
"Kakak!" Teriak Evgen sekali lagi.
Ia benar-benar kesal saat Rezi sama sekali tidak mempedulikannya.
"Apa sih Dek?" Rezi memalingkan pandangannya kearah Evgen.
"Aku kesal, kenapa Kakak cuekin aku?" Tanya Evgen menyilangkan tangannya didepan dada.
"Kakak gak cuekin kamu, Kakak hanya lagi lihat bibit bunga Kakak," jawab Rezi lembut.
"Mau Kakak lihatin sampai dua minggu juga gak bakalan tumbuh itu bibit. Siram dan kasih sinar matahari, biar terjadinya fotosintesis. Jadi bisa hidup bibitnya, memang kalau kakak lihatin dia, bisa buat dia kenyang?" Ucap Evgen ketus.
Rezi melirik kearah Evgen, ia memang tidak paham soal tanaman. Selama ini ia tidak terlalu peduli pada hal yang lain, selain komputer.
"Lagian sejak kapan Kakak suka tanaman? biasa Kakak sukanya Virus dan juga jaringan,"
Rezi mengelus kedua dengkulnya dan bangkit perlahan. Ia berjalan mendekati Evgen dan duduk di kursi balkon kamar.
"Mulai saat ini," jawab Rezi lembut.
Evgen tersenyum tipis dan ikut duduk disebelah Rezi.
"Memang bibit itu dari siapa Kak? dari pacar Kakak ya?" Tanya Evgen penasaran.
"Bukan, masih teman," jawab Rezi mengelak.
"Hah, masih ya? berarti ada kemungkinan Kakak naksir ya?" ledek Evgen.
Rezi mengubah posisi duduknya, ia menggaruk tengkuk lehernya. Menjadi salah tingkah.
"Lagian, kenapa kasihnya bibit bunga sih? merepotkan saja," ucap Evgen malas.
Rezi tersenyum tipis, memandangi pot bunga itu. Terbayang wajah cantik Neha yang sedang menyuapinya makanan.
Rezi menggelengkan kepalanya dan menumpuhkan dagunya diatas kepalan tangan. Matanya menatap kosong kedepan, mengawan jauh dalam khayalan.
"Kamu gak tahu, Dek. Terkadang di repotkan seseorang itu sungguh menyenangkan."
Evgen tercengang, ia melongo saat mendengar ucapan Rezi. Ia hampir tidak percaya, bahwa yang saat ini duduk disebelahnya beneran Rezi atau setan yang sedang jatuh cinta.
Rezi tersenyum dan mengusap wajahnya, ia benar-benar gila dibuat si gadis cantik itu.
"Sudahlah, Kakak mau istirahat. Kamu tutup pintu saat keluar ya." Rezi bangkit dari duduknya dan menaiki kasurnya.
Evgen hanya bisa terheran-heran saat melihat tingkah Rezi yang seperti itu.
Evgen berjalan kedepan pot itu dan melihat bibit bunga itu lagi.
"Apa ada sihir ya dalam pot ini?" Tanya Evgen sendiri.
Evgen mengerdikan bahunya, merinding sendiri saat memikirkan hal itu.
"Apa jangan-jangan pot ini dari Shenina?"
Evgen memandangi tiga pot yang berjejeran itu. Dalam bayangannya, pot itu seperti mengejek-ngejek dirinya.
Mengatakan bahwa Shenina telah memberikan sinyal kepada Rezi. Seketika Evgen kesal sendiri, ia menendang salah satu pot itu hingga jatuh.
Evgen tersentak, ia melihat sebagian tanah itu keluar dari dalam potnya. Ia melihat kearah Rezi, dan langsung kabur sebelum Rezi menyadarinya.
Evgen membuka pintu belakang rumah Mika dan memasukinya. Berjalan keruang tengah untuk mencari Soraya.
"Put, Soraya mana?" Tanya Evgen pada Putra yang sedang duduk bermain game dalam gawainya.
"Keluar sama Ari," jawab Putra tanpa mengalihkan pandangan matanya.
__ADS_1
"Cih ... Dasar bodoh, lelaki tengil begitu masih juga di pacari." Evgen berjalan kearea dapur.
Ia mencari sesuatu yang bisa ia makan dirumah Mika. Biasanya, Irena sering membuat cake ataupun camilan lainnya.
Mendengar suara keributan didapur, Irena berjalan kearah dapur.
"Hey, jagoan Sean. Cari apa?" Tanya Irena lembut.
"Gak ada makanan Bude?" Tanya Evgen tanpa basa basi.
"Ada itu, buah dan sayuran di lemari es."
"Bude pikir aku kambing, makan sayuran?"
"Terus kamu mau makan apa?" Tanya Irena kembali.
"Biasanya banyak camilan enak dirumah Bude," jawab Evgen merayu.
Irena berjalan mendekati Evgen dan mengacak rambut Evgen.
"Ish ... Bude!" Evgen menghindari tangan Irena yang ingin mengacak rambutnya.
Ia tidak rela jika rambut kerennya diacak-acak oleh orang lain.
"Baiklah, kamu mau Bude buatin apa?"
"Apa saja, asalkan Bude yang buat pasti enak," jawab Evgen menyeringai kuda.
"Dasar, sama seperti Papamu. Pintar sekali merayu."
Evgen mengambil gelas dan menuangkan air kedalam gelasnya. Menyusuli Putra yang sedang asyik bermain game online.
"Mabar dong," ucap Evgen sambil mengeluarkan ponselnya.
"Tumben elu nanyain Aya, ada apa?" Sambung Putra kembali.
"Gak ada, gue cuma mau tanya sesuatu," jawab Evgen lembut.
"Oh, tumben elu akur. Biasa juga selalu gaduh."
"Terus kalau gue mau damai gak boleh?" Tanya Evgen ketus.
"Santai lah, Bro. Nge gas saja, gak selow lu."
Evgen membuka toples makanan yang ada diatas meja ruang tengah dan memakannya.
Ia kesal setengah mati, Rezi tidak peduli padanya. Putra juga masih asyik dengan gamenya. Ia merasa terasingi.
"Aya jam berapa pulangnya?"
"Manalah gue tahu! gue adiknya bukan Kakaknya," jawab Putra ketus.
"Terus kalau adiknya gak boleh nanya-nanya gitu?"
"Heh, Evgen. Elu seperti gak kenal Aya saja. Dia itukan jutek, kalau ditanya mau kemana? pasti jawabnya, hey anak kecil diam saja," ucap Putra sambil meniru gaya bicara Aya.
"Oh," jawab Evgen tak peduli.
Evgen memainkan ponselnya, tanpa sengaja ia melihat foto-foto ia dan Shenina ditaman hiburan beberapa waktu lalu.
Evgen mengelus wajah Shenina dan tersenyum tipis. Kenapa ia tiba-tiba jadi kangen Shenina ya?
"Eh Put, elu kan satu kelas sama Shenina, Lu tahu gak? Shenina ada berapa banyak bunga dirumahnya?"
"Lu lagi main tebak-tebakan sama gue?" Tanya Putra kesal.
__ADS_1
"Enggak,"
"Yah ... Mana gue tahu lah. Elu pikir gue tukang kebunnya Shenina apa?" Jawab Putra kesal.
Evgen menggaruk kulit kepalanya, benar juga. Mana mungkin Putra tahu, mungkin kalaupun tahu ia juga gak peduli.
Evgen kembali memakan camilan yang ada dalam pangkuannya. Ia masih berpikir tentang pot yang dibawa Rezi tadi.
"Elu sendiri, tumben hari gini dirumah? biasa juga keluar,"
"Lagi males gue," jawab Evgen datar.
"Lu berantem lagi sama Shenina?"
"Enggak,"
"Jadi kok gak kencan?"
Seketika Evgen menyemburkan makanan dalam mulutnya. Ia memandang Putra yang saat ini sedang duduk disampingnya.
"Maksudnya?" Tanya Evgen ketus.
"Bukannya selama ini elu lagi kencan sama Shenina ya?"
"Sembarangan elu, siapa bilang gue kencan sama cewek kasar seperti dia?" Tanya Evgen ketus.
"Hah, sudahlah Evgen. Jika elu naksir sama Shenina ya akui saja. Kenapa harus malu?"
"Gue gak naksir sama dia? body kecil seperti amoeba begitu, siapa juga yang tertarik?"
"Elu," jawab Putra santai.
"Gue gak naksir sama dia!" Tekan Evgen keras.
"Gak naksir, cuma nempeli Shenina mulu saja," ledek Putra kembali.
"Siapa yang nempeli dia, gue sama dia kan ada perjanjian majikan dan pembantu. Karena itu gue sama dia sering keluar,"
"Majikan dan pembantu atau pacar?"
"Lu apa-apaan sih?" Tanya Evgen yang semakin kesal.
"Lu pikir kami ini bodoh apa? majikan mana yang selalu traktir pembantu sampai bawa pembantu ketaman hiburan seperti itu?"
Putra meletakan ponselnya dan memandang kearah Evgen.
"Lu cuma jadikan alasan ini buat kencan kan?" Tanya Putra, memainkan kedua alis matanya.
Evgen tergagap untuk menjawab pertanyaan Putra. Ia bingung harus berkata apa, ditambah raut wajah Putra yang sangat menakan itu.
Semakin membuat Evgen kebingungan untuk menjawab.
"Ah ... Sudahlah. Gue mau pulang, inget untuk antar camilan kerumah gue saat Bude selesai masak!" Evgen bangkit dari kursinya dan berjalan dengan cepat keluar dari rumah Mika.
"Heh, elu pikir gue pembantu elu apa? kenapa gak minta Shenina saja yang antar?" Teriak Putra dengan sedikit tertawa.
Evgen menarik pintu belakang rumah Mika, ia tersenyum sendiri saat sudah berada diluar.
"Kencan ya?" lirih Evgen pelan.
"Jadi selama ini kita kencan ya Shen."
Evgen melepaskan senyumnya, ia jadi senang sendiri saat mendengar kata kencan.
"Ah jadi begitu? senangnya."
__ADS_1