
Sean memandangi wajah Megi yang masih terlelap dalam mimpi indahnya. Padahal mentari sudah menampilkan wajahnya dari tadi.
Sean hanya tersenyum dan mengecup dahi Megi lembut, mengelus rambutnya, lalu bergegas turun kebawah.
"Mas Sean sudah turun, ayo sarapan." ucap Rara lembut.
Sean menarik kursi di sebelah Mirza dan menyendoki nasi kedalam piringnya.
"Megi mana, Sean?" tanya Mirza lembut.
"Megi masih tidur, biarkan saja dia tidur sampai siang."
Baru ingin menyuapi makanannya, suara deringan ponsel Sean berbunyi. Dengan cepat Sean mengangkatnya tanpa melihat nama yang tertera.
"Bos."
"Hem." jawab Sean memasukan makanan kedalam mulutnya.
"Bos lagi dimana? ada masalah lagi disini, Bos."
"Masalahnya?" tanya Sean malas.
"Ada promosi besar-besaran dari hotel yang baru buka di ujung jalan kota ini, Bos."
"Biarkan saja, paling juga hanya satu atau dua minggu."
"Tapi Bos, omzet menurun terus. Bos gak mau kesini dan lihat-lihat hotel, mana tahu Bos bisa mendekor ulang untuk membuat hotel kita lebih menarik."
Sean menghela nafasnya dan meletakan sendok makannya dengan sedikit membanting.
"Huft, baiklah." putus Sean langsung.
Sean meneguk gelas di sampingnya dan langsung bangkit berdiri.
"Za, gue duluan ya. Lu nanti ke kantor pusat saja." ucap Sean sambil berlalu meninggalkan meja makan.
Mirza hanya mengangguk dan kembali melahap makanan di dalam piring.
"Mas,"
"Hem."
"Mas yakin mau minta semua itu dari mas Sean? apa itu semua gak berlebihan?" tanya Rara yang masih kepikiran oleh perkataan Sean kemarin.
"Kamu tenang saja, aku bukan lagi orang serakah seperti lima tahun yang lalu."
__ADS_1
"Jadi, maksud Mas gimana?"
"Aku akan bantu Sean sampai perusahaannya membaik. Setelah itu, kita kembali ke kampung ya."
"Mas yakin mau pisah lagi sama mereka?" tanya Rara kembali.
"Kamu gak nyaman kan hidup seperti ini?"
Rara menggelengkan kepalanya perlahan.
"Sama, aku juga gak nyaman kalau harus bergantung sama hartanya Sean."
"Jadi yang waktu itu Mas bilang mau minta bonus tambahan?"
"Setelah satu bulan, kita balikin apa yang Sean berikan dan bonusnya, kita minta izin untuk kembali kerumah kita sendiri."
Mirza melihat jam di tangan kirinya, ia mengambil tisu dan mengelap sudut bibirnya.
"Mas berangkat dulu ya. Kamu hati-hati dirumah."
Rara hanya menganggukan kepalanya dan mencium punggung tangan suaminya sebelum Mirza pergi.
Tak lama Megi turun dan menarik kursi di meja makan. Mendengar suara tarikan kursi itu, Rara memalingkan kepalanya melihat Megi yang sedang duduk di meja makan.
Megi hanya menggelengkan kepalanya dan meneguk susunya sampai habis, lalu ia kembali naik dan duduk di balkon lantai dua.
Melihat sikap Megi yang jadi pendiam, Rara membawakan sepiring buah dan meletakannya di depan Megi.
Megi hanya memandang kosong kedepan, beberapa kali Megi menghela nafasnya dengan berat.
Setelah beberapa lama Megi hanya diam, Rara memilih bangkit dan berjalan perlahan.
"Dulu, aku pernah bertanya-tanya. Kenapa kak Mirza tak pernah mengunjungi aku selama bertahun-tahun, waktu aku tinggal di Beijing. Selama 17 tahun, 321x kunjungan Papa, hanya 2x, hanya 2x kak Mirza mengunjungi aku." ucap Megi masih dengan memandang kosong kedepan.
"Mbak Rara tahu?" Megi memalingkan pandangannya kearah Rara yang saat ini sedang berdiri di ujung sofa balkon lantai 2.
"Hanya 2x aku bertemu kak Mirza, namun sepatah katapun tak pernah keluar dari mulut kak Mirza saat berhadapan denganku."
Pikiran Megi mengawan jauh, mencoba membuka kembali memori kenangan lama yang begitu masih terasa pahit di ingatannya.
"Saat aku pulang kesini, selama setahun, aku mengurus Papa dan Kak Mika. Tapi seujung kukupun kak Mirza gak mau makan sesuatu yang aku masak dan aku buat dengan tanganku. Bahkan kak Mirza pulang kerumah hanya beberapa kali dalam sebulan."
Megi tersenyum pahit dan menelan salivanya yang terasa begitu sulit untuk ia telan.
"Mbak, saat ini aku merasa sedang hidup dalam bayangan dan juga angan mimpi indah." Megi meneteskan air matanya secara perlahan.
__ADS_1
Bibirnya tersenyum, namun nafasnya terasa begitu sangat menyengal pernafasannya.
"Bahkan dalam mimpi saja aku tak berani membayangkan, hari ini akan tiba, dimana kak Mirza bisa memeluk aku, mendekap dan membelai rambutku, sama seperti yang kak Mika lakukan padaku dari dulu. Mbak Rara tahu kenapa?" kembali Megi menjatuhkan air matanya saat ia memandang kearah Rara.
"Karena kak Mirza begitu asing bagiku, kak Mirza bukan seperti keluargaku. Bahkan orang asing sekalipun, tak seasing kak Mirza bagiku."
Megi menghapus buliran air matanya dan mengambil kedua jemari Rara.
"Aku mohon Mbak Rara, jangan biarkan mimpi ini hancur hanya sekejap saja. Aku sudah menantikan ini sangat lama, bukan setahun atau sepulu tahun lagi. Tapi hampir 25 tahun, aku baru bisa memeluk kakak aku lagi, Mbak Rara, aku mohon, jangan bawa kak Mirza pergi lagi."
"Tapi, Megi. Mas Mirza yang ingin pergi. Mbak gak pernah maksa mas Mirza pergi."
"Kalau begitu, Mbak bisa kan tahan kak Mirza agar tetap disini?" pinta Megi lembut.
"Aku tahu niat kalian semua baik sama kami, Megi. Tapi mas Mirza gak nyaman dapeti itu semua dari kalian setelah apa yang mas Mirza lakuin sama kamu."
"Tapi mbak Rara ..."
"Megi." panggil Rara lembut, memutuskan pembicaraan Megi.
"Selama bertahun-tahun, mas Mirza menyesal atas perbuatan dia. Mas Mirza gak tahu, harus dengan cara apa membayar hutangnya padamu. Saat ini, suamimu malah memberikan semuanya pada kami, mana mungkin mas Mirza mau, hutang yang lalu belum lunas, sekarang mau di tambah budi yang baru?"
"Tapi kak Sean ngelakuin ini semua bukan cuma-cuma kak. Kak Mirza kerja sama suami aku, jadi semua itu fasilitas yang di berikan sebagai karyawan suami aku, ke kak Mirza."
"Megi, Mbak gak bisa bantu banyak. Tapi Mbak janji untuk bicara sekali lagi sama kakakmu, kalau dia gak mau, Mbak gak bisa maksa. Maaf ya." Rara mengelus pipi Megi dan berjalan meninggalkan Megi sendiri
Megi kembali menjatuhkan kembali buliran air matanya. Otaknya terus berputar, mencari cara agar Mitza bisa tinggal disini lebih lama.
Megi mengambil ponselnya dan menekan sederet angka. Setelah beberapa kali melakukan panggilan, akhirnya Megi mendapatkan jawaban.
"Kak, kakak dimana?" tanya Megi langsung.
"Di kantor pusat, kenapa Meg?"
"Kak, bantu aku bujuk kak Mirza. Kak Mirza belum benar-benar mau tinggal disini sama kita."
"Eh ... Kenapa gitu?" tanya Mika bingung.
"Kalau kakak mau tahu, tanya sendiri sama Kak Mirza."
Megi langsung memutuskan panggilannya, ia tak tahu lagi bagaimana caranya agar bisa menahan Mirza.
Mirza terlalu kuat pada pendiriannya, tak mudah untuk di luluhkan dan juga di goyahkan.
"Kak Mirza, jika aku tidak bisa menggunakan cara halus untuk membuatmu tetap disini, jangan salahkan aku menggunakan cara kejam untuk menahanmu." ucap Megi sinis.
__ADS_1