Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Epidode 47


__ADS_3

"Silahkan kalau elu mau ngejar cinta itu, tapi tolong... Laki-laki itu jangan gue."


"Loh kenapa, Kak? sekarang aku istri kakak, salah aku, kalau mengharap cinta kakak?"


"Megi, gue nikahi elu karena buat jagain elu, buat ngasih jarak ke Rena dan Mirza. Gue bukan lelaki yang baik, Megi. Gue bajingan, jangan rusak masa depan elu, hanya karena cinta seorang bajingan kayak gue."


"Aku bisa kak, aku mampu wujudkan mimpi aku, sekaligus tetap jadi istri kakak. Kenapa kakak gak percaya sama aku?"


"Gue bukan gak percaya sama elu, Meg. Tapi saat gue punya istri, gue mau dia fokus dirumah, ngerawat gue dan anak-anak gue. Gue gak mau punya istri yang karirnya maju, sampai ia lupa sama keluarganya."


"Tapi aku bisa gak kejar lagi mimpi aku, kak."


"Meg, jangan sia-siain bakat lu, IQ lu, hanya demi cinta. Lu itu luar biasa Meg. Otak lu canggih, tapi gue gak tau kalau lu juga bodoh. Jangan tinggali mimpi lu hanya karena cinta."


"Tapi, Kak..."


"Megi, dengerin gue, suatu saat lu bakalan dapet lelaki yang luar biasa, dan itu bukan gue. Gue gak pantes buat elu, Megi."


Untuk kesekian kalinya Sean terus menghancurkan hati Megi. Bukan ia tega, namun Sean lebih sadar, saat ini masa depan Megi jauh lebih penting. Jika ia membalas perasaan Megi, maka Megi tak akan mengejar lagi cita-citanya.


Megi memiliki segalanya, Sean tak ingin Megi menyia-nyiakan hidupnya, bakatnya  dan segala yang ada di dalam diri Megi, hanya demi untuk bersama dengannya.


"Bentar lagi Farrel dateng, lu istirahat ya. Gue ada kerjaan." Sean mengelus pipi bengkak Megi dan berlalu pergi.


Megi hanya bisa mengeluarkan buliran bening itu, untuk kesekian kalinya ia terluka oleh perkataan Sean. Kapan Sean akan berubah pendiriannya.


Megi sudah tak punya lagi kekuatan untuk tetap bertahan, andai menyerah itu tidak menyakitkan, mungkin pilihan itu yang akan ia ambil.


Tak lama berselang Farrel datang mengantarkan obat itu. Megi hanya menuruti perintah Sean, kali ini energinya sudah terkuras habis oleh perkataan Sean. Luka, Sean kembali menggores luka itu di hatinya.


Langit berganti gelap, Megi memandang luas kaca besar jendela kamarnya. Megi duduk lesehan diatas lantai.


Matanya menatap jauh kebawah, lampu-lampu dari gedung di sekitar mereka, tak lagi mampu menerangi kegelapan hati Megi.


Megi menghidupkan siaran malam, ia mencari sinyal dari tempat ia bekerja dahulu, berharap suara dari penyiar pengganti dia bisa menghibur hatinya.


****


Sean menghempaskan badannya di jok mobil. Ia meletakan kepalanya diatas setir mobilnya. Lelah sekali, kadang masalah pembangunan apartemen ini memakan seluruh energinya.


Sean melirik jam di mobilnya, sudah menunjukan pukul 11 malam. Sampai selarut ini ia mengurus bisnis, tapi hasilnya kemana? ia pun tak tahu, kemana selama ini uangnya di hamburkan.


Sean menghidupkan radio di mobilnya, terbiasa saat-saat seperti ini dia sering mendengarkan suara serak namun cempreng milik bintang radio Megs.


Sean tersenyum getir saat mengingat itu, mana mungkin Megs ada menemani kepenatannya, Megs sedang di apartemennya saat ini. Sean kembali ingin mematikan radionya, namun suara penelpon di radio membuat tangan Sean terhenti.


"Hallo, dengan siapa ini?" suara cempreng si penyiar.


"Hallo, aku Megi."


Sean mengernyitkan dahinya, baru saja ia rindu dengan suara ini, kini suara itu telah menampilkan kehadirannya.

__ADS_1


Sean mengurungkan niatnya untuk mematikan radionya, ia menyilangkan tangannya di dada dan mendengarkan apa yang ingin Megi bicarakan.


"Baiklah, Megi. Ingin bercerita apa?"


"Aku gak ingin cerita apapun, aku ingin request lagu, biarkan lagu itu yang menceritakan keadaan ku saat ini." ucap Megi parau.


"Baiklah, kamu ingin request lagu apa, Megi?"


"Suatu Saat Nanti, dari Hanin Diya."


"Baiklah, langsung saja kita dengarkan lagu Hanin Diya, Suatu Saat Nanti."


Sean menangkupan telapak tangannya di depan bibir, dengan seksama ia mendengarkan lagu itu. Entah kenapa lagu itu membuat ia seperti tertampar oleh keadaan saat ini.


Saat intro kedua terputar, Sean memutar bola matanya, sedih mendengarkan isi hati Megi.


'Kau yang tak pernah hiraukanku...


'Tak pernah pedulikan aku yang selalu, kagumi dirimu...


'Meski perih kuterima...


'Meski sedih ku nikmati...


'Tak mampu, aku sedikitpun lupakanmu...


'Meski aku takkan mungkin, milikimu...


'Satu do'aku, suatu saat nanti kau kan mencintaiku...


'Berbagai cara tlah aku tempuh, tuk hapus dirimu...


'Namun engkau lagi, dan engkau lagi, tetap engkau lagi...


'Cinta sejati yang enggan mati, dan kokoh berdiri...


"Mungkin hingga mati...


Sean mematikan radionya, matanya mulai berhiaskan kaca bening dari matanya. Kali ini hatinya perih mendengar lagu yang di putarkan Megi untuk dia.


Sean memaki kesal, kenapa kali ini dia tidak berdaya melawan. Kenapa kali ini dia seperti lemah. Sean sadar saat ini hatinya sudah mulai terpaut oleh si gadis kecil itu, namun ini tak mungkin.


Mika telah berjuang sekuat tenaga untuk masa depan Megi, ia tak mungkin membuat Megi harus menyia-nyiakan kesempatan ini. Megi harus bisa sukses, Megi harus kembali kuliah, Megi harus mengejar impiannya.


Semua itu tak akan pernah terjadi, jika saat ini Sean kalah oleh keadaan. Semua itu tak akan terwujud jika saat ini Sean mengikuti kata hatinya untuk luluh oleh cinta Megi.


"Meg, maafin gue, tapi masa depan elu lebih penting dari pada perasaan kita saat ini." ucap Sean lirih.


Sean menjatuhkan kepalanya ke senderan kursi mobilnya. Matanya menatap ke langit-langit gelap mobilnya. Menghela nafas berat, seberat beban hati yang kian datang dalam hatinya.


Kembali terlintas kejadian hari ini dalam memori Sean. Sebenarnya ia tak ingin melukai hati gadis itu lagi. Penderitaan Megi sudah cukup pahit, namun Sean juga sadar. Megi adalah wanita keras kepala, ia pasti tak akan menuruti perintah Sean, kalau ia tahu Sean sudah jatuh hati padanya.

__ADS_1


Sean kembali menghela nafasnya, ia bangkit dan keluar dari dalam mobil. Membakar sebatang rokok untuk sekedar melepas bebannya.


"Gue harus bagaimana, Megi? keadaan kita rumit, kita di pertemukan tidak dalam keadaan baik-baik saja."


Huft ... Kembali Sean menghela nafasnya berat, di tengah malamnya angin yang menyapa wajahnya, Sean masih berperang dengan pikirannya sendiri.


Masalah Miranda belum selesai, saat ini Megi kembali membuatnya merasa tertekan. Tak mampu menjelaskan, namun juga tak mampu bertahan. Walaupun sebenarnya diampun tak memberikan jalan keluar buatnya.


"Maafin gue, Megi. Gue akan terus nyakiti hati elu, sampai elu sadar. Gue bukan lelaki yang pantas buat elu cintai."


******


Megi memasuki konter Resepsionisnya, setelah kejadian itu, sudah seminggu Sean tak pulang ke apartemennya. Sean selalu terlihat mondar mandir di hotel, namun ia tak menyapa Megi sekalipun.


Megi hanya bisa diam melihat sikap Sean yang begitu dingin. Jika ia sanggup, ia juga ingin menghapus perasaan ini. Namun mengubah haluan hati tak semudah yang di bayangkan. Megi telah mencoba, namun perasaannya pada Sean sudah terlanjur dalam.


Sean keluar dari dalam lift dengan gaya coolnya, jeans biru dengan sobekan di lutut, kaos ketat dan luaran kemeja tanpa di kancing. Dengan kaca mata hitamnya dan rambut yang di ikat hanya sebagian saja.


"Nina, kasih ini sama Farrel kalau dia datang nanti." ucap Sean sambil menyerahkan dokumen ke Nina.


"Baik, Tuan Muda." jawab Nina sambil menunduk.


"Oh, satu lagi. Nanti Farrel langsung suruh nyusul gue ke lokasi pembangunan apartemen ya." Sean membuang pandangannya ke Megi.


Sementara Megi hanya menulis-nulis gak jelas di atas kertas. Tangannya asyik mencoret-coret kertas, sampai menjadi gambar bangunan.


Sean hanya menghela nafas dan berlalu pergi, menggunakan motor sportnya.


"Meg." panggil Nina lembut.


"Hem."


"Kamu sama Tuan Muda lagi ribut?"


"Enggak, kak Sean biasa gitu kalok lagi sibuk."


"Saat aku jaga sifth malam, Tuan Muda tidur di hotel. Kamu usir ya?"


"Mbak Nina bercanda ya? mana mungkin aku bisa ngusir dia."


"Kamu gak takut, Meg?"


"Takut kenapa, Mbak?"


"Zaman sekarang itu banyak pelakor, Meg. Pelakor sekarang itu ngerih, Meg."


"Ha ... ha ... ha. Aku gak yakin ada perempuan yang mau sama si otak dingin kayak dia, Mbak." ucap Megi sepele.


"Eh ... jangan gitu, Meg. Walaupun Tuan Muda dingin, tapi Tuan Muda ganteng, Tuan Muda kaya, Meg."


Megi terdiam mendengar ucapan Nina, bagaimana juga sifat kak Sean gak seburuk itu juga. Bagaimana jika kak Sean jatuh cinta sama wanita lain.

__ADS_1


"Meg, maaf ya bukan mau kompor, tapi semenjak Tuan Muda menikah, mantan Tuan Muda masih sering kesini, tapi Tuan Muda gak pernah mau nemui."


"Maksud mbak Nina, Kak Hana?"


__ADS_2