
Evgen menumpuhkan sebelah bahunya di ujung pilar restoran mewah hotel milik Papanya.
Menatap Shenina yang sibuk mondar-mandir dengan nampan di tangannya. Bekerja keras di restoran mewah itu.
Evgen berjalan mendekati salah satu meja pelanggan di sana, saat Shenina selesai mengantarkan pesanan. Evgen berdiri menghalangi badan mungil gadis manis itu.
Shenina menatap wajah angkuh lelaki tampan itu. Dengan sedikit malas, Shenina bergeser ke kiri dua langkah.
Namun kembali Evgen menghadang langkah Shenina. Gadis itu kembali berjalan kearah berlawanan. Kembali badan besar lelaki itu menghadang.
"Evgen elu apa-apaan sih? Gue lagi kerja tahu," ucap Shenina geram.
"Tahu, gue dari tadi ngelihati elu mondar-mandir kesana-sini," jawab Evgen dengan menyeringai kuda.
"Terus kalau tahu, kenapa masih gangguin gue?" tanya Shenina ketus.
"Elu kerja terus, gak lelah apa? Ke rooftop yuk, istirahat sebentar."
"Ogah! Yang lain juga pada kerja, gue gak mau di bilang aji mumpung," jawab Shenina dingin.
"Siapa yang berani bilangi elu begitu? Bilang sama gue, berani dia ngatain wanita gue begitu? Bosan hidup apa?"
"Tunggu dulu, lu bilang apa tadi?" tanya Shenina ketus.
"Wanita gue? Hello ... Evgen, kita sudah putus ya. Elu lupa?" sambung Shenina ketus.
"Tapi gue kan udah bilang kita balikan," jawab Evgen lembut.
"Tapi gue kan gak mau!" sanggah Shenina ketus.
"Yang penting gue sudah bilang balikan, elu mau atau enggak. Ya ... pokoknya kita tetap balikan," ucap Evgen tak mau kalah.
Shenina menyungingkan bibirnya, lucu dan juga geli melihat tingkah angkuh lelaki di depannya itu.
"Sorry, gue gak ada waktu buat pacaran sama elu."
"Yasudah, kalau gitu nikah saja sama gue. Jadi elu ada waktu terus bareng sama gue?"
"Apa? Evgen, gue masih waras! Gue gak mau nikah sama lelaki seperti elu, angkuh, sombong, belagu lagi!" ucap Shenina jutek.
"Kalau gue bilang nikah ya nikah. Pokoknya elu harus nikah sama gue, awas saja kalau elu berani nikah sama orang lain,"
"Lu ngancem gue? Emang kalau gue mau nikah sama orang lain apa urusan elu?"
"Urusan gue dong! Elu kan wanita gue!"
"Haduh, laki-laki ini semakin tidak waras." Shenina menggelengkan kepalanya.
Berjalan meninggalkan Evgen, namun Evgen kembali menghadang langkahnya.
"Heh, Shenina. Elu lihat saja nanti, cepat atau lambat, gue akan takhlukin kembali hati elu," ucap Evgen angkuh.
__ADS_1
Sementara mata Shenina terus terfokus pada lelaki yang berdiri di belakang Evgen. Tersenyum lembut, namun sorot matanya terlihat sangat tajam.
Melihat pandangan mata Shenina, Evgen memalingkan kepalanya. Melihat apa yang menjadikan pandangan gadis itu terpaku begitu.
"Eh ... Papa," ucap Evgen saat melihat Sean berdiri di belakangnya.
"Papa apa kabar?" tanya Evgen sambil mengelus kemeja depan Sean.
"Kamu lupa ya? Kalau Papa masih tinggal bareng kamu?" tanya Sean dingin.
"Mana mungkin lupa, kan tadi pagi kita masih sarapan bersama,"
"Terus kenapa basa-basi?" tanya Sean sambil menaikan sebelah alis matanya.
"Itu, em, itu, Pa--" Evgen memutar bola matanya, mencari ide untuk mengelabui lelaki dewasa yang ada di hadapannya itu.
"Permisi, Pak" ucap Shenina berniat pergi.
Evgen menarik kerah belakang seragam Shenina, menahan agar wanita mungil itu tidak pergi dari situ.
"Evgen, kenapa kamu tarik dia?" tanya Sean ketus.
"Itu, em ... Papa kan tahu aku mau lanjut kuliah di luar. Nilai Matematika aku pas-pasan kan, Pa. Jadi mau minta ajarin sama dia, benarkan Shenina," jawab Evgen menyeringai lebar.
"Kalau kamu memang kesulitan belajar, Papa akan carikan guru private buat kamu."
"Eh ... gak perlu lah Pa. Kadang guru private itu suka keliru. Kan mereka gak paham pelajaran aku, kalau Shenina dan aku kan satu sekolah, tugasnya juga kadang sama. Akan lebih mudah kalau diajari sama dia," jawab Evgen ngeles.
Sean menaikan sebelah alis matanya, ia sama sekali tak percaya oleh ucapan putranya itu.
"Alasan klasik. Kamu pikir Papa percaya?"
"Kenapa gak percaya?" tanya Evgen ketus.
"Ini akal-akalan kamu saja kan, biar bisa gangguin teman kamu?" tanya Sean ketus.
"Mana ada! Lihat, aku bawa buku pelajaran ini." Evgen melepaskan ranselnya dan mengeluarkan beberapa buku dari dalam ransel hitamnya.
Sean menghela napasnya dengan berat. Matanya teralih pada gadis kecil yang sudah mulai banjir keringat itu.
"Kamu, bisa ajari anak saya?" tanya Sean lembut.
"Ya tentu bisa lah, Pa. Benarkan Shenina?" rangkul Evgen di bahu mungil Shenina.
Sean menatap tajam kearah putranya itu, tak suka jika pertanyaan yang ia berikan dicela.
Evgen melepaskan tangannya pada bahu Sehina. Shenina hanya tertunduk, tak berani menatap wajah lelaki dewasa itu.
"Kamu bersedia ajari dia? Kalau kamu mau, saya akan berikan bonus untuk ilmu yang kamu ajarkan, dan tetap memberikan gaji kamu sebagai waiters di sini," ucap Sean lembut.
Shenina menatap ke wajah Evgen dengan lekat. Sementara Evgen terus tersenyum sambil memainkan kedua alis matanya. Merasa menang di atas Shenina.
__ADS_1
"Baik, Pak," jawab Shenina lembut.
"Yasudah kalau begitu, kalain bisa belajar di rooftop. Di sana lebih tenang dari pada di sini."
"Ayo Shen!" Rangkul Evgen di bahu sempit Shenina.
Shenina mengikuti langkah kaki Evgen yang terus menariknya menuju lift hotel mewah itu.
Sean tersenyum simpul, menggelengkan kepalanya saat melihat ulah putranya yang suka melakukan seribu cara untuk wanita yang ia sukai.
"Semoga kamu tidak akan mengalami kekecewaan seperti Papa, Evgen. Kecewa karena orang yang sekuat tenaga kamu perjuangi," lirih Sean saat melihat putranya itu menghilang tertutup pintu lift.
***
Evgen menumpuhkan dagu di atas kepalan tangannya. Ia bosan mendengarkan penjelasan Shenina tentang pelajaran itu.
Sebenarnya itu hanya alasan dia untuk mendekati Shenina kembali. Namun siapa sangka, Sean malah menyuruhnya belajar sungguhan.
"Evgen!" teriak Shenina keras.
"Apa?" tanya Evgen malas.
"Elu denger gak sih apa yang gue jelasin sama elu?"
"Dengar," jawab Evgen lembut.
"Kalau gitu tunggu apa lagi? Buat lah tugas elu itu. Kalau elu malas-malasan, akan gue aduin sama Papa elu," ancam Shenina ketus.
Evgen hanya menganggukan kepalanya, menarik buku dan mulai mengerjai tugas matematikanya.
Sebenarnya ia bukan anak yang bodoh, ia bahkan bisa mengerjakan tugas itu tanpa bantuan Shenina.
Siapa sangka ia malah benar-benar harus belajar dengan gadis ini.
Beberapa kali mulut Shenina menguap dengan lebar. Bosan dan juga lelah, Shenina melipat kedua tangannya di atas meja.
Meletakan kepalanya dan memejamkan mata lelahnya sambil menunggu Evgen selesai mengerjakan tugasnya.
Perlahan, Shenina mulai lelap dalam tidurnya. Bagaimana juga, ia kelelahan karena bekerja dan juga sekolah.
Belajar sekaligus menjadi tulang punggung untuk adik semata wayangnnya.
Evgen membereskan buku-buku pelajarannya. Meletakan kepalanya di atas meja. Memandangi wajah gadis manis yang sedang terlelap itu.
Semilir angin senja mulai berhembus dengan kencang. Membawa Shenina semakin masuk kedalam alam mimpinya.
Evgen membuka kemejanya dan menyelimuti punggung badan Shenina. Kembali menatap wajah gadis itu yang kembali sadar karena tersentuh olehnya.
Wajah Shenina memerah, saat matanya bertautan dengan binar jernih lelaki itu, di pertama kali ia membuka mata.
Evgen tersenyum dengan lembut, menyentuh pucuk kepala Shenina dengan lembut.
__ADS_1
"Sudah gue putuskan, Shenina. Kalau elu akan jadi pacar gue. Dan gue tidak menerima penolakan," ucap Evgen angkuh.
"Hah?"