tag itu kepada penjaga kasir.


"Check this, please," ucap Evgen lembut.


"125£, Sir."


Seketika Shenina membulatkan kedua bola matanya. Mulutnya menganga dengan lebar.


Shenina menarik tangan Evgen menjauh dari kasir.


"Evgen elu gila ya? 125 pound sterling hanya untuk sebuah gaun? Bukannya itu terlalu mahal?" tanya Shenina kaget


"125£, itu kira-kira berapa ya?" Shenina memainkan jari tangannya, menghitung nilai pound sterling dalam mata uang rupiah.


"Cih," Evgen tersenyum dan mengusap wajah Shenina dengan kasar.


Ia kembali ke kasir dan membayar gaun itu.


"Evgen tunggu! Jangan di bayar dulu," tahan Shenina lembut.

__ADS_1


"Sudah gue bayar, apa lagi?"


"Lu kok bayar sih? Ini mahal banget untuk ukuran sebuah gaun saja. Kalau di pasar bisa dapat selusin."


"Heh Shenina, bisa gak elu itu cukup nerima niat baik gue saja? Jangan dibandingkan dengan hal lain, gue gak suka," ucap Evgen ketus.


"Iya, maaf. Tapi gue gimana bisa keluar dengan gaun sependek dan setipis ini? Elu mau gue mati membeku?" tanya Shenina ketus.


"Makanya jangan bawel dan ikuti saja." Evgen berjalan ke bagian mantel, memilih beberapa jenis mantel yang pas dengan ukuran badan si gadis mungil itu.


Shenina menghadang Evgen yang ingin berjalan ke arah kasir.


"Tunggu dulu, gue lihat harganya. Gue mohon Evgen, jangan buang banyak uang hanya untuk satu pasang pakian."


Evgen menyodorkan mantel itu ke hadapan Shenina. Kembali mata gadis itu membulat sempurna saat membaca harganya.


"175£?" tanya Shenina ketus. "Ini mahal sekali, Evgen."


"Shen, di sini London. Kita belanja bukan lagi pakai rupiah, tetapi pakai pound sterling. Dan 175£ bahkan belum sampai 200£, kenapa heboh sekali?"


Shenina mengetuk dahi Evgen dengan kuat, ia geram melihat lelaki angkuh di depannya itu, yang mulai sombong seperti ini.


"Elu pikir 200£ itu berapa rupiah? Hah?" tanya Shenina ketus.


"200£ itu hampir 4 juta rupiah, Evgen. 4 juta!" tekan Shenina ketus.


"Heh, sumpah ribet banget gue jalan sama elu. Elu tunggu di sana sajalah. Biar gue pilih pakaiannya, setelah itu kita makan. Gue lapar, sumpah lapar sekali," ucap Evgen geram.


"Tapi elu belanja ini semua masih pakai uang Papa elu, Evgen. Elu belum punya uang sendiri. Gue gak mau elu foya-foya terus seperti ini."


Evgen terdiam sejenak, sisi Shenina yang seperti ini yang membuat ia selalu rindu pada gadis itu.


Tidak pernah memanfaatkan orang lain untuk dirinya sendiri. Jika itu wanita lain, mungkin akan sangat senang dengan barang-barang seperti ini.


"Baiklah, biarkan gue belanjain elu kali ini saja. Kelak gue gak akan bayarin elu lagi, jika bukan pakai hasil usaha gue sendiri."


"Hem, baiklah. Gue tunggu elu di sana," jawab Shenina lembut.


Evgen tersenyum dan mengelus pucuk kepala Shenina. Membiarkan gadis itu menunggunya siap membelikan satu set pakaian lengkap.


Evgen duduk di balik kaca restoran dengan memandangi London Bridge yang berhiaskan lampu malam.


"Evgen."


"Hem."


"Elu benar-benar gak suka ya sama kota ini? Gue lihat elu sama sekali tidak menikmati saat berada di sini."


Evgen menghela napasnya dan membenarkan letak duduknya.


"Sebenarnya ada satu tempat yang paling gue sukai di London ini."


"Apa?" tanya Shenina cepat.


"London bridge."


"Hem, London bridge?" Shenina membuang pandangannya ke arah jembatan besar itu. Melihat cahaya lampu yang menghiasi jembatan London itu dari balik kaca restoran.


"London bridge memang punya gaya arsitektur yang unik sih. Gak heran kalau elu suka," ucap Shenina lembut.


"Bukan hanya soal arsitekturnya tapi soal maknanya juga."


"Maknanya? Memang London bridge punya cerita apa?"


Evgen tersenyum lembut dan membuka menu katalog yang ada di depannya.


"Punya makna apa? Mana gue tahu, yang gue tahu. London bridge bukan hanya indah karena gaya arsitekturnya, namun London bridge indah karena penyatuannya."


"Hem, bagaimana?" tanya Shenina tak mengerti.


"London bridge adalah penghubung antara kota London dan Southwark. Dia menghubungkan antara dua kota yang seharusnya terpisah. Gue berharap suatu hari nanti, jembatan takdir juga akan menghubungkan kita yang saat ini akan berpisah."


Shenina menundukan pandangannya dan tersenyum dengan lembut. Membiarkan rona wajah merah muda menghiasi kedua pipinya.


"Gue berharap, bahwa jembatan takdir. Akan menghubungkan elu dan gue dalam satu kata yang indah, Shenina."


"Kata apa?" tanya Shenina malu.


"Jodoh."

__ADS_1


__ADS_2