
"Kenapa lu lihatin gue gitu banget, Sean? serem gue jadinya."
Sean tersenyum dan berjalan mendekati Mika. Merangkul bahu Mika dengan lembut.
"Mik, ikut gue yuk." ajak Sean sambil memainkan kedua alis matanya.
"Kemana? kok perasaan gue gak enak ya." ucap Mika sinis.
"Udah ikut aja, ayuk." tarik Sean pada bahu Mika.
"Eh ... Tunggu dulu." tahan Mika cepat.
"Kenapa?"
"Anak, bini gue masa mau di tinggal?"
"Ada mbok Siti kan di dalam?"
"Ada lagi beres-beres sama Irena." jawab Mika datar.
"Udah, mbok Siti bisa jaga anak sama bini lu. Dia jagain gue sama Rena aja bisa." tarik Sean cepat.
"Eh ... Irena ... Mas pergi! di culik Sean ya." teriak Mika lantang.
Dengan cepat Sean membuka pintu mobilnya dan measukan Mika ke dalam jok mobilnya.
Mengendarai mobilnya mengelilingi kota. Mika menumpuhkan tangannya di atas kepalan tangannya dan melihat ke luar jendela mobil.
Entah kemana arah Sean pergi, sedari tadi ia hanya mutar-mutar gak jelas di pusat kota.
"Eh Sean, lu mau kemana sebenarnya?" tanya Mika yang mulai bosan.
"Gue laper, tapi gue bingung mau makan apa?"
"Laper?" tanya Mika geram. "Lu cuma laper, tapi lu bawa gue muter-muter di kota selama hampir satu jam setengah?" tanya Mika membara.
Sean hanya tersenyum, menampilkan jejeran giginya. Memandang wajah Mika polos tanpa dosa.
"Ah, ya Tuhan." Mika menjatuhkan kepalanya di atas jok mobil. Menutupi dahinya dengan telapak tangannya.
"Irena lagi repot, Bro. Lu ngajakin gue muter-muter gak jelas?" ucap Mika semakin geram
"Udahlah Mik, lu diem aja disitu. Gue udah nemuin tempatnya."
Sean memasuki parkiran restoran cepat saji. Saat turun dari mobil Sean, Mika kembali memaki geram.
Tangan Mika dengan cepat mencengkram batang leher Sean.
"Aduh, Mika. Lu mau adik lu jadi janda?" ucap Sean menahan kitingan tangan Sean.
"Main-main lu sama gue ya. Jarak cafe ini sama rumah kita cuma di ujung jalan. Tapi lu ngabisin waktu satu setengah jam untuk bisa kesini?" geram Mika sambil menguatkan cengkramannya.
"Mika ... Gue, beneran mau mati." lirih Sean terbata.
Mika melepaskan cengkaraman tangannya, sedikit terbatuk Sean mengambil nafasnya yang sempat tersengal oleh tangan kekar Mika.
"Bener-bener lu, Sean. Ngajakin berantem." Mika menendang tulang kaki Sean dengan keras.
"Auwww." rintih Sean saat kakinya di tendang keras oleh Mika.
Mika berjalan perlahan memasuki perkarang cafe.
"Kalau Megi tahu suami tercintanya di siksa, dia pasti akan murka." ucap Sean mengejar langkah Mika.
"Sejak kenal sama Megi, absurd banget memang tingkah elu. Makin-makin aja gue lihat elu, Sean." celoteh Mika geram.
__ADS_1
"Habisnya gimana? gue suntuk. Mau kerja juga gak bisa kerja." jawab Sean pasrah.
"Kenapa? Megi sama Rezi gangguin elu?" tanya Mika cuek.
"Enggak, Rezi di bawa Papa gue. Megi udah tidur lelap."
"Jadi kenapa juga? biasa lu gak bisa hidup tanpa kerjaan."
"Gak tahu, gue gak bisa fokus saat lihat wajah tidur Megi."
Seketika langkah Mika terhenti saat mendengar pernyataan Sean. Mika melirik kearah Sean dan tersenyum dengan sinis. Mika menyikut dada Sean dengan sedikit keras.
"Lu malam ini di tolak Megi ya?" tanya Mika sambil tersenyum sinis.
"Ya ... Ya, itu gak mungkinlah." sanggah Sean keras.
"Ah yang bener?" goda Mika dengan memainkan kedua alis.
"Ya bener lah. Megi kan cinta mati sama gue, mana mungkin dia nolak gue." bela Sean, tak ingin malu.
"Jadi kenapa tingkah dan ekspresi lu aneh banget malam ini?" tanya Mika memainkan kembali kedua alis matanya.
"Ah sudah, ayo duduk." Sean menarik salah satu kursi dan langsung meminta menu makanan.
Mika tersenyum dan menarik kursi yang bersebarang dengan Mika. Memandangi wajah Sean yang mulai memerah karena malu.
"Ah ... Sean Rayen Putra, yang tak pernah menerima penolakan, akhirnya merasakan bagaimana tidak di butuhkan." ledek Mika sambil melihat menu makanan.
Sean menutup catalog menu makanannya dan memukul Mika.
"Sialan lu, gue gak di tolak." sanggah Sean keras.
"Gak di tolak, cuma gak boleh saja. Iya kan." goda Mika kembali.
"Lu, itu, is." Sean kehilangan kata-katanya untuk melawan Mika.
"Ha ha ha, ya Tuhan. Megi cinta mati sama elu, apa elu yang cinta mati sama Megi?" ledek Mika kembali.
"Bukan gue yang di tolak, tapi gue memang gak mau. Gue nahan diri karena Megi lagi hamil."
"Apa hubungannya?" tanya Mika kembali.
"Ya adalah, gimana kalau janinnya kenapa-kenapa?" tanya Sean ketus.
"Sean lu lupa kalau anak gue udah dua?"
"Ya gue sama elu itu kan beda." jawab Sean meradang.
"Jadi maksud elu gue gak lebih jantan dari elu gitu?" tanya Mika meledek. "Kalau gue gak tangguh, mana mungkin anak gue udah dua, nah elu, satu saja masih proses mau. Ha ha ha." kembali Mika tertawa dengan keras.
Sean mengangkat tangannya, memangil pelayan yang sedang berada di dekat meja kasir. Memesan beberapa makanan untuk mengisi perutnya.
Ia sudah kalah malu oleh sahabat karibnya itu, harus bisa cari cara agar Mika mau mengubah pembicaran mereka.
"Tapi bagus juga sih kalau elu nahan diri." ucap Mika kembali.
"Kenapa?" tanya Sean sengit.
"Kalau kebanyakan anaknya tercampur cairan baru dari elu, bisa sama gilanya anak elu sama Papanya. Ha ha ha." kembali Mika tertawa dengan sangat keras.
"Sialan lu ya Mika. Gue pulang aja lah."
"Eh ..." tahan Mika cepat. "Seperti anak perawan saja lu, dikit-dikit ngambek, pulang."
"Pembahasannya gak asyik." jawab Sean merajuk.
__ADS_1
"Tapi buat gue ini asyik banget kok." ledek Mika kembali.
Sean hanya melemparkan pandangannya kearah Mika. Menatap Mika dengan tatapan sinis.
"Baiklah, ayo duduk lagi. Aku gak akan membahas apapun lagi." ucap Mika mengalah.
Sean kembali duduk dan menghela nafasnya. Tak lama berselang makanan yang mereka pesan tersaji di atas meja.
"Kalau Megi tahu elu makan makanan junk food seperti ini. Apa dia gak marah?" tanya Mika saat melihat beberapa pesanan mereka di atas meja.
"Megi sering juga kok, makan kesini."
"Masa sih?" tanya Mika tak percaya. "Dulu di China, Megi selalu marah saat gue makan junk food di luar."
"Itu kan elu, kalau gue beda. Megi mana berani marah sama gue." jawab Sean angkuh.
"Cuma berani buat nolak aja ya. Ha ha ha." kembali Mika tertawa.
Sean mulai menggeretakan rahangnya karena sangat geram oleh ledekan Mika.
"Mik, kalau lu gak diem Gue sumpel ini ayam ke mulut lu." ucap Sean geram.
"Oke, oke. Diam." Mika tersenyum dan mulai memakan pesanannya dengan santai.
Sean memperhatikan wajah Mika yang sedang makan di depannya. Wajah Mika tampak lelah dan juga selalu sendu, apa ini juga karena pengaruh Mirza.
"Mik."
"Hem." jawab Mika cuek.
"Minggu lalu saat gue dan adik lu ke barat kota. Kami jumpa sama Mirza." ucap Sean hati-hati.
Mika langsung melirik kearah Sean, mulutnya berhenti mengunyah makanannya. Tak lama ia kembali tersadar dan memasukan kembali makanan di tangannya kedalam mulut.
"Terus?" tanya Mika cuek.
"Adik lu minta gue, buat nyariin kakaknya." jawab Sean lembut.
"Cari saja, kalau kalian mau cari."
"Lu, gak kangen sama adik lu, Mik? wajah Mirza ..."
"Adik gue, ya bini elu. Gue tetap kangen sama dia walaupun kita tinggal bersebelahan." putus Mika langsung.
"Lu masih marah sama Mirza, Mik?" tanya Sean bingung.
Mika hanya memandang Sean dengan datar, dan mengunyah makanannya dengan santai.
"Dia masih adik lu, Mika. Lu gak ingin sama-sama lagi?"
"Adik gue cuma Megi. Gue gak punya adik yang lain." jawab Mika garang.
Sean menghela nafasnya dan kembali memakan isi di dalam piringnya.
"Mik, Mirza juga berhak mendapatkan kesempatan buat berubah." bujuk Sean lembut.
"Buat gue dia sudah lama mati. Gak ada orang mati yang bisa hidup lagi." jawab Mika datar.
"Tapi Mika, hubungan di antara kalian itu tidak pernah putus walaupun Mirza mati sekalipun."
Mika melirik kearah Sean, dan membanting ayam yang sedang ia pegang keatas piringnya.
"Kalau lu bawa gue kesini buat bahas dia, sorry Sob. Anak gue lebih butuh perhatian gue, dari pada dia." Mika bangkit dan meraih tisu di atas meja. Meninggalkan meja mereka berdua perlahan.
"Mau sampai kapan elu begini, Mik? kita sudah bukan bocah lagi, haruskah dendam masa lalu di bawa ke masa depan?"
__ADS_1
"Apa?" Mika menghentikan langkahnya dan berbalik ke hadapan Sean.
"Lu bilang apa barusan?" tanya Mika sengit.