
Megi menatap Sean yang berdiri di hadapannya, Sean terlalu keras hatinya. Ia tak akan pernah takhluk oleh kata-kata. Jika Miranda saja tidak mampu mendinginkan Sean, apalagi dia.
"Kak, aku tau kakak butuh tempat untuk berteduh, kakak butuh bahu untuk kakak menumpuhkan. Kakak selama ini merasa sendiri kan, makanya kakak sekeras ini?"
"Gue emang keras dari dulu, lu gak kenal gue Meg, lu gak tau apa-apa. Jadi jangan sok tahu isi hati gue."
"Kakak bisa bohongi semua orang kak, tapi jangan bohongi diri kakak sendiri. Mau sampai kapan kakak terus begini? apa kakak pikir dendam dan amarah yang kakak simpan itu gak akan menghancurkan diri kakak sendiri?"
Sean menyilangkan kedua tangannya di dada, ia membuang pandangannya kesisi kosong. Hatinya dongkol setengah mati, kenapa Megi terlalu berani, sekarang ia mulai berani mencampuri pribadinya.
"Kak, buka hati sedikit, memaafkan bukan berarti kakak kalah kan?"
"Lu itu bawel banget ya, suka-suka gue dong. Bukan urusan lu Meg, gue mau maafin atau enggak."
"Pantes aja kakak jadi amburadul begini, keras banget sih kalok di kasih tahu, berpikir kalok sendiri itu bisa ya? gak selamanya orang itu bisa mengurus dirinya sendiri kak."
"Lu kalau ngajak gue kesini cuma buat ceramahi gue, gak ngaruh tau, Meg. Buang waktu, gue ngikuti elu." Sean membalikan badannya dan beranjak untuk pergi.
"Jangan sampai kakak menyesal setelah kehilangan seperti aku, kak." ucap Megi lembut.
Sesaat langkah Sean terhenti, ia membalikan badannya dan melihat Megi yang mulai menampilkan ekspresi sendu. Matanya menatap kosong kedepan.
"Sakit, perih, kacau, gelisah, tak tahu harus bagaimana." Megi tersenyum, namun matanya memancarkan keperihan.
"Saat kakak rindu dan ingin bertemu, tapi kakak gak tau harus mencari kemana. Bahkan saat kakak menyesal pun orang itu gak akan pernah kembali."
Kini suara Megi mulai terdengar parau. Megi berusaha untuk menyusun kata-katanya, berusaha untuk menahan air matanya yang ingin muncul menampilkan kehadirannya.
Sementara Sean hanya menatap Megi, terdiam mendengar ucapan Megi. Mencoba menangkap apa yang ada di dalam pikiran Megi.
"Kakak pikir sendiri itu mudah? apa kakak pikir setelah kehilangan hidup akan baik-baik saja?" Megi menatap kearah Sean. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Perpisahan karena kematian itu sakit banget kak, aku gak tahu harus mencari kemana saat aku rindu sama mereka. Bahkan memeluk batu nisan pun tak akan mampu membuat perasaan aku tenang, seperti kita menatap wajah orang itu kak." Megi menarik nafasnya yang mulai sesak karena tersengal luka.
"Kakak masih punya pundak untuk bersandar kak, jangan sampai kakak kehilangan pundak itu dulu baru kakak sadar."
Megi bangkit dari kursi nya, ia menyeka sudut matanya yang mungkin berair karena mengatakan kalimat itu. Sementara Sean masih terpaku, mencerna perkataan Megi yang mulai menyengal pernafasannya.
"Aku banyak kehilangan pundak tempat aku bersandar, kak. Kakak terlalu banyak membuang waktu untuk membenci, sampai kakak lupa bagaimana caranya untuk mengalah."
Sean seperti tertampar keras oleh perkataan Megi, si kecil ini dari mana ia bisa mendapatkan kata-kata seperti ini. Sean bukan lelaki yang bisa di luluhkan oleh kata-kata. Tapi kenapa kata-kata Megi bisa membuat nafas ia tersengal.
Hati Sean bisa terenyuh oleh perkataan Megi, bongkahan es yang menebal menyelimuti hati Sean mulai runtuh. Ia tak pernah berpikir, bagaimana jika seandainya Miranda pergi, seperti om Fandy yang meninggalkan Megi.
Sementara ia dan Rayen masih terus bersiteru, bertahan pada egonya masing-masing dan terus menusuk Miranda, mendorong Miranda untuk lebih dekat ke lembah kematian.
__ADS_1
Megi menghela nafasnya, ia membuangnya kasar dan merapikan rok sepan yang ia gunakan. Berjalan melewati Sean, tanpa menoleh kearah Sean.
Sean meraih kedua ujung bahu Megi dari belakang.
"Gue gak butuh pundak untuk bersandar, Meg."
Sean berjalan perlahan mendekat kearah Megi. Tangannya mulai melingkari bahu Megi dan memeluk Megi dari belakang. Sean meletakan dagunya di pucuk kepala Megi.
"Tapi gue butuh bahu untuk gue peluk." ucap Sean datar.
"Saat gue berdiri gue gak butuh sandaran, tapi gue butuh pegangan." sambungnya.
Perlahan rona wajah Megi berubah, ia kembali merona, Sean tak sekeras yang terlihat. Hanya perlu untuk mencoba melihat isi hatinya, coba untuk memahami dan coba untuk mengerti.
Sean hanyalah lelaki rapuh, ia juga masih butuh pegangan saat ia berdiri dengan gontai.
"Mika benar, lu adik yang baik Megi. Lu akan ngajarin gue bagaimana jadi kakak yang baik."
Seketika senyum Megi memudar, ia kembali salah mengartikan perlakuan Sean. Sean hanya menganggapnya sebagai adik. Status pernikahan ini tak begitu berpengaruh pada hati Sean.
Setelah beberapa saat Sean meleraikan pelukannya dan menarik kembali tangan Megi. Kembali ke hotel, Megi masih harus bekerja di balik konter Resepsionis.
"Lu jangan coba-coba kabur ya, Meg. Lu masih harus jadi Resepsionis." kembali Sean berkata ketus.
Megi berjalan sambil menghentakan kakinya, bibirnya mengerucut. Sean melepaskan pegangannya saat memasuki lobi hotel.
"Baik, Tuan Muda."
"Lu harus kerja yang bener, jangan kabur-kaburan lagi, kalau enggak..."
"Bos." panggil Farrel memutuskan kalimat Sean.
"Untung Bos belum pergi, ada masalah di lahan pembangunan, Bos." ucap Farrel tergesa.
"Apa? kenapa bisa?" perlahan rona wajah Sean kembali mencekam.
"Katanya ada beberapa warga yang menarik kembali izin pembangunan, Bos."
"Siapa yang bertugas disana?"
"Nino sama Kenan, Bos." jawab Farrel menunduk. Wajah Sean sudah mulai mematikan, tak berani ia menatap wajah Sean.
"Sepertinya kalian memang harus di ajak liburan. Liburan ke pulau Komodo, biar paham apa yang terkandung di liur Komodo." ucap Sean kesal.
"Kenapa bisa seperti ini? kenapa makin hari makin gak becus aja?" teriak Sean lantang.
__ADS_1
"Kak, gak bisa apa ngomongnya gak pake teriak-teriak? nge gas deh." ucap Megi yang terkejut karena teriakan Sean.
Braaakkk
Sean menggebrak meja Resepsionis dengan keras. Membuat semua orang yang berada di situ hampir mati karena serangan jantung.
"Rayen, ini pasti dia yang punya kerja." ucap Sean membara.
"Farrel, ikut gue." sambungnya dengan wajah memerah padam.
Megi hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sean hanya sadar beberapa detik saja, setelah itu amarahnya kembali berkobar. Ia sukses besar mengelola bisnisnya, tapi ia gagal mengelola emosinya.
****
Bugh
Megi membuang badannya kasar keatas kasur. Megi menghela nafas panjang, lelah sekali berada di balik konter Resepsionis itu, padahal ia hanya sebagai pembantu, Megi hanya mengerjakan sebagian kecil pekerjaan tapi ia sudah lelah memikirkan pekerjaan itu.
Bekerja bukan pada bidangnya memang lebih menguras pikiran, masih lumayan ia bekerja malam saat hari itu. Hanya mengandalkan suara dan bercerita.
Megi meraih ponsel dalam tas imutnya, di lihat layar ponselnya kosong. Tak ada pesan ataupun telepon dari sang suami.
Sudah dua minggu Sean tak pulang ke apartemen, ia selalu sibuk mengurusi bisnisnya.
Megi sering melihat Sean mondar mandir di lobi Hotel. Tapi Sean masih menganggapnya seperti Resepsionis lainnya, hanya datang ke konter Resepsionis jika ada yang ditanyakannnya. Jika tidak dia hanya akan lewat tanpa menoleh sedikitpun.
Ting, sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel Megi. Dengan sedikit malas ia membuka pesan itu.
(Meg, siap-siap, kita dinner.)
Pesan singkat dari Sean mampu membuat Megi terlompat dari kasurnya. Tak perlu kata romantis ataupun puisi, hanya sepotong kalimat, mampu membalikan semangat Megi yang hilang.
Dengan cepat Megi memasuki kamar mandi, menyanyikan lagu satu albun sambil mengguyur badannya. Ia membuka lemari bajunya, memilih baju yang pas untuk ia gunakan.
Pilihannya jatuh pada baju press body berwarna merah darah. Drees sepanjang lutut dengan bagian bahu yang terbuka namun lengannya tertutup panjang.
Megi ingin sesekali Sean memandangnya sebagai wanita dewasa, walaupun hanya sekali, ia ingin Sean menganggapnya wanita bukan anak kecil lagi.
Megi menggunakan Make-up sedikit lebih menonjol, dengan bibir yang berlapiskan lipstik berwarna merah. Ia menyapukan eyeshadow dengan sedikit lebih tebal. Rambutnya di ikat tinggi dan menjepit poninya kebelakang.
Sean membuka pintu apartemen dengan sedikit bersiul, matanya mencari keberadaan istri belianya itu. Tapi Megi tak ada di sudut manapun.
Sean membuka pintu kamar Megi.
Alisnya saling bertautan saat memandang Megi di meja rias. Ia menelan salivanya dengan berat, sejak kapan Megi jadi begitu menggoda untuknya. Dengan balutan drees merah dan membentuk lekuk badannya, riasan yang melebihi umurnya.
__ADS_1
"Sadis, Meg. Lu sadis banget." ucap Sean sambil menggelengkan kepalanya.