Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
131


__ADS_3

Evgen mengetuk pintu kamar penginapan Shenina. Gadis itu berlari, membukakan pintu rumahnya.


"Hei, kenapa masih belum bersiap-siap?" tanya Evgen saat melihat gadis itu masih kucel dengan baju tipis yang membalut badannya.


"Kaki gue sudah mau patah, Evgen. Gue gak sanggup lagi jalan mengelilingi kota," jawab Shenina manja.


Evgen menghela napasnya dan duduk menyempiti gadis itu.


"Jadi gak mau jalan-jalan lagi ini?" tanya Evgen lembut.


Shenina menjatuhkan kepalanya di atas pangkuan Evgen. Memanyunkan bibirnya ke depan.


"Mau, tapi gak sanggup jalan lagi. Kaki gue pegal banget, Evgen," keluh Shenina manja.


Evgen membelai lembut rambut hitam gadis itu. Membiarkan gadis itu bermanja ria kepadanya.


"Lu lihat ini betis gue, sudah hampir sebesar pemain sepak bola. Nanti kalau kaki gue bengkak gimana?"


"Badan mungil, kaki pendek. Kalau betis elu gede, bakalan jadi ikan buntal dong. Ha ha ha."


Shenina terduduk dan memukul badan Evgen dengan keras. Menyilangkan kedua tangannya di dada dan mengerucutkan bibirnya.


"Bercanda, jangan marah," bujuk Evgen lembut.


Shenina hanya terdiam, ia tidak bergeming. Masih duduk membelakangi Evgen.


"Coba elu lihat ke jendela. Ada apa di bawah sana," ucap Evgen lembut.


"Apa?" tanya Shenina semangat.


"Hem." Evgen memainkan dagunya, menunjuk ke arah jendela.


Shenina turun dari sofanya dan berlari ke arah jendela. Melihat apa yang di maksudkan oleh kekasihnya itu.


Bibir Shenina melebar seketika saat melihat sebuah mobil sport putih terparkir di bawah sana.


"Evgen, itu mobil siapa?" tanya Shenina riang.


"Mobil sewa, gue sengaja merental mobil itu untuk jalan-jalan kita hari ini." Evgen bangkit dari sofa dan berjalan mendekati Shenina.


Melingkari kedua tangannya di bahu mungil gadis manis itu.


"Gue juga kelelahan, kaki gue juga sudah mau patah. Karena itu gue sewa mobil ini untuk kita jalan."


Shenina membalikan badannya dan menarik kedua belah pipi Evgen.


"Ya Tuhan, Evgen. Elu memang keren banget," puji Shenina.


"Lu mau ke mana? Leichester, Liverpool, Cambridge, Birmingham, Manchester atau kita kunjungi semuanya?" tanya Evgen kembali.


"Itu nama club bola ya?" tanya Shenina polos.


Evgen menyentuh pucuk kepala Shenina dengan sedikit geram.


"Itu nama kota di Britania Raya, bukan cuma nama club bola."


"Oh, soalnya gue cuma dengar nama itu sebagai nama club bola."


"Mau gak?"


Shenina menganggukan kepalanya dengan cepat. Evgen menundukan kepalanya, menetuk satu jarinya di pipi.


"Cium dulu," pinta Evgen lembut.


Sedikit tersenyum, Shenina mendaratkan bibirnya di pipi mulus lelaki angkuh itu.


"Ganti baju sana!"


Tanpa menunggu waktu lama, Shenina berlari ke dalam kamar dan mengganti pakaiannya. Bersiap untuk kembali menjelajahi kota hari ini.


Shenina turun dengan pakaian lengkap, duduk di sebelah Evgen dengan mengaitkan seat belt di badannya.


"Oke, kita mau kemana, Sayang?" tanya Evgen saat berada di balik setir mobil sportnya.


"Gue gak tahu, kan gue gak tahu rutenya."


"Bagaimana kalau kita keliling Britania Raya hari ini?"


"Boleh saja sih, memang kita mau kemana?" tanya Shenina kembali.


"Mulai dulu dari Cambridge, lalu ke Leichester, sambung ke Birmingham, terus ke Manchester dan berujung di Liverpool. Bagaimana?" tanya Evgen serius.

__ADS_1


"Lu yakin mau kunjungi itu semua? Jaraknya juga bukan dekat kan, Evgen?" tanya Shenina ragu.


"Kenapa? Elu takut kalau gue ngapai-ngapain elu kalau kita menginap semalam di Birmingham?"


Shenina menggelengkam kepalanya dan tersenyum tipis.


"Gue percaya kalau elu adalah lelaki yang baik, Evgen. Hanya saja, apa Papa elu gak akan bertanya kalau elu terus-terusan keluar seperti ini?" tanya Shenina ragu.


"Jangan takut, Paman Yohan bisa diandalkan kok."


"Baiklah, kalau begitu."


"Baiklah, kita mulai perjalanannya." Evgen memakai kacamata hitamnya dan mulai melajukan mobilnya, menembus jalanan padat ibukota Inggris tersebut, menuju rute yang telah ia tentukan.


Menikmati suasana kota metropolitan bersama dengan gadis pujaannya itu. Mengukir setiap detik dengan kenangan indah yang mungkin tidak akan terlupakan.


Shenina berdiri di atas mobilnya, merentangkan tangan dengan embusan angin yang bertiup kencang. Menikmati suguhan indah kota impiannya itu.


Sepanjang perjalanan menuju kota Cambridge, mata Shenina terus terfokus pada arsitektur bangunan-bangunan di sana.


Mungkin ini adalah waktu terbaik yang pernah ada dalam hidupnya. Mungkin juga ini adalah waktu yang paling menyakitkan jika diingat di masa yang akan datang.


Karena sesuatu yang indah, bisa saja berubah menjadi luka. Saat orang yang paling dicintai tidak lagi bersedia menetap di sisi kita.


***


Evgen memarkirkan mobil sportnya di depan penginapan Shenina. Ia menjatuhkan kepalanya di atas sandaran mobil dan memejamkan matanya.


Lelah setelah dua hari mengendari mobil mengelilingi beberapa kota di Britania Raya.


"Evgen," panggil Shenina lembut.


"Hem."


"Pesawat gue akan take off tiga jam lagi," ucap Shenina lembut.


Seketika Evgen membuka kedua kelopak matanya. Memandang wajah gadis yang saat ini berada di sebelahnya.


Ia yang memberikan waktu tiga hari untuk gadis ini. Namun seperti lupa setelah melewati hari-hari yang bahagia. Ia tidak rela jika harus melepaskan gadis ini untuk kembali pulang.


"Evgen," panggil Shenina kembali.


"Elu mau istirahat dulu di atas? Nanti gue banguni elu kalau waktunya sudah mepet."


Evgen menganggukan kepalanya, membuka seat belt yang ia kenakan dan mengikuti langkah kaki gadis mungil itu menaiki penginapannya.


Evgen merebahkan badannya di atas sofa. Sementara, Shenina langsung sibuk pada barang-barangnya.


Menyiapkan koper untuk kembali ke tanah air tercinta.


Mata Evgen terpejam, namun telinganya masih mendengar langkah kaki Shenina yang sibuk mengumpuli barang-barangnya.


Perlahan, satu persatu buliran air mata Evgen melintas. Walaupun dengan mata yang masih terpejam, namun matanya terus berair dan mengeluarkan air.


Ia tidak rela, tapi ia juga tidak bisa menahannya. Walau berat sekalipun, perpisahan ini memang harus dihadapi.


Shenina menyentuh ujung lutut Evgen, membangunkan lelaki yang tidak tertidur itu.


Evgen membuka kedua kelopak matanya, kembali air menetes dari kedua bola matanya.


"Elu nangis, Evgen?"


Evgen menggelengkan kepalanya dan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Mata gue panas karena terus-terusan bawa mobil," jawab Evgen mengelak.


"Ehm, kalau gitu bantu gue bawa koper ke bawah ya. Gue mau balikin kunci sama pemiliknya," pinta Shenina lembut.


Evgen menarik koper Shenina, memasukannya ke dalam bagasi mobil. Menunggu gadis itu berpamitan kepada si pemilik rumah.


Shenina keluar dengan seuntaian senyum menghiasi wajah manisnya. Walaupun bibirnya tersenyum, namun Evgen menyadari bahwa sebenarnya ia ingin menangis.


Sepanjang perjalan menuju bandara, Shenina dan Evgen hanya saling diam tanpa bicara. Entah karena cangung atau rasa tidak rela.


Entahlah, satu yang pasti. Mereka sama-sama memendam luka masing-masing. Menyimpannya dalam ruang hati terdalam.


Shenina menggeret kopernya, memasuki bandara London Heatrhow.


Evgen hanya mengikuti langkah gadis itu tanpa bertanya apapun. Membiarkan Shenina mengurus penerbangannya sendiri.


"Evgen," panggil Shenina lembut.

__ADS_1


"Hem."


"Penerbangan akan lepas landas tiga puluh menit lagi. Sebentar lagi gue harus memasuki pemeriksaan. Elu gak mau peluk gue untuk yang terkahir kalinya?" tanya Shenina tersenyum lembut.


Evgen menarik bahu Shenina, memeluk badan mungil gadis itu dengan erat.


"Shen, baik-baik di sana ya," lirih Evgen pelan.


Shenina tersenyum lembut dan membalas dekapan erat lelaki itu.


"Sehat terus ya, Evgen. Jangan terlalu sering keluyuran saat musim dingin seperti ini."


Evgen meleraikan pelukannya dan merapikan helaian rambut gadis mungil itu.


Mendaratkan sebuah ciuman di dahi kecil Shenina.


Shenina memejamkan kelopak matanya, menikmati sentuhan terakhir bibir lelaki sombong ini.


"I will be waiting for you, Evgen, (Aku akan menunggumu, Evgen)" ucap Shenina lembut.


"Come back, please,"(Kembalilah) sambungnya lembut.


"Trust me, I will return to fulfill my promise to you," (Percayalah, aku akan kembali untuk memenuhi janjiku padamu)


"Don't lie to me," (Jangan membohongiku) ucap Shenina manja.


"Never," jawab Evgen lembut. Ia menarik bahu Shenina untuk kembali ia dekap dengan erat.


"I will try hard, to keep my promise to you," (Aku akan berusaha dengan keras, untuk menepati janjiku padamu) sambung Evgen lembut.


Shenina tersenyum pahit, melepaskan air matanya yang berusaha untuk ia bendung sedari tadi.


"Gue mencintai elu, Evgen. Sungguh, gue benar-benar mencintai elu," ucap Shenina terisak.


Shenina menundukan kepalanya, memecahkan tangisannya yang kian mendalam. Ada rasa tak rela, namun ia juga tidak berdaya.


Evgen menelan salivanya pahit, menarik tubuh gadis itu agar bisa ia peluk kembali.


"Kenapa harus menangis, Shen. Simpan air mata elu, karena lima tahun itu waktu yang panjang. Elu bisa ke habisan air mata kalau banyak menangis di sini."


Shenina melepaskan tawanya, menangis sekaligus tertawa. Ia menyeka kedua sudut matanya dan meraih kopernya.


"Gue masuk ke ruang pemeriksaan dulu ya," ucap Shenina lembut.


Evgen menepuk pipi Shenina dan tersenyum dengan lembut. Menghapus sisa air mata di sudut dagu Shenina.


"Hati-hati, salam buat Seta di sana."


"Ehm." Shenina menganggukan kepalanya dan berjalan perlahan menuju pemeriksaan.


"Shenina," panggil Evgen kembali.


Sheina membalikan badannya, melihat ke arah Evgen sekali lagi.


"Aku mencintaimu," ucap Evgen menahan air matanya.


Shenina memandang Evgen dengan lapisan kaca di kedua bola matanya. Langkahnya terasa berat sekali untuk memasuki pemeriksaan itu.


"Aku berhutang padamu. Aku merindukanmu, aku membutuhkanmu dan aku ... mencintaimu."


Shenina menghapus sudut matanya dan berlari kembali ke hadapan Evgen. Memeluk badan tegap lelaki tampan itu.


Memecahkan tangisannya yang kembali dalam.


"Gue gak ingin berpisah, Evgen. Tapi gue juga gak berdaya. Gue harus bagaimana? Katakan! Gue harus bagaimana?" tanya Shenina menangis terseduh.


Evgen mengecup pucuk kepala Shenina dan mendekapnya dengan erat.


"Hiduplah dengan baik, Shenina. Jangan pikirkan apapun dulu tentang cinta. Karena gue percaya, jika cinta akan menemukan jalannya untuk bisa kembali bersama."


Cepat atau lambat, yang namanya pertemuan pasti akan ada perpisahan. Tidak tahu perpisahan itu hanya sementara ataupun menjadi selamanya.


Namun jarak, adalah hal yang paling sering digunakan untuk menguji sebuah ketulusan.


Entah cinta itu akan bertahan, atau malah semakin memudar. Apapun itu, semua kembali lagi kepada individunya.


Karena cinta hanya mengenal dua kata. Ialah abadi dan sejati.


Jika cinta abadi hanya bisa terpatri dalam hati ditujukan pada Sang Ilahi. Maka cinta sejati akan hadir dalam dua hati yang berusaha untuk saling mengasihi.


Cinta sejati, hanya terjadi sekali. Dan dia, hanya ada pada orang-orang yang bisa saling menghormati. Apa itu rasa cinta yang rela sakit, tanpa harus menerima balasan dari sang pujaan hati.

__ADS_1


__ADS_2