Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
Episode 140


__ADS_3

Megi memainkan cangkir teh di hadapannya, pandangannya langsung teralih saat mendengar suara mobil memasuki perkarangan mereka.


Megi langsung berlari mendekati Mika saat melihat mobil Mika berhenti.


"Kak Mika." Megi berlari mendekati Mika yang baru turun dari mobil.


"Jangan lari-lari, Dek. Nanti kehamilan kamu kenapa-kenapa lagi." ucap Mika sambil mengelus pucuk kepala Megi.


"Kakak sudah bicara sama kak Mirza?" tanya Megi antusias.


"Sudah." jawab Mika sambil berjalan menuju balkon rumahnya.


Mika duduk di kursi depan balkon rumahnya dan melepaskan sepatunya.


"Terus bagaimana?"


Mika menghela nafasnya dan memandang Megi yang ikit duduk di hadapannya. Mika meraih pipi Megi dan mengelusnya.


"Sudahlah, gak perlu di paksa jika Mirza gak mau. Yang penting sekarang walaupun kita berjauhan, Mirza masih mau mengunjungi kita kan." jawab Mika lembut.


"Bukan seperti ini yang aku mau kakak." Megi menghempaskan tangan Mika dengan kuat.


"Mirza benar Megi, sebenarnya kakak dan Mirza juga gak bisa terus bergantung sama harta suami kamu."


"Kenapa kakak jadi ikut-ikutan kak Mirza?" tanya Megi kesal.


Mika tersenyum dan menghela nafasnya sedikit berat.


"Kamu ingat apa yang pernah kakak bilang sama kamu, saat kamu ingin pindah ke Shanghai dulu?" Mika tersenyum kecut, matanya memandang kosong kedepan.


"Kakak bilang sama kamu kan? kamu gak perlu kerja, kalau kamu gak mau nikah juga kakak yang tetap akan nafkahin kamu seumur hidup, Dek." Mika menggelengkan kepalanya dan kembali tersenyum pahit.


"Sekarang malah suami kamu yang nafakahin kami semua, Dek. Kakak malu, kakak ngerasa gak berguna jadi laki-laki."


Mendengar ucapan Mika, Megi memecahkan tangisannya, mengeluarkan suara dari tangisannya seperti seorang anak kecil.


Mika memalingkan pandangannya, melihat Megi yang menangis sambil mengusap matanya. Mika bangkit dan memeluk kepala Megi, membenamkan kepala Megi di dada bidangnya.


"Jangan bilang kakak mau kembali berlayar. Kakak itu yang harusnya jagain aku, kita sudah gak punya orang tua, kenapa masih mau terpisah-pisah?" tanya Megi memecahakan tangisannya.


"Cup, cup, Sayang. Iya kakak gak akan kemana-mana, kakak janji sama kamu." ucap Mika sambil mengelus kepala Megi.


"Kak Sean dan kedua orang tuanya itu lain lagi, buat aku keluarga kita ya tetap keluarga kita, kenapa kakak dan kak Mirza gak mau ngerti?"


"Iya kakak ngerti, kakak ngerti kok, Megi."


"Kalau ngerti gak boleh pindah, sampai tua juga gak boleh pindah. Tetap disini sama aku dan anak-anak aku."


"Iya, kakak gak pindah, sudah kan? jangan nangis lagi ya."


Megi melepaskan senyumnya dan menghapus buliran air matanya. Mika akan selalu lemah saat melihat Megi seperti ini, dari dulu Mika selalu menyanyangi Megi lebih dari apapun.

__ADS_1


Tapi kalau Mirza, Megi sama sekali tak tahu apa yang bisa membuat Mirza bertahan disini. Mirza mungkin gak akan luluh dengan cara Megi yang seperti ini.


"Kak."


"Hem."


"Bantu aku cari cara buat kak Mirza mau tinggal disini ya. Lagian kakak dan kak Mirza juga makan dari gaji kerja keras kalian, fasilitas ini juga masih biasa-biasa saja kan."


"Kakak gak tahu harus buat apa, coba kamu tanya Sean. Mungkin dia tahu bagaimana membuat Mirza untuk tetap tinggal."


"Oh, yasudah. Aku pulang dulu ya."


Megi dengan sedikit susah bangkit dari kursinya dan berjalan perlahan.


"Megi." panggil Mika lembut.


"Iya kak."


Mika berjalan mendekat dan memakainya penjepit rambut di kepala Megi.


"Kakak beli ini untuk Aya, tapi sepertinya lebih cocok kalau kamu yang pakai."


Megi tersenyum dan meraih penjempit rambut yang di pakaikan oleh Mika.


"Ini bentuk apa kak?" tanya Megi penasaran.


"Kupu-kupu."


"Karena nangis kamu lebih seperti anak kecil dari pada nangis Aya." jawab Mika sambil berlari masuk ke dalam rumah.


"Kakak!" panggil Megi lantang.


"Suara kamu sampai ke ujung gang loh, Megi." ucap Mirza yang baru turun dari mobilnya.


"Kakak, kakak, lihat kak Mika menganggu aku." adu Megi melas.


Mirza hanya tersenyum, mengelus pucuk kepala Megi dengan lembut.


"Nanti biar gue bilang sama Sean buat potong gaji dia ya."


"Kak Mika gak bakalan takut, kakak harus lindungi aku dari kak Mika ya."


"Kan ada Sean yang sudah bisa lindungi elu."


"Tapi kak Sean gak bisa menang dari kak Mika. Kak Mirza harus jagain aku dari kak Mika ya, kakak." ucap Megi manja sambil menarik ujung kemeja baju Mirza


"Megi, gue bukan kak Mika yang bisa luluh dengan akting melas elu." Mirza tersenyum dan memainkan kedua alis matanya.


Mirza berjalan masuk meninggalkan Megi di depan mobilnya. Megi menghela nafasnya dan menyilangkan kedua tangannya di dada. Ia tahu, Mirza bukan lelaki yang mudah di bohongi.


"Ah, aduh, ah." rintih Megi sambil memegangi perut besarnya.

__ADS_1


Mendengar suara Megi, Mirza memalingkan pandangannya dan mengangkat Megi kedalam. Mendudukan Megi di sofa ruang tengah.


"Megi, apa yang sakit?" tanya Mirza yang panik.


"Hati aku yang sakit." jawab Megi mengeryitkan dahinya.


Seketika Mirza langsung melepaskan tangannya dari tubuh Megi dan berdiri.


"Bohongi gue kan?" tanya Mirza sinis.


"Kak." tahan Megi saat Mirza ingin pergi.


"Kenapa kakak gak ingin disini? apa kakak masih benci sama aku?" Megi bangkit dan mengubah posisinya menjadi duduk.


"Kakak masih gak sanggup lihat wajah aku yang mirip banget sama Mama ya?"


"Bukan, bukan itu Megi."


"Jadi kenapa? aku masih ingat bagaimana pandangan kakak saat kakak ke Beijing dulu. Bahkan kakak seperti jijik walau hanya lihat wajah aku."


"Sebenarnya bukan begitu Megi, dulu, dulu itu ..."


"Aku gak peduli seperti apa dulu kakak memandang aku, aku gak peduli bagaimana dulu kakak memperlakukan aku. Buat aku sekarang kakak bukan lagi yang dulu."


Mirza tersenyum dan membenarkan letak jepit rambut Megi. Mengelus helaian rambut Megi yang berantakan.


"Meg, kakak banyak sekali berhutang sama elu, saat ini kakak belum bisa melunasi bahkan walau hanya secuil pun. Kakak gak mau hutang kakak gak akan bisa kakak tebus seumur hidup ini sama elu."


"Aku gak pernah merasa kakak ada hutang apapun sama aku. Jika kakak merasa berhutang sama aku, kalau kakak mau bayar hutang itu, aku hanya minta satu kak. Satu saja."


"Katakan."


"Bisakah kakak mencintai aku seperti kakak Mika mencintai aku? bisakah kakak menyanyangi aku seperti kak Mika menyanyangi aku?"


"Itu, gue akan berusaha Megi." jawab Mirza lembut.


"Kalau begitu, kak Mika gak akan pernah meninggalkan aku bagaimanapun keadaan aku. Kak Mika melindungi aku walau dengan nyawanya. Kalau kakak mau belajar mencintai aku seperti kak Mika mencintaiku, mulailah dari jangan meninggalkan aku lagi."


Sejenak Mirza terdiam, ia tak tahu harus berkata apa. Pikirannya berperang sendiri. Mirza duduk di sebelah Megi, mengelus rambut Megi dan menjatuhkan kepala Megi di dada bidangnya.


"Meg, ada luka yang terus tersayat saat gue lihat elu tersenyum. Gue gak tahu kenapa, mungkin karena gue lihat wajah elu seperti Mama."


"Aku tahu, aku tahu. Gak seharusnya aku merebut Mama dari kakak dan kak Mika. Andai Mama gak melahirkan aku, andai Mama gak hamil aku. Mungkin aku gak akan pernah merenggut apapun dari kakak dan Papa."


Mirza menghela nafasnya dan mengelus rambut Megi dengan lembut, tak ada gunanya lagi mengingat hal itu. Apapun yang mau dilakukan, Mamanya juga gak akan pernah kembali lagi.


"Sudahlah, bukan salahmu. Sudah waktunya Mama pergi dari kita semua. Gue akan berusaha untuk menepati janji yang pernah gue ucapin sama Mama dulu, gue akan disini sama elu dan juga anak-anak lu."


"Kakak serius?" tanya Megi senang.


"Iya."

__ADS_1


"Makasih." Megi memeluk badan Mirza erat.


__ADS_2