Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 135


__ADS_3

Sean mengusap batu nisan milik Farrel, memandang batu bertuliskan nama Farrel itu dengan sedih.


Tak lama Sean menyiramkan air dan juga menadahkan tangannya, berdoa untuk orang yang pernah membantu ia dalam menggapai segala mimpinya itu.


"Sayang." panggil Sean ke Rezi yang berada di sampingnya saat ini.


Rezi memalingkan pandangannya, memandang Sean yang tersenyum sangat lembut padanya.


"Ini Ayah kamu dan Mama kamu." ucap Sean sendu.


"Maaf Papa harus bilang sama kamu saat ini, karena Papa terlalu takut untuk kehilanganmu saat kamu besar nanti." Sean membedirikan Rezi yang sedang berjongkok di sampingnya, membetulkan letak kupiah yang Rezi pakai.


"Kamu mengerti kata-kata Papa, Nak?" tanya Sean lembut.


"Enggak, Pa." jawab Rezi polos.


Sean tersenyum dan mengelus lembut wajah Rezi.


"Lihat ini, dia Ayah kamu, Sayang." tunjuk Sean ke makam Farrel.


"Seperti Ayah Nino, Ayah Denny?" tanya Rezi polos.


"Bukan, seperti Papa." ucap Sean pahit.


"Papa?" tanya Rezi polos.


"Rezi bukan anak yang lahir dengan darah, Papa." ucap Sean lembut.


"Tapi Papa Sean sayang banget sama kamu, Rezi masih mau kan jadi anak Papa Sean?" tanya Sean dengan mengernyitkan dahinya.


"Mau, Pa." Rezi memeluk badan Sean.


"Rezi." Megi datang mendekati Rezi, mengambil tangan Rezi dan menempelkan pada perutnya.


"Kamu tahu ada apa di dalam perut Mama?" tanya Megi lembut.


"Ada adik." jawab Rezi lembut.


Megi tersenyum dan mengelus poni rambut Rezi dengan lembut.


"Kamu juga ada di dalam perut seperti ini, sebelum kamu bisa sebesar ini." ucap Megi lembut.


"Hah?" Rezi menganga dengan lebar.


Seketika tawa Megi dan Sean pecah saat melihat ekspresi Rezi yang terkejut namun seperti mau tersenyum. Tak percaya oleh perkataan Megi.


"Tapi kamu gak lahir dari dalam perut Mama, Sayang." jelas Megi lembut.


"Kamu lahir dari dalam perut wanita yang ada di dalam sini." tunjuk Megi ke makam Sezi.


"Kamu tahu kenapa orang bisa dimasukan kedalam sini?" tanya Sean lembut.


"Kata Opa kalau Opa mati akan di kubur seperti ini."


Sean menganggukan kepalanya dan tersenyum lembut.


"Kedua orang tua kamu sudah ada di dalam sini, kamu tahu apa artinya?" tanya Sean lembut.


"Sudah mati." jawab Rezi polos.


"Jangan bilang mati, Sayang. Tapi meninggal." ralat Megi lembut.


"Tapi masih ada Papa Sean dan Mama Megi yang masih terus merawat dan menyanyangi kamu. Kamu bisa kan, menyanyangi Papa Sean dan Mama Megi selamanya?"

__ADS_1


Rezi mengangguk dengan cepat dan memeluk bahu Sean. Mencium pipi Sean dengan lembut.


"Rezi, dengar Mama. Kamu harus selalu ingat sama apa yang Mama bilang hari ini." ucap Megi lembut.


"Di depan makam kedua orang tuamu, Mama berjanji untuk selalu menyanyangimu dan juga mencintaimu, seperti anak kandung Mama sendiri." sambung Megi lembut.


Rezi mendekat ke Megi dan memeluk bahu Megi, mencium Megi beberapa kali.


"Aku juga sayang Mama." ucap Rezi lembut.


"Kamu memang enggak lahir dari rahim Mama sayang. Tapi kamu anak yang lahir dari hati Mama." ucap Megi lembut.


Sean tersenyum dan mengelus pucuk kepala Rezi. Entahlah, tapi perasaan ia ke Rezi benar-benar besar sekali. Kadang ia lupa, bahwa Rezi itu bukan darah dagingnya.


"Farrel, gue gak tahu harus bagaimana mengucapkan terima kasih sama elu." ucap Sean lembut sambil mengusap lembut batu nisan Farrel.


"Bahkan saat elu pergi pun, elu masih meninggalkan sesuatu yang sangat berharga buat gue." Sean menghela nafasnya.


"Entah budi apa yang pernah gue berikan buat elu. Elu memberikan semua ini ke gue. Tapi yang pasti, gue akan jaga anak lu dengan nyawa gue. Percayalah." Sean menghapus sudut matanya yang berair.


Farrel, satu-satunya orang yang mengerti sifatnya dalam pekerjaan. Setia mendampingi, di kala Sean sulit dan juga terhimpit.


"Rezi, ayo peluk Papa." perintah Megi saat melihat Sean yang mulai larut dalam kesedihannya.


Rezi berjalan dan mendekati Sean, melingkari kedua tangan kecilnya di bahu Sean. Sean menggendong Rezi dan bangkit dari duduknya di depan makam Farrel.


Diikuti Megi yang bangkit dan memeluk dua lelaki kesayangannya itu.


"My boy's." ucap Megi memeluk dua lelaki itu erat.


"Ayo kita pulang." ajak Sean lembut.


Dengan lambat mereka berjalan meinggalkan makam Farrel.


"Yasudah, pelan-pelan jalannya, Megi" balas Sean sambil membiarkan Megi melewatinya dan jalan di depannya.


Memang itu tujuan Sean mendatangi makam Farrel hari ini, agar Megi bisa ke makam Papanya.


Dengan pasti langkah Megi mendatangi makam sang Ayah. Langkahnya terhenti saat melihat seorang lelaki berada di depan makam sang Papa.


Megi menyipitkan matanya, mencoba menangkap sosok yang saat ini sedang berada di depan makam Papa dan Mamanya.


Megi langsung berlari saat mengenali lelaki yang berada di depan makam Papanya.


"Megi, pelan-pelan." ucap Sean saat melihat Megi berlari.


"Kak Mirza!" panggil Megi saat melihat punggung Mirza ingin berlalu pergi.


Mirza membalikan badannya dan memandang suara yang memanggilnya tadi. Mirza tersenyum sendu, matanya menatap Megi dari atas sampai bawah.


Bibirnya tersenyum puas saat melihat perut Megi yang saat ini sudah membesar, di susul Sean dengan menggendong Rezi.


"Mirza." lirih Sean sedikit tersenyum.


Mirza hanya tersenyum, ia mendekat perlahan ke arah Megi. Meraih pucuk kepala Megi yang saat ini sedang terbalut kerudung putih. Satu ciuman mendarat di pucuk kepala Megi.


"Kakak senang lihat kamu saat ini baik-baik saja, Dek. Maafin kakak ya, selama ini kakak banyak salah sama elu." Mirza langsung memutar badannya dan melangkah dengan cepat.


Megi memeluk badan Mirza dari belakang. Tak ingin kehilangan lagi keluarganya, saat ini ia juga belum sempurna tanpa Mirza.


"Kakak mau kemana? jangan pergi lagi." pinta Megi lembut.


Mirza membalikan badannya dan memeluk badan kecil adiknya. Ia kembali mencium dahi Megi, mendongakan wajah Megi agar bisa melihat dengan lekat. Wajah sang Ibunda yang selama ini menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


"Kakak, ikut pulang sama aku, aku rindu kakak."


Mirza hanya menggeleng pasrah, buliran bening mulai jatuh membasahi pipinya. Mirza menghapus buliran bening air mata Megi, namun air matanya tak bisa berhenti.


"Kakak ikut aku ya, kak Mika pasti senang bisa kumpul lagi."


"Enggak Meg, gue gak pantas jadi keluarga kalian. Gue terlalu berdosa sama elu, jangan anggap gue kakak lagi. Anggap gue sudah mati." Mirza kembali berjalan meninggalkan Megi.


"Gimana aku bisa anggap kakak mati, kalau yang sudah memberikan hidup kedua buat aku itu adalah kakak!" teriakan Megi menghentikan langkah Mirza.


"Kak, masa lalu kita biarlah begitu adanya, saat ini kita tak lagi hidup dalam masa lalu. Buat aku kakak sekarang adalah penyempurna kehidupan aku."


Mirza melanjutkan lagi langkahnya, namun dengan cepat Sean menurunkan Rezi dan mengejar Mirza. Sean menghadang langkah Mirza.


"Mirza jangan pergi, kami semua sangat merindukan elu." ucap Sean lembut.


"Tapi gue gak pantes, Sean. Gue gak pantes kalian anggap hidup. Gue sudah punya kehidupan gue sendiri."


Mirza menunjuk arah di depan makam, seorang dengan kerudung biru sedang duduk dengan perut yang lebih besar dari Megi.


"Dia istri gue, kami tinggal bahagia di kampung saat ini. Jadi, anggaplah gue sudah gak ada."


"Tapi apa kebahagiaan kakak sempurna tanpa aku dan kak Mika?" Megi menyusul langkah Mirza.


"Kak, kita bertiga sudah tak punya lagi orang tua, jika saat ini bukan kita sendiri yang menyatukan hubungan ini. Maka selamanya kita akan terpisah kak." bujuk Megi lembut.


Perlahan kaki Mirza mulai melemas, Mirza memeluk Megi dengan erat. Megi memang kuat seperti biasa, hatinya terbuat dari segala kebaikan dari Tuhan.


"Seperti biasanya, elu memang selalu bersikap baik, Megi."


"Kakak, selama ini aku berusaha untuk mencarimu. Pulanglah sama aku, Kak."


"Enggak bisa, Megi. Elu mungkin maafin gue, tapi kak Mika?" Mirza tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Kak Mika gak akan terima dan maafin gue, Megi. Kak Mika, sekali dia terluka, maka perbedaan itu nampak sekali di matanya." jelas Mirza lembut.


"Jangan takut Mirza, gue akan bilang sama Mika. Gue akan jelasin sama dia."


Mirza memalingkan wajahnya kearah Sean, Mirza tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Sudahlah, gue akan mengunjungi kalian nanti ya. Jaga adik gue ya, Sean." ucap Mirza kembali melanjutkan langkahnya.


"Kak Mirza." tahan Megi di pergelangan tangan Mirza.


Mirza kembali membalikan badannya, memandang wajah Megi yang begitu sendu.


Mirza tersenyum dan mengelus dahi Megi.


"Megi, gue pernah ngerasin detak jantung elu, saat elu berada di dalam perut Mama." ucap Mirza lembut.


"Sebelum gue pergi, bolehkah gue ngerasain detak jantung anak elu?" tanya Mirza lembut.


Megi menangkupkan satu tangannya di depan mulut. Memecahkan tangisannya yang dari tadi berusaha ia tahan.


Megi menganggukan kepalanya, meletakan tangan Mirza di atas perutnya. Mirza tersenyum dengan lembut saat merasakan getaran dalam perut Megi.


"Kalau anak elu perempuan, semoga dia menjadi seperti elu ya, Meg. Kuat dan juga baik hati, semoga Tuhan memberikan keberkahan-Nya sama dia." ucap Mirza lembut.


Mirza melepaskan telapak tangannya, mencoba untuk kembali meraih pipi Megi.


"Mirza!" teriak Mika lantang, menghentikan pergerakan tangan Mirza yang ingin menyentuh pipi Megi.


"Jangan pernah sentuh lagi, kulit adik gue!" ucap Mika membara.

__ADS_1


__ADS_2