Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
56


__ADS_3

Sean menyodorkan segelas air kehadapan Evgen. Dengan cepat Evgen meminum air itu sampai habis.


"Bersihkan itu," ucap Sean dingin.


"Yah ... Papa, kenapa aku yang bersihkan?" Tanya Evgen malas.


"Yang buat siapa?" Tanya Sean dingin.


"Kan aku gak sengaja, lagian Papa, entah apa-apa yang ditanyain?" Evgen kembali memasukan makanan kedalam mulutnya.


"Jangan dimakan jika hanya mau disemburkan sembarangan," ucap Sean kembali.


"Makanya Papa jangan ngomong sembarangan juga!"


"Memang Papa ngomong apa?" Tanya Sean menggoda.


"Au ah, gelap!" Evgen menutup toples camilannya dan menaiki anak tangga rumahnya.


"Boy, hey ... Boy!" Panggil Sean kembali.


"Enggak, aku gak mau jawab. Papa bicara saja sama kak Rezi," ucap Evgen merajuk.


Melihat Evgen yang merajuk, Sean dan Rezi hanya bisa tertwa dan menggelengkan kepalanya.


"Papa, jangan suka godain dia," ucap Rezi lembut.


"Habisnya, suka sekali bertingkah, kalau di godain marah, ha ha ha."


Sean tertawa dengan kencang, ia seperti melihat dirinya dulu saat melihat Evgen sekarang.


Sifat dan karakternya tak ubah dirinya, hanya saja Evgen manja dan juga angkuh sekali. Lebih angkuh dari ia dahulu.


***


Evgen mengaduk-ngaduk isi didalam mangkuknya, ia tidak ada selera untuk makan apapun.


"Kenapa elu?" Tanya Shenina.


"Lagi gak selera," jawab Evgen malas.


"Tumben gak selera, biasanya tembolok elu kalau gak diisi sedetik saja, bisa ngamuk elu."


"Lagi males gue."


"Ehm."


Evgen melirik kearah Shenina dan memandang Shenina dengan lekat. Memperhatikan Shenina yang sedang asyik melahap makanannya.


"Shen, sekolah kita ikut karnaval tahunan?"


"Hem, gue denger sih katanya ikut," jawab shenina datar.


"Kalau gitu elu ikut jadi peserta?"


"Enggak."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Siswa kelas 12 kan gak boleh ngikuti kegiatan apapun lagi, Evgen. Kita itu harus fokus."


"Kalau gitu gimana kalau kita nonton saja?"


"Enggak!"


"Loh ... Kenapa lagi?" Tanya Evgen bingung.


"Gue mau nonton bareng Seta. Eneg banget pergi bareng elu," jawab Shenina ketus.


"Heh ... Elu lupa kalau kita masih terikat majikan dan pembantu. Jadi kalau gue bilang elu pergi sama gue, ya sama gue!" Perintah Evgen kasar.


"Lu gak bosen jalan bareng gue terus?"


"Enggak!" Jawab Evgen ketus.


"Kok bisa?"


"Lu gak usah banyak tanya, kalau gue bilang lu jalan sama gue ya lu turuti saja. Lagian elu itu beruntung, banyak banget cewek di sekolah ini yang ingin berada di posisi elu."


"Kalau gue jadi cewek itu, gue akan kutuk diri gue sendiri. Kenapa juga bisa berharap jalan sama laki angkuh seperti elu."


"Gue kan ganteng, keren lagi," jawab Evgen pede.


"Cih ... Ganteng elu juga karena turunan. Seandainya Papa elu gak ganteng, ya elu juga bakalan gak ganteng,"


"Jadi maksud elu ngebandingi gue sama Papa gue apa?" Tanya Evgen ketus.


"Oke, kita lihat saja nanti, suatu saat gue juga akan bisa melampaui, Papa."


"Memang elu bisa?" Tantang Shenina kembali.


"Elu lihat saja nanti, gue akan sukses disaat umur gue lebih muda dari Papa dulu. Gue akan berdiri di puncak yang paling tinggi suatu saat nanti. Dan jika hari itu datang, jangan harap elu bisa ngemis cinta gue," ucap Evgen angkuh.


"Cih ... Gak sudi gue ngemis cinta elu ya Evgen. Pede banget elu," ucap Shenina ketus.


Evgen merangkul bahu Shenina dan mendekatkan wajahnya ke Shenina.


"Yah ... Saat ini elu bisa bersikap angkuh, tapi gue harap elu gak akan menyesal dengan keangkuhan elu itu."


Evgen memainkan kedua alis matanya dan mencolek dagu Shenina. Ia tersenyum dengan lembut, memperlihatkan senyum manisnya untuk menggoda Shenina.


***


Neha mengenggam jemari tangan Ruby dengan sangat erat. Hari masih pagi, tetapi tangannya sudah dingin dan berkeringat sedari tadi.


Setelah dijauhkan dari teman dan juga lingkungan. Neha merasa takut saat berada didalam keramaian seperti ini.


Neha menghela nafasnya dan melirik kearah Ruby. Ia benar-benar cemas, melihat keramaian kota saat karnaval seperti ini.


"Jangan takut Neha, tidak ada yang salah darimu," ucap Ruby menenangkan.


Neha menaikan tangannya dan menggerakan tangannya. Di bantu oleh gerakan dari mulutnya.

__ADS_1


Ruby tersenyum dan mencubit sebelah pipi Neha, geram.


"Kalau ada yang menyadari keberadaanmu juga kenapa? gak ada yang salah. Neha, jika sebagian orang menolakmu, bukan berarti semua orang akan menolakmu. Lihat aku dan Chen, kami tidak pernah kesulitan berinteraksi denganmu."


"Aku juga," sambung Rezi yang muncul dari belakang Neha.


Neha membalikan badannya dan melihat kearah Rezi. Neha memperhatikan penampilan Rezi yang terlihat sangat rapih.


"Sudah lama?" Tanya Rezi lembut.


"Baru sih," jawab Ruby lembut.


"Aku bertugas jadi pengawas barisan marching band, nanti kalian temani aku jalan ya," ucap Rezi lembut.


"Loh, kami ikut jalan? kirain cuma nonton saja."


"Gak seru dong kalau gak ikut konvoi."


"Tapi apa boleh? kami kan bukan bagian mahasiswa."


"Santai saja, inikan acara buat umum. Dan warga sipil di seluruh kota juga bisa berpartisipasi kok," jawab Rezi lembut.


"Hem, gimana Neha?" Tanya Ruby lembut.


Neha menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia tidak mau mengikuti keinginan Rezi kali ini.


Rezi tersenyum dan mengelus pucuk kepala Neha. Rezi menarik kepala Neha dan berbisik dengan lembut.


"Terlambat untuk menolak." Rezi tersenyum dan memainkan kedua alis matanya. Neha hanya memandang Rezi dengan wajah tidak suka.


"Kalian sudah sarapan?" Tanya Rezi kembali.


"Aku sudah, gak tahu kalau Neha?"


Rezi memalingkan pandangannya, Neha menyilangkan kedua tangannya dan membuang pandangan kesisi kosong. Ia masih kesal oleh rencana Rezi.


"Aku beli minum dulu ya," pamit Rezi lembut.


Rezi pergi meninggalkan Neha dan Ruby. Ruby tersenyum lembut dan mendekat kearah Neha.


"Sepertinya, dia sangat sayang padamu Neha," ucap Ruby lembut.


Neha melepaskan silangan tangannya dan duduk dikursi yang terletak dibibir jalan. Ruby menghela nafasnya dan ikut duduk bersama dengan Neha.


"Neha, aku pernah menyia-nyiakan orang yang sangat tulus padaku. Demi orang yang aku kagumi, saat aku sadar. Aku sudah kehilangan keduanya," ucap Ruby lembut.


"Sebagai sahabat, aku gak ingin melihat kamu berada diposisi itu. Neha, lupakan semua tentang pikiran burukmu, jangan takut untuk memulai sesuatu yang baru."


Ruby tersenyum pahit dan melihat kearah Neha.


"Jika alasanmu menolak hanya karena takut akan sebuah kesalahan. Jangan bodoh! kita masih punya banyak waktu untuk memperbaikinya di masa depan."


Neha melihat lekat wajah Ruby yang tersenyum, tetapi juga terluka. Neha mengalihkan pandangannya kearah Rezi yang sedang berjalan menuju kearahnya.


Semua teman yang berada didekatnya mendukung dia, apakah kali ini ia memang harus menerima?

__ADS_1


__ADS_2