
Chen menutup mulut Ruby yang ingin mencium bibirnya. Menahan bibir Ruby sebelum bibir gadis itu sempat menyentuh bibirnya.
"Jangan seperti ini, Ruby. Aku mohon, ini bukanlah dirimu," ucap Chen lembut.
Ruby memejamkan matanya, menundukan kepalanya perlahan. Meluruhkan satu persatu air dari kedua belah matanya.
"Chen, Chen aku di sini. Aku masih di sini, di tempat yang sama sejak terkahir kali kamu pergi," ucap Ruby getir.
"Tapi aku sudah tidak ada lagi di sana, Ruby. Aku sudah tidak berada di tempat terkahir kali aku berdiri dan menunggumu tanpa arti," jawab Chen lembut.
"Chen, aku minta maaf, aku minta maaf, Chen."
"Kamu gak salah Ruby, aku hanya jatuh cinta padamu, dan kamu jatuh cinta pada orang lain. Siapa yang bisa di salahkan? Ruby, saat ini kita sudah dewasa, dan aku tidak lagi ada pada cinta masa remaja," jawab Chen lembut.
Ruby menggelengkan kepalanya, ia meremat sisi bahu kemeja yang di gunakan oleh Chen.
"Chen, dengarkan aku! Bisakah kita kembali seperti dulu? Bisakah kamu berikan aku kesempatan itu? Aku jatuh cinta padamu, Chen. Aku cinta padamu," ucap Ruby sambil menarik-narik kemeja Chen.
Chen menghela napasnya, ia meraih kedua tangan Ruby, menggeret tangan Ruby untuk duduk di sofa.
Chen berlutut di depan Ruby dan menatap wajah Ruby lekat.
"Ruby, dalam dunia ini ada yang namanya kesempatan kedua. Ada juga yang namanya melewatkan dunia," ucap Chen lembut.
"Kamu punya kesempatan kedua, yaitu hidup lebih baik setelah putus dengan lelaki pilihanmu. Tapi kamu juga harus tahu satu hal, saat kamu melewatkan sesuatu, sekeras apa kamu berusaha menunggu, kesempatan itu tidak pernah ada, Ruby. Karena sesuatu yang pernah pergi, jika ia kembali sekalipun. Itu tidak akan pernah sama lagi."
Chen tersenyum dan menghapus sisa air mata yang sempat luruh dari kedua mata Ruby.
"Aku pernah ada di sana. Di tempat yang sama sekali tidak kamu sadari kehadirannya. Yang siap terluka demi melihat senyum bahagia terukir indah di wajahmu. Tapi, Ruby, setelah aku pergi dari hidupmu, seharusnya kamu sadari, kalau aku yang pergi, adalah aku yang mencintaimu dulu. Dan saat aku kembali, rasa itu sudah tertinggal jauh, jauh bersama kenangan yang tak bisa kamu miliki lagi, seperti waktu yang tak bisa kembali mundur. Seperti itulah kita," jelas Chen lembut.
"Tapi, Chen--"
"Ruby, dengar! Sebagai Chen sahabatmu, aku masih tetap temanmu. Tapi sebagai Chen yang mencintaimu, aku bukan lagi milikmu. Maaf Ruby, tapi kisah kita berdua sudah berlalu dan tertinggal sangat jauh. Aku tidak pernah lagi berada di tempat itu, karena sekarang, ada hati yang sedang menungguku."
Chen bangkit dan berjalan menuju pintu. Ia berbalik sekali lagi, melihat Ruby yang menumpahkan seluruh air matanya.
"Saat ini, jika aku berubah, kamu jangan marah. Bukan tak lagi peduli padamu, hanya saja ... ada hati yang harus aku jaga," ucap Chen berlalu keluar dari toko bunga Ruby.
__ADS_1
Neha dan Rezi saling melemparkan pandangan. Melihat drama cinta rumit tiga insan muda itu.
Rezi menghela napas dan mengacak rambutnya.
"Sumpah aku bingung, Neha. Aku harus bagaimana?" tanya Rezi kacau.
Neha menyodorkan layar ponselnya kehadapan Rezi.
(Di dunia ini ada dua hal yang gak bisa kamu bantu permasalahannya, Rezi. Yaitu urusan untuk sebuah kata maaf, dan urusan untuk cinta).
"Tapi bagaimana bisa aku biarin Soraya seperti itu, Neha? Aku gak tega," ucap Rezi bingung.
Neha menarik tangan Rezi menjauh dari toko bunga Ruby. Mencari tempat agar mereka bisa berbicara berdua.
Neha kembali memainkan ponselnya, mengirim pesan ke gawai Rezi.
(Jika kamu peduli, cukup temani dia. Tapi jangan masuk kedalam masalah kisah cintanya. Saat seseorang patah hati, emosinya tidak akan baik. Jadi, temani ia hanya untuk sebuah cerita saja).
Rezi menghela napasnya, ia memandang wajah Neha dengan sedikit melas.
Neha hanya mengangguk dan tersenyum lembut.
Neha melepaskan senyumnya dan menggeleng pasrah. Kembali sebuah pesan masuk ke dalam gawai Rezi.
(Aku bilang jangan ikut campur, Rezi. Bukan berarti kamu harus meninggalkannya sendiri. Ayolah, Sayang. Mereka butuh teman).
Mata Rezi melebar saat ia membaca kata Sayang yang dikirim oleh Neha.
Hanya sebuah panggilan Sayang, namun itu bisa membuat Rezi salah tingkah sendiri.
Wajahnya langsung memerah, melirik Neha dengan tersenyum kuda.
Kembali sebuah pesan masuk kedalam gawai Rezi.
(Rezi kamu kenapa? Kok wajah kamu merah tiba-tiba?) tanya Neha bingung.
Neha mencoba mendekatkan wajahnya, melihat wajah Rezi dengan jarak dekat.
__ADS_1
Rezi menutupi wajahnya dengan kedua tangan, malu kalau sampai Neha tahu, ia tersipu hanya karena sebuah panggilan sederhana.
Neha meraih kedua tangan Rezi, mencoba membuka tutupan tangan Rezi di depan wajahnya.
Namun Rezi menahan, mencoba menyembunyikan wajahnya yang semakin memadam.
"Ha ha ha, Neha aku mohon jangan lihat aku, aku malu," ucap Rezi di barengi oleh pecahan tawanya.
Neha dengan gigih, membuka tutupan tangan Rezi, ia masih penasaran oleh wajah Rezi yang terlihat seperti tomat.
Untuk beberapa saat mereka malah asyik bercanda berdua. Sesekali tawa Rezi terdengar, saat Neha menggelitikan pingangnya, mencoba menggunakan trik untuk membuka tutupan tangan Rezi.
Rezi menjatuhkan kepalanya di atas sandaran kursi. Mengambil napas dengan memburu kencang, karena menahan geli dari kitikan jemari lentik kekasihnya itu.
"Neha," panggil Rezi melirik kearah Neha.
Neha memalingkan wajahnya, melihat wajah Rezi yang kembali ke semula.
"Terima kasih," ucap rezi lembut.
Neha memainkan jemari tangannya dibantu oleh gerakan dari bibirnya.
"Kamu sadar gak sih? Hanya dengan candaan sederhana saja, tapi ini sudah sangat membuat aku bahagia. Terima kasih, karena kamu sudah mencintaiku," ucap Rezi lembut.
Neha tersenyum lembut dan menjatuhkan kepalanya di atas dada Rezi. Memeluk badan Rezi dengan erat.
Rezi mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak. Membalas pelukan Neha, mendekap erat tubuh gadis cantik itu.
Setelah beberapa lama, Rezi meleraikan pelukan Neha.
"Ayo, aku antar kamu ke tempat Ruby. Setelah itu aku akan menemui Soraya," ajak Rezi lembut.
Neha mengambil keranjang bunganya dan berjalan mengikuti langkah Rezi. Kembali menyusuri trotoar, menuju toko bunga Ruby.
Terlihat Ruby yang sedang menangis terisak dari balik kaca cafe. Neha dan Rezi bertukar pandangan.
Mereka juga bingung, entah siapa yang bersalah diantara hubungan ini.
__ADS_1
Namun yang pasti, ketiganya sama-sama tersiksa oleh keadaan rumit ini.
Entahlah, kadang dunia percintaan memang harus serumit ini. Menghukum mereka yang jatuh cinta, dengan hati yang masing-masing akan patah karena luka.