
"Apa istri saya menganggu anda pak Sandy?" tanya Sean sambil berjalan mendekati mereka berdua.
"Oh, ini istri anda? maaf saya gak tahu. Saya hanya mau ucapin terima kasih untuk bantuannya tadi." ucap Sandy langsung melepaskan pegangan tangannya di pergelangan Megi.
Sean tersenyum kecut dan merangkul bahu Megi.
"Terima kasih sudah bersedia untuk datang, tapi maaf, lain kali anda harus bisa menjaga tangan anda untuk tidak bersentuhan dengan sembarangan wanita." ucap Sean menekan.
Sebenarnya ia sudah geram setengah mati. Namun karena Sandy adalah rekan bisnis yang bekerja sama dengannya. Sean masih menahan diri untuk tidak menggunakan emosinya.
"Maaf, jika saya membuat anda tidak senang." jawab Sandy datar.
"Saya masih harus menyapa tamu yang lain, saya tinggal ya." Sean langsung menarik badan Megi untuk menjauh dari lelaki itu.
Wajahnya memerah padam, rasa cintanya pada Megi membuat ia terlalu protektif melindungi Megi.
"Kak, pegangan kakak erat sekali." ucap Megi lemah.
"Diam." ucap Sean menekan.
"Kakak kenapa? cemburu lagi?" tanya Megi ketus.
"Kenapa? gak suka?" tanya Sean ketus.
Megi menggelengkan kepalanya dan menghela nafasnya. Memandang wajah Sean yang semakin memerah padam.
"Sudahlah, aku mau mencari Rezi." Megi melepaskan rangkulan tangan Sean dan berjalan menjauh.
Sean mengambil nafasnya yang kian memburu karena meredam amarah. Ia tak bisa melepaskan amarahnya karena acara ini untuk Farrel.
Sean memperhatikan wajah Megi dari kejauhan, Megi sama sekali gak merasa bersalah. Ia malah asyik bermain bersama Rezi dan beberapa anak buah Farrel yang lainnya.
"Haish." Sean mengacak rambutnya kesal.
Ia mengambil satu gelas air yang terjejer rapi di atas meja. Meminumnya dengan tergesa, tak tahu bagaimana lagi untuk bisa meredam amarahnya yang terus membuncah.
***
Rezi langsung berlari saat memasuki villa Sean di barat kota. Seperti sudah sangat terbiasa oleh suasana disini.
"Rezi langsung cuci kaki dan tidur ya." perintah Megi saat melihat Rezi berlari.
Megi melepaskan hijab putihnya dan membereskan tempat tidur di villa itu. Tak lama Rezi datang mendekat dan menaiki kasurnya.
Sebelum mata Rezi terpejam, mereka berdua asyik bercerita diatas kasurnya. Tak peduli pada Sean yang sudah meradang dari sore tadi.
Sean membuka pintu balkon dan membantingnya dengan kasar. Ia mengeluarkan sebatang rokok dan membakarnya perlahan. Bahkan sampai pulang pun Megi masih acuh terhadapnya.
Sean menginjak batang rokok yang baru sekali ia hisap dengan kesal. Ia menggaruk kepalanya dan duduk di kursi santai balkon villa. Menatap suasana malam di tepi pantai.
Setelah beberapa lama, Megi datang dengan sebuah piring dan beberapa buah di tangannya. Meletakan diatas meja, dan mulai mengupas kulitnya perlahan.
"Kakak masih marah?" tanya Megi memecahkan suasana.
__ADS_1
"Rezi udah tidur?" tanya Sean datar.
"Udah." jawab Megi sambil mengupas kulit apel.
"Baguslah." jawab Sean cuek.
Sejenak suasana kembali hening, Megi masih terfokus pada buah-buah yang ia kupas dan memotongnya perlahan.
"Kakak makan ini dulu." ucap Megi sambil menyodorkan sepiring buah
Sean melirik kearah piring itu, melihat buah yang di sajikan oleh Megi.
"Sebelum kamu potong buah itu, kamu sudah cuci tangan belum? aku gak mau makan bekas tangan lelaki itu." ucap Sean ketus.
"Maksud kakak apasih?" tanya Megi bingung.
"Bukannya tangan kamu bekas nyentuh lelaki tadi ya?" tanya Sean dengan memandang Megi menggunakan ujung matanya yang tajam.
"Ya Tuhan, kak. Sedikitpun aku gak ada nyentuh dia." bela Megi lembut.
"Apa yang kalian lakukan di dalam lift, siapa yang tahu? kalian cuma berdua kan?" Sean tersenyum kecut dan membuang pandangannya.
Sementara Megi masih tercengang, tak percaya oleh perkataan Sean yang seolah-olah menuduh ia selingkuh.
"Apa kakak ngeraguin kesetiaan aku?" tanya Megi mulai geram.
"Aku gak ngeraguin." jawab Sean datar.
"Jadi maksud kakak ngomong gitu apa?" tanya Megi mulai meradang.
"Aku hanya gak sengaja naik lift yang sama dengan dia." Megi bangkit dari tempat duduknya dan berdiri di hadapan Sean.
"Setelah naik lift bersama, pegangan tangan bersama juga?" tanya Sean sambil tersenyum sinis.
"Ya Tuhan kak, aku kan udah bilang, aku gak ada nyentuh sedikitpun kulit dia." ucap Megi semakin geram.
"Terus yang aku lihat di depan lift itu apa?" tanya Sean keras.
"Aku gak tahu kenapa dia bisa pegang tangan aku."
"Kemarin juga kamu gak tahu kenapa lelaki di cafe itu nyapa kamu. Sekarang kamu juga gak tahu kenapa dia pegang tangan kamu?" ucap Sean sinis.
"Tapi memang itu kenyataan kan Kak?"
"Iya, mungkin." jawab Sean malas.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi sama kakak? kenapa sekarang sulit sekali membuat kakak percaya sama aku?" tanya Megi kesal.
"Dua kali, Megi. Sudah dua kali aku lihat kamu sama lelaki asing. Apa nanti ada yang ketiga kali atau ke sekian kali lagi?" tanya Sean sinis.
"Kak, aku sudah berusaha sekuat tenaga aku untuk tidak bersentuhan dengan lelaki lain."
"Iya, aku tahu. Kamu nya yang terlalu menggoda, sampai kamu dalam keadaan hamil pun masih di dekati lelaki lain."
__ADS_1
"Maksud kakak ngomong begitu apa? kakak nyangka aku yang godain mereka, iya?" tanya Megi semakin kesal.
"Aku gak bilang kamu godain mereka. Hanya saja wajahmu yang terlalu cantik, sampai mereka tergoda." balas Sean ketus.
"Terus aku harus apa?" tanya Megi lemah.
"Aku harus apa?!" bentak Megi di depan Sean.
Dengan cepat tangan Sean menghempaskan piring buah yang ada di atas meja. Megi sedikit terlompat saat mendengar suara pecahan dari piring yang melambung jauh.
Terdengar suara helaan nafas Sean yang memburu kencang. Matanya mulai memerah karena menahan amarah.
Sean bangkit dan berdiri berhadapan dengan Megi. Memandang wajah Megi dengan lekat.
"Jangan lupa, aku masih suami kamu, Megi. Apa begini cara kamu berbicara?" tanya Sean lembut namun menekan.
"Aku gak pernah lupa kakak itu siapa? tapi cemburu kakak ini gak beralasan." jawab Megi dengan lembut, matanya mulai berhiaskan kaca bening.
"Gak beralasan kamu bilang?" tanya Sean melemah.
Sean tersenyum dengan sinis lalu menggelengkan kepalanya.
"Apakah saat kamu bergandengan tangan dengan lelaki lain, itu bukan alasan?" tanya Sean pahit.
"Aku gak gandeng dia kak. Berapa kali harus aku jelasin?" tanya Megi melembut.
"Jadi yang aku lihat tadi apa, Megi?" tanya Sean lembut.
"Apa?" sambung Sean dengan menahan segala amarah yang hampir pecah.
Megi menggelengkan kepalanya, matanya teralih pada pisau buah di atas meja yang ia bawa tadi. Dengan cepat ia mengambil pisau buah itu dan meletakannya di kulit halus pipinya.
"Ini kan yang buat kakak semarah ini sama aku?" Megi menempelkan bagian runcing pisau ke pipi mulusnya.
"Ini kan yang buat kakak terus ragu sama aku?" perlahan air mata Megi mulai jatuh menghiasi pipi putihnya.
"Ini kan yang buat kita terus berada di suasana seperti ini?!" tanya Megi mengeras.
Sementara Sean hanya diam menatap Megi yang terus menusukan ujung pisau ke dalam kulit pipinya.
"Megi, jangan gila." ucap Sean menahan. Perlahan Sean mendekatkan langkahnya, mencoba meraih pisau di tangan Megi.
"Aku bisa ilangin wajah cantik ini, demi kakak." bentak Megi sambil memundurkan langkahnya.
Semakin Sean ingin mendekat, Megi semakin memundurkan langkah kakinya. Membuat jarak agar Sean tak mampu menjangkau pisau yang ia tusukan di pipinya.
"Aku bisa menghilangkan wajah cantik ini, aku gak butuh wajah cantik ini jika hanya terus membuat panas pernikahan kita." ucap Megi semakin panas.
"Megi, jangan." tahan Sean cemas.
"Kenapa? kalau aku tak cantik lagi, kakak pun gak akan suka sama aku lagi?" tanya Megi sambil tersenyum pahit.
"Aku gak peduli, mau kamu cantik atau jelek. Yang aku suka darimu bukan hanya fisik." jawab Sean semakin mendekat ke Megi.
__ADS_1
Megi menggelengkan kepalanya dan tersenyum pahit. Memundurkan langkahnya sampai pinggangnya mulai menyentuh pagar balkon. Megi melihat kebelakang, langkahnya mulai terhenti namun Sean semakin mendekatinya.
"Kita lihat saja nanti." ucap Megi sambil menggoreskan ujung pisau itu ke kulit pipi mulusnya.