
Rezi terus memandangi wajah Neha sambil mengunyah makanannya. Bibirnya terus tersenyum saat melihat wajah cantik Neha yang tersenyum sambil menyuapinya.
Rezi mengambil tangan Neha dan mengenggamnya dengan erat.
"Neha, tidak peduli sekeras apapun kamu menolakku. Sejauh apa kamu ingin menghindari aku. Hati aku, dan juga diriku, akan selalu kembali kesisimu." Rezi memindahkan ponsel Neha keatas meja dan duduk berhadapan dengan Neha.
"Neha, jika kamu menolakku hanya untuk melindungi aku. Kamu tidak harus melakukan itu. Karena aku ini lelaki, aku yang seharusnya melindungimu, bukan kamu," sambung Rezi lembut.
Neha menundukan kepalanya, ia tidak tahu apa yang membuat Rezi begitu sangat mengingingkannya.
Rezi meraih dagu Neha dan mendongakan kepala Neha. Memandang wajah cantik Neha dengan tersenyum lembut.
"Aku tidak peduli mau dibilang tidak tahu malu. Aku tidak peduli mau dikatakan bodoh atau apapun itu. Asalkan kamu ada disisiku, apapun, mau aku tanggung. Apapun mampu aku lakukan. Neha percayalah, aku benar-benar tulus menyanyangimu."
Neha melepaskan pegangan tangan Rezi dan menulis dengan cepat diatas kertas. Menyerahkan kedepan Rezi.
(Mungkin kamu bisa menerima aku, tapi bagaimana dengan keluargamu? Rezi tidak semua orang bisa menerima kekuranganku).
Rezi menundukan pandangan matanya, ia sudah memikirkan ini dari sejak awal mereka berjumpa. Tapi Rezi belum bisa menceritakannya pada Neha ataupun keluarganya.
"Neha, tidak usah pikiri apa yang terjadi didalam lingkup hidupku. Aku bisa, aku mampu untuk menyelesaikannya dan juga melindungimu. Kamu hanya perlu berada disisiku, itu semua sudah cukup bagiku, untuk melewati semua halangan yang ada didepanku."
Neha memandang wajah Rezi, melihat ekspresi Rezi yang benar-benar serius saat mengatakan itu.
Neha menundukan pandangannya, ia berpikir sejenak. Semua perkataan Chen kembali terngiang di ingatannya.
Mungkin Chen benar, tidak peduli sepahit apa hidup Neha. Neha masih berhak untuk bahagia.
Neha bangkit dari kursinya dan berjalan ke kebun rumahnya. Rezi mengernyitkan dahinya, kadang ia tidak mengerti apa yang dilakukan oleh Neha.
Neha kembali dengan tiga buah pot kecil ditangannya. Neha meletakan diatas meja. Ia menuliskan sebuah kalimat dan memberikannya ke tangan Rezi.
(Ambil dan rawatlah bibit ini, jika dia bisa berbunga. Aku akan menerima perasaanmu).
Rezi melepaskan senyumnya dan melihat kearah Neha.
"Kamu serius?" Tanya Rezi senang.
Neha tersenyum lebar dan menganggukan kepalanya.
"Baiklah." Rezi mengambil pot itu dan mengangkatnya keluar.
"Ponselnya sudah tidak usah di benerin lagi ya, besok aku belikan yang baru," ucap Rezi lembut.
Neha hanya menganggukan kepalanya, Rezi kembali kerumah Neha setelah meletakan pot bunga itu dalam mobilnya.
Ia membereskan alat kerjanya dan memasukan kedalam ranselnya.
"Neha, aku pulang ya," pamit Rezi lembut.
__ADS_1
Neha menganggukan kepalanya dengan cepat.
"Aku antar ponsel kamu besok, jaga dirimu." Rezi berjalan kedepan pintu dan meraih sebelah pipi Neha.
Rezi tak bisa berhenti tersenyum, lega sekali rasanya saat mendapatkan jawaban dari Neha. Walaupun ia belum tentu bisa merawat bibit itu dengan benar.
Namun saat ini harapan itu saja sudah cukup membuat Rezi senang.
Rezi melepaskan pegangan tangannya dan membalikan badannya. Berjalan perlahan meninggalkan Neha.
Baru dua langkah menjauh, Rezi membalikan badannya dan kembali meraih sebelah pipi chubby Neha.
"Neha," panggil Rezi lembut.
Neha mengalihkan tatapan matanya, melihat Rezi dengan sedikit bingung.
"Aku mencintaimu," ucap Rezi lembut.
Neha menundukan pandangannya dan tersenyum lembut. Ada perasaan hangat yang menyelimuti hatinya saat mendengar pernyataan Rezi.
***
Rezi bersiul dengan menggendong tiga pot bibit yang di berikan Neha padanya, menaiki anak tangga rumah Sean.
Suasana hatinya menjadi senang tak menentu, Rezi terus tersenyum dan bersiul gembira.
Bahkan Rezi tidak menyadari saat berselisihan dengan Evgen di anak tangga.
"Kak Rezi kenapa sih?" Tanya Evgen sendiri.
Evgen mengerdikan bahunya dan kembali melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga.
"Jangan-jangan ada hubungannya sama Shenina?" Lirih Evgen sendiri.
"Dih ... Gawat!"
Evgen kembali menaiki anak tangga dan mengikuti Rezi ke kamarnya. Rezi membuka pintu balkon kamarnya dan meletakan tiga pot bibit itu dengan hati-hati.
"Ini rumah baru kalian, semoga kalian tumbuh subur disini," ucap Rezi kepada tiga pot bibit itu.
Evgen menyungging bibirnya, geli saat melihat Rezi bicara sendiri dengan pot bunga itu.
Rezi membalikan badannya, ia melihat Evgen yang berdiri diambang pintu balkon kamarnya.
"Kakak kenapa? otak Kakak terserang virus berbahaya ya?" Tanya Evgen heran.
Rezi melepaskan senyumnya dan menggeleng pasrah. Ia berjalan melewati Evgen dan meletakan ranselnya diatas kasur.
Merebahkan badannya yang sedikit lelah dan juga gembira. Rezi tersenyum lebar dengan langit-langit kamarnya.
__ADS_1
Evgen hanya tercengang, melihat Rezi yang semakin hari semakin gila saja tingkahnya.
Evgen beralih ke tiga pot kecil yang dibawa Rezi tadi. Memperhatikan bibit kecil yang belum jelas bentuknya itu.
"Sejak kapan Kak Rezi suka tanaman?" Tanya Evgen sendiri.
Evgen mengambil dua pot bibit itu, melihatnya dengan sedikit heran.
"Ini apa Kak?" Tanya Evgen dengan mengangkat dua pot kecil itu.
Rezi mengalihkan pandangan matanya, ia langsung terduduk saat Evgen memegang pot bibit miliknya.
"Evgen, letakan kembali. Nanti rusak lagi," ucap Rezi kesal.
Melihat amarah Rezi, Evgen semakin ingin menggoda Rezi.
"Halah, hanya sebuah bibit bunga saja. Kenapa harus marah?"
"Kakak bilang letakan!" Ancam Rezi dengan berjalan mendekat.
"Tidak mau, bilang dulu kenapa Kakak senang sekali hari ini?"
"Bukan apa-apa, cepat berikan pot itu sama Kakak." Rezi merebut pot itu dari tangan Evgen.
Evgen menghindari tangkapan Rezi dan mengangkat kedua pot dalam tangannya keatas. Perbedaan tinggi badan mereka, membuat tangan Rezi tidak dapat meraih kedua pot itu.
"Evgen, jangan nakal! Kakak bilang letakan!" Ancam Rezi kembali.
Rezi melompat, mencoba meraih pot itu. Namun karena Evgen mengelakannya, bukannya pot itu dapat ia rebut, malah bergoyang di ujung tangan Evgen.
"Evgen!" Bentak Rezi kesal.
Rezi jantungan saat melihat pot itu hampir jatuh dari ujung tangan Evgen.
Evgen menekuk wajahnya, melihat wajah Rezi yang memadam seketika. Evgen menurunkan potnya.
Rezi langsung merebut kedua pot itu dan memeluknya.
"Kenapa gara-gara pot saja Kakak jadi bentak aku?" Tanya Evgen ketus.
Rezi tidak mempedulikan pertanyaan Evgen. Rezi kembali meletakan kedua pot itu dan memandang bibit kecil yang ada didalamnya.
Ia menghela nafasnya dengan lega saat melihat bibit bunga itu tidak apa-apa.
"Syukurlah, bibitnya tidak kenapa-kenapa," ucap Rezi lega.
"Kakak!" Bentak Evgen keras.
"Aku ini adik Kakak, hanya karena pot bahkan Kakak gak peduli sama aku!" Teriak Evgen kesal.
__ADS_1
Ia benci sekali, saat Rezi mengacangi dia seperti ini.