Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 38


__ADS_3

Braaakk


Pintu kantor utama di buka dengan keras, Sean langsung menuju ke arah dimana Rayen sedang duduk bernegosiasi bersama rekannya.


Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Sean. Namun kehadiran Sean dengan wajah penuh emosi, mampu menciptakan suasana yang sangat mencekam di ruangan Rayen.


"Maaf ya, saya dan putra saya ada urusan pribadi yang harus di selesaikan segera." ucap Rayen sungkan kepada rekan bisnisnya.


Setelah mengucapkan selamat tinggal dan berjabat tangan, kedua tamu Rayen keluar dari ruangan utama.


Sean menatap Rayen dengan tajam.


"Gue udah pernah bilang jangan sentuh apa yang jadi milik gue, lu mau ngelawan gue?" ucap Sean langsung tanpa basa basi.


"Maksudnya apa, Sean? Papa gak ngerti."


"Lu pikir gue gak tau? Lu lagi menyelidiki Megi kan?"


Rayen terkejut mendengar ucapan Sean. Dari mana ia bisa tahu, secepat kilat Sean mengetahui penyelidikannya.


"Lu mau perang lagi sama gue? Oke, gue terima. Bersiaplah untuk pemisahan perusahaan utama dan hotel pesisir putih."


"Sean, bukan begitu maksud Papa. Papa gak ada maksud apa-apa, Papa cuma pingin kenal sama menantu Papa aja, apa Papa salah?"


"Gak usah terlalu banyak drama, drama lu gak ngaruh sama gue. Sepertinya anda meremehkan saya, Tuan Rayen." Sean tersenyum sinis.


Sean berjalan mendekati Rayen, berbicara tepat di depan wajah Rayen.


"Bersiaplah untuk akuisisi dalam satu malam." Sean membisikan kalimat itu di telinga kanan Rayen.


Sekujur tubuh Rayen mulai dingin, anak buahnya terlalu bodoh. Dengan memaksakan bibirnya untuk tersenyum Rayen merangkul badan Sean. Dengan cepat Sean meleraikannya.


"Nak, Papa gak ada maksud lain, baiklah jika kamu tidak suka. Papa tidak akan mencampuri urusan kamu lagi."


"Jangan coba-coba mencari celah untuk melawan gue, dulu anda gunakan Hana dan sekarang mau gunakan Megi? Anda terlalu naif tuan Rayen, kali ini apa yang jadi milik gue, gak akan pernah bisa anda sentuh." Sean berjalan meninggalkan Rayen.


"Sean, hotel gak akan Papa izinkan untuk pisah. Hotel akan tetap bergabung dengan perusahaan utama."


"Gue gak butuh persetujuan anda buat pemisahan. Kalau gue mau, hari ini juga hotel akan pisah. Gue masih inget Mama, gue gak mau buat matanya kembali berair karena kita."


"Sean, kamu adalah putra Papa, Nak. Semua aset ini akan jatuh ketangan kamu suatu hari nanti, semua milik Papa adalah milik kamu juga."


"Benarkah?" Sean kembali berjalan mendekati Rayen.


"Apa yang menjadi milik gue juga menjadi milik anda? seperti anda yang mencoba merampas Hana dari gue?" Sean menatap Rayen dengan sengit.


"Kalau anda memang Papa gue, seharusnya anda gak berusaha untuk mencari celah melawan gue, Tuan Rayen. anda merasa tersaingi sama gue?"


"Sean, Papa gak ada pemikiran untuk melawan kamu, Nak. Hana, adalah negosiasi bisnis dari Papanya sendiri."


"Sstttt... Ssstttt... Jangan pernah coba-coba mengulangi kesalahan anda, kalau tidak, anda lebih paham apa yang akan gue lakukan." ancam Sean tegas


Ia berjalan cepat, membuka pintu kantor dengan keras. Cukup membuat Rayen terkejut, Rayen menggebrak mejanya kuat.


Memanggil anak buah yang ia perintahkan untuk mencari informasi tentang Megi.


"Bodoh...!" Rayen menampar keras pipi anak buahnya.


"Kenapa Sean bisa tahu?"


"Maaf, Tuan Besar. Saat kami melakukan pelacakan ternyata semua informasi tentang Nona Megi sudah di kunci. Pada saat kami mencoba membuka kuncinya, alarm keaman langsung terhubung ke jaringan milik Tuan Muda."


"Bodoh, kenapa kalian tidak memakai ID palsu?"


"Kami sudah menyamarkan ID nya Tuan Besar, gak tahu kenapa Tuan Muda bisa sampai tahu." ucap anak buah Rayen sambil menunduk.

__ADS_1


"Kalian membuat masalah besar, kenapa tidak hati-hati? Orang-orang yang bersama Sean itu bukan orang sembarangan, kalian seharusnya lebih bisa melindungi diri."


"Maafkan kami, Tuan."


"Terlambat! Sean bisa meng-akuisisi perusahaan utama dalam satu malam. Sean itu bringas, dia memakai cara yang ekstrim untuk meng-akuisisi perusahaan lawan, kita bisa dalam bahaya besar kalau melawan dia."


Rayen melempar bokong nya keras ke kursi direktur, ia memegang dahinya. Stres sekali, ia tidak pernah sanggup melawan Sean. Sean selalu berada selangkah di depannya, jika Sean bukan putranya mungkin perusahaannya sudah di akuisisi sejak lama.


Mau tidak mau ia harus mengakui, perusahaan yang ia miliki bisa menjadi raksasa saat Sean mulai ikut berkecimpung di dalamnya. Sean mempunyai kecerdasan yang luar biasa, analisanya selalu tepat sasaran.


*****


"Siapkan semua berkas, gedung apartemen pasir putih harus segera berdiri." perintah Sean.


"Tapi belum ada izin dari Tuan Besar, Bos."


"Gak perlu izin dari dia, kita akan bangun perusahaan kita sendiri. Dia mulai bermain-main dengan kita."


"Baik, Bos." Farrel keluar dari ruangan Sean.


Seperti yang di katakan Rayen, orang-orang yang berdiri di sisi Sean bukan orang-orang sembarangan. Apalagi Farrel, asisten kepercayaan Sean. Ia adalah seorang ahli peretas, keahliannya mengelola jaringan internet dan komputer membuat kekuatan Sean semakin tak tertandingi.


Namun selain Sean tak ada yang tahu keahlian Farrel, sengaja Farrel di sembunyikan dari permukaan, Farrel hanya bekerja di balik layar. Karena jika banyak yang mengetahui keahlian Farrel, maka keselamatan Farrel akan di pertaruhkan.


Sean dan Farrel adalah dua orang yang tak terpisahkan, bahkan Rayen saja pun tak tahu siapa saja yang berada di belakang Sean. Delapan anak buah Farrel juga bukan orang-orang sembarangan.


Jika hanya di lihat mereka adalah bodyguard biasa, yang terkadang mampu menguras emosi Sean karena kelalaian. Namun di balik itu semua, mereka adalah orang-orang dengan pemikiran cerdas yang berada di belakang Sean.


Mereka masing-masing memiliki keahliannya, Sean selalu menyamarkan anak buahnya. Persiapannya untuk melawan Rayen sudah di siapkan bertahun lamanya.


****


"Selamat pagi, saya disini ingin menjelaskan hasil desain saya." ucap Megi dengan gugup.


Sementara Sean memperhatikan Megi dengan seksama, semenjak menjadi istrinya, pesona Megi mulai menganggu perhatian Sean.


Ia bukan desainer profesional, ini kali pertama ia memperkenalkan desainnya untuk di gunakan. Bibirnya sesekali bergetar, terkadang suaranya nyaris tak terdengar.


Di tambah dengan Sean yang dari tadi memandangnya lekat, membuat saliva Megi sulit untuk di telan. Takut, jika ia melakukan kesalahan Sean akan melahapnya bulat-bulat.


"Yah ... Baiklah, aku tambahi sedikit." Sean bangkit dari kursinya dan berdiri sejajar dengan Megi.


Megi memegang dadanya yang hampir keluar karena pergerakan tiba-tiba dari Sean. Ia mencubit lengan tengan Sean dengan kuat.


"Auuu, sakit, Meg." Sean mengelus lengan tangannya yang di cubit Megi.


"Kakak ngapain sih tiba-tiba?"


Sean menghapus peluh keringat di dahi Megi menggunakan telapak tangnnya, perlahan rona wajah Megi berubah Merah, Ia mengguum senyum dan tersipu malu.


"Aku mau kalian siapkan brosur untuk promosi, aku juga akan mengubah sedikit konsep kolam berenang, cafe dan rooftop tempat santai di hotel kita. Aku juga menyiapkan diskon harga untuk kamar-kamar tertentu. Bagaiamana? ada tambahan?" jelas Sean rinci.


Seluruh peserta rapat hanya menggelengkan kepalanya, siapa yang berani menentang ide Sean, walau saat ini ide itu terdengar terlalu ekstrim.


"Baiklah, aku rasa rapat hari ini selesai."


Dengan cepat peserta rapat mulai keluar dari ruangan, tersisa Sean, Rayen, Megi dan Farrel.


"Papa tidak setuju dengan ide kamu, Sean."


"Gue gak butuh persetujuan lu, selama hotel ini gue yang kelola, gunakan cara gue."


"Tapi ini terlalu ekstrim Sean, profit hotel menurun, kamu mau mengubah banyak konsep dan promo harga?"


"Jika mau sukses maka harus berani mengambil resiko, Tuan Rayen. Ibarat bermain trampolin, anda harus berani menginjak jauh kebawah, jika ingin melambung lebih tinggi ke atas."

__ADS_1


"Sean."


"Ssttt... Sstttt... Jika gak suka gue melakukam ini, urus sendiri hotel ini."


Sean menarik tangan Megi keluar dari ruang rapat. Perdebatannya dengan Rayen tak akan pernah menemui ujung. Hanya akan semakin memanas jika terus di lanjutkan.


"Kak, kenapa kakak sekasar itu sama om Rayen?"


"Bukan urusan lu Meg."


"Kak." Megi menghempaskan pegangan tangan Sean saat melewati lantai 1.


"Kakak pikir hebat menentang Papa kakak sendiri? apa kakak gak pingin berbaikan dengan Papa kakak?"


"Meg, siapa elu berani ngomong begini sama gue? Elu gak tau apa-apa Meg, jadi gak usah sok peduli."


"Kak, apapun kesalahan Papa kakak, kakak gak bisa melupakan hubungan ini kak. Sehebat apapun kakak saat ini, keluarga adalah yang paling penting."


"Hah, benarkah? seperti Mirza yang berusaha berulang kali menjerumuskan elu, terus jika dia di biarkan seperti ini dan terus di maafkan, elu pikir apa yang akan terjadi sama hidup lu Meg?" nada Sean terdengar kesal.


Di pandangnya Megi lekat, wajahnya mulai memerah karena kesal, Megi mulai mencampuri urusan pribadinya.


"Elu gak kenal siapa Rayen, Megi. Jika elu mau membela dia pergi sana, pergi ke sisi Rayen. Gue gak perlu orang yang membela Rayen." Sean mendorong badan Megi untuk kembali masuk kedalam lift.


"Kak, Hentikan!" teriak Megi keras. Sean menghentikan dorongannya.


"Setiap orang punya kesempatan untuk berubah kak, Kak Mirza gak pernah ingin berubah, tapi Om Rayen dia ingin berubah kak. Ada rasa penyesalan di dalam matanya saat ia memandang kakak."


"Lu anak kecil tau apa?" ucap Sean ketus.


"Aku tau kak, Mama udah menceritakan sebagian masalah di antara kalian. Mau sampai kapan kakak simpan amarah di dalam hati kakak terus?"


"Terserah gue, kenapa elu yang ribet?"


"Kak, gak ada baiknya menyimpan amarah kak. Itu hanya akan melahap habis diri kakak. Maafkan orang-orang yang sudah menyakiti kakak."


"Gue gak butuh ceramah!" ucap Sean ketus.


Ia berjalan meninggalkan Megi sendiri, siapa Megi beraninya menceramahinya. Ia hanya gadis belia yang tak mengerti apapun tentang hidup orang lain.


"Kak." Megi menarik pergelangan tangan Sean.


"Kakak percaya sama aku kak, saat kakak bisa memaafkan orang lain, hati kakak akan lebih tenang. Kakak hanya perlu membuka hati untuk memaafkan, kak."


"Gue gak percaya, elu itu cuma bocah Megi. Elu tau apa tentang kerasnya hidup ini?"


"Kak, kakak itu perlu perubahan dalam hidup kakak. Berubah lah sedikit aja kak, aku yakin hidup kakak tidak akan sekeras saat ini."


"Gue gak butuh perubahan, gue udah cukup dengan hidup gue."


"Ikut aku kak." Megi menarik tangan Sean keluar hotel.


Ia kesal dengan Megi, ia benci dengan ocehan Megi. Tapi kenapa saat Megi menariknya, ia tidak ingin menolaknya.


Sean mengikuti langkah Megi menyeberangi jalan raya dan memasuki taman di daerah dekat hotel mereka. Megi melepaskan tangan Sean dan duduk di salah satu kursi di tengah taman.


"Kakak bilang gak butuh perubahan, tapi aku tau, kakak butuh pundak untuk bersandar. Saat ini kakak punya bahu untuk bersandar kak, disini, di bahu aku."


"Hem... Sok banget sih lu."


"Sekuat apapun seseorang kak, dia tetap perlu tempat untuk bersandar, melepaskan lelahnya."


"Tulang bahu elu sama lengan gue aja masih besaran lengan gue. Bagaimana bisa bahu kurus itu menopang gue?" ucap Sean ketus.


Megi mulai kesal mengahdapi sikap Sean. Ia pernah berjanji pada Miranda untuk menyatukan dua lelaki ini, tapi ternyata kenyataannya tak semudah yang di lihat. Hubungan ini lebuh rumit dari pada yang terlihat.

__ADS_1


Sean terlalu keras untuk di luluhkan, Sean terlalu tangguh untuk di takhlukkan.


__ADS_2