Tentang Kita 1 & 2

Tentang Kita 1 & 2
84


__ADS_3

Neha mengetik layar ponselnya dengan cepat. Ia sedikit kesal dengan pernyataan Chen.


(Kamu salah, aku yang menyuruh Rezi untuk menemui Soraya. Tolong Chen, jangan bawa aku dan Rezi dalam ricuhnya hubungan kalian).


"Maksud kamu?" tanya Chen bingung.


Ia sama sekali tidak paham apa maksud perkataan Neha. Kenapa sekarang Neha malah memarahi ia?


(Aku yang meminta Rezi untuk menghibur Soraya yang patah hati saat melihat kamu dan Ruby berciuman).


"Ciuman?" ucap Chen terkejut.


"Tapi aku--" Chen menggaruk sudut dahinya, ia kembali mengingat kejadian pagi tadi.


Chen mengusap wajahnya dan berlari keluar dari taman bunga milik Neha.


"Mati gue, kenapa keadaannya jadi rumit begini?"


Chen melajukan mobilnya kencang, kembali menuju rumah Soraya.


Chen mengetuk pintu rumah milik Mika dengan sedikit memburu. Tak lama, Mika keluar dari balik daun pintu.


"Siang Om," sapa Chen ramah.


"Siang," balas Mika datar.


"Maaf mengganggu Om, tapi Soraya ada?" tanya Chen kembali.


"Soraya, sepertinya dia keluar, baru saja."


"Eh ... kalau boleh saya tahu, dia kemana ya Om?"


"Saya kurang tahu, coba kamu telepon saja," jawab Mika datar.


Chen tersenyum dan menghela napasnya. Ia mengacak rambutnya sendiri.


"Kalau gitu saya pamit ya, Om."


"Gak mau masuk dulu?" tanya Mika basa-basi.


"Gak Om, saya cari Soraya di taman saja. Mungkin bisa ketemu."


"Coba saja, kalau begitu hati-hati."


"Terima kasih, Om. Saya permisi," ucap Chen berlalu pergi.


Chen berjalan dengan sedikit gontai, kembali menuju mobilnya. Sementara Rezi sudah menunggu Chen di sebelah mobil hitam miliknya.


"Chen, lama tidak bertemu," ucap Rezi basa-basi.

__ADS_1


"Apa kabar, Pak?" tanya Chen datar.


"Jangan basa-basi, kita lama tidak bertemu. Dan aku rasa kamu tahu, kenapa aku berdiri di sini. Biasa saja Chen, kita tidak lagi di kampus," ucap Rezi sedikit menekan.


"Apa kamu tahu Soraya di mana?" tanya Chen malas.


"Kenapa? Apa ada sesuatu yang perlu dijelaskan lagi?" tanya Rezi sengit.


"Ini pribadi aku dan Soraya. Rezi, aku tidak ingin berbasa-basi," jawab Chen ketus.


"Tak perlu basa-basi, jika kamu suka Soraya. Aku mohon jangan pernah lukai dia lagi. Karena dia bukan hanya sepupu aku, tapi juga sahabat yang paling dekat. Jadi Chen--" Rezi menggangtungkan kalimatnya dan menepuk sebelah bahu Chen dengan sedikit keras.


"Mohon, jaga dan lindungi dia," ucap Rezi sambil berjalan masuk kedalam rumahnya.


Chen mamandang kearah Rezi, ia kembali menghela napasnya.


"Siapa juga yang ingin menyakiti dia, Rezi. Soraya, adalah harapan baru yang selalu gue jaga."


***


Soraya duduk sambil memainkan kakinya diatas paving taman. Mengusir rasa sakit hati dan juga perasaan sesak dalam dadanya.


Sepasang sepatu hitam berdiri tepat di hadapan Soraya. Ia mendongakan kepalanya, melihat lelaki pemilik sepasang sepatu tersebut.


Ari, berlutut di depan Soraya. Mencoba meraih kedua jemari Aya, namun lebih dulu Soraya memindahkannya.


"Soraya, aku minta maaf ya," ucap Ari lembut.


"Soraya, aku tahu. Selama tiga tahun ini aku selalu menyakitimu. Aku egois dan aku tidak berusaha untuk mengerti isi hatimu. Tapi Soraya, percayalah. Selama tiga tahun ini pula, aku tidak permah benar-benar memacari wanita lain, aku pikir setelah kita putus. Aku bisa melupakanmu, tapi aku salah, aku terus berada dalam angan tentangmu," bujuk Ari lembut.


"Sudahlah Ari, aku dan kamu. Kita, tidak lagi mungkin bersama!"


Soraya bangkit dan berjalan melewati Ari. Satu tangan Ari meraih pergelangan tangan Soraya. Menghentikan langkah kaki Soraya.


"Tunggu, Aya. Jangan pergi, kembalilah kesini. Kedalam pelukanku," bujuk Ari lembut.


"Lepas!" Soraya menghempaskan tangannya, kembali melanjutkan langkahnya.


Namun baru dua langkah berjalan, ia kembali berhenti saat Chen mendekati dirinya.


Soraya menghela napasnya, muak sekali rasanya berada dalam posisi ini. Di sana ada Ari, dan di depan ada Chen.


"Aya, gue bisa jelasin. Elu hanya salah paham, Soraya," ucap Chen lembut.


"Gue gak butuh penjelasn, gue sudah cukup melihat semuanya Chen. Jadi gue mohon, jangan dekati gue lagi," ucap Soraya jutek.


"Soraya, gue dan Ruby, kami gak melakukan itu. Ruby hanya berusaha mendekati gue, tapi sumpah Soraya, gue menahan Ruby agar tidak mencium gue?" jelas Chen lembut.


"Kenapa? Lu pkir gue percaya? Lelaki mana yang menolak sebuah ciuman dari wanita cantik. Bahkan Ari saja rela menyakiti hati gue untuk itu, benarkan Ari?" tanya Soraya memalingkan wajahnya ke Ari.

__ADS_1


"Aya kamu salah. Aku tidak pernah benar-benar pacaran sama wanita lain. Aku melakukan itu hanya karena aku ingin kamu cemburu padaku," ucap Ari menjelaskan.


"Terus elu? Kenapa elu mau melakukan itu Chen?"


"Soraya, gue sudah bilangkan, gue gak pernah mencium dia. Gue bahkan menahan dia agar tidak menyentuh gue. Itu semua karena gue ingin menjaga elu, Soraya. Gue ingin menjaga hati elu," jawab Chen parau.


Soraya tersenyum kecut dan menggelengkan kepalanya.


"Terus elu pikir gue akan percaya begitu saja? Ayolah Chen, gue juga tidak senaif itu."


"Soraya, kasih aku kesempatan. Aku berjanji akan melakukan yang terbaik untukmu," bujuk Ari lembut


Soraya menangkupkan tangannya di depan dahi dan kembali terduduk di kursi taman. Ia menghela napasnya dengan berat.


Kenapa semuanya menjadi semakin rumit saja? Siapa yang mau berada diantara dua lelaki seperti ini.


Ari kembali berlutut di hadapan Soraya. Mengambil kedua jemari Soraya dan mengenggamnya erat.


"Soraya, sekali saja. Sekali saja kamu beri aku kesempatan, maka akan ku tebus semua kesalahan yang pernah aku lakukan untuk melukai hatimu," bujuk Ari kembali.


Soraya menatap wajah Ari dengan lekat dan dalam. Bagaimana juga, ia lebih lama mengenal Ari di bandingkan Chen.


Ari tak pernah seserius ini sebelumnya, sementara Chen. Ia bahkan tidak tahu mana yang serius dan mana yang bukan.


Soraya kembali menatap kearah Chen, Chen tersenyum pahit dan menundukan pandangannya.


'Kenapa, Chen? Kenapa elu tidak berusaha menjelaskannya sekali lagi? Meyakinkan hati gue agar tidak berpaling pada Ari. Sekali lagi saja Chen, jika elu menahan gue, maka gue akan berlari kepelukan elu,' lirih Soraya dalam hati.


"Soraya," panggil Ari lembut.


Soraya kembali menatap kearah Chen, Chen masih diam terpaku. Tak mengatakan apapun lagi dari bibirnya.


"Soraya kamu mau maafin aku kan?" tanya Ari kembali.


Kembali Soraya menatap kearah Chen, berharap Chen akan menahannya untuk pergi.


'Gue mohon Chen, katakan sesuatu, katakan sesuatu agar gue tidak pergi,' pinta Soraya dalam hati.


Soraya mengernyitkan dahinya, ia berharap bahwa Chen akan menahannya. Namun sepertinya percuma, Chen hanya diam tanpa suara.


Soraya mengambil uluran tangan Ari, berjalan meninggalkan Chen yang masih memandanginya berjalan menjauh.


"Aya, yakinkah pilihan elu itu dia?" tanya Chen kembali.


Soraya menghentikan langkahnya, berharap bahwa Chen akan kembali menghentikan ia.


Chen menutup kedua belah matanya, mencoba menahan agar buliran air yang ia tahan tidak akan jatuh di hadapan Soraya.


"Aya, jika elu memang memilih kembali padanya. Maka gue akan menyerah," ucap Chen pahit.

__ADS_1


Satu air mata luruh dari bola mata indah milik Soraya. Bukan ini yang ia harapkan, namun kenapa, Chen tidak ingin berjuang menahannya agar tetap bisa bersama?


'Kenapa? Hanya begini saja, akhir dari kisah kita yang sempat indah, Chen?'


__ADS_2