
Shenina membereskan reruntuhan itu dengan sedikit kesal. Kenapa plafon rumahnya harus runtuh saat ada Evgen disini?
Sementara Evgen hanya menyentuh plafon-plafon kusam itu dengan tangannya.
"Shen, saat hujan elu harus hati-hati. Ini sepertinya sudah rapuh sekali," ucap Evgen sambil mengecek plafon tua itu.
"Hanya plafon, tidak akan membuat gue mati, kalau gue mati, elu juga gak akan bersedih,"
Evgen melihat kearah Shenina, ia tertawa sekeras yang ia bisa.
"Hah, ya jelas. Kalau elu mati, gue bakalan banyak makan kue dari tahlilan elu," ucap Evgen sombong.
"Sialan elu," ucap Shenina ketus.
Evgen menghela nafasnya dan duduk diatas tikar lusuh Shenina, beberapa bagian rumah Shenina sudah basah karena terkena tampiasan air hujan.
Evgen menyeruput gelas tehnya, ia kembali melihat Shenina yang masih sibuk, mengepel lantai basah dirumahnya.
Sesekali Shenina menggerutu dengan kesal, kenapa keadaanya harus memburuk saat ada si manusia sombong itu dirumahnya.
"Kak, aku lapar," adu Seta lembut.
Shenina menghela nafasnya dan melirik kearah Evgen.
"Hanya ada mie instan, beras dan lauk lainnya sudah habis," ucap Shenina berbisik.
Walaupun Shenina mengucapkan dengan lembut, namun Evgen masih memiliki pendengaran yang cukup bagus.
Untuk menjaga perasaan Shenina, Evgen hanya meminum tehnya dengan santai. Seakan-akan ia tidak mendengar ucapan yang dilontarkan oleh Shenina.
"Gak apa-apa, Kak. Mie instan juga sudah cukup bagus," Seta tersenyum dengan lebar, memberikan semangat untuk Shenina.
"Baiklah, Kakak akan masak untuk kamu," Shenina kembali menatap kearah Evgen.
"Hey Tuan Muda, elu lapar gak? tapi gak ada makanan mahal, cuma ada mie instan, itupun kalau elu sudi makan," ucap Shenina ketus.
"Mie instan juga punya banyak rasa, gue tentu saja suka," ucap Evgen lembut.
Shenina tersenyum dan beranjak kedapur. Memasak mie instan yang tersisa di lemarinya.
Evgen memandangi Seta yang sedang belajar ditengah hujan dan genangan air di rumahnya. Walaupun dengan keadaan yang terbatas, namun semangat Seta masih terus berkobar.
Evgen tersenyum lembut, entah kenapa, melihat Seta kali ini. Membuat ia teringat akan Niki di rumah.
"Heh, nama elu Seta kan?" Tanya Evgen lembut.
"Iya Kak," jawab Seta tanpa melihat kearah Evgen.
"Lu peringkat berapa dikelas?"
"Peringkat pertama, Kak."
__ADS_1
"Bohong!" Tuding Evgen ketus.
"Sumpah deh, Kak."
"Hem, sayang sekali hujan. Kalau gak hujan, gue bakalan bawa elu makan burger,"
"Eh, serius Kak?" Tanya Seta antusias.
"Iya, kenapa? lu gak yakin gue bisa beli burger?" Tanya Evgen angkuh.
"Bukan Kak, kalau gitu, aku akan pasang pawang hujan biar hujannya berhenti,"
Seta berlari kedapur, ia mencari cabai merah dan bawang merah. Mencucukannya di sebuah tusukan bambu dan menusukannya diatas tanah depan rumahnya, di tengah hujan deras.
Sementara Evgen hanya bisa mengernyitkan dahinya. Ia tidak paham dengan apa yang Seta lakukan.
"Mana Seta?" Tanya Shenina dengan semangkuk mie instan di tangannya.
"Tuh, gue gak tahu dia lagi apa," ucap Evgen lembut.
Shenina berjalan mendekati Evgen, melihat Seta yang sedang menjadi pawang hujan mendadak.
"Seta, ayo makan," panggil Shenina lembut.
Seta kembali masuk kedalam rumah kecilnya. Bibirnya melengkung dengan lebar, tak sabar menanti hujan hari ini untuk reda.
Shenina mengusap kepala Seta dengan lembut, mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.
"Apa yang kamu lakukan? kenapa hujan-hujanan?" Tanya Shenina lembut.
"Biarkan saja jika hujan Seta, itu artinya Tuhan sedang memberikat rahmat-Nya kepada kita," ucap Shenina lembut.
"Tapi aku ingin makan burger, Kak,"
"Eh," Shenina menghentikan gerakan tangannya dan melihat wajah Seta.
"Kakak itu bilang, dia akan ajak kita makan burger kalau hari ini gak turun hujan. Karena itu, aku mau nangkal hujan."
Shenina menghela nafasnya dan meraih piring yang ia susun tadi. Memberikan sepiring mie instan ke tangan Seta.
"Jangan di halangi sesuatu yang sudah terjadi, Seta. Kamu harus bisa menghargai apa yang datang, karena sesuatu yang datang itu, mempunyai maknanya sendiri,"
Shenina memberikan sepiring mi instan kehadapan Evgen yang saat ini sedang terdiam memandanginya.
Semakin ia mengenal Shenina, semakin ia paham karakter Shenina. Shenina bukan gadis yang buruk, bahkan Shenina bisa tetap bertahan ditengah himpitan hidupnya yang sulit seperti ini.
Evgen mulai menyuapi mie instan yang di berikan oleh Shenina tadi. Walupun rasanya hanya asin saja, tapi kenapa ia bisa menikmatinya.
Bahkan Evgen memakannya dengan sangat lahap. Entah karena ia lapar, atau karena mie itu buatan Shenina.
Evgen terus memandangi Shenina yang sibuk membersihkan puing-puing plafon yang berserakan dirumahnya.
__ADS_1
Saat Shenina ingin beranjak pergi, sebuah puingan plafon kembali jatuh tepat disebelah Shenina.
"Ahhhh," Shenina sedikit berteriak karena terkejut.
"Hati-hati Shen, walaupun itu tidak bisa membuat elu mati, tapi bisa buat elu puyeng juga,"
"Iya," jawab Shenina mengalah.
Shenina kembali menghela nafasnya, membersihkan kembali puingan yang kembali berserakan dilantainya.
Evgen menyelesaikan makannya dan bangkit perlahan. Memandangi gerakan Shenina dari jarak yang lumayan dekat.
Evgen beralih pada beberapa figura usang yang terpajang di dinding tua rumah Shenina. Melihat foto almarhum kedua orang tua Shenina.
"Shen," panggil Evgen lembut.
"Hem,"
"Kalau gue boleh tahu, orang tua elu meninggal karena apa?"
Seketika gerakan tangan Shenina terhenti, pertanyaan Evgen membuat dadanya terasa sesak seketika.
Shenina mengalihkan pandangannya kearah Evgen, ia menghela nafasnya dan kembali membersihkan lantai.
"Kecelakaan motor, saat itu hujan juga seperti ini. Seta sakit, jadi orang tua gue buru-buru mau bawa Seat kerumah sakit, nahas Seta selamat namun orang tua gue yang meninggal," ucap Shenina sendu.
"Terus setelah itu, elu tinggal berdua saja?"
"Kami sempat tinggal sama Uwak, tapi karena istri Uwak gak suka kalau kami tinggal di rumahnya, aku mutusin buat tinggal sendiri."
"Hem," Evgen menganggukan kepalanya.
Matanya kembali memandangi Seta yang sedang duduk sendiri memakan mie instan tadi.
Entah kenapa, kali ini Evgen merasa sayang saat melihat adik Shenina. Dia masih kecil, tapi dia berusaha untuk mengerti dan peduli pada keadaan Shenina.
Padahal Niki saat ini sangat manja dan juga cengeng. Niki selalu menyuruh Megi untuk membuatkan sesuatu untukknya.
Evgen tersenyum dan menggelengkan kepalanya, ia mengalihkan pandangannya pada plafon rumah Shenina.
Mata Evgen melihat plafon yang tepat diatas Seta akan runtuh. Evgen berlari dan berjongkok, memeluk badan Seta.
"Seta,"
Bugh
Runtuhan plafon itu menimpahi kepala Evgen. Shenina langsung berlari mendekati mereka berdua.
Evgen mebuka dekapannya, melihat Seta yang masih kaget dengan apa yang terjadi.
"Elu gak apa-apa?" Tanya Evgen lembut.
__ADS_1
Seta hanya menggelengkan kepalanya, perlahan aliran darah melintasi dahi Evgen dan menetes di kulit Seta.
"Kak Shen, Kakak ini kepalanya berdarah," ucap Seta saat melihat tetesan darah kental mengotori kulit wajahnya.