Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 84


__ADS_3

"Kalau gitu berjanjilah untuk pergi."


"Apa?" Megi meleraikan pelukan Sean seketika. "Kenapa kakak bilang begitu?"


"Apa elu masih gak paham kenapa gue minta elu kembali ke Beijing? kapanpun, kalau elu disini, kejadian seperti ini akan terus terulang kembali." jelas Sean.


"Maksud kakak? aku adalah alat yang di jadikan lawan kakak, untuk mengancam kakak?"


"Iya." jawab Sean lemah.


"Jadi kakak mau aku pergi ke Beijing, karena aku yang akan jadi kelemahan kakak? iya?" tanya Megi lemas.


"Iya, Megi. Iya." jawan Sean depresi.


"Gue udah pernah bilang, elu adalah batasan yang gak pernah bisa di capai. Saat mereka melakukan sesuatu sama elu, gue gak bisa lagi kendaliin diri gue, Megi. Gue bukan lagi manusia, saat apapun itu menyangkut keselamatan elu."


Sesaat air mata Megi mengalir, melintasi pipinya. Matanya menatap Sean dengan sendu.


"Kalau gitu jangan lagi gabung ke dunia bisnis yang seperti itu. Aku bisa bantu kakak membangun perusahaan yang lain kak."


Sean melepaskan senyum getirnya dan menggeleng pasrah.


"Hey, dunia bisnis ini kejam, Sayang. Saat ini gue lagi meraih, gue masih menanjak, gue gak bisa nyerah sebelum berada di puncak."


"Peduli apa sama dunia yang seperti itu kak? aku gak mau kakak berada dalam lingkaran ini. Berhenti, kak. Aku akan selalu berada di samping kakak apapun yang akan terjadi." ucap Megi dengan sedikit berteriak.


Sean meraih kedua pipi Megi, mendongakan kepala Megi. Agar Megi bisa menatap mata bening milik Sean.


"Megi dengar, apa yang akan elu lakuin jika usaha dan kerja keras tante Fera di rampas paksa oleh orang lain. Apa elu akan diam aja? sementara elu bisa melawan? apa yang akan elu lakuin saat seluruh aset milik om Fandy di rampas oleh orang yang sama sekali tak membantu perkembangan perusahaannya, apa elu akan diam aja? sementara elu bisa melawan dan menghancurkannya."


Sean melepaskan pegangannya dan meraih kedua jemari Megi. Mencium telapak tangan Megi dengan lembut.


"Semua ini tak semudah yang elu pikirkan dan bayangkan Megi. Elu masih muda dan elu masih butuh banyak belajar."


"Tapi kak..."


"Lu sayang kan sama gue? elu inginkan melindungi gue?" tanya Sean memutuskan kalimat Megi.


Megi mengangguk pasrah.


"Kalau elu sayang sama gue, dan elu mau melindungi gue. Raih mimpi elu, menghilanglah dari pandangan gue, Megi. Saat ini bukan saat yang tepat untuk kita bersama."


Megi menjatuhkan buliran air matanya, ia memeluk badan Sean dengan erat dan menangis terseduh.


"Aku gak mau pergi kak, aku gak mau pergi!" ucap Megi dengan memukul-mukul dada Sean.

__ADS_1


"Kalau elu gak mau pergi, gue takut gue gak bisa melindungi elu, Megi. Elu adalah satu-satunya yang bisa buat gue putus asa, elu satu-satunya yang bisa buat gue gila."


"Kalau gitu jangan biarin aku pergi, biar kakak gak putus asa. Biarkan aku tetap disini, biar kakak gak menjadi gila."


"Elu masih terlalu muda Megi. Jika elu tetap bertahan di sisi gue, hidup elu akan terkekang. Elu akan kehilangan kebebasan elu, elu akan kehilangan ketenangan elu. Karena setiap gerak gerik elu akan terus di pantau, karena untuk bertahan bersama gue itu terlalu bahaya. Lawan gue akan selalu cari cara untuk buat gue hancur tak bersisa."


Sean meleraikan pelukan Megi. Ia menghapus buliran air mata Megi dan menatap binar bening milik Megi.


"Saat ini gue udah berada dalam lingkaran, dimana saling menghancurkan adalah jalan satu-satunya untuk mendaki." jelas Sean lembut.


"Saat gue punya kelemahan, maka gue harus siap kehilangan." sambung Sean sendu.


"Enggak ... Enggak seperti itu, Kak."


"Apanya yang enggak? lu akan selalu berada dalam lingkaran itu Megi. Lu akan selalu dalam lingkaran, dimana elu akan menjadi alat keputus asaan gue."


"Tapi aku yakin kakak bisa lindungi aku disini. Aku gak pernah takut kakak."


Sean menghela nafasnya dan menutupi wajahnya dengan tangannya. Ia pusing denhan keadaan ini, seandainya Megi mau mengerti, kepergian dia adalah untuk membiarkan ia tetap hidup.


"Gue yang takut gak mampu buat melindungi elu, Megi. Gue, yang gak sanggup, lihat elu yang terus-terusan berada di ambang bahaya."


"Megi." Sean meraih kedua ujung bahu Megi dan menunduk untuk menyamai wajah Megi.


"Gue gak pernah seputus asa ini sebelumnya, gue mohon lu ngerti kata-kata gue." ucap Sean mengeratkan pegangannya.


Sean meleraikan pegangannya Megi dan berjalan keluar kamar Megi. Berjalan meninggalkan Megi dan menuju ke taman rumah sakit untuk sekedar melepas bebannya yang kembali berat.


Sean menyisir rambutnya kebelakang, mengenggam kedua jemari tangannya. Mata Sean menatap kosong kedepan.


Hana datang dan duduk di sebelah Sean. Hana meraih jemari tangan Sean, namun dengan cepat Sean melepaskan tangan Hana.


"Gue akan tepati janji gue, Hana. Tapi saat ini gue masih suami Megi, gue akan kembali sama elu, saat gue lepasi Megi nanti. Dan sampai saat itu tiba, jangan sentuh gue." ucap Sean masih menatap kosong kedepan.


Hana menjauhkan tangannya, ia tersenyun dan ikut memandang kedepan.


"Lu berubah Sean." ucap Hana sendu.


"Setiap orang pasti akan berubah, Hana."


"Lu bukan Sean yang gue kenal lagi, hati elu juga bukan seperti Sean yang dulu."


Sean hanya terdiam, ia tak ingin menjawab pernyataan Hana.


"Bahkan saat gue sama elu dulu, elu gak pernah memperlakukan gue, seperti elu memperlakukan Megi."

__ADS_1


"Dia istri gue, gue rasa perlakuan gue wajar-wajar aja." jawab Sean datar.


"Sean, gue masih sangat mencintai elu. Apa elu masih mencintai gue?" tanya Hana memalingkan pandangannya ke arah Sean.


"Enggak!" jawab Sean spontan.


Mendapatkan jawaban Sean, Hana hanya bisa menelan saliva pahitnya. Sean memang seorang yang spontan, tak bisa berbohong dan tak bisa berucap manis.


"Jadi kenapa elu mau menyetujui untuk kembali sama gue?"


Sean hanya diam dan tak menjawab. Ia mengeluarkan sebatang rokok dan membakarnya. Jengah, keadaan ini membuat ia muak.


"Apa elu lakuin ini semua hanya demi Megi?" tanya Hana.


"Bawel! pergilah jika elu hanya disini untuk bertanya omong kosong." usir Sean kasar.


Huft ... Hana menghela nafasnya dan tersenyum getir. Ia mengangguk pasrah, tak bergeming pergi juga tak membuka suara.


Sejenak suasana hening, Hana memandang wajah Sean dengan sangat lekat. Kenapa saat ini Sean seperti orang asing baginya.


"Sean jika elu kembali bersama gue. Apa elu akan menikahi gue?"


"Kalau lu mau, tapi jangan minta gue buat tinggal serumah dengan elu, gue gak mau."


"Jadi, saat kita kembali, apa yang ku dapatkan dari elu?" tanya Hana kembali.


"Segalanya yang elu mau. Tapi tidak dengan hati dan diri gue."


"Kalau gue menolak segalanya, tapi berikan hati elu buat gue!"


"Perjanjian kita adalah, gue kembali sama elu. Gue mau mencintai elu lagi atau enggak. Itu urusan gue."jawab Sean ketus.


"Sean apa lu belum bisa maafin gue?"


Sean mengalihkan pandangannya kearah Hana. Ia melihat wajah lembut gadis manis di sebelahnya itu.


"Hana, jangan paksa gue. Ada beberapa hal yang gak bisa gue kendaliin. Gue akan lakukan apapun yang elu mau, sesuai janji, gue akan ada di sisi elu, apa itu gak cukup?"


"Emggak! gue mau elu mencintai gue kembali Sean."


"Yah ... Terserah!" Sean menjatuhkan batang rokoknya, ia bangkit dan merenggangkan ototnya.


"Jangan deketi istri gue dulu, gue gak mau dia sakit hati. Kalau elu gak bisa jaga, gue juga gak akan tepati janji gue." ucap Sean menjauh.


Hana bangkit dan mengejar Sean, Hana melingkari perut Sean dan memeluknya dari belakang.

__ADS_1


"Sean jangan pergi. Aku mencintaimu, aku akan menjagamu dan menyayangimu lebih dari Megi mencintaimu."


__ADS_2