Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
113


__ADS_3

Rezi mengambil hand sprayer yang dijatuhkan Neha, menatap wajah Neha dengan sedikit bingung.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Rezi bingung.


Neha menggelengkan kepalanya dan tersenyum lembut. Menarik tangan Rezi untuk masuk kedalam rumahnya.


Memperlihatkan hasil lukisan yang ia buat selama beberapa hari ini.


Mata Rezi takjub saat melihat kanvas yang sudah berisi lukisan tangan Neha itu. Walaupun sebelumnya ia tidak suka oleh karya seni. Namun melihat lukisan ini, ia seperti ingin memilikinya.


"Boleh gak kalau ini buat aku? Kamu buat baru lagi?"


Neha mengernyitkan dahinya, kemarin Rezi yang memaksa untuk ia ikut pameran ini, namun kenapa sekarang Rezi yang berubah?


"Lukisan ini, seperti menggambarkan kamu dan aku, Neha," ucap Rezi sambil menyentuh objek penting dalam lukisan itu.


Seorang gadis berbalut gaun putih, duduk di antara ribuan lilin yang mengelilingi tubuhnya.


Seperti dirinya, yang sering merasa asing saat berada di tengah kasih sayang keluarganya.


Sama seperti Neha, yang merasa asing di dalam indahnya dunia.


Sebuah pesan masuk kedalam ponsel Rezi, membuat lelaki itu tersadar dari lamunannya.


(Bawa pulang saja, aku gak jadi ikut pameran itu).


Rezi tersenyum dan kembali melihat kearah gadis itu.


"Baiklah, aku akan membawanya ke pameran. Bersiap-siaplah untuk acaranya," ucap Rezi lembut.


***


Chen berlari, memasuki kebun bunga milik sahabatnya itu. Menghela napasnya dengan memburu kencang.


"Neha, ada apa kamu mencariku?" tanya Chen mengatur kembali napasnya.


Neha memainkan jemari tangannya, jika bersama Chen dan Ruby. Ia bisa berbicara dengan bahasanya sendiri.


"Kenapa kamu maraha sama aku? Memang aku buat apa?" tanya Chen bingung.


Neha kembali menggeraman jemari tangannya, melampiaskan kekesalannya terhadap lelaki yang telah bertahun-tahun lamanya menjadi sahabat terdekatnya itu.


"Siapa yang kasih tahu akan menikah? Rezi ya?" tanya Chen menggoda.


Neha menyilangkan kedua tangannya di dada, berbalik membelakangi tubuh Chen.


"Maaf Neha, bukan aku gak mau cerita. Tetapi kemarin ada sedikit masalah. Aku gak bilang dulu, karena lamarannya juga masih menunggu kepastian saat ini," jelas Chen lembut.


Neha melirik kearah Chen, memainkan bibir tipisnya.


"Neha," panggil Chen lembut.


Chen menghela napasnya dan berjalan mendekati Neha. Meraih kedua ujung bahu Neha dan menekannya sedikit kuat.


"Aku tahu apa yang kamu pikirkan, aku mengerti apa yang ingin kamu tanyakan. Kamu pasti ingin bertanya, bagaimana dengan Ruby, kan?"


Neha menganggukan kepalanya, tak perlu dijelaskan. Bahkan tanpa ia bertanya, terkadang Chen sudah mengerti saat melihat ekspresi wajah gadis itu saja.


"Neha, aku tahu kamu memikirkan hati dan perasaan Ruby. Tapi aku dan Ruby memang sudah berakhir dari semenjak dulu. Selama aku kembali kesini, aku terus menjaga hati, melindungi diri agar tidak terluka kembali."


Chen tersenyum lembut dan menepuk sebelah pipi chubby milik wanita cantik itu.


"Saat ini semua sudah berubah Neha, aku telah jatuh cinta sama wanita lain. Tetapi aku masih tetap sahabatmu dan Ruby yang seperti dulu. Mungkin aku dan Ruby akan menjauh, bukan karena aku tidak lagi menyanyangi Ruby sebagai sahabat. Tetapi ada hati yang harus aku jaga agar tidak patah untuk kedua kalinya," jelas Chen kembali.

__ADS_1


Neha tersenyum dan menepuk punggung tangan Chen yang memegang ujung bahunya.


Ada saatnya kisah rumit ini harus berakhir, ada masanya saat yang pergi tidak akan pernah bisa kembali.


Dunia ini banyak mengalami perubahan, tidak mungkin jika hati manusia tetap sama setelah mengalami banyak cobaan.


Apapun itu, sama siapapun Chen akhirnya menjatuhkan pilihan, harapannya hanya satu.


Semoga semua yang Chen alami dulu, terbayar dengan indah saat ia memulainya dengan sesuatu yang lebih baik nantinya.


"Kamu mau antar bunga?" tanya Chen saat melihat keranjang bunga Neha.


Neha menganggukan kepalanya.


"Baiklah, aku temani kamu ya. Sekalian aku mau bicara sama, Ruby. Ayo." Chen mengambil keranjang bunga yang sudah diisi penuh dengan Neha. Mengulurkan lengannya untuk dipeluk oleh gadis itu.


Neha menyambut lengan tangan Chen, melilitkan tangannya di lengan kekar milik lelaki itu.


Selain Chen, Neha tidak pernah berdekatan dengan lelaki manapun. Bukan hanya sekedar sahabat buatnya, namun Chen lebih terkesan sebagai kakak yang selalu melindungi Neha selama masa SMA.


Di saat semua orang menjauhinya, Chen dan Ruby adalah dua orang yang mendekatinya. Mengajaknya berbicara walaupun dengan bahasa yang berbeda.


Mereka, lebih seperti harta yang selalu berusaha Neha jaga selama ini.


"Neha, saat Ruby nangis nanti. Kamu hibur dia ya," ucap Chen lembut.


Neha mengambil satu tangkai bunga mawar dan menggelengkan kepalanya.


Percaya diri sekali Ruby akan menangisi dia, itu tidak akan terjadi walaupun Ruby terluka.


"Neha, aku masih gak percaya. Bahwa kelak, aku dan kamu masih bisa jadi sahabat dekat. Bahkan menjadi sepupu ipar," ucap Chen senang.


Neha menusukan ujung batang mawar itu ke lengan Chen.


"Au, kamu apaan sih?" tanya Chen menahan sakit.


"Neha, bagaimana juga Rezi dan Soraya itu sepupuan. Saat kamu menikahi Rezi otomatis kamu dan aku akan menjadi saudara iparkan?"


Neha menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Chen. Wajahnya mulai memerah saat mendengar kalimat yang diucapkan Chen.


Neha, menusuk lengan tangan Chen dengan ujung tangkai mawar itu. Geram dengan lelaki yang ada di sampingnya saat ini.


"Ampun, ampun, Neha," ucap Chen menahan sakit.


"Chen," panggil Soraya ketus.


Baru saja ia dan Chen keluar dari masalah, namun kenapa saat ini ia malah melihat Chen sedang membuat masalah baru lagi?


Soraya menyilangkan kedua tangannya di dada, melihat wajah kedua orang itu secara bergantian.


Neha tersenyum lembut, ia melambaikan tangannya. Memainkan jemari tangannya dengan bantuan gerakan dari bibirnya.


"Neha, bilang. Selamat atas pertunangan kita," jelas Chen lembut.


Soraya hanya tersenyum dan menganggukan kepala. Kemarin ia mencium wanita di toko bunga, sekarang malah asyik bercanda dengan wanita lain dan membawa sekeranjang bunga.


Kenapa, saat ini yang berhubungan dengan bunga menjadi sangat menyebalkan.


Neha menarik keranjang yang ada di tangan Chen. Berpamitan untuk pergi duluan dari gadis yang sedang memandanginya dengan sinis itu.


"Siapa dia Chen?" tanya Soraya sengit.


"Sahabat SMA gue," jawab Chen jujur.

__ADS_1


"Sahabat SMA yang sangat cantik. Cantik banget malah," balas Soraya ketus.


"Kenapa? Elu cemburu?" tanya Chen menggoda.


"Enggak! Kenapa gue harus cemburu?"


Chen menghela napasnya dan memasukan kedua tangannya ke kantung celana. Berjalan mendekati Soraya sambil memandangi punggung badan Neha yang berjalan menjauh.


"Memang Neha sangat cantik, dari SMA kecantikan dia memang sudah diakui oleh mata perempuan maupun laki-laki," jawab Chen memanasi.


Soraya menghentakan kedua kakinya, berbalik dengan cepat. Kesal oleh jawaban lelaki itu.


Chen menarik tangan Soraya, menempelkan badan gadis itu ke badannya.


"Elu cemburu, Soraya! Apa susahnya hanya mengaku saja?" tanya Chen tersenyum lembut.


Soraya memandang wajah Chen dengan sengit, apa maksudnya dengan ucapannya yang tadi? Mengakui kecantikan wanita lain di hadapannya? Oh ... yang benar saja.


"Walaupun Neha cantik, tapi dari dulu gue gak pernah jatuh cinta sama dia,"


"Bohong!" Aya menolak dada bidang Chen, menjauhkan tubuh lelaki itu dari badannya.


"Dulu saja gue gak berani jatuh cinta sama dia, apalagi sekarang? Gue belum mau mati di tangan sepupu elu," ucap Chen lembut.


"Maksudnya?" tanya Aya bingung.


"Berarti elu belum tahu ya? Neha itu, wanita yang selama ini dikejar sama Rezi."


"Hah?" Aya langsung memalingkan wajahnya, melihat bayangan Neha yang tidak lagi terlihat oleh matanya.


'Pantas saja Rezi mengejarnya setengah mati. Ternyata wanitanya secantik itu,' lirih Aya dalam hati.


Chen berjalan mendekati Soraya kembali, tersenyum lembut dan mendekatkan wajahnya ke telinga Aya.


"Gara-gara bantuin dia, gue jadi kenal sama elu. Apa hal yang wajar buat elu cemburu sama dia?" bisik Chen di telinga Soraya.


"Lagian gadis mana yang gak cemburu saat melihat pacarnya sedang jalan dengan wanita secantik dia. Bahkan jika ada mata lelaki yang memandang dia saja, wanitanya pasti akan cemburu. Bukan, tanpa ada lelaki yang memandang dia saja, wanita lain cemburu dengan fisik sempurna yang dia miliki," jelas Aya sendu.


"Kecantikan itu tidak menjamin cinta itu akan bertahan atau tidak Soraya. Orang bisa saja suka saat pandangan pertama, namun cinta, dia hadir karena terbiasa."


"Hem modus, siapa yang tidak mau jika disodorkan wanita secantik dia."


"Cantik itu bukan tolak ukur sebuah hubungan berhasil atau tidak Aya. Tapi hati dan sifat, jika wanita itu tidak cantik, namun punya hati yang baik dan sifat yang bisa membuat orang lain nyaman, maka kecantikan juga akan kalah."


"Terus menurut elu, apa dia punya dua hal itu?"


Chen tersenyum lembut dan menganggukan kepalanya.


"Di balik kekurangannya, Neha memiliki hati yang lembut dan juga sangat penyayang pada apapun. Dia wanita yang menakjubkan menurut gue, Neha ... dia sangat cocok dengan sifat Rezi," jelas Chen lembut.


Soraya tersenyum simpul dan menggandeng lengan tangan Chen.


"Kalau gitu, ayo temani gue belanja," ajak Soraya lembut.


"Lama gak?"


"Enggak! Paling juga setengah hari," jawab Aya manja.


"Haish ...." Chen mengusap wajahnya dengan kasar. Hal yang paling membosankan akhirnya datang.


"Ayo." Tarik Soraya kuat.


Sedikit malas, Chen mengikuti langkah kaki Soraya.

__ADS_1


Gadis itu hanya tersenyum dan menghela napasnya dengan lega.


'Entahlah Rezi, tapi melihat elu mencintai wanita yang begitu sempurna, gue merasa sangat lega. Mungkin jika wanitanya seperti dia, gue bisa mengucapkan, semoga elu bahagia dengan hati yang terbuka.'


__ADS_2