Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
64


__ADS_3

"Hem, Neha." Rezi melepaskan pelukan Neha dan meraih sebelah pipi Neha.


Rezi tersenyum kaku, ia bingung harus bagaimana.


Neha menarik tangan Rezi, berjalan keluar dari kebunnya. Menuju kandang anak ayam yang di titipkan oleh Rezi.


"Wah ... anak ayamnya tumbuh dengan gemuk ya. Kamu memang hebat Neha," ucap Rezi lembut.


Neha tersenyum dengan manis, memandang wajah Rezi dengan lekat.


"Kenapa? kok gitu banget lihat aku?"


Neha menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia sebenarnya ingin tahu perasaan Rezi saat ini, karena sepertinya Rezi tidak terlalu senang dengan status baru mereka.


Neha menghela nafasnya dan berjalan menuju jembatan kolam teratai milik Rezi. Neha duduk di ujung jembatan. Menghirup udara siang yang kian terasa panas dan terik.


Rezi ikut duduk disebelah Neha, ia melihat Neha dengan lekat. Sebenarnya ia tidak tega untuk berbohong, tetapi jika harus kehilangan Neha kembali, ia juga tidak rela.


Rezi menjatuhkan kepalanya di atas pangkuan Neha. Tak peduli sepanas apa terik matahari siang ini, Rezi memejamkan matanya. Beberapa kali ia menghela nafasnya dengan berat.


Neha membelai lembut rambut Rezi, bibir Neha tersenyum saat jarinya meraih wajah manis Rezi.


"Neha," panggil Rezi lembut.


Rezi membuka matanya dan mengubah posisinya menjadi duduk.


"Maaf, maaf Neha," ucap Rezi lembut.


Neha memainkan jemari tangannya, di ikuti oleh gerakan dari bibirnya.


"Maaf karena aku tidak bisa menjaga apa yang kamu percayakan padaku. Maaf, aku tidak bermaksud membohongi kamu."


Rezi menghela nafasnya, ia mengacak rambutnya dan menatap wajah Neha dengan lekat.


"Itu bukan bibit yang kamu berikan padaku. Bibit itu mati karena aku terlalu banyak siram."


Neha memandang wajah Rezi dengan lekat, ia tidak menjawab. Hanya memandang Rezi dengan bola matanya yang begitu jernih.


"Aku ambil itu di kampus, di lab tumbuhan. Maaf sekali lgi, Neha. Maaf aku tidak bisa menjaga bibitmu, tapi aku gak ada niat buat bohongi kamu. Aku hanya ingin mengganti bibit milikmu, itu saja."


Neha mengeluarkan ponselnya, ia mengetik layar ponselnya dengan cepat. Rezi membuka pesan yang masuk kedalam gawainya.


(Jadi, apa kamu mengganti bibit ini agar bisa pacaran sama aku?)


"Bukan, aku tahu kamu akan marah sama aku. Aku ganti bibit itu, karena itu sudah jadi tanggung jawab aku.  Aku hanya berusaha untuk bertanggung jawab dengan apa yang aku perbuat," jawab Rezi cepat.


(Jadi, kamu tahu kan, kalau kita gak bisa pacaran kalau bibit itu rusak?) pesan yang di baca oleh Rezi dalam gawainya.


"Aku tahu, aku sadar. Tapi aku juga gak mau bohongi kamu. Walau harus memulai dari awal, aku bersedia, aku hanya tidak ingin membohongimu untuk kedua kalinya, itu saja," jelas Rezi panjang lebar.


Neha tersenyum dan meraih kedua belah pipi Rezi. Neha memainkan ujung hidungnya ke ujung hidung Rezi.


"Eh ... Neha, kamu gak marah?" tanya Rezi sedikit bingung.


Neha menggelengkan kepalanya dan menjatuhkan kepalanya di bahu Rezi. Neha mengetik layar ponselnya dan menunjukannya pada Rezi.

__ADS_1


(Aku tahu kok, itu bibit yang berbeda dari yang aku berikan padamu dulu).


"Tahu dari mana? jenisnya beda ya?" tanya Rezi bingung.


(Itu jenis yang sama, tapi butuh waktu 2 bulan untuk kaktus itu berbunga. Dan lagi, bunga kaktus itu keduanya warna kuning. Kenapa bisa berubah warna pink?)


Neha melirik kearah Rezi dan tersenyum. Rezi melepaskan senyumnya dan menghela nafas dengan lega.


Rezi memeluk badan Neha dan mencium pucuk kepala Neha. Syukurlah jika Neha tidak marah.


"Aku sempat takut, aku pikir kamu akan kembali mengeras saat tahu aku membohongimu, terima kasih Neha. Aku pasti akan menjagamu, juga hatimu."


Rezi mengeratkan pelukannya, ia tidak tahu bagaimana melukiskan perasaannya saat ini. Yang pasti, hujan badai yang sempat ia alami bersama dengan Neha, mulai memunculkan pelangi yang indah.


***


Evgen membalikan badan Shenina, ia memperlihatkan pantulan badan Shenina dari dalam cermin.


Evgen tersenyum dan menjatuhkan sebuah kalung dengan liontin buliran air di hadapan Shenina.


Perlahan Evgen mengaitkan kalung itu di leher Shenina. Evgen tersenyum dan menumpuhkan dagunya diatas pucuk kepala Shenina.


"Bagus gak?" tanya Evgen lembut.


Shenina menyentuh liontin kalung itu, matanya masih memandang takjub pada kalung yang dikaitkan Evgen pada lehernya.


"Ini buat gue?" tanya Shenina bingung.


"Bukan, buat anak ayam warna warni yang gue beli di pasar. Ya iyalah, **** amat sih!" ucap Evgen ketus.


Evgen meraih kedua tangan Shenina dan menghentikan gerakan Shenina.


"Maaf, gue niat kok," ucap Evgen melunak.


Shenina menurunkan tangannya, matanya menatap Evgen dengan lekat.


"Tapi ini barang mahal, gue takut ini akan hilang atau dicuri," ucap Shenina lembut.


"Kalau di curi ya tinggal beli lagi, kenapa harus bingung begitu?"


Shenina mentoyor kepala Evgen dengan kuat. Ia kesal setengah mati kalau Evgen sudah sombong begini.


"Heh, elu pikir begitu ya? kalau barang yang hilang bisa dengan mudahnya di cari gantinya? Evgen, barang yang di berikan pertama kali itu gak akan ada gantinya."


Evgen tersenyum dan menyilangkan kedua tangannya didada.


"Kalau elu tahu, berarti elu harus jaga. Karena gue gak akan belikan gantinya atau carikan yang baru untuk elu," ucap Evgen lembut.


"Tapi Evgen, ini barang mahal. Gue gak bisa terima barang mewah begini," ucap Shenina cemas.


"Buat gue barang itu gak mahal kok."


"Buat elu iya, elu bisa beli apapun yang elu mau hanya dengan gesekan kartu elu. Tapi gue gak bisa nerima ini begitu saja, gue merasa gak pantas dengan barang mewah seperti ini."


Shenina melepaskan kaitan kalungnya dan menyerahkan kembali ketangan Evgen.

__ADS_1


Shenina berjalan keluar dari toko perhiasan itu dan menunggu Evgen diluar.


Evgen melepaskan senyumnya dan berjalan kekasir. Menyerahkan kalung itu ke penjaga toko.


"Mas gak jadi ambil?" tanya penjaga toko itu.


"Orang nya gak mau, gak jadi gak apa kan?"


"Gak apa sih Mas, tapi ini ekslusif loh Mas. Hanya ada tiga, dan gak ada dijual dimanapun."


"Masa?"


"Iya, ini juga ada sertifikatnya kalau Mas gak percaya." Tunjuk wanita itu.


Evgen melihat sertifikat itu, tak lama ia memandang kearah Shenina kembali.


"Kalau begitu gue ambil yang ini," ucap Evgen datar.


"Baik, Mas. Sebentar, saya bungkus dulu."


Evgen mengangguk dan kembali memandang kearah Shenina.


Evgen menyerahkan kantungan itu ketangan Shenina.


"Lu jadi beli?" tanya Shenina ketus.


"Kalau gue bilang gue akan beli, ya gue beli lah. Gue gak mau malu di depan penjual itu," jawab evgen angkuh.


"Tapi Evgen, gue gak butuh," balas Shenina ketus.


"Tapi gue mau," jawab Evgen ketus.


Shenina menggelengkan kepalanya dan tersenyum getir.


"Bukan hanya karena elu mau, elu bisa beli apapun itu Evgen."


"Ssst ... berisik banget tahu gak?" Evgen memasukan kedua tanganya di kantung jaket dan berjalan meninggalkan Shenina.


"Hey ... tunggu dulu, gue gak mau ini!" Shenina menyerahkan kembali kantungan itu ketangan Evgen.


"Kalau gak mau ya buang saja!" Evgen menghempaskan tangannya, sontak kantungan itu melayang jauh.


"Evgen, elu." Shenina menggelengkan kepalanya dan mengambil buruan nafasnya dengan kencang.


Lelaki ini memang sulit sekali ditebak sikapnya. Terkadang bisa sangat baik sikapnya, tapi bisa jadi sangat menyebelkan pula.


Evgen menarik tangan Shenina dan menyeretnya kedepan sebuah kaca besar jendela toko.


Ia kembali menjatuhkan kaling itu didepan mata Shenina dan tersenyum. embut.


"Kali ini elu harus terima," ucap Evgen sambil mengaitkan kalung itu di leher jenjang Shenina.


"Bukan karena elu gak pantas atau apapun itu." Evgen membalikan badan Shenina dan kembali tersenyum lembut.


"Shen, sesuatu yang berharga itu akan berada pada tempat yang berharga pula. Jadi, jika elu gak bisa hargai diri elu sendiri itu tak apa. Tapi yang jelas, elu itu ..." Evgen meraih helaian rambut Shenina dan menyingkapnya di balik telinga.

__ADS_1


"Hal yang paling berharga yang pernah gue temui dalam hidup ini."


__ADS_2