
Shenina mengernyitkan dahinya, bingung oleh ucapan Evgen.
"Maksudnya gimana?" tanya Shenina bingung.
"Papa gue sudah menyetujui untuk menyekolahkan elu dan Seta di London. Bareng sama gue," jelas Evgen lembut.
"Apa?" tanya Shenina tak percaya.
Shenina menatap wajah Evgen, tak lama ia memalingkan wajahnya dan mengusap kasar.
"Kenapa elu lakuin ini Evgen? Lu minta Papa elu untuk biayain gue? London? Mau berapa banyak uang yang Papa elu keluarin hanya untuk gue dan Seta?" Shenina menghela napasnya dan menggelengkan kepala.
"Maaf, tapi gue gak bisa menerimanya," sambung Shenina lembut.
"Kenapa? Bukannya London adalah kota impian elu? Seharusnya elu senang bisa kuliah di sana."
"Gue senang, gue sangat senang malah, ada yang mau biayain kuliah gue di sana. Tapi enggak dari Papa elu juga, Evgen."
"Memang kenapa kalau dari Papa gue? Apa bedanya uang dari Papa gue dan uang orang lain? Sama saja kan?" tanya Evgen ketus.
"Evgen, mungkin elu gak sadar. Tapi gue bisa kerja di restoran hotel milik Papa elu saja, gue sudah sangat bersyukur. Gue di sini di gaji dengan mahal, kerjaan gue juga lebih dihormati. Gue merasa sudah sangat berhutang budi sama elu, Evgen. Gue gak mau hutang budi gue ke elu, gak akan bisa gue lunasi seumur hidup gue nantinya," jelas Shenina.
"Gue gak minta elu buat bayar apa yang sudah gue berikan ke elu, Shen. Papa gue juga gak akan minta apapun ke elu."
"Gue tahu! Gue tahu Papa elu ikhlas bantuin orang lain, Evgen. Tapi itu London, nanggung biaya sekolah dan hidup gue saja mungkin pengeluarannya sudah sangat besar Evgen. Dan elu malah minta adik gue juga untuk sekolah di sana? Evgen, jika bukan elu yang minta, mungkinkah Papa elu akan berikan hal yang sama pada orang lain?"
"Tentu saja, Papa gue orang yang teliti. Dia akan memberikan apa yang menurut ia pantas diberi," jawab Evgen cepat.
Shenina tersenyum pahit dan menggelengkan kepalanya.
"Tetapi tidak semudah ia memberikan itu ke gue dan adik gue, kan?"
"Lu hanya harus menerimanya saja Shenina, haruskan sesulit itu?" tanya Evgen sengit.
"Lu bilang hanya harus menerimanya? Apa elu gak pikiri juga bagaimana perasaan gue? Apa elu pikir gue senang saat ada yang biayai hidup gue seperti ini terus? Evgen gue juga gak mau kalau hanya dibilang parasitnya elu," jelas Shenina kembali.
"Siapa yanh berani bilangi gue begitu? Gue akan buat mulutnya bungkam selamanya," ancan Evgen kesal.
Shenina terus memandangi wajah Evgen. Menatap lelaki itu dengan tatapan sinis.
Evgen menghela napasnya, menumpuhkan kembali kedua sikunya di atas pagar.
Sejenak mereka berdua hanya saling terdiam. Membiarkan keheningan menyapa diri mereka masing-masing.
__ADS_1
"Gue ngelakuin ini semua hanya untuk kebaikan elu, Shen. Gue hanya ingin elu mendapatkan apa yang seharusnya elu dapatkan," ucap Evgen memecahkan suasana.
"Apa yang sudah menjadi milik gue, maka selamanya dia akan menjadi milik gue, Evgen. Gue gak bisa nerima sebanyak itu dari elu, gue takut, Evgen."
"Jadi elu maunya bagaimana?" tanya Evgen ketus.
"Gue akan raih apapun mimpi gue, tapi dengan tangan gue sendiri, Evgen. Terima kasih atas kebaikan elu, tapi maaf. Gue gak bisa terima." ucap Shenina sambil berjalan meninggalkan Evgen sendiri.
Evgen mengusap wajahnya, menumbuk sisi pagar dengan kesal. Kenapa pikiran Shenina terkadang harus serumit ini? Sifat keras kepalanya masih saja sangat susah diubah.
"Kenapa? Kenapa yang selalu gue lakuin selalu elu tolak Shenina? Kenapa? Kenapa elu gak bisa, sedikit saja? Buka hati elu buat gue?" tanya Evgen berteriak.
Shenina menghentikan langkahnya, ia membalikan badannya. Menatap ke arah lelaki angkuh itu.
"Elu sudah melakukan banyak hal buat gue Evgen. Tapi gue gak bisa menerima itu semua, sudah cukup selama ini apa yang elu korbankan buat gue. Tolong, jangan buat kebaikan elu akan menjadi beban yang selamanya harus gue pikul karena gue gak sanggup untuk membalasnya, walau hanya sedikit saja."
Evgen melepaskan senyum pahitnya dan melihat ke arah Shenina.
"Seberapa banyak lagi alasan yang elu butuhkan untuk menolak gue? Katakan saja, gue masih punya waktu untuk mendengarkan semuanya," balas Evgen sengit.
"Evgen elu salahpaham! Gue bukan mau menolak elu, gue hanya gak bisa menerima kebaikan elu lagi. Karena saat ini, gue sudah terlalu banyak berhutang sama elu, gue gak mau hutang ini semakin banyak dan buat gue gak mampu untuk melunasinya."
"Lalu kenapa kalau elu gak mampu melunasinya?" tanya Evgen sambil berjalan mendekat.
Shenina menundukan pandangannya, semakin banyak Evgen membuka suara. Semakin banyak pula kebaikan Evgen yang terlintas dalam ingatan Shenina.
Bahkan ia sudah tidak mampu menghitungnya lagi. Terlalu banyak ia berhutang pada lelaki angkuh ini. Tanpa ia sadari, selama ini ia banyak sekali bergantung pada kebaikan Evgen.
"Karena itu gue gak bisa terus-terusan menerima semuanya, Evgen. Gue gak mau terus-terusan menerima dari elu, tapi gue gak bisa sama sekali balas kebaikan elu."
"Gue gak butuh balasan. Bahkan sampai saat ini, semua yang sudah pernah gue lakukan untuk elu, gue gak mengharapkan sedikitpun balasan dari elu. Bahkan mengharapkan elu bisa membalas perasaan gue saja, enggak!" jelas Evgen kesal.
Evgen meraih kedua ujung bahu Shenina dan menekannya sedikit kuat. Menatap binar bening mata gadis itu dengan lekat dan dalam.
Berharap agar gadis itu mengerti sedikit saja keinginan hatinya. Hatinya hanua menginginkan gadis ini bisa bahagia. Tidak lagi menanggung bebannya sendiri.
"Shen, saat gue jatuh cinta sama elu. Gue hanya memikirkan bagaimana caranya agar bisa membuat elu terus bahagia saat bersama gue. Gue terus memberikan apa yang gue punya sebagai bukti perasaan gue ke elu. Tapi di balik itu semua, gue gak pernah berharap elu balas perasaan gue. Gue tahu, elu gak pernah suka sama gue, Shen. Gue tahu, apapun yang gue lakuin, itu gak akan pernah bisa membuka pintu hati elu."
Evgen menghela napasnya dan tersenyum dengan kecut. Merapikan helaian rambut Shenina yang sempat teebang terbawa angin malam.
"Gue tahu, banyak perlakuan gue selama ini yang buat elu marah dan semakin benci sama gue. Gue juga tahu, Shen. Kalau di mata elu ... gue hanya lelaki manja dan tidak bisa apa-apa tanpa harta dari keluarga gue."
Evgen melepaskan pegangan tangannya dan kembali berjalan ke sisi pagar. Melihat cahaya dari lampu kota yang menghiasi gelapnya susana malam.
__ADS_1
"Gue sadar, setelah apapun yang gue lakuin buat elu, tapi sedikitpun elu gak pernah memiliki perasaan lebih sama gue. Gue coba pahami itu, karena gue akui, gue memang sering ngajak elu bertengkar, gue memang sering buat elu kesal. Tapi sedikitpun, gue gak pernah niat buat nyakiti dan melukai perasaan elu."
Evgen kembali menghela napasnya, menghirup udara dingin malam. Mencoba mendinginkan perasaannya yang kian menyesakan.
"Gue tahu kok Shen. Kalau selama ini elu sering terpaksa jalani hubungan sama gue. Sebenarnya gue juga gak ingin melakukan semua itu sama elu, tapi gue gak bisa bodohi diri gue sendiri. Seperti yang elu bilang selama ini, gue memang selalu cari alasan buat dekat-dekat sama elu. Gue gak tahu kenapa, tapi gue merasa hampa saat gue jauh dari elu."
"Evgen, maaf. Gue bukan mau nyakiti elu. Hanya saja--"
"Gak perlu lagi dijelasi, gue gak apa-apa kok," putus Evgen langsung.
Evgen melirik ke arah Shenina. Ia tersenyum tipis saat melihat wajah gadis itu.
"Shenina maaf kalau selama ini gue banyak nyusahin elu. Maaf kalau gue banyak nyakiti hati elu. Saat ini gue tahu, sekeras apapun gue berusaha buat mengetuk pintu hati elu. Selamanya itu pula elu tetap akan menutup hati."
"Evgen, elu salahpaham."
"Shenina gue memang bodoh, tapi gue gue gak buta. Elu sering terlihat sangat nyaman saat berbicara sama Angga. Tapi elu terus berteriak dan marah-marah saat bersama gue. Bahkan saat kita saling mesra saja, kita masih bisa bertengkar. Kita memang gak pernah sejalan, kita memang sama-sama keras kepala dan angkuh terhadap perasaan masing-masing."
Evgen menyentuh dahi Shenina dengan satu jarinya. Kembali tersenyum dengan lebar.
"Sudah ada Angga yang menjaga elu. Dia bahkan bisa membuat elu merasa nyaman lebih dari gue, gue cukup sadar diri kok. Kita, memang tidak pernah bisa saling jatuh cinta."
Evgen membalikan badannya dan berjalan menuju pintu lift. Meninggalkan gadis itu sendiri di atas rooftop.
Mencoba untuk menerima keadaan yang terus membuka matanya. Bahwa selama ini, hanya ialah yang jatuh cinta pada gadis itu.
Entah karena bodoh atau memang cinta itu butuh perjuangan. Namun apapun itu, kini Evgen bisa melihatnya dengan jelas.
Bahwa kisah mereka, memang terjalin atas dasr keangkuhan masing-masing.
Sedang, Shenina hanya terdiam. Ia masih mencoba menerima semua ucapan yang dikatakan oleh Evgen.
Matanya terus memandangi punggung badan lelaki itu yang berjalan semakin jauh dari pandangan.
"Terlalu banyak kesalahpahaman di antara kita, Evgen. Dari awal kesalahpahaman di antara kita terus berkembang dan semakin membuat jarak kita merenggang. Gue gak tahu apa yang salah? Mungkin karena kita yang sama-sama keras dan terlalu angkuh untuk bisa mengalah. Pada akhirnya, kita terus berjalan pada jalur yang seperti ini saja." ucap Shenina pahit.
Shenina menundukan kepalanya, mencoba meredam rasa sakit yang mulai timbul di dalam dadanya.
"Elu bilang kalau gue gak pernah bisa buka hati buat elu. Kalau gue bilang ... sudah sejak lama gue jatuh cinta sama elu. Apa elu akan percaya?"
Shenina menggelengkan kepalanya, menjatuhkan satu persatu buliran air matanya.
Kenapa saat lelaki itu tidak lagi ada dan mendengarkannya, ia baru berani untuk mengakuinya?
__ADS_1
"Mungkin elu benar, Evgen. Kita memang tidak bisa saling jatuh cinta. Karena saat gue sudah mulai terbiasa sama elu, takdir harus membawa elu pergi dari gue. Kita memang gak pernah sejalan, karena kita, mungkin tidak pernah ditakdirkan untuk bisa terus bersama."