Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 127


__ADS_3

Sean mengupas beberapa jenis buah, memotongnya ukuran dadu. Untuk memenuhi keinginan wanita yang saat ini duduk di sebelahnya.


Menonton film dalam layar tablet sambil memakan buah yang Sean potong dari tadi.


Sean mengumpulkan kulit buah yang berserakan di atas meja ruang tengahnya. Matanya teralih saat melihat isi piring tempat buah yang ia kupas tadi.


Dari tadi dia mengupas tak berhenti, namun dipiringnya hanya ada beberapa potong buah yang tersisa.


"Sayang." panggil Sean melihat Megi yang masih asyik menonton di layar tabletnya.


"Hem." jawab Megi tanpa mengalihkan perhatiannya, tangannya masih mengambil potongan buah di dalam piring Sean, tanpa rasa bersalah.


"Mau makan sop buah, atau makan buah?"


"Sop buah dong." jawab Megi spontan.


"Habis ini aku buatkan susu dan juga sirup, kamu minum ya." ucap Sean sedikit kesal.


"Kenapa?" tanya Megi menurunkan tablet di tangannya.


"Buah nya sudah habis kamu makan, jadi aku buati susu biar sop buahnya jadi di dalam perut kamu, gimana?"


"Ha ha ha. Mana mungkin."


"Apanya yang gak mungkin? sudah gak ada buah lagi di dalam lemari es."


"Yaudah, Kakak beli lagi ya, ya, ya." Megi melingkari bahu Sean dan menempel dengan manja.


Sean menghela nafasnya, melirik ke Megi dengan ujung matanya. Melepaskan pelukan tangan Megi di atas bahunya.


"Yasudah, aku ke depan dulu." ucap Sean mengalah.


Sean berjalan keluar dari rumahnya, menuruti semua keinginan wanita muda itu.


Sementara Megi kembali fokus pada tabletnya. Menonton drama di dalam layar datarnya itu.


"Sean, mana Dek?" tanya Mika yang baru datang dari pintu belakang rumah mereka.


"Keluar, Kak." jawab Megi tanpa menolehkan pandangannya.


"Mobilnya ada, kemana dia?"


"Cuma kedepan, cari buah."


"Oh." Mika meletakan sebuah amplop di meja depan Megi.


Megi mengalihkan perhatiannya ke amplop itu.


"Kasihin surat itu ke Sean. Kakak resign dari perusahaan."


"Kalau kakak mau resign, terus kakak mau kerja apa?" tanya Megi terkejut.


"Jangan bilang kakak mau kembali kerja di kapal?" sambung Megi menatap Mika nanar.


"Belum, kakak mau balik ke asrama lama, mau cari kerja sebagai pengajar disana."


"Terus, Aya sama Putra? kakak pindah?"


"Iya." jawab Mika lembut.


"Enggak!" Megi langsung bangkit dan memeluk Mika yang berdiri di sampingnya.

__ADS_1


"Gak boleh, kakak gak boleh pergi dari sini." teriak Megi keras.


"Kakak gak bisa kerja lagi di perusahaan, Dek. Kamu juga gak mau ikut kakak. Jadi seperti ini saja ya."


"Apa kakak gak bisa maafin kak Sean? bukan kak Sean yang salah, Kak." ucap Megi yang mulai menangis.


"Kakak gak tahu bagaimana bersikap sama dia, Dek. Terus terang kakak kecewa sama sikap dia."


"Aku gak mau pisah dari Kakak. Setelah kak Mirza, sekarang kakak mau ninggalin aku juga?" Megi semakin memecahkan tangisnya.


"Sudah ada Sean dan keluarganya yang gantikan kakak buat jaga kamu. Kamu pasti baik-baik saja."


"Aku gak mau kakak pindah, aku gak bisa pisah dari kakak." pinta Megi manja.


"Dulu kamu buka perusahaan sendiri di Shanghai bisa, kenapa sekarang gak bisa?"


"Itu beda kak, saat itu Beijing adalah kota yang penuh luka buat aku."


Mika tersenyum dan melepaskan pelukan Megi. Mengelus kepala Megi dengan lembut.


"Kakak akan mengunjungi kamu saat anak kamu lahir nanti. Kamu harus jaga keponakan kakak baik-baik ya." ucap Mika lembut.


"Aku gak mau, kakak gak boleh pergi!" tahan Megi keras.


"Kamu pisah dari Sean gak mau, kakak pergi juga gak mau. Ayolah Megi, Kakak butuh ruang untuk hidup dengan keluarga kakak sendiri."


"Memang aku bukan keluarga kakak? aku bukan keluarga kakak iya?" tanya Megi dengan menjatuhkan buliran air matanya dengan deras.


"Pertama Mama, setelah itu Mommy, Papa dan kak Mirza. Sekarang Kakak, kenapa semuanya pada ninggalin aku sendiri?" teriak Megi lantang.


"Kenapa semuanya mau pergi menjauh dari aku? segitu merepotkannya aku buat kalian? iya? iya kan kak?"


"Aku gak mau dengar alasan, kakak gak boleh pergi. Titik." teriak Megi.


"Ada apa Mika?" tanya Sean yang baru kembali dari toko buah.


"Gue mau resign dari perusahaan." jawab Mika.


"Serius?" tanya Sean lembut.


"Kakak, kakak harus bilang sama kak Mika. Kakak gak izini kak Mika resign." Megi berjalan menedekati Sean dan menarik-narik tangan Sean. Berusaha untuk membujuk Sean.


Sementara Sean hanya diam, ia meraih amplop cokelat yang di letakan Mika di atas mejanya.


"Lu udah pikiri ini matang-matang? tidak bisakah elu pikiri sekali lagi?" bujuk Sean lembut.


"Mau sepuluh atau seratus kali gue pikiri, gue tetap mau jauh dari elu, Sean."


"Oke, gue gak akan tahan elu buat resign. Tapi bisakah elu buat gak pindah dari rumah itu?" tanya Sean kembali.


"Gue gak mau berhutang budi sama elu, gue gak mau fasilitas dari elu lagi."


"Tapi rumah dan mobil juga atas nama elu Mika. Bukan punya gue lagi."


"Tetap saja, gue belum bayar apapun untuk itu kan."


Sean menghela nafasnya dan menarik badan Megi. Mendekapnya dengan satu tangan. Sementara Megi masih terus menangis semakin dalam.


"Kakak gak boleh biarin kak Mika pergi, kakak harus tahan kak Mika. Kalau gak, aku akan marah sama kakak." ucap Megi memecahkan tangisannya.


"Mika, bisa kita bicarain ini lagi? gue akan turuti apapun yang elu mau. Kecuali pisah dari Megi."

__ADS_1


"Gue gak mau apapun lagi dari elu Sean? selain rasa kecewa, gue gak mau terima apapun lagi itu dari elu."


"Kakak gak bisa kek gini!" teriak Megi lantang.


"Kakak gak bisa tinggalin aku, aku akan bilang sama Papa, kalau kakak gak jaga aku dengan baik nanti."


"Megi, tenang. Kendalikan emosimu." Sean mengelus pundak Megi, mencoba menenangkan Megi kembli.


"Kakak gak boleh pergi."


"Kamu maunya seperti apa, Dek? hah? kakak gak boleh pergi, Sean juga gak boleh pergi. Kamu mau kakak terus bergantung sama suamimu itu, biar suamimu itu bisa kecewain kakak terus?" tanya Mika ketus.


"Kakak ini laki-laki kan, Dek. Kakak juga harus mandiri, kakak harus bisa berdiri diatas kaki kakak sendiri."


"Aku gak minta kakak tetap kerja di perusahaan kak Sean. Tapi aku minta kakak untuk gak jauh dari aku."


"Kakak gak bisa dekat-dekat lagi sama kamu, kalau kamu masih menjadi istri Sean."


"Kenapa?" teriak Megi lantang.


"Karena kak Sean adalah kakak dari pembunuh aku? karena kak Sean harus satu darah sama pembunuh aku? apa darah itu kak Sean yang menentukan? apa masa lalu Rena itu kak Sean yang mengendalikan? enggak kan kak?!" teriak Megi kembali.


"Tolong lah, Kak. Mengerti, gak ada masa lalu dari orang lain itu yang baik-baik saja. Setiap orang melakukan kesalahan di masa lalunya, apa setiap orang bisa belajar dewasa tanpa sebuah kesalahan dalam hidupnya? bisa?" tanya Megi melunak.


"Apa kakak bisa belajar dewasa tanpa melakukan kesalahan?" teriak Megi keras.


"Megi, bicaralah dengan nada yang baik, dia kakakmu." tahan Sean lembut.


"Kak Mika harus mengerti kak. Rena melakukan itu juga karena kesalah pahaman, Rena juga sudah kakak masukan dalam penjara. Kita semua sudah baik-baik saja saat ini, kenapa masih di permasalahkan?"


"Kalau gitu kakak pamit, Dek." ucap Mika lembut.


"Kakak!" Megi menarik lengan tangan Mika, membalikan badan besar Mika secara paksa.


Satu tamparan menadarat di pipi Mika. Megi tak mampu lagi mengendalikan emosinya.


Sean menarik badan Megi dan memeluknya, menjauhkan dari Mika.


"Megi, sadarlah. Apa yang kamu lakukan?" tanya Sean menarik Megi menjauh.


"Yang harusnya sadar itu kak Mika. Aku berteriak agar kak Mika mau dengar dan memikirkannya. Bukan hanya diam dan pergi tiba-tiba." ucap Megi geram.


"Mika tolonglah." bujuk Sean yang mulai depresi dengan keadaan ini. "Gue mohon jangan pergi, demi Megi."


Mika tersenyum getir dan menggelengkan kepalanya.


"Demi Megi." lirih Mika geli.


"Demi Megi dan demi Megi lagi." kembali Mika berucap.


"Lu selalu bilang demi Megi. Lu tahu kelemahan gue di Megi, makanya elu selalu gunakan Megi untuk membujuk gue." ucap Mika geram.


"Tapi ini semua memang demi Megi, gue lakuin segalanya hanya untuk dia." jelas Sean.


"Terus apa demi Megi juga? Adik lu hanya di penjara satu tahun, sementara adik gue koma tiga bulan? apa demi Megi lu lakukan hal seperti itu, hah? terus gue harus percaya? konyol." balas Mika geram.


"Lu mau apa dari gue? gue akan tebus kesalahan adik gue."


"Kalau gitu, bisakah elu yang gantikan hukuman adik lu di penjara yang belum selesai? bisakah?" tantang Mika lembut.


"Baiklah." jawab Sean langsung.

__ADS_1


__ADS_2