
Mika mengambil bahu Megi dan membedirikannya. Menatap wajah Megi dengan sangat lekat.
"Jangan berlutut, Dek. Kakak gak bisa lihat kamu menderita, tapi kakak kehilangan kepercayaan sama suami kamu. Jadi, kamu juga harus bisa hormati keputusan kakak nantinya."
Mika berjalan meninggalkan balkon rumah Sean dengan cepat. Menahan gejolak amarah yang kian membara dalam hatinya.
Seharusnya Sean menceritakan luka ini di awal. Mika pasti akan berusaha mengerti saat itu, namun ketakutan Sean akan nasib hungungan ia kedepannya, membuat Sean bungkam.
Seandainya Sean membukanya saat itu, mungkin Mika tak akan sekecewa ini. Merasa terkhianati oleh dua lelaki yang paling ia percayai dalam hidupnya.
"Kak Mika!" panggil Megi lembut.
Sean bangkit dan melihat Mika yang terus berjalan pergi. Menghela nafasnya yang kian terasa pahit menyengal dadanya.
"Kak, kenapa kakak bilang yang sebenarnya sama Kak Mika? aku menutupi ini dengan sangat rapat." tanya Megi tak senang.
"Cepat atau lambat Mika pasti akan tahu. Kita gak bisa simpan ini berlarut-larut."
"Tapi gimana kalau kak Mika minta kita untuk berpisah?" tanya Megi tak tenang.
Sean menghela nafasnya dan memeluk Megi.
"Aku akan mempertahankan kamu, aku akan memperjuangkan kamu. Jangan takut, jika aku tak mau. Kita tak akan pernah bisa berpisah." ucap Sean berusaha menenangkan.
"Enggak Kak. Aku gak mau." Megi mengeratkan pelukannya dan mulai menangis.
Sebenarnya hati Sean juga sama tak tenangnya dengan Megi. Ia takut kalau Megi akan kembali di bawa pergi oleh Mika. Namun mau bagaimana?
Kenyataan dan masa lalu tak akan pernah bisa di ubah. Di tutup serapat mungkin hanya akan menjadi bom waktu yang siap meledak kapanpun itu.
"Kakak lakukan sesuatu, kenapa kakak diam saja?" tanya Megi tak senang.
"Mika masih sangat terkejut Megi. Jangan lakukan apapun itu sebelum perasaannya membaik."
"Saat kak Mika mengambil keputusan, maka akan sulit untuk merubahnya, kak."
"Mika butuh waktu untuk menerima kenyataan ini, Sayang. Tenang." ucap Sean lembut.
"Tapi aku gak mau pisah dari kakak!" Megi menangis semakin kuat dan membenamkan wajahnya ke dada Sean.
"Tidak ada yang mau berpisah darimu, tenanglah, Megi. Aku tak akan melepaskanmu."
***
Megi membanting kertas desainnya dan menendangnya kesana kemari. Mencari perhatian Sean yang sedang duduk diam diatas kasurnya.
"Ada apa Megi? kenapa kamu marah-marah sendiri?" tanya Sean lembut.
"Ini sudah satu minggu, kenapa kakak belum ngomong sama kak Mika? kenapa kakak diam saja?" tanya Megi kesal.
Sean terdiam dan menundukan pandangannya. Ia tak punya muka lagi untuk menghadapi Mika. Tak tahu harus memulai dari mana, yang jelas semua keluar dari apa yang ada di dalam rencananya.
"Kenapa kakak masih diam saja? mau sampai kapan kakak biarin kak Mika tenang? sampai anak ini lahir dan kak Mika minta kita untuk bercerai?" tanya Megi kesal.
"Itu tak akan terjadi." jawab Sean datar.
"Apanya yang gak akan terjadi?" Megi bangkit dan berjalan ke depan Sean.
__ADS_1
"Kalau kakak diam terus seperti ini apa yang tak akan terjadi kak? semua akan terjadi kalau kakak bungkam seperti ini!" teriak Megi lantang di depan Sean.
Sean meraih jemari Megi dan memandang wajah Megi yang memerah padam.
"Maaf Sayang. Maafin aku." ucap Sean lembut.
Megi menghempaskan tangan Sean dengan kuat.
"Aku gak mau dengar maaf kakak. Cepat lakukan sesuatu sebelum kak Mika bertindak, kakak!" perintah Megi kesal.
"Aku gak bisa berbuat apa-apa sekarang, Megi." jawab Sean stres.
"Ho ... Apakah sekarang Sean Rayen Putra kehilangan kekuatannya? kemana keangkuhannya selama ini?" tanya Megi ketus.
"Keadaan ini sulit untuk aku hadapi, Megi. Percayalah, aku tak akan biarkan semua ini berakhir."
"Terus kapan bungkamnya kakak itu akan berakhir? tunggu hubungan kita di mulai oleh awal yang baru?"
"Jangan terus mengancam aku, Megi."
"Kalau kakak gak mau ngomong sama kak Mika, biar aku yang bicara." Megi membalikan badannya dengan cepat.
Sean bangkit dari tempat tidur dan memeluk bahu Megi dengan sangat erat.
"Aku mohon jangan, jangan sekarang, Sayang."
"Kapan kak? aku gak tenang. Aku stres sekali saat ini, aku takut ini berpengaruh sama anak kita." jelas Megi melunak.
"Jangan, jangan pikiri ini Sayang. Aku janji akan menyelesaikannya, jangan buat anak kita kenapa-kenapa ya?" ucap Sean menenangkan.
"Bagaimana aku tak memikirkannya kak. Pernikahan kita diambang kehancuran saat ini."
"Apa kita pergi ke Rusia saja ya Kak? tinggal disana sekitar dua atau tiga tahun. Saat aku hamil anak kedua, baru kita kembali ke sini. Saat itu kak Mika juga gak bisa berbuat apa-apa, karena anak kita sudah mau dua."
Sean tersenyum getir dan membalikan badan Megi. Meraih kedua pipi Megi dengan lembut.
"Lari dari masalah itu gak baik, Sayang. Aku akan hadapi ini, berjanjilah untuk tetap bersamaku."
"Aku akan tetap bersama kakak. Tapi bagaimana aku bisa bersama kakak terus jika seperti ini keadaannya?"
"Percaya, aku akan selesaikan ini dengan baik. Jangan takut, Sayang. Beri aku waktu untuk mencari jalan keluarnya." Sean tersenyum dengan lembut, berusaha menutupi semua resah hatinya yang kian membesar.
"Baiklah." jawab Megi lembut.
Sean paham sekali dengan sifat Mika, Mika adalah orang yang keras sekali terhadap perbedaan cinta dan benci. Saat ia kecewa, ia membutuhkan waktu yang lebih lama dari Sean untuk kembali tenang.
Sifat Mika yang sering menahan segalanya sendiri, akan sangat buruk jika emosi dan kebenciannya terpancing. Ia butuh kepercayaan yang lebih besar dari kekecewaan itu untuk memulihkannya.
Namun sekarang, entah apa yang harus Sean lakukan untuk mengembalikan kepercayaan Mika terhadap dirinya.
***
Sean menjatuhkan batang rokoknya di lantai keramik teras belakang rumahnya. Sudah berapa banyak batangan yang terbuang sia-sia, namun jalan keluar yang sedang ia cari belum juga ada.
Sean menghela nafasnya dan menjatuhkan kepalanya di atas senderan sofa. Memukul dahinya yang terus berdenyut nyeri karena memikirkan masalah ini berhari-hari.
Setelah berdiam beberapa waktu, Sean kembali menghela nafasnya dan memandang teras rumah Mika.
__ADS_1
Meyakinkan langkahnya untuk menuju kesana.
Dengan segala ketakutan yang berusaha ia samarkan. Sean berjalan dengan langkah besarnya memasuki teras belakang rumahnya.
Mendekati Mika yang duduk di ruang santai rumahnya.
"Mik." panggil Sean lembut.
"Pergi elu, gue gak mau lihat muka elu ataupun dengar suara elu." usir Mika cepat.
"Gue tahu gue salah, Mika. Tapi gue mohon, mohon pengampunan elu." Sean kembali berlutut di depan Mika.
Tanpa sedikitpun menoleh, Mika hanya terfokus pada layar datarnya. Mencari pekerjaan baru dan scepatnya membawa Megi dari genggaman tangan Sean.
Berjam-jam Sean berlutut tanpa suara, dari matahari masih berada di atas kepala, sampai senja hadir menyapa. Sementara Mika hanya memandang Sean di depannya, menyilangkan tangannya di depan dadanya.
"Mau sampai kapan lu berlutut di depan gue?" tanya Mika ketus.
"Sampai elu mau maafin gue."
"Jangan mimpi." sanggah Mika angkuh.
"Mika, demi persahabatan kita. Beri aku satu kali kesempatan, aku akan menjaga Megi lebih baik dari sebelumnya."
"Cih ... Persahabatan kita?" Mika tersenyum getir dan menggelengkan kepalanya.
"Selama ini lu ada anggap persahabtan kita, gak?! saat elu sembunyiin kenyataan ini dari gue, kemana nilai persahabatan kita ini lu campakan, Sob?" tanya Mika meradang.
"Karena elu sahabat gue, gue gak mau lu kecewa sama gue?"
"Lu pikir saat ini gue gak jauh lebih kecewa, hah?" teriak Mika lantang.
Seketika suara lantang Mika membuat pandangan Aya yang sedang bermain di ruang tengah teralih. Memandang Mika dan Sean yang sedang berhadapan.
Aya berlari memeluk badan Sean yang sedang berlutut di hadapan Papanya.
"Om, kenapa dari tadi disini diam saja. Main sama Aya yuk." ajak Aya lembut.
Sean melepaskan senyumnya dan meraih kepala Aya. Mengelus rambut ikal Aya dengan lembut.
"Aya ke kamar dulu ya, main sama Putra. Om sama Papa lagi bicara." ucap Sean lembut.
"Enggak, Om dari tadi gak ada bicara." sambung Aya sambil melingkari bahu Sean dengan kedua tangannya.
"Gadis kecil yang cantik, nanti Om belikan es krim dan juga kentang goreng. Sekarang main dulu sama Putra ya."
"Om janji?"
"Janji." jawab Sean lembut.
Aya tersenyum dan mencium pipi Sean dengan lembut, langkah kecilnya berlari menaiki anak tangga dengan cepat.
Mika tersenyum sinis dan menggelengkan kepalanya, melihat Sean dengan putri kecilnya.
"Jangan mimpi untuk bisa nepati janji elu sama Aya. Karena setelah gue dapet kerjaan baru, gue akan pergi dari rumah ini."
"Jangan Mik, gue mohon jangan."
__ADS_1
"Lu punya waktu beberapa bulan terakhir sampai anak Megi lahir. Habiskan waktu lu sama Megi dengan baik. Karena setelah anak Megi lahir, gue akan bawa pergi Megi dan juga anaknya menjauh selamanya dari elu."
Sejenak Sean tercekat dan memandang Mika yang berada dua meter di depannya.