Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
76


__ADS_3

Sean langsung menatap tajam kearah Rezi. Ia hampir tidak percaya, kalau wanita yang dipilih Rezi mempunyai keterbatasan.


Pantas saja ia takut kalau sampai Rayen dan Miranda tahu. Ternyata hal ini yang membuat ia menyimpan rapat masalah percintaannya.


"Aku tahu, aku tahu Papa pasti akan terkejut. Dari awal, aku juga sudah memikirkan reaksi Mama dan Papa bagaimana. Tapi aku gak bisa lagi berhenti, Pa. Aku sudah memulai, dan aku ingin semua berakhir dengan ada dia di dalam dekapanku," jelas Rezi lembut.


Sean menghela napasnya, kali ini ia benar-benar bingung harus bagaimana bersikap. Mungkin, Rezi punya alasan sendiri di balik semua ini.


"Memang bagaimana tanggapan Papa menurut kamu?" tanya Sean datar.


"Papa lelaki yang bijaksana dan tegas, aku yakin Papa bisa menerima berbagai alasan. Karena itu aku berbicara dengan, Papa," jawab Rezi lembut.


Sean tersenyum tipis, ia membetulkan posisi duduknya dan memandang wajah anak lelakinya itu dengan tajam.


"Baiklah, Papa tidak akan membawa Oma dan Opa kamu minggu depan. Jadi, kenalkan sama Papa siapa gadis itu ya."


Rezi tersenyum lebar, Sean tidak melarang dengan kata-kata ataupun menunjukan sisi tidak sukanya terhadap wanita pilihan ia.


Itu artinya, ia masih punya harapan agar Neha bisa diterima oleh keluarga mereka.


"Jam tujuh malam, minggu depan di hotel kita. Papa tunggu kalian di sana," sambung Sean lembut.


Rezi menganggukan kepalanya dengan cepat. Bibirnya terus melengkung dengan lebar saat mendengar ucapan Sean.


"Ada lagi yang ingin kamu katakan?" tanya Sean lembut.


Rezi menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia berjalan menuju pintu dan meraih gagang pintu.


"Eh ... Pa." Rezi melepaskan pegangan tangannya dan berbalik menatap Sean.


"Ya."


"Terima kasih, terima kasih, Papa," ucap Rezi senang.


Sean melepaskan senyumnya, ia menganggukan kepalanya.


Rezi langsung keluar setelah itu, dengan bibir yang menyungging lebar.


Sean menatap foto di dalam figura berukuran lima inci. Dua orang lelaki dewasa yang sedang berangkulan.


Yang satu terlihat angkuh dengan kacamata hitam menutupi matanya, dan satu lagi wajah lembut namun dengan seutas senyum kaku menghiasi wajahnya.


"Farrel, lihat putramu sudah ingin menikah. Ia gigih dan juga kuat sepertimu. Aku lupa, bahwa dunia mampu merubah segalanya. Dunia telah merubah aku menjadi menua dengan anak-anak yang beranjak dewasa."


Sean tersenyum kecut, ia meraih wajah Farrel yang begitu kaku saat berfoto dengannya. Walupun sudah lama berada di sisi Sean. Namun Farrel tak pernah bisa santai saat berada di dekat Sean.

__ADS_1


Sean menghela napas berat, ada rasa rindu yang teramat dalam sedang mengisi kehampaan jiwanya. Sampai saat ini, bahkan tidak ada satupun asisten yang seperti Farrel.


Andai, tragedi itu tidak pernah terjadi. Mungkin Rezi akan menjalani hidup yang berbeda saat ini. Walaupun kelihatannya Rezi nyaman, namun Sean menyadari, ada beban yang selalu ia sembunyikan.


Sean menghapus sudut matanya yang sedikit berair. Jika melihat foto Farrel, segala potongan kenangan masa silam terputar dalam ingatannya.


Farrel adalah orang yang paling dekat dengannya, saat ia terjatuh dulu. Farrel lah yang selalu ada dan memberikan semangat baru untuk ia bertahan dalam segala luka.


Bahkan Farrel juga yang mengajarinya untuk bisa membawa kekasihnya kembali dari jalan gelap kematian saat itu.


Sean menyandarkan kepalanya ke atas sandaran kursi dan memejamkan matanya. Membiarkan setiap potong kenangan mengisi kembali pikirannya.


"Saat ini aku sadar, bahwa dunia juga sudah merubah kita. Aku masih di sini dengan menjaga amanah yang kamu tinggalkan, dan kamu sudah di sana, tenang bersama sisa kenangan yang masih tertinggal."


***


Rezi membuka kamarnya dengan tersenyum gembira, sudah ada Evgen yang menunggu ia di atas kasur.


"Dek, kok di sini?" tanya Rezi langsung.


"Gimana, Papa setuju, Kak?" tanya Evgen cemas, bukan cemas karena restu kedua orang tuanya.


Tapi cemas jika wanita pilihan Rezi adalah kekasihnya saat ini. Bagaimana juga, Rezi dan ia tidak mungkin bisa bersaing bersama.


Evgen menghela napasnya dengan sedikit lemas. Habis sudah, pikirnya mulai mengacau.


"Keluar sana! Kakak mau tidur," ucap Rezi lembut.


"Aku gak mau keluar, coba Kakak ceritain dulu, bagaimana rupa si virus pita ungu?"


Rezi menggulum senyumnya, matanya mengawan jauh, mengingat seraut wajah cantik pujaan hatinya itu.


"Cantik, manis. Saat ia tersenyum, bahkan dunia seakan terlihat lebih cerah dari sebelumnya."


Evgen menyunggingkan sebelah bibirnya, ia hampir muntah saat mendengar kata-kata sok puitis dari bibir Kakaknya.


Sejak kapan Rezi menjadi sok puitis dengan karangan filosofi yang menggelikan seperti itu. Sungguh cinta bisa membuat orang gila.


"Bagaimana sifatnya?" tanya Evgen penasaran.


Ia belum puas oleh jawaban Rezi yang terlalu ambigu. Wanita cantik dan manis, tentu bukan hanya Shenina di luar sana.


"Sifatnya?" Rezi memutar bola matanya, kembali ia mengingat wajah manis milik Neha.


Rezi melirik kearah Evgen dan merangkul bahu besar milik adiknya itu.

__ADS_1


"Dia itu sederhana, kuat, mandiri dan juga tidak manja. Walaupun terkadang suka marah, tapi uniknya, Kakak malah semakin tergoda," jelas Rezi sambil membayangkan wajah Neha.


Sedang, bayangan wanita yang tertangkap dalam ilusi Evgen, adalah Shenina.


Semua yang dikatakan oleh Rezi, menjurus pada karakter Shenina.


Ah ... memang, saat orang di butakan oleh cinta. Semua karakter terbaik, hanya akan terbentuk seperti gadis pujaan hatinya.


"Hem, Kak," panggil Evgen lemas.


"Kenapa?" tanya Rezi lembut.


"Apa Kakak akan menikahi ia dalam waktu cepat?"


"Kenapa kamu bertanya soal itu?"


"Aku, hanya sedikit terkejut. Aku belum siap juga kalau harus pisah sama Kakak," jawab Evgen jujur adanya.


Rezi melepaskan senyumnya dan mengacak rambut Evgen dengan sedikit geram. Baru kali ini ia berbicara dengan nada menyedihkan seperti ini.


"Kakak gak akan nikah dalam waktu dekat ini kok, kamu tenang saja," ucap Rezi lembut.


"Eh, kenapa Kak?"


"Kakak kan masih mahasiswa, lagian wanita yang ingin Kakak nikahi umurnya masih terlalu muda. Jadi Kakak ingin bertunangan dulu, dan menikah setelah Kakak lulus kuliah."


Evgen mengedipkan matanya bebebrapa kali, ia masih mencerna ucapan Rezi.


"Umurnya masih terlalu muda?" lirih Evgen sepelan mungkin.


"Shenina?" sambungnya berbisik lembut.


"Kamu bicara apa? Kamu bilang sesuatu, Dek?" tanya Rezi lembut.


Evgen tersenyum kaku dan menggelengkan kepalanya.


"Enggak ada, kalau begitu aku istirahat dulu ya, Kak," pamit Evgen lembut.


Ia berjalan keluar dari kamar Rezi, menutup daun pintu kamar Rezi dengan sedikit melamun.


"Apa kak Rezi benar-benar akan bertunangan dengan Shenina?" tanya Evgen sendu.


Evgen menghela napas dan mengacak rambut hitamnya.


"Kalau wanita itu beneran Shenina, apa aku harus mengalah dan melepaskan Shenina demi kak Rezi?"

__ADS_1


__ADS_2